
Beberapa menit kemudian…
Suamiku masih menerima teleponnya. Kulihat dari balik pintu, dia tengah duduk di sofa ruang tamu sambil membenarkan posisi apa yang ada di bawah sana. Sepertinya teleponnya itu sangat penting sehingga dia sungkan untuk mematikannya. Dan pada akhirnya, dia masih menanggapi pembicaraan dari seseorang itu. Sedang aku sendirian di dalam kamar.
Kukenakan lingerie hitam yang menggairahkan. Aku pun berdandan cantik untuk menyambut malam pertama bersama suamiku. Tapi entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa sakit sekali. Dan tak lama kemudian, aku merasakan sesuatu keluar dari selangkaku.
Jangan-jangan …?!
Aku sudah lama tidak menstruasi. Mungkin sudah telat dua atau tiga minggu ini. Dan karena penasaran, kuambil tisu saja untuk mengeceknya. Dan ternyata … memang benar jika aku datang bulan.
“Astaga ….”
Kutepuk dahiku. Tak menyangka jika menstruasiku akan datang malam ini. Ini bukan sebuah kebetulan yang disengajakan, melainkan memang sudah ditakdirkan. Mungkin karena kemarin-kemarin suasana hati dan pikiranku sedang tidak baik, makanya menstruasiku tidak lancar. Dan karena sekarang rasa bahagia menyelimuti, menstruasiku jadi ikut lancar. Mungkin saja hormon yang ada di seluruh tubuhku dapat bekerja dengan baik saat bahagia itu kudapatkan.
“Bagaimana ini? Bagaimana jika dia menginginkannya?”
Sejujurnya malam pertama ini ingin kunikmati bersamanya. Tapi apalah daya, keadaan kurang memungkinkan. Tinggal bagaimana caraku menjelaskan padanya agar dia dapat menahan hasratnya sementara. Semoga saja suamiku nanti tidak keberatan.
“Sayang ….”
Rain masuk ke kamar sambil membawa ponselnya. Dia tersenyum semringah kepadaku. Dia kemudian menjatuhkanku ke atas kasur. Tatapan kedua bola mata birunya menyiratkan jika dia amat menginginkanku.
“Aku datang, Istriku ….” Dia memegang kedua lenganku.
Kami bertatapan di atas kasur. Tubuhnya berada di atas tubuhku. Dia tersenyum manis sekali. Kumis tipisnya itu seperti bergerak mencari mangsa. Aku pun jadi sungkan untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Sa-sayang, kita tunda dulu ya malam ini?” Aku mencoba bernegosiasi dengannya.
“Hah?! Tunda???” Dia terkejut bukan main.
“He-em” Aku mengangguk. “Kita tidak bisa melakukannya malam ini. Kita ganti saja hari yang lain. Bagaimana?” tanyaku, mencoba mengambil jalan tengah.
“Sayang, kau ini kenapa? Aku sudah gatal dan tegangan tinggi. Kau ingin lari dari tanggung jawabmu sebagai seorang istri?!” Dia terlihat kesal padaku.
__ADS_1
“Bu-bukan, bukan seperti itu. Ak-aku sedang datang—ahhh!”
Belum sempat meneruskan kata-kata, dia sudah mencium leherku. Tanpa aba-aba dia mencium leherku ini lalu naik ke atas telinga, sedang kedua tanganku dicengkeram kuat olehnya. Aku seperti tidak dapat bergerak sama sekali. Tenaganya begitu kuat untuk kulawan.
“Sayang, jangan. Ini berbahaya ….”
Rain seperti tidak memedulikan peringatanku. Dia menggigit kecil telinga ini agar gairahku naik. Lidahnya pun mulai menyusuri setiap inchi dari daun telingaku, seperti ingin masuk dan bermain-main di dalam sana. Rasanya sungguh tidak kuat kurasa. Aku seperti jadi gila.
“Sayang, jangan … aaah!”
Aku menggeliat tak karuan karena geli. Bukannya aku tidak mau menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, tapi menstruasi ini membuatku harus menundanya terlebih dahulu. Namun, jika dia terus saja menyerangku seperti ini, lama-lama aku bisa gila sendiri. Priaku tidak dapat lagi menahan hasratnya.
“Sayang, Sayang … hentikaaaann!!! Aku menstruasi!!!” Aku berteriak saja agar dia berhenti.
“Ap-apa?” Seketika dia berhenti lalu menatap wajahku.
“Sayang, aku menstruasi. Sungguh.” Aku meyakinkannya.
