
Di taman kota, dekat air mancur Dubai…
Semilir angin sore menerpa poni sang gadis sehingga ia harus merapikan kembali rambutnya. Gadis itu masih duduk di kursi taman yang menghadap ke air mancur. Terlihat dirinya menunduk sedih atas apa yang terjadi. Seluruh tubuhnya seakan membeku, bersama hatinya yang kian rapuh.
Pertama kali jatuh cinta, pertama kalinya merasakan luka. Kini ia menyadari jika segala sesuatu ada risikonya. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, masih tersimpan cinta. Ya, ia mencintai pria bermata biru itu. Pria dengan wajah rupawan yang membuat hatinya sampai tergoda. Tapi sayang, kini pria yang menggoda hatinya telah menimbulkan luka.
“Ini. Aku membelinya tadi.”
Pria berkemeja biru memberikan sebotol air mineral untuk Ara. Pria itu duduk di sisi kirinya. Jarak mereka sekitar satu meter saja.
“Terima kasih.” Ara pun menerima air mineral tersebut.
Dibukanya segel botol lalu segera diteguknya air mineral pemberian dari seorang pria yang tidak diketahui namanya. Rasa haus sehabis berlari pun akhirnya bisa terobati.
Tenggorokannya kini sudah basah, tidak sekering tadi. Namun sayang, hatinya bak tanah gersang yang membutuhkan curah hujan agar tak tandus lagi.
“Kelihatannya kau habis menangis.” Pria di sampingnya membuka percakapan.
“Em...” Ara tertegun. Ia tutup kembali botol air mineral di tangannya.
“Di kota ini semuanya berpasangan. Hanya dirimu saja yang sendirian. Ke manakah pasanganmu, Nona?” Pria itu seperti menyelidik.
Sontak Ara terkejut mendengar pertanyaan itu. “Aku mempunyai hubungan yang rumit.” Ara menjawab ala kadarnya.
“Kau sudah mempunyai kekasih?” tanya pria itu tanpa basa-basi.
Ara tersenyum. “Aku tidak tahu bagaimana budaya di sini. Tapi sepertinya hal yang Anda tanyakan terlalu privasi, Tuan.” Ara menolak untuk menjawabnya.
“Hm, ya … maaf. Aku hanya tidak ingin terjadi salah paham saja. Niatku baik di sini.” Pria itu berdiri. “Seorang gadis tidak baik keluar saat petang akan tiba. Bukankah hal yang kemarin seharusnya dapat menjadi pelajaran?” Pria itu menoleh ke Ara.
Tuan ….
Ara tertegun. Ia membenarkan apa yang dikatakan oleh pria tersebut. Namun, ia malu jika harus segera kembali ke apartemen. Bisa-bisa ia dikatakan murahan lagi oleh orang yang dicintainya.
__ADS_1
“Aku bingung.” Ara merasa bimbang.
“Bingung?” Pria itu menoleh ke Ara, kembali duduk. “Apa sesuatu terjadi padamu?” tanya pria itu lagi.
Tak tahu kenapa pria berkemeja biru metalik itu sangat perhatian kepada Ara. Dan ini adalah pertemuan kedua mereka, namun di tempat yang berbeda.
Ara masih diam, tidak menjawab. Ia merasa segan untuk berkata terus terang kepada orang yang baru dikenalnya. Dan sepertinya pria itu menyadarinya juga.
“Em, maaf. Namaku Lee.” Pria itu mengulurkan tangannya, mengajak Ara berjabat tangan.
Ara pun menoleh, melihat uluran tangan pria tersebut. Tanpa menyadari jika Rain sudah tiba di seberang taman. Dan ia melihat Ara berduaan dengan seorang pria yang tak dikenalnya.
Ara ….
Seketika hati Rain sakit melihat gadisnya tengah berduaan bersama pria lain. Ia menelan ludahnya sendiri saat melihat hal yang terjadi. Ia pun melihat Ara seperti ingin menyambut uluran tangan pria tersebut.
Ara, kau ingin bersentuhan dengannya …?
Air mancur menjadi saksi atas apa yang terjadi. Laju napas Rain tidak beraturan lagi. Rasa sesak kembali melanda dadanya. Ia tidak kuat jika harus melihat pemandangan yang ada. Ia lalu menutup kaca mobilnya, tidak ingin melihat Ara sampai bersentuhan dengan pria lain.
