
Byrne mengambil ponsel mininya lalu menelepon Owdie. Tak lama teleponnya pun diangkat oleh saudaranya itu.
"Halo Byrne?" Owdie yang masih di Kuwait pun tampak menyempatkan diri menerima telepon saudaranya di sela-sela aktivitas syuting reality show yang ia kerjakan.
"Syukurlah ternyata kau menyimpan baik-baik nomor ini," cetus Byrne yang merasa senang.
Owdie tertawa. "Hah, ya. Cepat beri tahu aku hal penting apa yang ingin kau sampaikan. Aku masih sibuk sekarang, jadi belum mempunyai waktu senggang," pinta pria berwajah latin itu.
Owdie bekerja di balik layar. Ia bertugas mengawas dan mengendalikan alur reality show agar lebih menarik. Katakanlah jika ia adalah sutradara tersembunyi yang menyumbang pemikiran-pemikirannya agar dunia hiburan lebih berkembang dan disukai banyak orang.
"Aku ingin mengabarkan sesuatu padamu, Owdie." Byrne melepas kaca mata pelindung yang ia pakai.
"Tentang apa?" tanya Owdie segera sambil mencari tempat sepi.
"Tentang virus muatan yang kubuat di sini," jawab Byrne seraya menyandarkan punggung ke dinding kamarnya.
Owdie mengangguk. Ia kemudian masuk ke ruang penata rias artis. Ia mengunci pintu dari dalam lalu segera duduk. Ia sengaja melakukannya agar tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.
"Katakanlah, mungkin aku bisa memberikan saran." Owdie siap menanggapi kabar dari Byrne.
Byrne menghela napasnya. "Muatan virus yang kubuat mempunyai masa inkubasi singkat. Dalam waktu seminggu manusia yang terjangkit bisa mengalami gangguan pernapasan hebat. Apa aku harus meneruskan dan memfinalisasi virus ini?" Byrne meminta pendapat Owdie. Saat itu juga Owdie terkejut mendengar kabar yang saudaranya sampaikan.
Seminggu? Dia memang luar biasa.
"Byrne, tidak bisakah kau buat lebih lama efeknya? Setidaknya orang-orang akan berusaha mencari obatnya terlebih dulu. Menurutku satu minggu adalah waktu yang singkat bagi sebagian manusia beraktivitas padat. Bisa-bisa mereka dianggap sebagai terkena serangan jantung mendadak. Kalau menurutku, bilang saja jika virus itu memang mematikan. Tapi sebenarnya hanya mengakibatkan gejalanya saja. Tidak sampai menyebabkan kematian." Owdie memberikan saran.
Byrne tampak mencerna saran dari saudaranya. "Jadi kuselesaikan tugas ini dengan berpura-pura membuat virus mematikan?" Byrne meminta kepastian.
__ADS_1
"Hm, ya. Kurasa begitu. Itu lebih baik daripada membuat virus sungguhan yang mengakibatkan kematian. Kita sebagai manusia tidak boleh melawan takdir Tuhan, Byrne. Tuhan akan murka dan kita bisa kehilangan segalanya." Owdie berusaha bijak.
Byrne mengangguk. "Kau benar. Kalau begitu nanti akan kubuat sebatas gejalanya saja." Byrne mengiyakan.
"Hem, ya." Owdie mengambil beberapa peralatan make up. Ia memainkannya. "Aku rasa itu lebih ringan. Setidaknya akibat yang ditimbulkan tidak terlalu besar. Aku pikir berbahaya atau tidak, pihak media juga akan menggembor-gemborkannya sebagai virus yang mematikan. Bukankah begitu?" Owdie mengajak Byrne berpikir.
Byrne mengangguk kembali. "Ya, kau benar. Kakek pasti akan meminta bantuan media untuk menyebarkan berita ini dengan berlebihan. Baiklah. Kalau begitu akan kuhancurkan virus yang telah kubuat. Aku ganti dengan yang lebih ringan." Byrne akhirnya mengambil keputusan.
Owdie tersenyum senang. "Kau hebat, Saudaraku. Jangan lupa anti virus yang kau buat disalin ke dalam drive lalu berikan padaku. Mungkin suatu saat akan berguna bagi penduduk di bumi ini." Owdie berpesan.