“Menstruasi?” Dia melirik ke arah pahaku, seperti tidak percaya.
Dia segera bangkit dari atas tubuhku lalu memeriksanya sendiri. Dan akhirnya dia melihatnya. “Ti- tidak.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sayang ….” Aku beranjak bangun untuk mendekatinya.
“Ara, ini tidak mungkin.” Dia tidak percaya. “Kenapa harus sekarang datang bulannya? Ini tidak adil bagiku, Ara.” Dia terlihat pusing sekali, memegangi kepalanya.
“Sayang, maafkan aku. Aku juga tidak tahu.” Aku ingin menenangkannya.
“Tidak.“ Dia memundurkan tubuhnya ke belakang, turun dari kasur lalu duduk di lantai. “Tidak, Ara. Ini tidak adil bagiku. Tidaaaaakkkkkk!!!”
Hujanku berteriak tidak terima. Wajahnya terlihat putus asa, seperti orang yang frustrasi. Dia menyandarkan punggung di dinding sambil meluruskan kedua kakinya. Namun, entah mengapa aku malah merasa dia lucu sekali.
Sayang, maaf ya. Ini di luar kendaliku.
__ADS_1
Rasanya ingin tertawa saja, tapi aku juga takut berdosa. Lantas saja kudekati dirinya yang tengah duduk di lantai kamar. Aku mencoba menghiburnya dengan apa yang kubisa. Tapi sepertinya, dia sudah benar-benar frustrasi malam ini. Jatahnya harus tertunda kembali.
Keesokan harinya…
Hari ini adalah Hari Sabtu, hari baru untukku memulai kehidupan yang baru. Dimana aku sudah menjadi seorang istri, bukan pacar atau kekasih lagi. Status resmi sudah kudapatkan dan orang-orang telah mengetahuinya.
Kini aku adalah Nyonya Rain, istri dari pria tampan dan dermawan yang ada di kota ini. Semoga saja dengan statusku sekarang, aku lebih bisa menjaga dan memposisikan diri. Karena sekarang aku juga harus menjaga kehormatan suamiku, Rain Sky.
Kini aku sedang berbelanja di supermarket terdekat bersamanya. Kebetulan aku belum membeli pembalut dan juga kebutuhan mingguan. Dan ya, kugandeng terus tangannya tanpa perlu merasa malu lagi. Tapi, kulihat wajahnya murung saja sedari tadi. Tidak ada senyum-senyumnya sama sekali.
“Sayang, kenapa sih?”
Aku bertanya padanya karena dia diam saja. Aku jadi merasa heran, alasan apa yang membuatnya diam seperti ini? Kuperhatikan sweter krimnya rapi, celana jeans putihnya juga bersih. Aku jadi bingung hal apa yang membuatnya diam seperti ini?
“Sayang, jangan diam!"
Kupasang wajah manja dengan suara sedikit menggoda. Aku tidak ingin dia diam seperti ini. Dia terus saja mendorong keranjang belanjaan tanpa berkata sepatah katapun padaku. Membuatku jadi bingung sendiri.
Lantas karena kesal, kutinggalkan saja dirinya di lorong kebutuhan pria. Kulepas gandengan tanganku lalu berjalan cepat ke lorong bagian makanan. Aku pura-pura ngambek saja padanya. Aku malas didiamkan.
“Sayang!” Ternyata dia memanggilku sebelum sampai di belokan lorong. “Kenapa meninggalkanku?” tanyanya seraya mendorong cepat keranjang belanjaan kami yang sudah terisi kebutuhan pribadinya.
“Kau diam saja dari tadi. Aku seperti tidak dianggap ada olehmu!” Aku bersandiwara, pura-pura kesal dan ngambek padanya.
“Sayang, maaf …,” Dia memegang tanganku.
“Bodok!” Aku ngambek sejadi-jadinya.
“Sayang, jangan marah. Aku masih kesal karena semalam. Mengertilah.” Dia akhirnya jujur padaku.
“Kesal?” Aku mengingat-ingat.
“Iya, aku kesal. Harusnya semalam kita sudah menikmati malam pengantin. Tapi tahunya ….” Dia mengusap wajahnya sendiri, seperti orang frustrasi.
__ADS_1
Astaga … jadi dia ngambek gara-gara semalam tidak jadi?
Suamiku akhirnya jujur padaku. Dia mengatakan hal apa yang membuatnya diam sejak pergi tadi. Aku baru menyadari jika dia amat kesal gara-gara semalam. Aku ingin tertawa tetapi prihatin juga. Aku kasihan padanya.