
Waktu itu...
"Aku pulang!"
Ara baru saja tiba di apartemen setelah pulang dari kampus. Ia menutup pintu lalu melihat prianya sedang duduk di sofa. Ia pun menebarkan senyuman dan segera melepas sepatu. Ia amat rindu kepada prianya yang tak lain adalah Rain.
“Sayang, sudah pulang?” Ara tersenyum semringah kepada Rain.
Rain sendiri berwajah datar saat melihat kedatangan Ara. Ia kemudian berbicara kepada sang gadis yang sedang melepas sepatunya. “Ada hal yang ingin aku bicarakan, Ara.” Rain sama sekali tidak membalas senyuman Ara.
“Tentang apa, Sayang?” tanya Ara yang belum menyadarinya.
Rain beranjak dari duduk. Ia mendekati Ara yang juga berjalan ke arahnya. Rain segera menyerahkan amplop cokelat yang ia terima tadi pagi.
"Apa ini?" Melihat wajah Rain tanpa senyuman membuat suasana hati Ara berubah. Ia lalu segera membuka amplop tersebut. “Astaga!” Ara terkejut saat melihat isi dari amplop itu. Ia kemudian menyadari penyebab perubahan sikap Rain padanya. “Sayang, ini ...?” Ara melihat Rain dengan wajah tak percaya.
“Aku tak menyangka jika kau akan berkhianat padaku, Ara.” Rain membelakangi Ara.
“Sayang, ini tidak seperti yang kau bayangkan.” Ara berusaha menjelaskan.
“Tidak seperti yang kubayangkan, apa maksudmu?!” Rain berbalik menghadap Ara.
“Pria ini menolongku. Kemarin sore aku hampir ditabrak oleh pengendara motor yang ngebut di jalan.” Ara menjelaskan.
“Menolong? Harus sampai memeluk seperti itu?” tanya Rain yang tidak percaya dengan cerita Ara.
“Sayang, sungguh. Kejadiannya begitu cepat. Aku juga tidak tahu jika akan seperti ini."
“Cukup, Ara! Aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi!” Rain tidak dapat mengendalikan emosinya, ia marah kepada Ara.
__ADS_1
Sayang ....
Ara pun terdiam sambil memegangi lembaran foto yang ia terima. Ia tidak menyangka jika Rain akan membentaknya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak kala mendengar intonasi tinggi dari prianya.
“Apa kau sebegitu murahannya sehingga bisa dipeluk oleh pria manapun?!” tanya Rain kepada Ara.
"Ap-apa ...?"
Seketika itu juga Ara tersentak dengan pertanyaan Rain. Hatinya bak gelas-gelas kaca yang jatuh dan pecah berkeping-keping. Dadanya bertambah sesak kala mendengar pertanyaan dari Rain.
Tuan ....
Betapa sakit kata yang diucapkan oleh Rain. Rain mengucapkan kata yang menusuk sampai ke jantungnya. Bulir-bulir air mata pun mulai keluar dari persembunyiannya, bersamaan dengan rasa sesak yang tak dapat lagi tertahan di dada.
"Ak-aku ... tidak seperti itu ...."
Ara menjawabnya dengan terbata. Ia menatap sedih pria yang ada di hadapannya. Sedang Rain menatap Ara dengan penuh kesal. Ia diselimuti amarahnya sendiri.
Angin sore yang masuk lewat ventilasi jendela seakan menjadi saksi atas pertengkaran yang terjadi. Ara pun tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia segera meletakkan tas kuliahnya, ponsel, bahkan kartu kredit yang Rain berikan padanya ke meja tamu.
Ara ...?!
Rain terbelalak melihat Ara menyerahkan semua barang yang telah diberikannya. Sang gadis pun segera berjalan menuju pintu, berniat keluar dan menyudahi perjumpaan ini. Hatinya benar-benar terluka oleh perkataan Rain.
“Tunggu!” Rain pun menahan kepergian Ara. “Apa ini caramu menyelesaikan masalah?” tanya Rain sebelum Ara sempat pergi.
Gadis itu membelakangi Rain sambil menahan rasa sakit yang semakin lama semakin menjadi. Air matanya pun jatuh, satu per satu membasahi pipi. Ia tidak mampu lagi jika harus berlama-lama seperti ini.
