
Beberapa saat kemudian...
Entah sudah berapa lama aku memejamkan mata, tiba-tiba saja aku merasa ada angin lebat yang menghampiriku. Lantas kubuka kedua mata ini untuk melihat apa yang terjadi. Saat itu juga aku melihat seperti bintang yang jatuh ke bukit.
Cahaya bintang?
Kulihat di dekatku masih tertidur pulas seorang prajurit yang mengaku mempunyai nama yang sama seperti dosenku di kampus. Lantas aku beranjak bangun untuk menuju ke arah cahaya bintang itu. Dan ternyata...
"Nenek?!" Aku melihat nenek yang memberi gelang padaku datang.
"Cucuku." Dia menyebutku sebagai cucunya.
Lantas cepat-cepat aku menuruni anak tangga untuk menghampirinya. Ini adalah kesempatan bagus bagiku untuk menanyakan semua hal yang terjadi. Dan kulihat bintang fajar bersinar terang di pagi ini. Bisa dipastikan ini adalah di waktu fajar atau sekitar pukul empat pagi waktu duniaku.
"Nenek, akhirnya Nenek datang." Aku pun tiba di hadapannya, jarak kami hanya sekitar tiga meter saja.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya padaku.
Nenek bergaun putih ini tampak anggun, tidak selusuh saat pertama kali kami bertemu. Rambutnya disanggul dengan hiasan di kepalanya. Namun, tubuhnya terbalut gaun putih yang sepertinya terbuat dari sutera. Tapi aku masih ingat bagaimana rupanya. Suaranya pun tidak asing bagiku walau kami baru sekali bertemu.
"Aku ... keadaanku kurang baik, Nek. Aku mengalami kejadian aneh selepas tiba di tempat tujuan. Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi?" tanyaku terus terang.
Kulihat nenek itu tersenyum. "Itu adalah risiko dari gelang yang kau pakai, Cucuku." Dia menuturkan.
"Apa?!" Seketika aku terperanjat kaget mendengarnya.
"Ya. Segala sesuatu pasti mempunyai risiko tersendiri. Dan apa yang kau alami adalah risiko dari gelang yang kau pakai," katanya lagi.
"Nek, kenapa Nenek tidak memberi tahuku jika gelang ini mempunyai risiko?" Pikiranku tiba-tiba kalut karena mendengar penuturannya.
"Tenanglah, Cucuku. Risiko yang datang hanya sebagai penebus dari terwujudnya impianmu. Bukankah sekarang kau sudah bertemu dengan pangeran impianmu?" tanyanya.
Aku tertegun.
__ADS_1
"Tiga bintang dan satu bulan yang ada di pergelangan tanganmu bukan tidak mempunyai arti. Semua ada artinya masing-masing. Namun, kau akan secara bertahap melewatinya." Dia menjelaskan.
"Tapi, Nek. Waktu itu aku kesulitan untuk menemukan jalan pulang. Aku tersesat di bukit pohon tin dan bertemu dengan pria yang mirip sekali dengan priaku." Aku menceritakan tentang pangeran itu padanya.
"Tidak mengapa. Tidak ada salahnya berkenalan beda bumi. Toh, kau bisa pulang dengan selamat juga, bukan?" tanyanya.
"Iya sih, Nek. Tapi tetap saja membuatku penasaran," kataku lagi.
"Saat ini juga kau sedang tersesat. Ada seseorang yang berniat mencelakaimu. Tapi gelang itu bereaksi, tidak terima jika kau sampai terluka. Sehingga kau mendengar dentingan titanium dari jarak yang dekat saat mobil itu ingin menabrakmu."
"Maksud Nenek?"
"Coba lihat gelangmu," pintanya.
Lantas kulihat gelang yang ada di pergelangan tangan kananku ini. Dan ternyata benar, satu bintang sudah tidak ada. Aku pun terperangah melihatnya.
"Kau akan melewati kejadian tak terduga sebanyak jumlah bintang dan bulan yang ada di gelangmu. Tapi, jangan khawatir. Selama banyak berdoa, keberuntungan akan selalu berpihak padamu, Cucuku. Kita mempunyai satu Tuhan yang sama. Dan DIA akan selalu mendengarkan doa kita. Tinggal bagaimana kesabaran bermain dalam menunggu jawaban atas doa yang kita panjatkan. Maka bersabarlah." Nenek itu menasihatiku.
