Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Where is This?


__ADS_3

Hotel Marina, pukul setengah lima sore...


Hotel ini terletak di dekat Pantai Marina. Termasuk salah satu hotel kelas elite yang Dubai punya. Seluruh pengunjung hotel merasa puas dengan pelayanan dan kebersihannya. Sehingga tak ayal Nick pun memesan beberapa kamar di sini. Ia tidak lagi peduli dengan harga yang mahal selama rencananya berjalan lancar. Dan kini ia sedang mendapat kabar bagus dari timnya.


Tim Nick mengabarkan jika Rain telah berhasil dilenyapkan. Kebocoran pipa yang direkayasa ternyata membuahkan hasil sesuai harapan. Sehingga kini ia tidak perlu lagi risau dari tahta organisasi. Bisa dipastikan jika Nick akan mendapatkannya.


Dari kedua belas saudara Nick, Nick memang lebih banyak bersaing dengan Rain sejak kecil. Dari memperebutkan kasih sayang sang nenek, sampai memperebutkan tahta organisasi. Padahal Rain sama sekali tidak menginginkannya. Malah ia berniat untuk keluar dari organisasi selepas pekerjaannya selesai. Rain ingin berdikari.


Akhirnya aku berhasil menyingkirkanmu, Rain. Sampai jumpa di waktu yang berbeda. Selamat menikmati kehidupan barumu di sana.


Nick tidak lagi peduli dengan persaudaraan yang sudah terjalin lama. Dibesarkan sejak kecil, dihidupi, bahkan dikuliahkan di universitas yang sama. Tapi ternyata hal itu tidak menggoyahkan niatnya untuk menyingkirkan Rain. Dan akhirnya Rain berhasil disingkirkan.


Nick belum tahu jika Rain selamat. Ia pun tersenyum picik saat mendengar Rain telah lenyap. Ia merasa bahagia dengan kabar yang diterimanya. Dan ia berniat untuk merayakan keberhasilan dengan mengundang wanita-wanita cantik ke dalam kamar hotelnya.


"Pesankan aku wanita cantik. Kalian boleh pilih yang mana saja." Nick berbicara kepada seseorang yang ada di seberang sana. Ia menelepon lewat jaringan selular biasa.


Saat hasrat duniawi telah menguasai jiwa seseorang, maka matilah hati itu dari rasa belas kasihan. Tidak mengenal siapa kawan, siapa lawan. Bagi mereka semua sama saja dan harus segera disingkirkan.


Hanya demi mencapai tujuan semata, mereka menghalalkan segala cara. Karena bagi mereka kehidupan sesungguhnya tidaklah ada. Yang ada hanya kenikmatan duniawi yang tiada tara. Mereka menganggap dunia ini seperti surga abadi selamanya.


Nick menggunakan kekuasaan untuk melenyapkan saudaranya sendiri. Ia menyalahgunakan kekuasan yang sang kakek berikan. Tanpa peduli apa yang akan terjadi ke depannya. Bagilah hanyalah mencapai tujuan.


Lain Nick, lain juga dengan Owdie. Ia tampak termenung di kamar hotel setelah menerima kabar dari Jack. Wajahnya terlihat diselimuti kedukaan dan air mata pun ikut menggenang. Ia tidak menyangka jika akan menerima kabar ini. Belum lama ini Jack menelepon Owdie dan mengabarkan apa yang terjadi. Sehingga hal ini menjadi pukulan besar baginya.


Iran, di waktu yang bersamaan...

__ADS_1


Rain, apakah kau bisa selamat dari ledakkan itu?


Owdie duduk termenung di pinggir kasurnya. Pria berkaus hitam itu tampak mengusap wajahnya. Ia merasa kejadian ini sungguh di luar dugaan. Ia pun berpikir keras mengapa hal ini bisa sampai terjadi. Karena setahunya, Rain tidaklah ceroboh dalam melakukan pekerjaan. Rain begitu berdedikasi di setiap langkah yang diambilnya.


Byrne masih belum bisa dihubungi. Apakah dia sedang di laboratorium?


Sampai saat ini nomor Byrne tidak aktif. Owdie pun menyangka saudaranya itu sedang berada di laboratorium sehingga tidak bisa diganggu. Akhirnya, ia sendirian menerima kabar ini. Kabar yang tidak pernah disangka dan tidak mampu dipercaya olehnya.


Aku tak percaya hal ini bisa terjadi pada Rain. Aku rasa semua ini ada kaitannya dengan organisasi. Aku harus mencari tahu hal apa yang sebenarnya terjadi.


