
Tak lama teleponnya pun diangkat oleh Byrne. "Halo?"
Suara seseorang di sana terdengar serak seperti baru bangun tidur. Owdie pun segera memulai pembicaraannya.
"Hai, Bryne. Kau sedang sibuk?" tanya Owdie sambil meneguk softdrink-nya.
"Hm ... aku sedang tidur. Mengapa mengganggu?" tanya Byrne dengan malasnya.
"Hei, Kawan. Hari masih siang. Kenapa sudah tidur? Nikmatilah hari ini." Owdie berbasa-basi sebelum menuju ke inti pembicaraan.
"Hoaaaaam. Aku capek, lelah, letih, lesu dan yang lainnya, Owdie." Byrne mencoba bangun dari tidurnya.
"Oh, pantas saja nomor yang satumu tidak aktif," celetuk Owdie sambil memakan kacang kulit.
"Hah, ya. Nomor itu milik Empire Earth. Sengaja kunonaktifkan agar tidak ada pihak organisasi yang menghubungiku. Apalagi kakek." Byrne duduk dengan malas di pinggir kasurnya.
Kamar tidur Byrne amatlah kecil, seperti kamar tidur di Jepang yang tidak memakan banyak tempat. Namun, kamar Bryne memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga tidak akan merasa kepanasan. Maklum ruangan di bawah tanah mempunyai temperatur yang berbeda dari daratan sehingga membutuhkan sirkulasi udara yang lebih.
"Sepertinya semua berjalan dengan lancar, Byrne." Owdie menduga. Ia mulai masuk ke inti pembicaraannya.
Byrne menguap kembali. "Hah, ya. Mungkin. Aku hanya mengerjakan apa tugasku," kata Byrne lalu meneguk air minum yang ada di atas meja kecil nya.
Owdie melihat ke arah jendela kamar hotel. "Tapi kulihat berita efeknya sangat berbahaya, Byrne. Ada beberapa orang yang harus sampai menjalani perawatan intensif." Owdie menyelidiki kebenarannya.
"Oh, itu." Byrne mengusap wajahnya agar tidak mengantuk. "Itu hanya efek awalnya saja sebagai reaksi alami tubuh saat terkena virus. Setelahnya tidak akan membahayakan. Hanya perlu istirahat beberapa hari." Byrne menjelaskan.
__ADS_1
"Benarkah? Kau yakin?" Owdie meminta kepastian.
"Ya, benar. Sudah berulang kali aku melakukan uji coba dan hasilnya sama. Mungkin empat sampai lima hari akan sembuh dengan sendirinya. Tergantung tingkat kekebalan si penerima virus," tutur Byrne lagi.
"Jadi ini tergantung imun si penderita sendiri?" Owdie ingin tahu lebih lanjut.
"Ya. Itu benar. Jika menjaga pola hidup yang sehat, kemungkinan hanya empat sampai lima hari akan sembuh dengan sendirinya. Tapi jika stres ataupun mengalami tekanan mental, sistim imun tubuh akan melemah sehingga membuat penderita harus menjalani beberapa minggu perawatan untuk sembuh. Semuanya kembali ke penderitanya itu sendiri." Byrne menjelaskan.
"Tapi pihak media membingkai berita ini amat mematikan, Byrne." Owdie mengernyitkan dahinya.
Byrne tersenyum. "Hidup mati seseorang itu di tangan Tuhan, bukan di tangan virus. Tubuh kita juga mempunyai sistem kekebalan yang lebih hebat dari virus buatan manapun. Tuhan telah menciptakan manusia dengan begitu sempurna sampai ke akar terkecilnya." Byrne menerangkan.
"Hah, syukurlah kalau begitu. Aku khawatir virusmu benar-benar berdampak pada kematian." Owdie khawatir.
Byrne tertawa. "Rasa takut yang ada pada diri sendiri lah yang akan membuat kematian. Saat kita takut, cemas dan khawatir yang berlebihan, saat itulah kita mudah terserang penyakit karena imun tubuh melemah. Mungkin tak lama lagi juga kakek akan meminta semua pihak media untuk menakuti-nakuti penduduk sehingga virusnya dapat benar-benar mematikan." Byrne tertawa miris.
