
Rain mengangguk. "He-em. Aku ingin mencobanya. Bagaimana menurutmu, Sayang?" Rain meminta pendapat Ara.
Ara terdiam sejenak. Raut wajahnya tampak berpikir keras mengenai hal ini. Ia pun menyadari sesuatu.
Kata nenek, orang-orang di sini mempunyai kemampuan lebih dalam hal supranatural. Mungkin bisa dimintai bantuan untuk mencari di mana keberadaan kedua orang tua suamiku. Tapi, apakah mereka tidak akan meminta imbalan atas permintaan kami?
Istri dari sang penguasa pertambangan minyak di Timur Tengah itu tampak berpikir keras. Ia khawatir akan dimintai imbalan yang tidak diinginkan. Bagaimanapun kawasan ini bukanlah dunia mereka. Melainkan dunia entah berantah yang belum bisa dipastikan kebenarannya, ada atau tidak.
"Sayang?" Rain pun menegur Ara.
"Eh? Iya." Ara kaget, tersadar dari lamunannya.
"Apa yang kau pikirkan?" Rain terlihat khawatir.
Seketika Ara menyadari pembicaraan ini. "Em, Sayang. Aku tidak melarangmu untuk meminta bantuan pangeran. Tapi, apakah kita bisa mendapatkannya secara gratis? Aku khawatir dia meminta imbalan yang aneh-aneh." Ara tampak cemas.
Rain tersenyum lalu mencubit pelan kedua pipi istrinya. "Tidak, Sayang. Nanti aku akan membicarakannya langsung kepada pangeran. Kau tenang saja ya." Rain menenangkan.
Ara pun mengangguk, mencoba mengerti keinginan sang suami walaupun di dalam hatinya harap-harap cemas terhadap hal ini. Terlebih apa yang dikatakan oleh nenek pemberi gelang saat pertemuan. Ia khawatir Rain akan diminta untuk melakukan hal yang aneh-aneh, sesuatu yang tidak disukainya. Namun, sebisa mungkin Ara percaya jika semua yang terjadi adalah suratan takdir untuknya.
Tuhan, tolong lindungi suamiku. Aku sangat mencintainya.
Ara pun menutup perjalanan pulang ke istana Agartha dengan doa. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Ia kemudian kembali merebahkan diri di dada bidang sang suami. Ia mencintai suaminya.
Malam harinya di istana Agartha...
Rembulan bersinar dengan terang. Indah cahayanya membuatku teringat kepada sosok pangeran yang kutemui di dunia sana. Namanya sama seperti nama suamiku. Hanya saja rupanya yang lebih muda. Dia merupakan seorang pangeran kerajaan besar yang gagah rupawan.
__ADS_1
Kapasitas otakku kadang tidak mampu untuk melogiskan betapa agung kekuasaan Tuhan dalam menciptakan alam semesta. Aku hanyalah seorang hamba yang mempunyai keterbatasan dalam hal berpikir tentang asal muasal suatu perkara. Termasuk keberadaanku di sini. Benarkah Agartha memang ada?
Semoga suamiku berhasil meminta bantuan pangeran untuk mencari tahu di mana keberadaan kedua orang tuanya.
Saat ini aku sedang menatap rembulan dari jendela kamar yang dibiarkan terbuka. Tirai-tirai di sekeliling kamar tampak terembus angin dan melayang tinggi ke sembarang arah. Cuaca di tempat ini memang sedikit berbeda dari duniaku. Angin kencang tapi tidak terasa dingin. Di sini benar-benar nyaman dan juga membuat betah untuk tinggal. Terlebih segala keperluan tidak perlu bersusah payah mencari, tinggal memintanya saja.
Sayang, baik-baik di dalam sana. Lekas tumbuh besar dan sehat ya.
Kuusap perutku sambil berkata lembut kepada benih-benih tangguh yang ada di dalam sana. Aku berharap apa yang dikatakan oleh nenek pemberi gelang waktu itu memang benar adanya. Aku sudah tidak sabar ingin melihat kelahiran anak-anakku. Jika benar seperti apa yang dikatakan oleh nenek, kata sebut mereka berarti merujuk ke lebih dari satu. Dan aku amat bahagia jika bisa memilikinya, mengandung bayi seorang pria yang kucintai. Semoga saja cinta kami abadi.