Ia hidupkan kembali mesin mobil lalu segera melajukannya. Tak peduli lagi dengan gadis yang telah ia cari. Di dalam mobil ia berusaha menahan lukanya. Hatinya terasa sakit sekali.
Kau membuatku luka Ara.
Sang penguasa berlalu begitu saja setelah bersusah payah mencari keberadaan gadisnya. Saat ditemukan, ia juga menemukan luka di sana. Ia melihat gadisnya bersama pria lain. Bertambahlah rasa cemburu yang menggerogoti jiwanya. Ia tidak mampu jika harus melihat sendiri gadisnya bersentuhan dengan pria lain.
Sepanjang perjalanan kembali ke apartemen, Rain tampak galau sendiri. Ia melajukan mobil sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Baru kali ini ia merasakan hatinya terluka karena cinta. Cinta yang membuat dirinya ingin segera memiliki pemiliknya.
Ara … kau jahat padaku!
Rain memukul stir mobilnya saat berada di lampu merah kota. Ia lampiaskan amarah yang tertahan karena rasa cemburu di hatinya. Ia pun pulang seorang diri ke apartemen tanpa membawa hatinya itu.
Kembali ke taman kota...
__ADS_1
Ara menarik kembali tangannya. Ia tidak jadi bersalaman dengan pria itu. Sontak pria berkemeja biru itu terkejut dengan sikap Ara. Tapi, ia diam saja dan mencoba mengerti suasana hati sang gadis yang berada di sampingnya.
Gadis ini ….
“Maaf, Tuan. Namaku Ara. Terima kasih atas air mineralnya. Lain kali aku akan menggantinya,” kata Ara seraya tersenyum, ia bangkit dari duduknya.
“Hei, kau mau ke mana?” tanya pria bernama Lee tersebut.
Ara menoleh. “Aku tidak tahu ke mana, aku ikuti langkah kakiku saja.” Ara beranjak pergi.
Nona ….
Lee pun menyadari sesuatu. Ia merasa Ara sedang berada dalam kebimbangan. Dan entah mengapa rasa khawatir muncul di pikirannya saat melihat Ara pergi.
Dia tidak boleh sendiri. Aku khawatir ada yang berniat jahat lagi padanya. Hal kemarin seharusnya dapat dijadikan pelajaran agar dia berhati-hati saat keluar sendirian. Tapi gadis ini, entah apa yang terjadi padanya.
Lee segera kembali ke mobilnya yang diparkirkan di tepi taman. Ia masuk lalu melajukan mobilnya mengikuti langkah kaki Ara pergi. Gadis itu terlihat seperti membutuhkan bantuannya. Lee pun terus mengikuti Ara hingga sampai di trotoar jalan.
“Nona, mari kuantarkan.” Lee menawarkan diri dari dalam mobil.
“Terima kasih, Tuan. Aku pulang sendiri saja.” Ara menolak dengan halus.
Astaga, gadis ini kenapa keras kepala sekali? Tadi dia bilang tidak tahu ke mana. Tapi kenapa malah seperti ini? Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengannya?
Lee tak habis pikir. Ia juga tidak mengerti mengapa bisa sekhawatir ini kepada gadis yang diselamatkannya waktu itu.
Ya, Lee adalah pria yang menyelamatkan Ara saat ada pengendara motor yang mengebut di jalan. Dan Lee juga yang dilihat Rain memeluk Ara di lembaran foto yang ia terima.
“Nona, cobalah berpikir dengan tenang. Kau bisa bahaya jika pulang sendirian. Ini sudah hampir petang. Bagaimana jika ada pengendara yang mengebut lagi?” Lee mencoba membujuk Ara.
Langkah kaki Ara terhenti. Seketika itu juga Lee mematikan mesin mobilnya. Ia segera keluar dari mobil lalu menemui Ara.
“Nona, aku berniat baik padamu. Aku akan mengantarkanmu. Ayo!” Lee menarik tangan Ara.
__ADS_1
Ara pun terperanjat kaget saat Lee menarik tangannya. Pria itu membukakan pintu mobil lalu meminta Ara segera masuk. Ara pun hanya bisa menurutinya. Keduanya lalu melaju ke Royal Elite Apartement, tempat di mana Ara bekerja, tinggal dan jatuh cinta.