Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Remember


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Aku baru saja selesai mandi dan kini tengah berkaca di cermin besar yang ada di kamar priaku. Sedang priaku sedang meneruskan pekerjaannya sampai selesai, di depan meja laptop yang ada di dekat pintu kamarnya.


Aku berkaca masih dengan mengenakan handuk. Dan kulihat dadaku ini dipenuhi oleh tanda ciumannya. Dia benar-benar agresif sekali. Aku sampai kewalahan mengimbanginya. Sepertinya kami memang harus segera cepat-cepat menikah.


"Ya ampun, banyak sekali tandanya. Borongan seperti ini."


Tak hanya di bagian dada, namun di bagian leher juga ikut terkena. Mungkin jika aku ini sejenis makanan, sudah dilahapnya sampai habis. Dia bagai orang kelaparan yang sudah berminggu-minggu tidak makan. Walaupun aku sempat menahannya agar tidak dilanjutkan, tetapi dia terus saja memaksa.


Kusadari jika dia menyayangiku, tapi aku lebih sadar jika kami hanya sebatas manusia biasa. Hasrat itu begitu besar hingga mendorong kami untuk melakukannya. Ya, walaupun tidak sepenuhnya, tetapi tetap saja hal ini tidak seharusnya dilakukan. Dan kini aku hanya bisa berharap setelah kejadian ini kami bisa lebih saling menyayangi, tanpa pertengkaran seperti dulu yang membuat sesak di dada.


Kuakui jika aku mencintainya. Mungkin karena rasa cinta itulah aku seperti tidak dapat melawan kehendaknya. Dia telah membuatku mabuk dalam buaian kasih sayangnya. Dia membuatku terbuai dengan sentuhan lembut jari-jemarinya. Dan kini aku merasa seperti sudah menjadi istrinya yang sah. Yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melayaninya. Sungguh, aku tidak menyangka jika hubungan kami akan sejauh ini. Tapi ketahuilah jika dia yang pertama.


"Sayang, jangan ditahan ...."


Kata-kata itu masih terngiang di telingaku. Suara serak nan seksinya memintaku untuk tidak menahan diri lagi. Tapi mungkin karena akunya masih malu sehingga enggan untuk memperlihatkan diriku yang sesungguhnya. Kami belum menikah, andai sudah pastinya aku yang akan berkata seperti itu padanya.


Raut wajahnya tadi begitu sayu, dia berulang kali memejamkan mata seraya menggigit bibirnya sendiri, kala memintaku untuk menyusuri tubuhnya dengan bibirku ini. Dia memintaku melakukan apa saja yang kuinginkan. Dia memberi kebebasan untukku berekspresi dalam mempermainkan tubuhnya.


"Sayang ... ahhh!"


Tubuhnya begitu sensitif, sama sepertiku. Mungkin benar jika aku adalah gadis pertama dalam hidupnya. Saat aku menciumi perutnya, dia meracau tak karuan. Membuatku semakin bersemangat untuk terus mencium ke bawah dan ke bawah lagi.

__ADS_1


"Sudah, ya."


Namun, aku merasa semakin berbahaya jika terus dilakukan. Lantas saja aku meminta padanya untuk menyudahi permainan ini. Tapi dia tadi malah menarikku, seolah tidak terima jika aku tinggalkan begitu saja. Tersirat dari wajahnya yang begitu gemas saat melihatku beranjak pergi. Lalu akhirnya, dia menyerangku dengan cumbuannya. Dia memancing hasratku hingga keluar dan berkobar-kobar.


Aku kehilangan kendali saat lidahnya bermain-bermain di dadaku. Rasa geli begitu dahsyat kurasakan di sekujur tubuh. Hingga akhirnya aku tidak sanggup lagi untuk menahannya. Aku melepaskannya dengan tubuh gemetar. Di saat itu juga kulihat kepuasan dari raut wajahnya. Dia memintaku untuk melakukan hal yang sama.


"Ya ampun, kenapa masih terbayang terus?"


Lekas-lekas aku mengenakan blus putih dan jeans biru. Tak baik juga berlama-lama berdiri di depan cermin sambil memperhatikan tubuh sendiri. Aku berharap ingatanku akan hal tadi bisa segera terlupakan. Karena jika mengingatnya hanya akan membahayakan. Karena bagaimanapun aku manusia, punya hasrat yang tidak bisa disingkirkan.


