Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Keep Try


__ADS_3

Jam makan malam di apartemen Rain...


Malam telah datang. Seluruh jendela dan pintu sudah ditutup rapat-rapat oleh sang gadis. Dinginnya cuaca malam ini membuatnya harus segera mengunci semua jendela agar angin kencang tak lagi masuk ke dalam apartemen.


Gadis itu baru saja menghidangkan makan malam untuk tuannya. Dan kini ia berniat untuk makan malam seorang diri di ruang tamu. Ia berusaha menghindari tatap muka dengan tuannya sendiri. Sedang sang tuan yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat Ara sedang berjalan ke ruang tamu sambil membawa piring makan.


"Kau masih ingin terus seperti ini?"


Tiba-tiba ia mengeluarkan pertanyaan kepada gadisnya. Tapi sepertinya sang gadis tidak menghiraukan sama sekali. Ia pun jadi kesal sendiri.


"Ara, aku sedang bicara padamu!" Ia menaikkan nada bicaranya.


Seketika sang gadis menghentikan langkah kaki. Ia berbalik menghadap ke arah Rain yang berada di dekat meja makan.


"Tuan, aku sudah menyediakan makan malam untukmu. Silakan." Ara tersenyum lalu melanjutkan langkah kakinya ke ruang tamu.


Seketika itu Rain menelan ludahnya sendiri, ia kesal. Ia merasa hati Ara begitu keras hingga tidak mau bicara padanya sampai detik ini.


Sampai kapan kau akan seperti ini? Sampai kapan kau menghindariku? Ara, jangan membuatku gila karena didiamkan olehmu.


Rain duduk di meja makan. Ia mengambil nasinya sendiri, lauknya sendiri. Ia tuangkan air ke dalam gelas minumnya sendiri. Sedang sang gadis tampak menyantap makan malamnya sambil menonton TV. Hati Rain pun berapi-api melihatnya.


Aku tidak bisa didiamkan seperti ini.


Ia berdiri lalu mendekati Ara yang sedang duduk di hamparan karpet ruang tamu. Ia matikan TV lalu berdiri di hadapan sang gadis. Raut wajahnya terlihat merah menahan amarah.


"Tuan?"

__ADS_1


Ara bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Ia melihat ke arah Rain dengan wajah datar dan tidak peduli.


"Temani aku makan," pinta Rain kemudian.


"Tapi,"


"Temani aku makan!" pinta Rain dengan nada tinggi.


Seketika Ara menelan ludahnya. Sifat Rain yang kasar pun terlihat kembali di hadapannya. Ara hanya bisa menuruti apa kemauan Rain. Ia bawa piring makan dan gelas minumnya ke meja makan lalu duduk bersama pria bermata biru itu. Tampak sang penguasa mengatur ulang napasnya, menahan kesal yang hampir saja meluap.


Beberapa menit kemudian...


Hening, satu kata yang pantas menggambarkan kedua insan yang sedang menikmati santap malam bersama. Baik Rain maupun Ara masih berdiam diri dari seribu kata yang ingin diucapkan. Keduanya seakan bersitegang satu sama lain dan tidak ada yang mau mengalah.


Segelas air minum diteguk oleh Rain. Ia mencoba meredakan kekesalannya sendiri. Sedang sang gadis tampak acuh tak acuh padanya. Ara terus saja menyantap makan malamnya tanpa berkata sepatah katapun padanya.


Bagaimana cara mengembalikan keadaan?


Diliriknya Ara, dilihatnya sang gadis. Sesekali ia perhatikan gadis yang sedang duduk di sisi kanannya. Ara pun menyadari, tapi ia hanya diam dan diam. Bahkan sampai santap malamnya selesai, ia bersikap biasa-biasa saja di hadapan Rain. Ia bereskan bekas piring dan gelas lalu beranjak ke dapur untuk mencucinya.


Ara ... rasanya aku ingin menelanmu!