Byrne mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu sampai nanti, Owdie. Terima kasih." Byrne berniat mengakhiri percakapan ini.
"Sampai nanti, Byrne." Owdie pun membalasnya.
Akhirnya percakapan kedua saudara seperasuhan itu berakhir. Byrne meminta saran dari Owdie atas virus yang telah berhasil dibuatnya. Yang mana sedang diujicobakan menggunakan tikus-tikus yang ada di sana. Alhasil Byrne mendapati jika mutasi virus itu sangat berbahaya. Hanya dalam waktu seminggu saja penderita bisa mengalami gangguan pernapasan yang hebat. Hal itulah yang mendorong dirinya untuk meminta saran dari Owdie. Karena Byrne tahu apa yang dilakukannya adalah salah.
Rain, andai kau ada di sini mungkin bisa menghentikan semua aksi gila kakek. Dia sudah benar-benar gila sekarang.
Owdie bergumam dalam hatinya. Ia kemudian beranjak pergi, kembali ke ruangan syuting untuk melanjutkan pekerjaannya. Owdie mencoba melupakan sejenak kabar yang baru saja ia dengar. Ia ingin kembali fokus ke pekerjaannya.
Sementara itu di Agartha...
Menjelang siang ini Ara dan Rain menemui pangeran untuk segera berpamitan. Namun, mereka diminta menunggu terlebih dahulu oleh pejabat Han karena pangeran masih bersiap-siap. Sontak keduanya bercanda, mengira hal-hal apa saja yang dilakukan pangeran semalam.
"Apakah dalam satu malam gawangnya bisa dimasuki ya?" Rain bergumam di samping istrinya.
Ara menoleh ke Rain. Keduanya duduk di ruang tunggu kerajaan, dekat dengan pintu masuk istana. Beberapa hidangan pun telah disajikan untuk mereka.
__ADS_1
Istana Agartha adalah istana yang 80% bangunannya terbuat dari kaca. Sekat-sekat antar ruangan bahkan ada yang terbuat dari kaca. Hanya saja dari luar tidak bisa melihat ke dalam. Sehingga walaupun terbuat dari kaca, mampu membuat penghuninya merasa nyaman.
"Sudah jangan membicarakan orang." Ara pun menepuk tangan suaminya.
Rain tertawa. "Sayang, waktu itu apa kau sengaja menundanya?" Rain mengingatkan Ara dengan malam pengantin mereka.
Ara terbelalak. "Apanya yang ditunda? Aku memang sedang menstruasi saat itu." Ara tidak terima.
"Hei, hei, Istriku. Aku hanya bertanya saja. Kenapa memasang wajah cemberut?" Rain mencubit hidung istrinya.
"Ih, sakit!" Ara pun menepuk tangan Rain yang usil.
"Hahaha." Rain kembali tertawa. "Waktu itu aku frustrasi. Aku sudah sangat berharap bisa bermalam pengantin denganmu. Eh! Ternyata malah menstruasi." Rain menepuk jidatnya sendiri.
Ara tersenyum geli mendengar pengakuan suaminya. "Tapi kan setelah itu kita langsung dikaruniai kabar bahagia." Ara menimpali.
Rain menoleh ke istrinya. "Iya. Benar, Sayangku." Ia tersenyum lalu menarik Ara agar merebahkan kepala di dadanya. "Kita akan menjadi ayah dan ibu sebentar lagi. Sehat terus ya." Rain mengecup kening Ara tanpa malu dengan pelayan yang hilir-mudik di hadapan mereka.
Ara mengangguk. Ia merasakan ketenangan saat berada di pelukan suaminya. Ia berharap rumah tangganya bisa selalu harmonis dan bahagia seperti ini.
"Uhuk! Uhuk!" Tiba-tiba saja ada seseorang yang batuk tak jauh dari mereka.
Ara dan Rain pun menoleh. "Pangeran?!"
Saat itu juga mereka segera menjaga jarak walaupun baru saja bermesraan. Ara dan Rain ketahuan bermesraan oleh pangeran.
Aduh, ketahuan lagi. Ara malu sendiri. Wajahnya merah merona di hadapan pangeran.
__ADS_1