“Aku tidak punya alasan untuk tetap berada di sini. Ini bukan rumahku.” Ara melangkahkan kakinya menuju pintu.
__ADS_1
“Sekali lagi kau melangkah, aku tidak akan segan untuk menembakmu dari sini!” Rain benar-benar kesal karena Ara berniat meninggalkannya.
Bukan kata itu yang ingin Ara dengar dari Rain. Bukan ancaman yang ingin ia rasakan saat ini. Hatinya terluka tapi Rain tidak kunjung menyadarinya, sehingga bertambah deraslah air mata yang jatuh membasahi pipinya. Ia terisak dalam kesedihannya.
“Sedari awal kau memang ingin menembakku, bukan? Nyawaku pun tidak ada harganya di matamu, apalagi hatiku. Lalu buat apa kau masih menahan kepergianku?” Ara berkata dengan masih membelakangi Rain.
Rain terdiam, ia mencoba mengatur ulang napasnya. Emosinya tidak stabil saat ini.
“Jika memang kontrak kita belum berakhir, aku akan menyelesaikannya segera. Tapi, izinkan aku untuk menenangkan hati ini terlebih dahulu. Jika kau masih juga keberatan, maka tembaklah aku sekarang.” Ara pasrah, benar-benar pasrah dengan keadaan.
Sang gadis tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menghadapi prianya yang kini diselimuti amarah. Ia lalu melangkahkan kaki menuju pintu, pasrah jika Rain benar-benar akan menembaknya. Ia pun bergegas keluar dari apartemen dengan beruraian air mata. Namun, ternyata ucapan Rain hanya sebatas gertakan saja. Ia tidak benar-benar jadi menembak Ara.
Aku murahan? Sebegitu rendahkah kau menilaiku, tuan?
Sang gadis berlari menuju lift gedung apartemen. Ia mengusap air mata dengan lengan bajunya sendiri. Ia lewati detik demi detik di dalam lift seorang diri. Sesampainya di lantai dasar pun, Ara segera keluar dari lift, berlari entah mau ke mana. Ia hanya mengikuti langkah kakinya saja. Sedangkan Rain...
Sang penguasa terlihat kesal. Apa yang ada di hadapannya ia tendang begitu saja. Dan kini ia menopang tubuh dengan satu tangannya di dinding ruangan. Ia mencoba mengatur ulang napasnya yang memburu karena cemburu.
Dia memang sengaja melakukan hal ini untuk menghindariku? Apa dia tidak peduli dengan perasaanku? Semua yang telah kulakukan untuknya? Dia meninggalkanku begitu saja. Dia…
Rain kemudian duduk di sofa. Ia mengusap kepalanya sendiri. Hatinya teramat kesal saat ini. Ara seakan tidak memedulikannya dengan pergi begitu saja, meninggalkan dirinya sendirian di apartemen.
Kepalaku sakit sekali. Argghhh!
Rain menyandarkan punggungnya di sofa. Ia pun tersadar jika Ara pergi tidak membawa apa-apa. Ponsel pemberian darinya, kartu kreditnya, bahkan tas kuliah juga ditinggalkan begitu saja di atas meja.
“Kenapa kau menyebalkan sekali, Ara?! Kenapa?!” Rain marah sendiri.
Sang penguasa terdiam dalam sepi. Ia tidak tahu di mana gerangan Ara berada. Laju napasnya masih tidak beraturan karena rasa cemburu yang membakarnya. Ya, Rain cemburu karena melihat Ara dipeluk pria lain. Walau Ara sudah menjelaskan kronologi yang sebenarnya, tetapi tetap saja Rain berpikir jika Ara mengkhianatinya. Hingga tanpa sadar ia mengucapkan sebuah kata yang membuat hati Ara amat terluka.
__ADS_1
Rain menerima lembaran foto saat Ara didekap oleh pria yang menolongnya, dari pengendara motor yang melaju kencang waktu itu. Namun, yang Rain lihat Ara sedang berpelukan mesra dengan pria itu. Ia tidak dapat berpikir jernih sehingga rasa cemburu membuat amarahnya tak terkendali.