
Di atap gedung kampus…
Semilir angin siang mengantarkanku menaiki anak tangga menuju teras atap gedung B kampus. Kebetulan gedung di kampusku ini ada tiga. Gedung A, B dan C. Dua gedung khusus untuk mempelajari mata kuliah, sedang satu gedung untuk para dosen berkumpul dan ruang praktikum. Sisanya berupa gedung-gedung kecil yang tersebar di sisi kampus sebagai ekstrakulikuler.
Kini aku baru saja sampai di teras atap gedung B. Lee berjalan duluan di depanku. Pria berkemeja hitam itu memberi isyarat agar aku mendekat. Aku pun mendekat dan berdiri di dekat pagar atap bersamanya. Pagar yang cukup tinggi untukku. Mungkin memang sengaja dirancang seperti ini agar aman.
Lee kemudian menoleh, melihatku yang berdiri di sisi kirinya. “Kau ingin menanyakan tentang kejadian kemarin?” tanyanya padaku.
Aku terkejut. Mungkin memang benar jika pria yang mengaku sebagai salah satu dosen di kampusku kepada Jack adalah Lee. Dia seperti tahu benar apa yang ingin kutanyakan padanya.
“Dosen Lee, Anda yang menolongku?” tanyaku sambil merapikan rambut yang terkena terpaan angin.
Dia tersenyum, menunduk lalu melihat ke arahku lagi. “Ara, akhirnya aku mendapatkan jawaban,” katanya yang membuatku bingung.
“Jawaban?” Aku heran.
“Ya. Aku percaya jika tidak ada satupun kejadian yang kebetulan di dunia ini. Ternyata memang benar, termasuk pertemuan kita. Kau memang bukan gadis biasa.” Dia seperti membuat penegasan tentangku.
“Dosen Lee?” Dahiku berkerut. “Apa Anda melihat hal yang terjadi kemarin?” Aku tiba-tiba merasa khawatir, takut dia salah paham tentangku.
Lee memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “Selama ini aku penasaran dengan adanya kekuatan supranatural. Tapi kini kau datang dan memberikan keyakinan padaku jika semua itu ada.” Dia menatap ke kejauhan.
Aku tertegun, menunduk. Lee sepertinya sudah tahu akan jati diriku.
“Mungkin satu banding satu juta orang yang bisa memiliki kelebihan seperti itu. Dan aku sangat mengagumi dirimu.” Dia menoleh ke arahku.
Aku menatapnya. “Dosen Lee, aku hanya manusia biasa. Kau telah salah prasangka terhadapku. Semua yang kau lihat itu hanya kebetulan.” Aku menjelaskan.
Lee memutar tubuhnya, menghadapku. “Ara, bisakah kita mengulang waktu? Bisakah kita bertemu, jauh sebelum ini? Bisakah kau mengantarkanku ke masa lampau?”
Lee menanyakan sesuatu hal yang bertubi-tubi kepadaku. Aku jadi bingung harus menjawab apa. Pastinya dia telah melihat sendiri cahaya yang melindungiku dari kecelakaan waktu itu.
Aduh, bagaimana ini ...?
Aku jadi bingung jika dia semakin banyak bertanya. Terlebih dia pernah mengajariku tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan semesta, Law of Attraction.
__ADS_1
“Dosen Lee, aku memang menyukai cara kerja semesta sehingga tertarik untuk mempelajarinya. Tapi, aku rasa hal yang kau lihat kemarin itu murni karena perlindungan Tuhan. Tolong jangan berpikiran yang tidak-tidak tentangku, ya.” Aku tersenyum padanya.
Lee melangkahkan kakinya, mendekatiku. Jarak kami semakin dekat saja. Aroma parfumnya pun bisa sampai tercium di hidungku ini. Sontak aku memundurkan langkah kaki ke belakang, menjaga jarak darinya.
“Ara, kau adalah gadis yang berbeda. Tidak seperti gadis pada umumnya. Beri tahu aku bagaimana bisa memiliki kekuatan seperti itu?” tanyanya yang membuat degup jantungku berpacu cepat.
“Do-dosen Lee, aku hanya ingin sekedar menanyakan apakah dirimu yang menolongku kemarin dan membawaku ke rumah sakit? Jika iya, aku ingin mengucapkan terima kasih. Aku permisi.” Aku berniat pergi dari hadapannya.
“Ara.” Lee menahan tanganku.
“Ara!!!”
