
Pria berpakaian kerajaan berwarna merah itu menghela napas lalu mengusap wajahnya. "Kenapa bisa seperti ini?" tanyanya sendiri.
Eh? Seharusnya aku yang berkata seperti itu, Pangeran!
"Aku tidak tahu Agartha. Aku baru dengar namanya," katanya.
"Kau tidak tahu?" Aku merasa heran.
"Ya. Apa kau membohongiku?" tuduhnya.
Seketika perempatan urat muncul di dahiku. "Apa untungnya aku membohongimu? Kau seenaknya menuduh orang!" Aku merasa kesal karenanya.
"Hah ...." Dia menyandarkan punggung ke sofa. "Kau tahu, aku baru pertama kali bertemu gadis asing sepertimu. Dan yang membuatku heran, mengapa bisa kau sampai berada di bukit pohon surga," katanya lagi.
"Mana aku tahu." Aku menjawab seadanya.
Kulihat dia mengerutkan alisnya di dekatku. Entah apa yang dipikirkannya. "Kau ingin kubawa menghadap ayah lalu segera kunikahi?!" Dia tiba-tiba berkata seperti itu.
"Apa?!!" Bagai tersambar petir di siang hari aku mendengar perkataannya.
"Hahahaha. Astaga-astaga ...." Dia tertawa sendiri.
Aku semakin merasa cemas dengan perbincangan kami. Entah mengapa berbincang seperti ini membuatku merasa dekat dengannya. Aku takut keblabasan sampai lupa jika sedang mengandung dan mempunyai suami. Tak bisa kupungkiri jika wajahnya amat tampan rupawan. Ya, wajar saja dia seorang pangeran. Pastinya perawatan tubuhnya luar biasa.
"Aku ingin kembali. Apa kau tahu bagaimana cara agar bisa kembali ke Agartha?" tanyaku serius seraya menatap matanya.
"Mana kutahu." Dia menjawabnya seperti itu.
Astaga! Dia ini!!!
Ternyata oh ternyata, pria di sampingku ini ternyata orangnya dendaman. Dia membalikkan kata-kataku sebelumnya. Aku merasa dejavu sendiri.
"Lalu apa yang kau tahu?" tanyaku lagi, berusaha sabar menghadapinya.
__ADS_1
Seketika dia terdiam lalu menegakkan tubuhnya. Dia melihat ke arahku lalu mendekatkan tubuhnya. Sontak aku memundurkan tempat dudukku.
Jangan bilang jika dia ingin menciumku.
Namun, dia seakan tidak peduli dengan penolakanku yang tersirat ini. Dia semakin mendekatiku. "Nona." Dia kemudian berkata, "Siapapun dirimu, yang kutahu kau cantik," katanya, seperti berniat menggodaku.
Dasar mata keranjang!
Bola mata birunya menyiratkan sesuatu hal lain tentang diriku. "Dan aku ...," Dia melanjutkan kata-katanya.
"Aku ...?" Entah mengapa aku malah menantikan ucapannya.
Dia menatapku, memperhatikanku. Lambat laun dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku pun seperti terhipnotis oleh kedua bola mata birunya. Aku terpaku dan tidak bisa bergerak di dekatnya. Aku seperti benar-benar terhipnotis.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi.
Hangat napasnya menyadarkanku tentang hal apa yang akan dia lakukan. "Jangan dekati aku!" Aku pun dengan segera mendorongnya. Dorongan kuat yang membuatnya sampai terbentur ujung sofa.
Aku sudah bersuami, tidak boleh berdekatan dengan pria lain seperti ini. Walaupun hanya sebatas mimpi, tetap saja tidak boleh terjadi. Jiwa dan ragaku sudah menjadi milik suamiku seutuhnya. Tidak boleh disentuh apalagi sampai dinikmati pria lain. Sekalipun itu kembarannya sendiri. Karena janji suci sudah diucapkan oleh Rainku yang ada di sana.
"Nona?!" Dia terkejut melihat sikapku.
Aku memundurkan langkah kakiku. "Maaf Pangeran. Kita tidak boleh seperti ini. Kau sudah amat kelewatan. Jika memang seorang pangeran, harusnya lebih bisa menghargai perempuan. Sekarang lupakan semuanya. Anggap saja tidak pernah kenal denganku." Aku memintanya.
Dia tertegun mendengar ucapanku. Tak lama kemudian sebuah cahaya muncul dari atas kepalaku. Cahaya putih menyilaukan yang semakin lama semakin besar. Dia pun menyadari apa yang sedang terjadi.
"Nona!" Dia ingin mendekatiku, tapi entah mengapa malah tidak bisa. Tubuhnya terpental sendiri.
Ini saatnya untukku pulang. Syukurlah.
