Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Baby, I am Coming


__ADS_3

Esok harinya…


Fajar ini aku terbangun dari mimpi. Entah mengapa semalam langsung tertidur begitu Kakek Ali berpamitan pulang. Mungkin memang sengaja dibuat mengantuk agar aku tenang. Dan kini aku baru saja selesai membasuh wajah di wastafel kamar mandi.


“Hah … hari ini begitu membuatku deg-degan.”


Tak tahu kenapa saat mengelap wajah di depan cermin, hatiku tiba-tiba tak karuan sendiri. Kulihat dalam rumah juga masih sepi. Mungkin priaku sedang tidur di lantai atas bersama Jack dan lainnya. Entahlah, aku tidak tahu dia ada di mana sekarang. Seingatku semalam langsung beristirahat dan membiarkannya mengobrol bersama Jack.


“Baru pukul empat.”


Kulihat jam di dinding baru menunjukkan pukul empat lewat empat menit waktu Dubai dan sekitarnya. Ini berarti aku bisa menelpon ibu yang sudah pagi di sana. Tentunya aku harus meminta restu sebelum pengucapan janji suci. Jadi kuambil ponselku untuk video call dengan ibu.


Suara tunggu kemudian terdengar. Satu, dua kali panggilanku belum terangkat. Aku jadi penasaran ibu sedang apa di sana.


“Ibu, angkat telepon aku.”


Aku mencoba menelepon lagi. Dan ya, akhirnya panggilanku terangkat juga oleh Ibu. “Ibu!” Sungguh senang hati ini melihat wajah ibu di layar ponsel.


“Ara?” Ibu seperti tidak mengenaliku.


“Ibu, hari ini Ara akan menikah. Doakan ya, Bu.” Aku berkata penuh semangat kepada pejuang hidupku.


“Iya, Nak. Iya. Ibu akan selalu mendoakan Ara. Nak Rain mana?” tanya ibuku yang sepertinya sedang duduk di kursi tamu.


“Ara tidak tahu dia ada di mana, Bu. Ara carikan saja?” tanyaku.


“Eh, eh. Tidak perlu. Nanti saja setelah resepsi. Pasti dia sangat kelelahan.” Ibuku memakluminya.


“Ibu sudah melihat semua foto dan video yang Ara kirim?” tanyaku memastikan.

__ADS_1


“Belum, Nak. Ibu baru saja selesai mencuci pakaian. Tadi ibu lagi di kamar mandi. Nanti ibu lihat, ya.” Ibu tersenyum padaku.


Aku mengangguk.


“Ya, sudah. Sana siap-siap jadi ratu sehari. Ibu doakan dari sini.” Ibu seperti ingin cepat-cepat mengakhiri panggilan videonya.


“Tapi Ara masih kangen.” Aku cemberut di hadapan kamera.


“Hei, tidak boleh begitu. Anak ibu jelek kalau cemberut. Tersenyumlah. Sambut hari barumu. Jangan tunda punya momongan, ya. Ibu sudah ingin menimang cucu.” Ibu membuatku mengernyitkan dahi.


Ya ampun, ibuku ternyata satu frekuensi dengan Rain. Ingin cepat-cepat menimang bayi.


“Iya, Bu. Kalau begitu Ara tutup teleponnya. Nanti Ara kabari lagi. Ibu baik-baik di sana, ya. Banyak makan buah-buahan agar sakitnya tidak kambuh.” Kuberikan perhatianku sebelum pergantian hari yang baru.


“Iya, Nak.” Ibu tersenyum seraya mengangguk.


Panggilan video kami akhirnya berakhir. Rasanya tenang jika sudah mengabari ibu. Restu telah kudapatkan, tinggal resepsi pernikahannya saja kujalani. Ya, sudah. Aku harus bersiap-siap jadi ratu sehari.


Saat yang ditunggu akhirnya datang. Jantungku berdebar kencang saat dipakaikan gaun pengantin bak putri kerajaan. Gaun berwarna putih dengan hiasan pernak-pernik yang cantik. Sungguh tak pernah terbayangkan jika hari ini aku akan menikah. Apalagi menikah dengan seorang pria tampan bak pangeran berkuda. Dia begitu sempurna dan memukau pandangan mataku.


“Nona, rambutnya dibiarkan tergerai keriting gantung seperti ini?” Seorang penata rambut bertanya padaku.


Sejujurnya aku sudah siap jika harus mengucapkan janji suci pernikahan. Tapi entah mengapa rasanya deg-degan sekali. Seolah-olah aku akan kehilangan sesuatu untuk menyambut hari baruku. Tapi sepertinya, hal itu hanya sebatas ketakutanku saja. Hal yang kurisaukan sungguh tidak ada di depan mata.


