
Sunyi, sendiri dan sepi, itulah hal yang kualami. Tak ada teman, sanak saudara ataupun harta benda yang kubawa. Aku sebatang kara di sini, hanya berbekal pakaian biru muda.
Aku duduk menangis di atas rerumputan bukit. Mengusap air mata, mencoba menarik napas panjang agar tegar menghadapi kenyataan. Aku rindu, rindu sekali dengan calon suamiku di sana. Entah apa yang dia lakukan sekarang, rasanya aku ingin menangis di pelukannya. Belaian lembut darinya, harum tubuhnya, seolah memaksaku untuk pulang. Tapi, hingga detik ini belum ada tanda-tanda dapat kembali.
Aku beranjak dari duduk, melihat keadaan sekitar, mengikuti kata hati yang ingin berlari. Aku kemudian memutari bukit ini, berlawanan dengan arah jarum jam, berharap bisa segera menemukan jalan pulang.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, aku melangkahkan kaki kemudian mempercepat langkahnya. Satu kali, dua kali putaran kulewati. Tapi, belum juga ada tanda-tanda menemukan jalan kembali. Rasanya lelah, tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku harus terus berjuang untuk menemukan jalan pulang.
Aku jadi ingat kisah seorang ibu hebat yang mencari air minum untuk bayinya, di bukit padang pasir yang gersang. Beliau harus berlari dan bolak-balik antar bukit untuk mendapatkan air. Masa aku yang hanya memutari satu bukit saja tidak mampu?
Semangat, Ara!!!
Tiga kali putaran telah kulewati, tapi belum juga membuahkan hasil. Aku akhirnya duduk sebentar di belakang pohon tin ini, di tempat awal aku datang. Aku mencoba mengambil udara sambil meluruskan kedua kaki. Entah jam berapa sekarang, semburat merah sudah mulai menghiasi langit biru di angkasa. Ya, sepertinya sudah memasuki waktu sore di sini.
Terus berjuang!!!
Aku kembali bangkit lalu memutari bukit. Katanya awal sama dengan akhir, datang sama dengan pulang. Jadi saat berada di tempat pertama kali datang, aku beristirahat sejenak. Kali-kali saja ada pintu jatuhan air yang mengembalikanku ke sana. Tapi nyatanya...
Ya Tuhan, ini sudah putaran ke empat.
Aku terus saja berputar, mengelilingi pohon tin yang besar ini. Hingga akhirnya kakiku terasa lemas saat sudah mencapai putaran yang ke enam. Aku pun ngos-ngosan sambil memegangi kedua lututku. Rasanya tidak sanggup lagi untuk mengelilingi bukit ini.
Tuhan, tolong aku ....
Tidak ada yang bisa kumintai tolong selain Tuhanku sendiri. Aku percaya di manapun berada, Tuhan pasti tidak akan pernah meninggalkanku. Dan entah mengapa tiba-tiba saja angka tujuh terlintas di benakku, seolah meminta agar mengelilingi pohon tin ini sekali lagi.
Ya Tuhan, jika ini memang benar petunjuk, tolong aku.
Aku mencoba berdiri tegak lalu kembali melangkah. Langkah kakiku pelan namun semakin lama semakin cepat. Sebentar lagi putaranku sampai ke tujuh. Namun, tiba-tiba saja ada sesuatu yang menyelandung kakiku, entah apa. Dan akhirnya ... aku jatuh, tepat di putaran yang ke tujuh.
__ADS_1
"Aaa!"
Aku berteriak. Tapi tiba-tiba saja tidak bisa bernapas. Seluruh tubuhku seperti melayang di udara. Dan tak lama kusadari jika aku sedang berada di dalam air. Air yang cukup dalam untukku.
"Hah, hah, hah."
Aku mencoba muncul ke permukaan untuk mengambil napas. Tapi entah mengapa aku merasa kesulitan mengambil udara. Saat itu juga ada seseorang yang menarik tanganku. Aku tidak tahu siapa karena sudah lemas tidak bertenaga, seperti mau tenggelam tadi. Tapi bisa kupastikan jika dia telah menyelamatkanku.
"Kau ini!"
Aku mendengar suara seorang pria. Dia seperti sedang menggendongku. Gendongan ala pengantin yang membuatku pasrah digendongnya. Entah mau dibawa ke mana, aku menurut saja. Aku sudah pasrah menghadapi semua ini. Tidak lagi punya kekuatan untuk melawan.
Beberapa saat kemudian...
