Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Arrived


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian...


Kumandang azan mengantarkan Ara dan Rain menuju ke sebuah tempat yang tak asing. Langit biru megah dihiasi awan berarak putih, memukau pandangan hamba Sang Pencipta. Semilir angin sore yang berembus pun terasa lembut menyentuh kulit. Seakan memanjakan dengan belaian lembut kasihnya.


Waktu saat ini sudah memasuki sore hari. Pergantian siang ke sore membuat sebuah kota tampak ramai dengan para pejalan kaki. Banyak burung berterbangan di sekitarnya, seolah ikut menyambut kedatangan para pejalan yang hilir-mudik di sepanjang kota.


Ara dan Rain tiba di sebuah kota yang dekat dengan pelabuhan dan dermaga. Bukan Dubai ataupun Kuwait, melainkan sebuah kota yang telah menjadi saksi peradaban manusia dalam beberapa masa. Sebuah kota yang menjadi pusat kejayaan betapa harmonisnya hidup berdampingan. Semua penduduk damai dan sejahtera di bawah satu pemerintahan yang adil dan bijaksana.


"Sayang, apakah kita sudah sampai?"


Ara memeluk tubuh suaminya dengan erat. Ia masih enggan untuk membuka mata karena tahu jika visual manusia tidak akan mampu melihat lintasan portal dimensi. Begitu juga dengan Rain yang pasrah saat melintasinya. Sehingga kini ia belum berani untuk mengatakan ada di mana sekarang.


"Aku rasa ... sudah. Aku mendengar banyak burung berterbangan di sekitar sini." Rain mendengar suara kepakan sayap burung yang tak sedikit, berterbangan tak jauh darinya.


Ara memberanikan diri untuk bangun. Ia membuka mata lalu melihat keadaan sekeliling. Saat itu juga ia terperanjat kaget. Ia melihat sesuatu di ujung sana.


"Sayang, ada sebuah masjid besar tak jauh dari sini!" Ara melihat bangunan berkubah disertai beberapa menara tinggi di sisinya.


Rain beranjak bangun. Ia duduk lalu melihat ke belakang, tempat yang ditunjuk oleh istrinya. Ia pun menyadari sesuatu. "Itu ... Hagia Sophia," tutur Rain.


"Hagia Sophia?" Ara terperanjat kaget.


Rain melihat istrinya. "Benar, Sayang. Tidak salah lagi jika itu adalah Hagia Shopia." Rain amat yakin.


"Itu berarti kita tiba di ...?"


"Istanbul Turki." Rain meneruskan.


"Ya Tuhan?!" Ara pun terperanjat kaget. Ia tak percaya jika akan tiba di Turki.


Portal dimensi ternyata mengantarkan keduanya menuju sebuah kota yang menjadi saksi peradaban manusia dalam beberapa abad lamanya. Dimana kemakmuran dan kejayaan memenuhi seluruh pelosok negeri. Ara pun tak percaya jika akan tiba di kota yang diinginkan suaminya. Saat itu juga ia merasa dimudahkan oleh Tuhan untuk mencapai tujuan. Namun, Ara tidak tahu sudah tanggal dan bulan berapa hari ini.

__ADS_1


"Aduh ... aku mual." Tiba-tiba saja Ara merasa mual.


"Kau baik-baik saja?" Rain pun tampak cemas.


"Sepertinya aku mulai merasa lapar juga. Apakah ini pertanda baik untukku?" Ara menduganya.


Rain tersenyum. Ia mengusap pipi istrinya. "Kita sudah kembali ke dunia sebenarnya. Mungkin tubuh kita beradaptasi ulang dengan bumi ini. Kita cari makanan ya." Rain beranjak berdiri. Ia membantu istrinya untuk bangun.


Ara dan Rain tiba di sebuah taman yang berdekatan dengan masjid besar di Kota Turki. Rain pun dengan segenap jiwa melindungi istrinya agar tidak sampai terjatuh. Keduanya tidak lagi mengenakan pakaian kerajaan seperti saat berada di Agartha. Melainkan baju biasa seperti saat pertama kali datang ke Agartha. Dan kini tampak Rain mengusap-usap punggung istrinya. Ia mencoba meredakan rasa mual yang Ara alami.


"Kita ke sana dulu, Sayang. Kita beli minuman." Rain mengajak istrinya menuju pinggiran taman.


