Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
The Ending


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Langit cerah, awan putih berarak menghiasi angkasa. Semilir angin pantai berembus kencang menerbangkan rambutku yang dibiarkan tergerai. Ternyata suamiku mengajak berjalan-jalan di sekitar pelabuhan. Kami bersantai sejenak sebelum makan siang dengan menikmati deburan ombak yang berkejaran.


Pelabuhan ini memiliki banyak sekali kapal yang melintas sebagai sarana transportasi ataupun wisata. Kata suamiku, jika sedikit ke tengah akan bisa melihat lumba-lumbanya. Kawasan ini begitu terjaga sehingga tidak bisa sembarang untuk memasukinya. Ada beberapa tahap pemeriksaan yang harus dilakukan sebelum berwisata menggunakan kapalnya. Tapi, biasanya orang-orang atau turis yang datang langsung menyewa kapal beserta nahkodanya. Tentunya harganya juga lebih mahal dari biasanya.


Kini aku duduk bersama suamiku di pinggir batas pelabuhan. Anginnya amat kencang hingga harus mengenakan kaca mata hitam agar tidak terkena debunya. Tak tahu mengapa aku bisa diajak kemari olehnya. Mungkin ada sesuatu hal yang ingin dia bicarakan.


"Aku mendapat kabar Nick mengalami kelumpuhan selepas operasi luka tembak di tubuhnya." Suamiku membuka pembicaraan kali ini.


"Lalu?" tanyaku.


"Posisi organisasi kosong dan mereka memintaku untuk kembali. Owdie dan Byrne juga sudah kembali. Tinggal aku saja yang belum. Aku ingin meminta pendapatmu mengenai hal ini, Sayang?" tanyanya padaku.


Oh, ternyata itu alasannya mengajak ku kemari ....


Sejenak aku merenunginya. Ternyata dia mengajak ku keluar karena ingin membicarakan hal ini. Tentunya tak terduga sebelumnya. Aku pun tidak punya persiapan untuk menjawabnya.


"Kau bisa memilih untuk menetap di mana, Sayang. Jika ingin di Dubai, maka kita akan terbang ke Dubai. Jika ingin di sini, kita tetap berada di Turki. Tapi jika aku kembali ke organisasi, maka kita akan menetap di USA. Tahta organisasi masih kosong saat ini." Dia menuturkan kembali.


Entah mengapa aku merasa pembicaraan ini serius sekali. Aku pun mengambil napas dalam untuk menjawabnya. "Em, Sayang. Aku ingin menanyakan sesuatu tentang Nick. Tentang siapa yang menembaknya." Aku ingin tahu terlebih dahulu.


Suamiku menghela napasnya. Dia seperti tidak ingin menjelaskannya padaku. "Nick hanya menyisakan dua cucu kakek yang tetap bekerja pada organisasi. Selain mereka, Nick menendangnya jauh-jauh. Hal itulah yang menimbulkan polemik dan adu tembak di antara mereka. Mereka terbawa emosi karena Nick bertindak semau-mau. Tapi untungnya saja nyawa mereka masih bisa diselamatkan." Suamiku menceritakan.


"Jadi banyak memakan korban?" tanyaku lagi.


Dia menggenggam tanganku. "Sayang, setiap dari kami dilengkapi senjata pistol dengan ciri khas masing-masing. Kami juga sudah menemukan siapa pelaku penembakan Nick. Tapi masalahnya, dia juga ikut terluka. Bahkan saat ini keadaannya kritis. Mungkin bisa dibilang jika Nick lebih beruntung karena mengalami kelumpuhan. Dibanding dengan dirinya yang sudah dekat dengan kematian. Maka dari itu saudara-saudara yang lain memintaku untuk kembali ke organisasi. Dan aku meminta pendapatmu karena tidak bisa memutuskannya sendiri." Dia menggenggam erat tanganku.


Aku mengerti. Benar-benar mengerti apa yang tengah terjadi. Tapi, aku juga tidak bisa merelakan dirinya kembali ke organisasi. Karena khawatir pikirannya bisa berubah sewaktu-waktu. Apalagi organisasi pasti mendapat tekanan dari pemerintah USA. Jujur saja aku tidak ingin dia kembali ke sana.


"Lalu bagaimana pekerjaanmu di Turki?" tanyaku ingin tahu.

__ADS_1


Dia menghela napasnya. Menunduk sebentar lalu melihatku lagi. "Kau tidak setuju jika aku kembali ke organisasi?" tanyanya dengan tatapan meminta kepastian.