Bersamaan dengan itu kudengar suara Rain memanggil. Lekas-lekas aku menoleh ke belakang, mencari asal suara. Dan ternyata benar saja, Rainku datang.
“Sayang?!”
Aku terkejut melihat Rain sudah datang dan berdiri di tangga paling atas. Tatapan matanya menyiratkan amarah. Aku pun segera tersadar dengan hal yang sedang terjadi pada kami. Aku bergegas berlari mendekatinya.
“Ara.” Namun, Lee menahanku.
Astaga, pasti dia telah salah sangka padaku.
Kukejar priaku. Kulihat dia berjalan cepat menuju gerbang kampus. Aku pun berlari mengejarnya. Ternyata langkah kakinya tidak dapat kukejar. Hingga akhirnya dia sampai ke mobil. Kulihat dia cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya, seketika itu juga sekuat tenaga aku berlari mengejarnya.
“Sayang, ini semua salah paham!” Aku mengetuk-ngetuk pintu mobilnya agar dibukakan.
"Jalan, Jack." Tapi ternyata dia meminta Jack untuk segera melajukan mobilnya.
“Sayang!” Aku berteriak memanggilnya. Tapi tidak diindahkan.
Astaga, aku harus bagaimana?
Kuputar otak dengan cepat untuk mengurai kesalahpahaman ini. Aku tidak boleh membiarkan Rain salah paham terhadapku. Kuambil ponsel dari saku untuk memesan taksi online. Aku ingin mengejarnya. Hitungan hari kami akan menikah dan tidak boleh pernikahan ini sampai tertunda lagi.
Setengah jam kemudian…
__ADS_1
Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya berbicara dengan Lee di atap kampus tanpa saksi. Tapi aku juga tidak mengerti mengapa Rain datang tiba-tiba. Sebelumnya kami baik-baik saja dan sempat bercanda, tapi kini dia marah padaku.
Rain bilang akan ada pertemuan, jadi aku merasa semua akan bak-baik saja. Tidak menyangka jika dia akan datang, memberikan kejutan untukku. Dan sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara agar dia tidak marah. Aku tidak ingin kesalahpahaman ini berlarut-larut.
Kini aku baru sampai di halaman parkir gedung tertinggi di dunia. Lekas-lekas aku masuk ke dalamnya lalu mencari lift. Aku harus menemui priaku.
Ya ampun, teleponku tidak diangkat ....
Sambil berjalan masuk, aku mencoba menelepon Rain. Tapi nyatanya, dia tidak mengangkat telepon dariku. Pikiranku jadi tak menentu, aku merasa bersalah sekali.
Cepat naik lift saja.
Akhirnya aku menemukan lift, dengan segera masuk ke dalamnya. Kutekan lantai tujuanku lalu menunggunya sampai. Untung saja waktu itu pernah ke sini, jadinya tidak sampai kebingungan.
Ayo, cepat!
Tidak perlu menunggu lama, akhirnya aku sampai di lantai tujuan. Segera saja aku keluar dari lift lalu masuk ke sebuah ruangan yang besar. Namun, langkah kakiku tertahan oleh dua satpam yang berjaga di pintu masuknya.
“Nona?” Salah satu satpam mencoba mengenaliku.
“Aku Ara, aku calon istri tuan Rain. Aku ingin bertemu dengannya."
Kedua satpam itu saling melirik satu sama lain. Salah satu dari mereka akhirnya bertanya padaku. “Maaf, Nona. Ada urusan apa kemari?” tanyanya.
“Aku ada keperluan penting dengan Rain. Bisa tolong antarkan?” Aku terburu-buru.
“Tapi, Nona. Tuan Rain sedang sibuk.” Satpam satunya menjelaskan.
Aku merasa diperlambat, sedang kesalahpahaman ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama. “Aku yang akan bertanggung jawab. Tolong biarkan aku masuk.” Aku memaksa.
Kedua penjaga ini saling melirik. Salah satunya kemudian mau mengantarkanku menuju ke ruangan Rain berada. Satpam yang tidak kuketahui siapa namanya ini begitu sopan. Mungkin dia pernah melihatku sebelumnya, saat Rain mengajakku kemari.
“Terima kasih.”
Akhirnya aku sampai juga di depan ruangan priaku. Aku pun mengucapkan terima kasih kepada satpam yang mengantar. Satpam itu juga lekas berpamitan padaku. Segera saja aku masuk ke dalam ruangan Rain, mengetuk pintunya dua kali lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam. Aku ingin menyelesaikan kesalahpahaman yang sedang terjadi di antara kami.
__ADS_1