Owdie lantas menelepon seseorang untuk meminta bantuan. Tak lama teleponnya pun diangkat oleh seseorang itu. Owdie pun segera menuturkan tujuannya.


"Aku mendengar kabar buruk tentang saudaraku di Dubai. Tolong kerahkan media untuk terus mencari tahu penyebab ledakan di kapal pengeboran. Jangan sampai terlewat. Untuk urusan biaya tinggal kirim perinciannya ke akunku saja." Owdie meminta.


"Baik, Tuan. Saya akan mengerahkan media UEA untuk mencari tahu hal ini. Mohon bersabar menunggu," kata suara dari seberang.


Owdie masih tak percaya terhadap kejadian yang menimpa saudaranya. Ia ingin mendapatkan penyebab mengapa hal itu bisa terjadi. Owdie harus mencari tahu pasti penyebab musibah ini sebelum bertindak ke tahap selanjutnya. Ia akan membela Rain atas hal ini.


Beberapa saat kemudian...


Semilir angin menyambut kedatangan Ara dan Rain di sebuah tempat yang asri. Tempat itu seperti bagian kecil dari hutan yang amat terjaga. Di sana ada sungai mengalir yang begitu jernih dan juga berbagai macam jenis bunga berwarna-warni. Rain pun membuka kedua mata untuk yang pertama kalinya.


Ini di mana?


Kata-kata itulah yang Rain ucapkan dalam hati saat sampai di suatu tempat yang asing. Ia pun melihat sang istri tengah berada di atas tubuhnya. Ara masih dalam keadaan memeluknya erat. Sang istri seakan tidak mau berpisah sebentar pun darinya.

__ADS_1


Sayangku ....


Rain tersenyum. Ia merasakan hangat napas Ara yang menyentuh dadanya. Rain pun tersadar jika sudah selamat dari kobaran api yang ingin melahap mereka. Ia juga menyadari jika semua ini karena istrinya. Rain akhirnya melihat sendiri bagaimana pintu jatuhan air yang waktu itu Ara ceritakan padanya.


Ternyata pintu itu memang benar-benar ada.


Lantas Rain mengusap kepala istrinya. Ia usap dengan sepenuh hati dan perasaannya. Ia pun mengusap-usap lengan Ara sambil membangunkannya. Tak lama Ara pun segera tersadar.


"Sa-sayang?" Ara samar-samar melihat Rain.


"Araku, cobalah lihat di mana kita berada," pinta Rain kepada istrinya.


Ara lantas bangun pelan-pelan. Ia sadar jika telah menimpa tubuh suaminya. Ia pun terdiam saat melihat pemandangan di sekitarnya. Ia mencoba mengingat-ingat di mana gerangan dirinya berada. Namun nyatanya, tempat ini tidak pernah dilihat apalagi dikunjungi olehnya.


"Kita di mana, ya?" Ara bingung dengan keberadaan dirinya.


Rain pun ikut bangun. Ia duduk di samping Ara. Dilihatnya sekitar tempat mereka jatuh, Rain pun seperti tidak pernah mengunjunginya.


"Sayang, portal untuk ke dua kalinya terbuka. Bukankah kita masih mempunyai kesempatan kembali?" Rain bertanya kepada Ara.


Ara pun langsung teringat dengan perkataan nenek pemberi gelang itu. "Iya, hanya bisa berfungsi tiga kali. Setelahnya harus menggunakan sarana transportasi yang ada. Tapi masalahnya ini di mana?" Ara melihat tempat ini bukan seperti di dunianya, entah di mana.


Gelang ini kembali mengantarkanku ke tempat yang tidak kuketahui. Dan sudah dua kali gelang ini berfungsi. Itu berarti tinggal satu kali lagi. Gantungan bintangnya juga tersisa satu. Berarti tidak lama lagi gelang ini bisa terlepas dari tanganku.


"Sayang, sepertinya kita harus mencari tahu di mana ini." Rain melihat ada cahaya di ujung sana.

__ADS_1


Ara pun melihat cahaya itu. "Iya, aku ikut saja denganmu." Ara pun mulai bergandengan tangan bersama Rain menuju cahaya itu.


Tempat mereka tiba seperti di sebuah danau yang dialiri sungai berair jernih. Cahaya matahari hanya mampu masuk lewat celah-celah pepohonan yang tinggi dan besar. Sehingga mereka memutuskan untuk menuju ke sumber cahaya yang ada di ujung sana. Mereka pun berjalan bersama, bergandengan tangan menyusuri semak-semak belukar. Tampaknya tidak terjadi apa-apa pada keduanya. Mereka baik-baik saja dan tidak terluka apapun.


__ADS_2