"Permisi Nona Ara." Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarku.
"Ya, tunggu." Aku pun segera menuju pintu untuk membukakannya. "Bibi?" Kulihat pelayan istana lah yang datang.
"Maaf, Nona. Saya diminta oleh putri untuk memanggil Nona. Tuan Putri menunggu Nona di halaman belakang istana." Pelayan mengabarkan.
Memanggilku? Ada apa?
"Em, baiklah. Tapi suamiku sedang menghadap pangeran. Aku izin dulu kepadanya ya." Aku ingin meminta izin sebelum menemui Camomile.
"Em maaf, Nona. Putri amat mengharapkan kedatangan Nona secepatnya. Karena setelah ini putri akan menemani pangeran makan malam. Saya harap Nona tidak keberatan untuk segera datang," katanya lagi.
Dahiku berkerut mendengar nada pemaksaan seperti ini. Seakan ada sesuatu yang akan dilakukan oleh Camomile terhadapku. Entah apa itu. Dia seperti amat memaksa agar aku segera datang menemuinya. Ini mencurigakan sekali.
"Oh, baiklah. Aku akan segera ke sana. Bibi duluan saja. Aku ingin berdandan sebentar." Aku beralasan.
"Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi." Pelayan istana pun akhirnya berpamitan padaku.
__ADS_1
Aku mengangguk, melepas kepergian pelayan dari depan kamar. Namun, di dalam hati muncul seribu tanya tentang hal ini, mengapa Camomile sampai memanggilku untuk menemuinya. Apakah benar dia akan merebut Rain dariku?
Baiklah. Jika ini memang suratan, maka aku akan merubahnya.
Lantas aku mengambil secarik kertas. Kutuliskan pesan untuk suamiku jika aku dipanggil Camomile di halaman belakang istana. Setelahnya kuletakkan kertas ini di atas meja kamar. Aku berharap suamiku dapat membacanya setelah kembali dari istana. Karena aku harus menemui Camomile segera.
Aku tetap harus berhati-hati. Ini bukan duniaku. Terlebih Camomile sejak awal sudah menunjukkan rasa ketidaksukaannya padaku.
Beberapa saat kemudian, di halaman belakang istana...
Aku datang menemui Camomile dengan mengenakan gaun sutera putih yang diberikan oleh pelayan istana. Gaun ini hampir sama seperti gaun yang dikenakan olehnya. Hanya saja terdapat perbedaan di hiasan kepala. Camomile mengenakan mahkota kecil, sedang aku tidak.
Kini kulihat putri itu sedang duduk sambil meminum secangkir teh di gazebo belakang istana. Sepertinya dia memang telah menungguku. Namun, saat aku datang, dia tampak acuh tak acuh padaku. Dan ya, aku bersikap biasa saja padanya. Seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya di antara kami.
"Putri." Aku berdiri di hadapannya dengan jarak sekitar dua meter saja.
"Nona Ara, silakan duduk." Dia melihatku lalu mempersilakan duduk.
Aku pun duduk di depannya. Meja bundar gazebo ini menjadi saksi atas perbincangan yang sebentar lagi akan terjadi. Aku pun menghirup napas dalam-dalam sambil tetap menjaga keanggunan sebagai tamu istimewa kerajaan. Aku harus bersikap seanggun mungkin. Walaupun pada kenyataannya aku kurang menyukai sikapnya.
"Kudengar sekilas kalian ingin kembali." Dia membuka percakapan malam ini.
Seketika aku antusias menanggapi. "Benar," jawabku singkat sambil berusaha tenang dalam keanggunan.
"Aku tertarik untuk ikut. Apakah kalian mengizinkan?" Dia bertanya lagi yang membuatku mawas diri.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh nenek. Dia ingin melancarkan aksinya terhadap kami.
__ADS_1
"Em, Putri. Bukankah di sini lebih nyaman?" tanyaku menyelidik. Aku ingin memastikan alasan apa yang membuatnya sampai ingin ikut ke dunia kami.
Dia tersenyum tipis di depanku. "Ya. Tapi sejujurnya aku tidak tertarik untuk tetap berada di sini. Terlebih dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suamiku. Aku lebih tertarik kepada suamimu." Dia berterus terang padaku.