Kupoleskan make up dengan sapuan oranye mendominasi wajahku. Mulai dari blash on, eye shadow hingga lipglosnya. Peralatan make up ku di sini bisa dibilang lengkap. Tinggal akunya saja yang sering-sering latihan agar terbiasa berdandan, sehingga bisa tampil cantik tanpa harus pergi ke salon.


"Selesai."


"Belum selesai juga?" tanyaku sambil melihat layar laptopnya.


"Sebentar lagi, Sayang," jawabnya.


Sontak aku terkejut saat dia memanggilku dengan sebutan sayang. Aku pikir dia hanya akan memanggilku seperti itu karena hasratnya sedang berkobar. Tapi ternyata, dia meneruskannya. Apa ini pertanda baik bagiku? Entahlah. Aku tidak ingin terlalu berharap karena takut kecewa. Aku jalani saja yang ada.


"Hari ini jadi pindahan?" tanyaku lagi sambil menatapnya dari sisi. Aku masih memeluknya dari belakang.


"Jadi. Tapi menunggu mereka datang ke sini dulu. Ada hal yang ingin aku bicarakan sebelum menemui Jane," katanya.

__ADS_1


Entah mengapa saat membicarakan wanita itu hatiku langsung tidak enak. "Em, baiklah. Aku mengikut saja." Aku beranjak pergi.


"Ara!" Dia memanggilku.


"Ya?" Aku pun menoleh ke arahnya sebelum sempat melangkahkan kaki.


"Jangan berpikiran macam-macam. Aku hanya milikmu." Dia memberi keyakinan padaku.


Aku tersenyum, berusaha memaklumi apa yang akan dia lakukan. Dia bukanlah tipe pria yang mudah mengumbar kata cinta. Apa yang dikatakannya memang sungguh-sungguh dari hati. Jadi dia tidak mungkin membohongiku. Dan aku berharap hal itu memang benar adanya.


"Iya, Sayang. Aku siapkan sarapan, ya." Aku lalu mengecup pipinya sekali, memberi ketenangan agar dia tidak khawatir padaku saat berniat menemui wanita itu.


"Terima kasih."


Dia lalu bergantian mencium pipiku. Kuusap wajahnya lalu beranjak ke dapur untuk membuatkan sarapan. Kami bak sepasang suami istri yang saling mencintai. Dan aku berharap bisa selamanya seperti ini.


Rain meminta izin kepada gadisnya untuk menemui Jane. Ia ingin menyelesaikan masalah yang seharusnya tak ada. Rain khawatir Jane akan semakin menjadi-jadi jika ia tidak membicarakan hal ini. Karena ia mengetahui siapa Jane dan bagaimana tabiat aslinya. Pertemanan selama tujuh tahun pastinya sudah membongkar semua keburukan yang ada. Dan Rain harus berhati-hati dalam bertindak demi gadisnya.


Aku tidak menyangka jika Jane menyuruh seorang pria untuk mencelakai Ara. Dari foto yang diambil, sama persis dengan rekaman CCTV di gedung waktu itu. Tapi aku tidak boleh langsung menarik kesimpulan akan hal ini. Wajah pria di rekaman CCTV tidak dapat terlihat dengan jelas. Tapi jika dilihat sekilas memang sama persis dengan yang ada di foto.


Rain mendapatkan laporan dari hasil penyelidikan atas kejadian yang menimpa Ara. Orang suruhan Ro ternyata berhasil memotret seorang wanita yang dicurigai mempunyai hubungan kerja sama dengan seseorang yang mengantarkan foto-foto waktu itu ke kantor Rain. Sehingga Rain amat terkejut saat melihat wanita yang ada di dalam foto tersebut adalah Jane.


Rain tidak akan tinggal diam jika ada yang berniat mencelakai gadisnya. Ia bahkan rela mengeluarkan biaya besar untuk menyelidiki siapa dalang dari pertengkarannya dengan Ara. Dan sebentar lagi ia akan mengutarakan rencana kepada kedua saudaranya sebelum menemui Jane. Ada sesuatu hal yang harus didiskusikan bersama sebelum menemui gadis keturunan Korea tersebut. Seperti misi, harus berhasil untuk membuktikan sebuah kebenaran yang belum sempat terungkap.

__ADS_1


__ADS_2