"Sayang, bukan begitu." Aku segera menjelaskannya, khawatir dia salah paham padaku. "Kita tidak tahu apakah hanya Nick saja yang tidak menyukaimu. Lagipula kau sudah berjanji untuk keluar dari organisasi. Coba bayangkan jika kau kembali, pastinya tidak akan mempunyai banyak waktu untuk merawat dan membesarkan anak-anak kita. Kau akan sibuk dengan tujuan dan target organisasi. Mereka akan tumbuh besar tanpa kasih sayang ayahnya. Cobalah pikirkan kembali." Aku memintanya dengan lembut.


Dia mengangguk, lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Ya. Aku tahu. Sekarang tanggung jawabku amat besar kepada kalian. Maka dari itu aku meminta pendapatmu untuk meyakini hati ini. Terima kasih, Sayang. Sekarang aku sudah tahu jawabannya." Dia mengecup keningku.


Aku membalas pelukannya. "Aku yakin kita akan tetap berkecukupan meskipun kau tidak lagi di organisasi. Biarlah yang sudah berlalu menjadi pelajaran untuk ke depannya. Sekarang kau mempunyai tugas untuk membahagiakan kami. Maka penuhilah tugas itu dengan segenap jiwa ragamu." Aku mencium pipinya.


Rainku tersenyum. Dia membalas ciumanku. Mencium pipi ini seraya memelukku. Rasanya bahagia sekali. Aku ingin selalu seperti ini bersamanya. Aku juga berharap bahagia ini selamanya menyertai kami. Sampai nanti sampai mati.


Gelangku?!


Tiba-tiba saja aku teringat dengan gelangku. "Sayang."


"Ya?"


"Gelangku." Aku menunjukkan gelangku padanya.


"He-em." Aku mengangguk. "Tapi aku tidak tahu bagaimana bisa terlepas," kataku lagi.


Suamiku tampak memikirkannya. "Mungkin saat di ruang operasi tanpa sengaja terlepas." Dia mengira.


"Benarkah?" Aku tak percaya.


Dia menarikku kembali ke dalam pelukannya. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja ini hadiah dari Tuhan atas kelahiran anak kita." Dia mencium keningku lagi.


Aku tersenyum lalu memeluknya dengan erat. Kusadari jika Tuhan begitu baik kepada kami. Setelah menganugerahi dengan dua buah hati, kami juga diberi kelapangan dengan terlepasnya dari perjanjian gelang ini. Sungguh kami amat bersyukur sekali. Segala puji bagi-NYA yang telah memberkahi keluarga ini. Semoga ke depannya kami bisa menjadi hamba yang lebih baik bagi.


"Istriku."


"Hm?"

__ADS_1


"Masih ingat saat kita bermain layang-layang di Palm Jumeirah?" tanyanya sambil memelukku erat.


"Tentu. Aku juga masih ingat saat pertama kali jalan-jalan ke pantai dan kau membuka kemeja putihmu." Aku mengingatkannya.


"Bukan hanya kemeja putihnya, Sayang. Tapi juga sabuk celananya. Kau melihatnya?" tanyanya balik.


"Melihat apa?" Aku pura-pura lugu saja.


"Melihat yang sengaja aku turunkan. Seksi, bukan?" Dia meminta pernyataan dariku.


Aku mengangguk. "Seksi sekali. Sampai sebagian rambutnya terlihat. Tapi kenapa tidak diturunkan semua?" Aku menggodanya seraya memperhatikan paras tampannya.


Dia terkekeh sendiri. "Itu mauku. Tapi nanti kau ilfeel denganku." Dia mencubit hidungku dengan gemasnya.


"Sayang, sakit!" Aku pun bermanja padanya.


"Lebih sakit mana saat pertama kali?" Dia bergantian menggodaku.


Tatapan matanya bening sekali. Bola mata birunya laksana lautan yang menenangkan jiwaku. Aku pun tidak menjawabnya. Aku hanya mendekatkan bibir ini ke bibirnya. Dia milikku dan selamanya akan kujaga. Aku begitu mencintainya. Mencintai hujanku.


"Sayang, aku mencintaimu." Aku pun berbisik lembut padanya.


Dia tersenyum seraya menampakkan gigi-gigi kecilnya. "Aku juga mencintaimu, Sayang," katanya lalu mencium bibirku.


Kami akhirnya berciuman ditemani deburan ombak pelabuhan. Saling menikmati setiap sentuhan sambil berpelukan dengan erat. Menyapunya, menekannya, saling melakukan perlawanan seakan tidak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya benang saliva itu terhubung di antara kami. Kuakui jika aku ini adalah miliknya dan dia milikku. Kontrak cinta telah kami tanda tangani. Sampai nanti, sampai mati.


.........


.........


.........

__ADS_1


...Tamat...


__ADS_2