Perlahan aku tersadar saat mencium aroma sesuatu yang sangat harum sekali. Entah aroma apa, tapi sepertinya aroma ini sangat jarang sekali ditemui. Mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memilikinya. Entahlah, lebih baik kubuka saja kedua mataku untuk melihat apa yang terjadi.
Aku beranjak bangun, kulihat sekeliling adalah ruangan mewah berkelas. Ada lemari jati besar yang entah apa isinya. Dan di dekat pintu sana, kulihat ada lemari kaca berisi banyak pedang. Pemandangan ini seperti familiar di ingatanku.
Entah di mana aku sekarang, tapi bisa kupastikan jika sedang berada di dalam sebuah kamar. Kulihat tempat yang kutiduri tadi adalah hamparan kasur putih dengan ukiran kayu emas di bagian kepalanya. Sepertinya aku memang sedang berada di dalam sebuah kamar.
Aku lalu melangkahkan kaki untuk melihat lebih jelas sekeliling ruangan ini. Tapi, saat ingin melihat-lihat, kudengar suara pintu terbuka. Tapi bukan pintu kamar, melainkan seperti pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar ini. Dan ternyata, sosok pria yang kutemui di bukit, keluar dengan rambut yang masih basah.
"Kau?!!"
Aku tak percaya, sungguh tak percaya. Pria yang kutemui tadi kini hanya mengenakan handuk putih untuk menutupi area pribadinya saja. Aku pun berniat kabur darinya. Aku lari ke arah pintu.
"Hei, kenapa?"
Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu padaku, padahal aku sudah takut atas apa yang dia lakukan nanti. Aku terus saja mencoba membuka gagang pintu agar bisa lari darinya.
__ADS_1
"Terus saja buka, pintu sudah kukunci. Salah sendiri datang ke sini," katanya lalu membuka lemari jati besar yang ternyata berisi pakaian.
Aku bingung, bingung sekali. Kaca lemari jati itu lalu memantulkan tubuhku. Dan ternyata, pakaianku kini sudah berganti.
"Astaga?!"
Aku terkejut saat melihat diriku hanya mengenakan daster tanpa lengan yang berwarna hitam. Entah siapa yang memakaikannya, kuraba tubuhku dan ternyata tidak memakai dalaman sama sekali. Seketika emosiku meluap karena pastinya pria ini yang telah menggantikan pakaianku.
"Apa yang telah kau lakukan padaku, hah?!!" Kulempar semua barang yang ada ke arahnya.
"Hei, hentikan!" Dia memintaku berhenti.
Aku terus saja melemparnya dengan barang-barang yang bisa kuraih. Kulihat dia cepat-cepat memakai celananya lalu menghampiriku. Dia menahan tanganku agar tidak melemparnya lagi.
"Sudah, cukup!" katanya seraya memegang tanganku ini.
Kami saling bertatapan, tepat di mata. Tubuh tingginya membuatku harus mendongakkan kepala. Dan entah mengapa aku merasa aneh saat berada di hadapannya. Rasa rindu akan hujan mulai menyelimuti relung hati ini.
"Harusnya aku yang marah padamu! Kau datang tanpa diundang, menganggu waktu santaiku di bukit pohon surga. Dan barusan hampir tenggelam di kolam renang rumahku. Sebenarnya apa yang kau mau?!" Dia bertanya padaku dengan tatapan tajam.
Apa? Aku mengganggu waktu santainya di bukit pohon surga? Berarti ini ...?
Aku tidak mengerti mengapa bisa berpindah tempat begitu cepat, dari bukit langsung jatuh ke kolam renang rumahnya. Aku benar-benar tidak mengerti. Seiingatku sudah menggenapkan putaran sampai ke tujuh, lalu terselandung dan akhirnya ke sini.
"Ak-aku ... aku benar-benar tidak tahu," jawabku dengan kedua tangan yang masih dipegang olehnya.
Dia menatapku, terus menatapku dan melihat gerak-gerik bibirku. Seolah sedang mencari kebenaran atas perkataanku ini. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, kurasa detak jantungku dan detak jantungnya berirama sama.
Apakah dia akan membantuku menemukan jalan pulang?
__ADS_1
Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kini aku hanya bisa pasrah di hadapannya. Di dekat seorang pria yang mengaku bernama Rain. Ya, dia memiliki nama yang sama dengan calon suamiku. Bedanya dia lebih sombong dan bangga diri, mengaku sebagai pangeran. Tidak seperti priaku yang begitu dermawan.