"Baik, Nek. Tapi apa gelang ini tidak bisa dilepas?" tanyaku, mencoba mengambil jalan tengah karena tidak ingin mengalami hal yang aneh-aneh lagi.
"Ini berarti ...?!"
Lantas aku berpikir jika tidak ada yang gratis di dunia ini. Bahkan untuk menembus ruang dan waktu pun harus ada konsekuensi yang diterima. Aku jadi bisa sedikit memahami mengapa semua hal ini terjadi padaku.
"Beruntunglah dirimu, Cucuku. Kau selalu dikelilingi oleh energi positif. Tetap pertahankan hal itu," pesannya.
"Nenek, aku berniat menyerahkan setengah gajiku kepada Nenek. Tapi, aku tidak membawa uangnya sekarang. Lebih tepatnya belum memintanya. Bagaimana ini, Nek?" tanyaku lagi.
"Terima kasih. Tapi nenek tidak membutuhkan uang itu. Serahkan saja kepada Baitul Mal yang ada di sana, agar mereka yang membagikannya kepada yang lebih berhak." Nenek itu menuturkan.
"Berarti Nenek menerima niatanku?" tanyaku lagi, memastikan.
"Ya. Kau memang gadis yang baik. Sekarang pulanglah ke duniamu, Cucuku. Sudah banyak orang yang menunggu." Nenek itu kemudian membuka sebuah lubang cahaya untukku.
__ADS_1
Saat itu juga tubuhku seperti terserap ke dalamnya. "Nenek, kapan kita bisa bertemu lagi?" tanyaku sebelum masuk ke lubang itu.
"Di setiap kait titanium terlepas, kita akan bisa bertemu lagi. Teruslah berdoa agar kesempatan bertemu itu selalu ada. Sampai jumpa."
Kulihat nenek di depanku perlahan-lahan tertutupi sinar yang amat terang. Seperti api tapi bukan api. Tubuhku pun tersedot ke suatu tempat dan tidak bisa melawan. Lantas kupasrahkan diri ini, berdoa kepada Tuhan agar perjalananku selamat sampai tujuan.
Lee ... terima kasih.
Kusadari jika belum sempat berterima kasih kepada pria yang telah memberiku tempat singgah di rumah pohonnya. Tapi sepertinya dia bisa memaklumi hal ini. Dia adalah pria baik dan juga ramah. Ya, walaupun awalnya sempat mengarahkan pedangnya ke arahku. Dan aku memakluminya.
Beberapa saat kemudian...
Lantunan ayat suci kudengar bersama dengan kesadaran kurasakan. Seluruh saraf tubuhku sudah kembali berfungsi dan menggerakkan tangan ini. Perlahan-lahan aku pun membuka kedua mata. Namun, cahaya lampu begitu menyilaukan pandangan.
"Di mana aku?"
Tubuhku masih lemas. Detak jantungku pun berpacu cepat karena jiwaku baru saja menyatu dengan raga. Dan kudengar pujian untuk Tuhan dipanjatkan dari arah dekat. Tak berapa lama kulihat pria tua berjubah putih menghampiriku.
"Segala puji bagi Tuhan semesta alam." Dia lantas memegang kepalaku.
"Kakek?"
Pandanganku masih samar. Suaraku pun terdengar pelan. Namun, lama kelamaan aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. Dan kusadari jika Jack juga berada di dekatku.
"Syukurlah, Nona. Anda sudah tersadarkan."
Kulihat Jack tersenyum. Dan baru kusadari jika sedang berada di rumah sakit saat merasa tangan kiriku tersambung selang infus.
Astaga, ternyata aku masuk rumah sakit? Apa sebenarnya yang terjadi?
Aku tak percaya jika berada di sini. Entah apa yang terjadi sebelumnya, aku tidak tahu. Tapi yang jelas aku sudah kembali dalam keadaan selamat. Sepertinya doaku cepat dikabulkan Yang Maha Kuasa.
"Di mana Rain?" tanyaku pelan kepada Jack.
__ADS_1
"Tuan sedang dalam perjalanan, Nona. Sebentar lagi tuan akan sampai. Nona beristirahatlah, jangan banyak bergerak terlebih dahulu." Jack memberi tahu.
Lantas aku pun mengangguk pelan. Kulihat Jack pergi lalu kembali bersama seorang dokter. Dokter itu lantas memeriksaku dan menyuntikkan obat ke dalam cairan infusku. Ya, sudah. Aku pun jadi tertidur lagi.