Byrne melihat kalender di atas meja kecilnya. "Aku masih lama di sini. Tidak bisa keluar dari area yang penuh pengawasan tanpa izin dari kakek. Dan kau tahu sendiri jika kakek tidak akan mengizinkanku keluar dari area ini. Dia malah memintaku untuk membuat virus yang lebih banyak lagi. Tanpa peduli pada batas kemampuan kami yang membutuhkan istirahat." Byrne merasa malas membicarakan kakeknya.
"Apa?! Kakek meminta untuk membuat virus yang lebih banyak lagi?!" Owdie tak percaya.
"Hm, ya. Itu benar. Padahal sudah ratusan barel yang kami hasilkan. Tetapi tetap saja masih tidak cukup baginya." Byrne menyesali tindakan kakeknya.
Owdie mengerti. "Sabar, Bryne. Tidak lama lagi dia juga akan mati. Biarlah dia bersenang-senang sebelum kematiannya. Aku juga sudah lelah dimintai ini dan itu olehnya. Dia tidak merasakan bagaimana susahnya di lapangan. Seenaknya saja memerintah." Owdie menggerutu sendiri.
"Ya. Aku harap semua cepat berakhir dan dunia kembali membaik. Kau jaga dirimu di sana. Jangan sampai terkena paparan virus. Walaupun hanya beberapa hari, tetap saja akan menyiksa. Jangan lupa pakai masker dan menjaga pola hidup yang sehat. Jangan panik berlebihan jika terkena karena hanya akan memperburuk keadaan. Yakinlah jika Tuhan tidak mengizinkan, maka semuanya tidak akan terjadi." Byrne perhatian kepada saudaranya.
__ADS_1
Owdie pun tersentuh dengan perhatian Byrne. "Terima kasih, Byrne. Jaga dirimu di sana. Sampai nanti." Owdie berniat mengakhiri teleponnya.
"Sampai nanti." Byrne segera membalas lalu tak lama sambungan telepon mereka pun terputus.
Percakapan keduanya berakhir. Owdie akhirnya bisa bernapas lega karena ternyata virus yang dibuat oleh saudaranya tidak terlalu membahayakan. Hanya sekedar gejala yang membutuhkan waktu istirahat beberapa hari. Ia juga tenang karena dunia masih bisa diselamatkan dari keserakahan sekelompok orang.
Owdie percaya jika Byrne tidak menginginkan hal ini terjadi. Namun, di sisi lain saudaranya itu harus menuruti perintah sang kakek. Alhasil jalan tengah pun diambil agar keinginan organisasi bisa tetap terpenuhi. Walaupun sejujurnya Byrne merasa bersalah karena telah menjadi penyebab wabah ini. Namun apalah daya, melawan sang penguasa tidaklah berguna.
Beberapa jam kemudian, menjelang malam di Kuwait...
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam waktu Kuwait dan sekitarnya. Namun, menjelang malam ini tampak seorang pria bersweter hitam masih tertidur pulas di atas kasurnya. Sedang tak jauh berada dari sisinya, terdapat ponsel yang menyala disertai getaran kuat. Menandakan jika ada telepon masuk untuknya.
Satu, dua kali panggilan tak terangkat olehnya. Sampai akhirnya ponsel itu terus bergetar dan jatuh ke atas lantai. Saat itu juga ia tersadarkan jika ada sesuatu barang yang jatuh. Ia segera bangun untuk berjaga-jaga dari keadaan sekitar.
"Astaga, apa itu?!"
Ia masih mengantuk. Namun, karena mendengar suara barang jatuh, akhirnya terbangun seketika. Bangun kejut dari alam mimpinya yang indah. Sontak kepalanya jadi pusing karena bangun yang terpaksa.
Dering ponsel itu pun kembali berbunyi disertai getaran ponsel itu sendiri. Ia kemudian mencari asal suara ponselnya. Saat itu juga ia tersadar jika suara jatuh itu adalah suara ponselnya. Ia pun segera mengambilnya.
"Ya ampun."
Sambil mengusap wajah, ia melihat siapa gerangan yang meneleponnya. Dan ternyata, nomor tak dikenal lah yang meneleponnya.
Siapa ya? Angkat tidak?
__ADS_1
Saat itu juga ia merasa ragu untuk mengangkat teleponnya.