“Dibiarkan saja tidak apa-apa,” kataku kepada penata rambut ini.


“Baik, Nona. Kalau begitu semua sudah siap. Nona bisa segera naik. Di luar sudah ada yang menunggunya.” Penata rambut mempersilakanku keluar ruang rias.


Aku mengangguk lalu berkaca di cermin besar sebentar. Kulihat penampilanku begitu sempurna seperti bukan diriku sendiri. Aksesoris anting, kalung, pemberian dari Rain juga kupakai dan tidak ingin kulepas. Aku ingin semua pemberiannya menjadi saksi janji suci pernikahan kami. Walaupun pada kenyataannya semuanya adalah benda mati.

__ADS_1


“Mari. Pelan-pelan saja jalannya.” Sang penata rambut menuntunku dengan hati-hati.


Semakin mendekati pintu keluar, semakin kencang laju jantungku. Seolah aliran darah mengalir deras memenuhi seluruh pembuluh tubuh. Hari ini benar-benar membuatku deg-degan sampai tidak dapat berpikir. Tak lama lagi pangeranku akan mempersunting diri ini di penghujung rindu. Bahtera itu sudah disiapkan di dermaga cinta kami.


Ya Tuhan, kumohon restuilah pernikahan kami. Bantu kami dalam setiap hela napas yang Engkau berikan. Engkaulah satu-satunya tempat berharap dan meminta. Tiada Tuhan melainkan Engkau yang menguasai seluruh jagat raya semesta. Maka terimalah janji suci pernikahan ini.


Di dalam hati, tidak henti-hentinya aku berdoa untuk kelancaran prosesi janji suci dan resepsi pernikahan kami. Priaku sendiri katanya sudah menunggu di teras atap gedung bersama tamu undangan lainnya. Mungkin dia juga sedang harap-harap cemas di sana. Entahlah. Semoga saja semuanya berakhir dengan bahagia.


“Ara, cantik sekali.” Kak Jamilah menyambut kedatanganku di depan pintu.


“Terima kasih, Kak.” Aku tersenyum padanya.


Kak Jamilah tampak begitu berbeda. Dia mengenakan pakaian serba putih, tidak seperti biasanya yang hitam. Mungkin sudah menjadi tradisi di Dubai untuk menghadiri acara pernikahan seperti ini. Atau memang Kak Jamilah sendiri yang ingin memakai pakaian serba putih?


“Pelan-pelan, Dek. Kita naik lift.”


Tak perlu menunggu lama, akhirnya kami tiba di depan lift lalu segera masuk ke dalam. Tak perlu menunggu hitungan menit juga, kami akhirnya sampai di lantai paling atas gedung tertinggi di dunia ini. Kulihat rombongan pengantar mempelai wanita segera menyambut kedatangan kami. Mereka lekas berbaris di belakangku untuk mengiringi langkah menuju ke mempelai pria. Dan rasanya seperti ingin pingsan saja. Tak menyangka akan menjadi bak seorang putri raja.


Pintu lantai teratas gedung terbuka. Kulihat dari balik tirai mahkota, priaku sudah menunggu di ujung sana. Dia berpakaian serba putih mirip dengan busana seorang pangeran kerajaan. Dan dia benar-benar tampan sekali.


Sayang, aku datang ….


Sambil membawa seikat bunga mawar putih, langkah demi langkah kunikmati. Terlintas beberapa kejadian yang telah kami lewati untuk sampai ke hari ini. Ada canda tawa, ada suka cinta, bahkan tangis dan bahagia menyertai perjalanan kami. Rasa-rasanya tidak dapat dipercaya bisa sampai sejauh ini.


Pertengkaran dan duka lara yang menyiksa seakan mewarnai kisah yang ada. Dan hari ini semuanya akan berpadu menjadi satu dalam ikatan suci pernikahan. Rain akan menjadi suamiku dan aku akan menjadi istrinya. Sungguh kebahagiaan yang langka terjadi.


“Ara ….”


Kudengar dia menyebut namaku lembut sekali. Kulihat juga kedua matanya dipenuhi linangan air mata yang mulai menggenang. Rainku menahan tangisnya di sana. Tak lama dia juga mengambil sapu tangan dari sakunya, menyeka butir kristal bening yang keluar dari mata indahnya.

__ADS_1


Sayang, jangan menangis. Sebentar lagi kita akan bersama seutuhnya.


Langkah demi langkah terasa begitu mendebarkan. Hingga akhirnya uluran tangannya memberi tanda jika aku sudah sampai. Kusambut tangannya lalu dia pun mencium tanganku. Seperti kisah seorang pangeran mempersunting putri kerajaan. Dan putri yang beruntung itu adalah aku.


__ADS_2