Aku pun menyadari jika ini adalah waktu perpisahan bagi kami. Aku akan segera kembali ke tubuhku.
"Selamat tinggal, Pangeran. Maafkan aku. Terima kasih atas pertemuan yang manis ini," kataku lalu tak lama dirinya pun lenyap seperti tertelan cahaya putih itu.
__ADS_1
"Hah, hah, hah."
Selang beberapa detik kemudian, aku mulai merasakan detak jantungku kembali. Semilir angin yang berembus kurasakan menyapu helaian rambutku. Kubuka perlahan kedua mata lalu melihat keadaan sekelilingku. Dengan terengah-engah aku pun mencoba mengatur ulang napas. Dan ternyata, aku sudah kembali ke ragaku.
"Tadi itu ...."
Aku seperti kehausan setelah sempat kesasar. Pelan-pelan mencoba bangun lalu mengambil air minum. Tenggorokanku seperti kering sekali. Kepalaku juga sedikit pusing setelah mengalami kejadian tadi. Entah mengapa aku merasa tusuk konde ini mulai bereaksi. Hanya saja reaksinya kadang tak terduga. Sedang aku tidak punya persiapan untuk menyambutnya.
"Suamiku sudah pulang belum, ya?"
Lantas kuteguk segelas air putih lalu duduk sebentar di kursi kayu beraroma semerbak ini. Aku teringat jika suamiku sedang pergi bersama pangeran ke danau. Tapi tidak tahu jika dia sudah kembali atau belum. Mungkin ada baiknya jika beristirahat sejenak sebelum mengeceknya ke istana. Aku merasa lelah sekali.
Ara kembali mengalami kejadian tak terduga dalam hidupnya. Ia ternyata bisa kembali ke Angkasa dalam jarak tempuh yang sedemikian cepatnya. Hanya saja jiwanya yang pergi ke sana, tidak bersama raganya. Dan Ara merasa jika kejadian ini akibat reaksi dari benda yang diberikan nenek pemberi gelang itu. Berupa tusuk konde yang terbuat dari emas murni. Ara pun merasa kelelahan akibat destinasi alam bawah sadarnya. Ia membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak.
Makan malam di manshion Sam, Washington DC...
Kedua belas cucu Sam melingkari meja makan yang super besar. Beberapa sajian makan malam pun sudah dihidangkan. Tak lama Sam datang ditemani beberapa pelayan cantik. Ia kemudian duduk di tengah-tengah cucunya yang sudah menantikan makan malam.
Pria tua berjas biru gelap itu meminta pelayan untuk memegangkan tongkatnya. Ia kemudian mempersilakan cucu-cucunya untuk memulai santap malam. Raut wajahnya tersirat kelelahan karena terlalu banyak pikiran. Namun, ia tetap berwibawa di hadapan para cucunya. Karena bagaimanapun ia adalah pemilik tahta organisasi saat ini. Apapun yang terjadi harus terlihat tetap tenang dan menjaga gengsi.
"Bagaimana perkembangan dua minggu terakhir kinerja kalian?" Sam membuka percakapan di tengah-tengah makan malam yang baru dimulai.
"Berjalan lancar, Kek. Hanya saja persediaan bahan mentah mulai menipis," tutur salah satu cucu Sam yang duduk di barisan sebelah kiri.
"Aku juga sama. Pajak hiburan yang diminta pihak kota cukup mengganggu biaya distribusi," kata cucu Sam di barisan sebelah kanan.
Sam mengangguk. "Tapi kalian masih bisa mengatasinya, bukan?" tanya Sam lagi sambil meneguk secangkir tehnya.
"Kami rasa masih bisa selama persediaan bahan bakar tidak diboikot oleh pihak Timur Tengah. Karena bagaimanapun transportasi baik kendaraan darat maupun udara amat membutuhkan bahan bakar minyak untuk angkutan." Cucu Sam di sebelah kiri menjelaskan.
Seketika Sam meletakkan cangkir tehnya. Tersirat raut wajahnya seperti memikirkan sesuatu. "Aku sudah membicarakan hal ini kepada pejabat USA. Mereka akan membantu memobilitasi bahan bakar. Tapi untuk sementara, perkilangan minyak dari Dubai kita hentikan. Mereka sendiri sedang mengalami kelangkaan minyak pasca terbakarnya kapal pengeboran Rain. Sehingga kita tidak bisa berharap banyak mendapatkan bahan bakar dari sana." Sam menuturkan.
Nick tampak menelan ludah saat sang kakek membicarakan Rain. Sedang Owdie terlihat memperhatikan gerak-gerik Nick yang seperti tersinggung dengan ucapan sang kakek. Ia merasa Nick memang benar-benar mengambil andil dalam kecelakaan yang menimpa saudaranya.
__ADS_1