Rain kesal. Ia ditinggal sendiri lagi di meja makan tanpa kata dan bicara. Hatinya dipenuhi kekesalan terhadap sikap sang gadis yang tidak juga mau mengalah padanya. Rasanya jika bisa, ia ingin menelan Ara agar gadis itu tidak lagi berani membuatnya kesal. Tapi, Rain hanya bisa menopang kepalanya sendiri dengan satu tangan di atas meja. Ia bingung harus berbuat apa untuk mengembalikan keadaan.


Cinta Ara kepadanya membuat Rain menyadari sesuatu, bahwa selama ini yang ia butuhkan adalah pasangan tetap bukan sementara. Rain ingin fokus kepada satu gadis yang dicintai dari dalam lubuk hatinya. Dan baru dengan Ara sajalah ia merasa mengejar wanita.


Kehidupan Rain bukanlah sepi dari gadis-gadis seksi dan cantik jelita. Hanya saja ia menganggap biasa gadis yang lalu-lalang di kehidupannya. Baginya tak ada yang menarik karena terbiasa melihatnya. Sedang saat melihat Ara, semua jadiberubah. Ia merasa gadis itu amat langka ditemukannya.

__ADS_1


Selesai mencuci piring, Ara kembali ke sofa tamu untuk mengerjakan tugas kuliah. Ia lewati Rain yang masih duduk di depan meja makan. Ia duduk di karpet bulu tebal dan mulai mengerjakan tugasnya. Di saat itu Rain beranjak berdiri lalu mendekati sang gadis. Ia duduk di dekat Ara sambil menghidupkan TV. Padahal Rain tahu jika Ara ingin mengerjakan tugas kuliahnya.


Apa dia tidak melihat jika aku mengeluarkan alat tulis dan buku besar?


Ara tertegun melihat Rain dengan santai membesarkan volume TV di dekatnya. Ingin rasanya ia memarahi Rain, tapi apalah daya Rain adalah tuannya. Dan akhirnya, Ara hanya bisa membawa semua peralatan tulisnya ke teras luar apartemen. Ia mengerjakan tugasnya di luar sana.


Lagi dan lagi, Rain ditinggalkan sendiri di sofa. Sang gadis bersikap tak peduli padanya. Saat itu juga Rain seperti kehilangan akal untuk mengembalikan keadaan. Ia memutuskan keluar dari apartemen untuk mencari udara segar.


Wanita memang sulit dimengerti.


Sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, ia berjalan menuju lift apartemen. Saat itu juga dering telepon masuk menyadarkannya. Rain pun segera mengangkat telepon itu.


"Halo?" jawab Rain saat masuk ke dalam lift.


"Jadi nomor kendaraannya sudah ditemukan tapi ternyata mobil rentalan?" Rain berbicara kepada seseorang di seberang.


"Baik. Minta office boy itu menghadapku besok. Aku ingin bicara padanya," kata Rain lagi.


Suara dari seberang masih bicara.


"Lampirkan foto pertemuan mereka. Usahakan wajah pengirim bisa dilacak." Rain pun keluar dari lift.


"Terima kasih." Rain kemudian menutup teleponnya.


Sebuah kabar ia terima dari hasil pelacakan terhadap seseorang yang telah mengirim lembaran foto Ara dan Lee. Rain juga meminta wajah terjelas pengirim dari kamera CCTV gedung.


Aku beli es krim saja. Mungkin dia juga mau.

__ADS_1


Rain melangkahkan kaki menuju toserba yang ada di seberang jalan apartemen. Ia berniat membeli es krim untuk mendinginkan suasana yang terjadi antara dirinya dan Ara. Ia berusaha membuat Ara kembali jatuh cinta padanya. Ya, walaupun sebuah kata telah menyakiti hati gadisnya.


Mampukah Rain mengembalikan keadaan dan membuat Ara kembali mencintainya? Dan bisakah Ara melupakan satu kata yang telah membuat hatinya terluka?


__ADS_2