
Sang gadis berjalan mendekati Rain bak model di atas catwalk. Semakin mendekat, jantung Rain semakin tak karuan. Gadisnya kini mengenakan gaun yang dimintanya.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Ara yang sudah di hadapan Rain.
"Ara ... kau cantik sekali." Rain memegang wajah gadisnya.
"Benar, kah?" tanya Ara sambil memasang wajah imutnya.
"Ya, Tuhan." Segera Rain menarik tubuh Ara ke dalam pelukannya.
"Sayang ...?"
"Kenapa kita baru sekarang bertemu? Kenapa tidak dari dulu?" Rain memberatkan kepalanya di kepala Ara.
"Kau menyesal?" tanya Ara dalam dekapan Rain.
"Aku menyesal karena tidak dari dulu. Ini tahun ke limaku di sini. Tapi kenapa baru tahun ini kita bertemu." Rain melepaskan pelukannya lalu memegang wajah sang gadis.
"Sayang?"
"Kita menikah saja besok. Aku sudah tidak dapat menahannya lagi." Rain berkata jujur.
"Hah?!" Segera Ara menjauhkan dirinya.
"Ara, aku ini berniat baik padamu. Kenapa harus diperlambat?" Rain tidak terima, ia berjalan mendekati Ara.
"Aku belum siap menikah. Sungguh!" Ara memundurkan langkah kakinya ke belakang hingga tersudut di dinding ruangan.
"Begitu?" Rain mengunci Ara dengan kedua tangannya. "Tapi bagaimana denganku? Apa tidak kasihan padaku?" Rain menatap dalam gadisnya.
Gaun yang dikenakan Ara berwarna hitam dengan hiasan pernak pernik di seluruh bagiannya. Sehingga jika terkena cahaya, gaun itu terlihat berkilauan. Gaun tanpa lengan dengan bagian bahu yang terbuka, sehingga Rain dapat melihat dengan jelas bahu sang gadis. Hanya ada tali kecil yang mengait di kedua pundaknya. Tak ayal gaun itu membuat angan Rain melayang jauh.
Gaun hitam yang Ara pakai memang panjang dan hampir menutupi mata kaki. Tapi, kedua sisinya terbuka hingga ke pertengahan paha. Bak gaun-gaun yang dipakai aktris Hollywood saat berada di karpet merah. Entah kenapa malam ini Rain ingin sekali Ara memakai gaun itu.
"Em, aku ... aku ...." Ara bingung harus menjawab apa.
Rain tersenyum. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sesuatu berbentuk kotak merah yang mewah. Ia pun memberikan kotak tersebut kepada Ara.
"Apa ini?" Ara bingung.
__ADS_1
"Buka saja." Akhirnya mereka bisa bersikap seperti biasa.
Ara mencoba membuka kotak merah pemberian dari Rain. Dan saat melihat isinya, sang gadis terkejut bukan main. Ia tidak menyangka jika Rain akan memberikannya.
"Ini ...?!!" Ara terbelalak melihat prianya.
"Selesai rapat aku mendapatkan hadiah dari salah satu pejabat tinggi kota. Dia memberiku hadiah ini. Dan seketika itu juga aku teringat padamu." Rain menjelaskan.
Tuan ....
Seketika Ara terharu dengan penuturan Rain. Rasanya kristal bening itu ingin segera keluar dari persembunyiannya. Ia tidak menyangka jika Rain akan ingat padanya di tengah pekerjaan yang padat.
"Kupakaikan, ya?" Rain meminta izin, Ara pun mengangguk.
Satu set perhiasan emas Rain berikan kepada Ara. Emas murni 24 karat yang diukir secara eksklusif oleh pengrajin emas terkenal di kota Dubai. Sang penguasa mulai memakaikan antingnya terlebih dahulu ke telinga Ara. Ara pun dengan geli menerimanya.
Tubuhnya ternyata sangat sensitif.
Rain menyadari bagaimana tubuh sang gadis. Setelah memakaikan anting, ia segera memakaikan kalungnya. Ia meminta Ara berbalik menghadap ke cermin sambil mengangkat rambutnya agar Rain bisa dengan mudah memakaikan kalung itu. Tetapi, sesuatu terjadi saat Rain telah selesai memakaikan kalung tersebut.
"Ahh!" Ara terkejut saat bibir Rain mendarat di tengkuk lehernya.
"Sayang ... hentikan!"
Ara meminta dengan suara yang tertahan. Namun, bukannya berhenti, Rain malah semakin menjadi-jadi. Ia memegang kuat tangan Ara agar tidak dapat memberontak kepadanya. Pantulan bayangan keduanya di cermin pun menambah sensasi tersendiri momen ini.
"Sayang, sudah!"
Semakin lama bibir Rain semakin jauh menyusuri tubuh gadisnya. Kedua tangan Ara yang terkunci oleh lengan kekar Rain tidak berdaya sama sekali untuk melakukan perlawanan. Dan akhirnya Rain berbisik di telinga gadisnya. Sebuah bisikan yang mampu membuat dada Ara naik-turun sendiri.