Ara mengangguk. Namun, beberapa saat kemudian ia menyadari jika tidak mempunyai uang. "Sayang, kau bawa dompet dan ponsel kecilmu?" Ara baru teringat jika suaminya masih memiliki dompet dan ponsel kecil.


Rain merogoh saku celana jeans-nya. "Masih." Ia pun mengeluarkan dompet dan ponsel kecilnya.


Ara bernapas lega. "Syukurlah. Aku pikir lupa dibawa." Ia kemudian mengambil ponsel dan dompet suaminya. "Ini punyaku ya. Biar aku saja yang memegangnya," pinta Ara kepada Rain.


Ara merona malu. "Sudah, ih!" Ia akhirnya berjalan meninggalkan Rain.


Rain tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika sudah menikah akan seperti ini. Dimana Ara tidak malu-malu lagi untuk meminta apa yang ia miliki. Dan Rain merasa bahagia sekali.


Rain mengejar Ara. "Tunggu, Sayang!" Rain meminta Ara menunggunya.


Ara menoleh ke belakang. "Ayo, cepat! Aku sudah lapar." Tiba-tiba saja selera makan Ara kembali normal.


Rain berjalan cepat ke arah istrinya. Mereka berpegangan tangan menuju pinggiran taman untuk membeli makanan. Berjalan di bawah langit Turki yang indah dan megah. Keduanya pun akan segera menjalani hari baru di kota ini. Di kota penuh sejarah akan peradaban manusia.


Beberapa menit kemudian...


Rain mencari makanan dan minuman untuk istrinya. Namun ternyata, uang tunai yang ia miliki tidaklah banyak. Hanya ada beberapa puluh dolar saja. Tidak cukup untuk menyewa penginapan dalam waktu yang lama. Ia harus berpikir ulang agar bisa mendapatkan uang selama berada di kota ini.

__ADS_1


"Kenapa hanya sedikit uang tunainya, Sayang?" Ara melihat sela-sela dompet Rain tapi tidak juga ditemukan uang lainnya.


"Aku memang tidak banyak membawa uang tunai, Sayang. Kita cari ATM saja. Kartu debit dan kreditku masih ada." Rain mengajak istrinya mencari ATM.


Hal pertama yang dilakukan keduanya adalah mencari makanan dan minuman sebagai pengganjal perut yang mulai keroncongan. Lalu kemudian mencari ATM untuk mengambil uang tunai. Namun, sesampainya di ATM, ternyata kartu debit maupun kredit milik Rain tidak bisa digunakan.


"Akses gagal?!" Rain pun merasa heran dengan master card miliknya.


Ara yang sedang menunggu di luar sambil menikmati sepotong roti tampak terheran karena sang suami begitu lama di dalam ATM. Ia kemudian segera masuk untuk menemui suaminya.


"Sayang, ada apa? Kenapa lama sekali?" tanya Ara kepada suaminya.


Rain menoleh ke sang istri. "Sayang, semua kartuku tidak bisa diakses," jawab Rain dengan wajah kebingungan.


"Astaga ...," Saat itu juga Ara menyadari apa yang sedang terjadi. Ia segera mengajak Rain untuk keluar dari ATM. "Kartumu ditolak?" tanya Ara yang cemas.


Rain mengangguk.


"Apa itu berarti asetmu diblokir?" tanya Ara lagi.


Rain menggelengkan kepala. "Tidak diblokir, mungkin hanya dibekukan saja," terang Rain.


"Aduh ...," Ara menepuk dahinya sendiri. "Sepertinya kita harus segera mencari bantuan. Uang kita tidak banyak. Kita cari hotel yang murah saja." Ara menyarankan.


Rain mengangguk. Ia menurut pada istrinya.


Lantas keduanya mencari hotel termurah yang ada di kota agar bisa menghemat pengeluaran. Karena uang Rain tidak cukup untuk menyewa hotel yang mahal. Ara pun tampak tidak keberatan. Ia dengan berlapang dada menerima keadaan suaminya.


Sayang, maafkan aku. Ini di luar kendaliku.


Rain menyadari jika sekembalinya dari Agartha akan mengalami kesulitan keuangan seperti ini. Ia berjanji akan membawa uang tunai lebih banyak lagi agar terhindar dari hal yang sama. Petang tak lama lagi akan datang, membuatnya harus segera mencari penginapan. Alhasil, keduanya mencari hotel terdekat dengan harga terjangkau. Ara pun dengan setia menemani suaminya mencari hotel tersebut.

__ADS_1


__ADS_2