"Jangan salahkan aku jika berbuat seperti ini. Tapi salahkan dirimu yang menunda-nunda niat baikku."
"Sayang, tapi—"
"Ara ... malam ini kau milikku." Rain berkata amat dekat dengan telinga Ara.
Ara memejamkan kedua matanya karena merasa geli. Rain pun melihat bagaimana ekspresi sang gadis yang begitu menggodanya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Sayang!" Ara terkejut saat Rain menggendongnya. "Sayang, turunkan aku!"
__ADS_1
Tanpa kata, tanpa pamit Rain membawa Ara menuju kamarnya. Pundak kekar Rain sanggup memanggul tubuh sang gadis. Ara pun berontak, berusaha turun dari gendongan Rain. Tapi apalah daya kekuatan wanita di hadapan seorang pria. Ara bukanlah wonder women.
Sementara itu...
Di salah satu klub malam, terlihat seorang wanita sedang menghisap batang rokoknya. Ia mengenakan mini dress putih sambil menunggu seseorang datang. Tak lama seseorang yang ditunggunya pun datang dan segera duduk di hadapannya.
"Nona Jane, Anda memanggilku?" tanya pria berpakaian serba hitam itu.
"Ya. Aku punya pekerjaan untukmu. Ini." Wanita bernama Jane menyerahkan amplop cokelat kepada si pria.
Pria itu segera melihat isi dari amplop cokelat tersebut. Dan ia menemukan foto seorang gadis di salah satu kampus yang ada di Kota Dubai. Pria itu pun mengerti maksud dari Jane.
"Apakah aku harus menghabisinya?" tanya pria itu kepada Jane.
"Huhhh." Jane mengembuskan asap rokoknya ke atas. "Tidak. Tidak perlu. Aku tidak ingin mengotori hidupku dengan membunuh seseorang. Lagipula aku hanya ingin Rain tidak menyukainya lagi." Jane menjelaskan.
Seketika si pria menelan ludahnya sendiri. "Nona, jadi ini?" Pria itu terkejut.
"Tugasmu mudah saja, Nail." Jane menyebut nama si pria itu. "Buat dia cacat agar Rain tidak menyukainya lagi. Setahuku Rain amat menyukai wanita yang sempurna." Jane melanjutkan.
"Tapi, Nona. Hal ini akan sangat berbahaya jika sampai ketahuan oleh tuan Rain. Bukan hanya kita, tapi keluarga juga akan terkena imbasnya." Pria bernama Nail itu sedikit ragu dengan pekerjaannya kali ini.
"Kau tenang saja. Selama kita bermain aman, tidak akan ketahuan. Tugasmu hanya membuatnya cacat. Selebihnya itu urusanku," kata Jane lagi.
"Baik. Lalu bagaimana dengan imbalannya?" tanya Nail kepada Jane.
"Lima puluh ribu dolar untuk membuatnya pincang. Dan ini uang muka untukmu. Sepuluh ribu dolar." Jane menyerahkan uang dalam amplop kepada Nail.
"Beri aku waktu untuk membaca keadaan, Nona. Karena tidak mungkin melakukannya di tempat ramai." Nail bernegosiasi.
"Baiklah. Kuberi waktu satu minggu dari sekarang. Di saat kau akan memulai tugas, aku akan mentransfer setengahnya ke rekeningmu. Kau bisa pegang ucapanku." Jane menyakinkan.
"Baik."
Perjanjian itu akhirnya disepakati oleh keduanya. Nail pun bergegas pergi sambil membawa foto Ara dan uangnya. Ia akan mengamati keadaan di sekitar Ara terlebih dahulu. Sedang Jane, ia meneguk gelas birnya sampai habis. Hatinya benar-benar kacau saat ini.
"Rain ... jika dia tidak sempurna, apakah kau masih ingin menikahinya? Hah, kau bodoh Rain! Jelas-jelas aku yang dekat denganmu selama ini. Tujuh tahun aku mengenalmu, tapi kenapa kau malah ingin menikahinya?!!" Jane marah sendiri.
Jane kesal, malu, sakit dan terluka hatinya karena kedekatannya selama ini tidak membuahkan apa-apa. Jane berharap banyak kepada Rain, tetapi Rain dengan mudahnya mengatakan jika akan menikahi Ara, gadis yang baru saja dikenalnya. Hal itulah yang membuat Jane amat sakit hati. Ia tidak terima tujuh tahun kebersamaannya berakhir sia-sia. Ia akhirnya menyusun strategi untuk membuat Rain membatalkan niatnya menikahi Ara.
__ADS_1
Suara hingar bingar musik remix menggema di dalam klub. Para pengunjung dari berbagai macam negara pun berbaur menjadi satu. Tapi sayangnya, Jane seorang diri di sana. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam lautan luka dan harapan. Bukan karena pria lain, melainkan karena Rain seorang.