
Aku masih menunggu, menunggu dia meraih bibirku. Tapi entah apa yang terjadi padanya, aku hanya bisa merasakan embusan napasnya saja. Padahal aku sudah siap jika harus mencurahkan perasaanku hari ini.
Tuan, kenapa lama sekali?
Kuintip dirinya dari balik kelopak mataku. Bersamaan dengan itu dia mendekatkan bibirnya, tapi bukan ke bibirku, melainkan...
"Aku tidak akan menyia-nyiakan sikapmu padaku, Ara," katanya yang berbisik lembut di telinga ini.
"Tuan?" Kubuka mata, kami pun saling berpandangan.
"Aku istirahat dulu, ya. Jangan bangunkan aku." Dia mengusap kepalaku.
Tuan ....
Kulihat dia beranjak pergi. Rasanya ingin sekali mengejar dan memeluknya dari belakang. Tapi, aku belum bisa melakukannya sekarang. Aku harus menjaga diri dari prasangka yang murahan. Aku tidak ingin dia berpikiran macam-macam tentangku.
Tuan, andai kau benar-benar mencintaiku, tentunya aku akan sangat bahagia.
Kulihat dia menutup pintu kamarnya. Seketika itu semua kejadian di taman terulang kembali di alam pikiranku. Kuambil ponsel lalu melihat foto-foto kebersamaan kami. Ingin rasanya aku memilikinya.
Tuhan, jika dia jodohku maka dekatkanlah. Jika dia bukan jodohku, maka jodohkan padaku. Jika dia jodoh orang lain, maka putuskan jodohnya lalu jodohkan kembali padaku.
Aku tersenyum seraya berdoa, menatap ke langit-langit apartemen. Hatiku riang tak terkira dengan kejadian yang kami lalui hari ini. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan cerita tentang kami.
Aku lalu duduk di depan meja yang ada di depan pintu kamarnya, menyalakan laptop dan mulai mengetik cerita. Semoga saja suatu hari nanti akan ada yang tertarik dengan kisahku.
Malam harinya...
Tuanku bangun menjelang petang dan dia langsung mandi. Kulihat rambut dan wajahnya kusut saat baru terbangun. Mungkin satu-satunya gadis yang bisa melihat dia sepolos ini adalah aku. Entahlah, aku berharap hanya aku saja.
Sehabis dia mandi, kami makan malam bersama dengan sup ayam yang kubuatkan. Kulihat dia tampak lebih segar jika dibandingkan dengan tadi. Dan kini kami sedang bercengkrama ria di teras luar apartemen. Dia mengintrogasiku. Menanyakan asal-usul, keluarga, bahkan masa lalu. Ya sudah, aku pun menjawab seadanya.
Kulihat dia terkejut seperti tak percaya jika aku belum pernah berpacaran sebelumnya. Ya, masa-masa SMA memang kuhabiskan untuk berorganisasi bukan pacaran. Lagipula siapa yang mau dengan gadis sepertiku kalau bukan buaya.
"Jadi waktu itu pertama kalinya kau mencium bibir seorang pria?" tanyanya yang duduk di sisi kananku.
"He-em." Aku mengangguk seraya menatapnya.
Kulihat dia terdiam sejenak. Sungguh aku suka sekali dengan gaya cool-nya ini. Mengenakan sweter krim lengan panjang dan celana dasar putih panjangnya, sama sepertiku. Cuma sayangnya aku mengenakan celana hitam saja.
"Ara, percayakah jika kau adalah wanita pertama yang mencium bibirku?" Dia bertanya dengan tangan kiri yang direntangkan, seperti meminta agar aku merebahkan kepala di dadanya.
__ADS_1
"Em, aku ... aku sedikit ragu, Tuan," jawabku.
"Tuan? Kenapa tuan lagi?" Seketika dia mencubit hidungku.
"Aw! Sakit!" Kupegang hidungku yang dicubit olehnya.
"Habisnya kau ini menyebalkan sekali. Sudah berulang kali mengingatkan agar memanggilku dengan sebutan sayang, tapi selalu saja lupa." Dia menggerutu sambil memalingkan pandangannya.
Rasanya lucu sekali melihat dia ngambek seperti ini. Segera saja kurebahkan kepala di dadanya sambil mengucapkan kata sayang dengan mesra.
"Maaf, Sayang," kataku lalu mengusap dadanya.
Aku pikir dia akan marah karena mulai berani. Tapi ternyata ... dia malah mencium tanganku yang mengusap dadanya.
"Jangan membuatku kesal, Ara. Biasakan agar terbiasa." Dia menatapku seperti mengancam.
"He-em."
Aku pun mengangguk seraya menggembungkan pipi. Seketika itu juga dia memberatkan kepalanya di kepalaku. Kami akhirnya menikmati malam bersama sambil memandangi air mancur dari teras ini.
"Uwek!" Tiba-tiba saja dia mual.
"Sayang?" Aku terkejut melihatnya menutup mulut.
Aku menurut. Bergegas masuk ke dalam lalu segera menutup pintu teras. Aku jadi punya ide agar rasa mualnya berkurang.
"Aku kerok saja ya, mau?" tanyaku padanya sambil ikut duduk di sofa ruang tamu.
"Kerok?" Dia lalu menghidupkan TV.
"Iya. Mungkin kau masuk angin. Aku khawatir jika dibiarkan akan terkena angin duduk," kataku yang duduk di dekatnya.
"Masuk angin?" Dia menatap heran ke arahku.
Ups...
Aku lupa jika sedang berada di Dubai. Jelas saja dia tidak mengerti apa itu masuk angin. Terlebih dia bukan berasal dari negaraku.
"Ya sudah. Kita coba saja, ya."
Kuambil minyak aroma terapi dari kotak P3K yang ada di dekat pintu kamar mandi, tak lupa bersama sendok logam tebal. Kubawa ke ruang tamu lalu memintanya melepas pakaian. Seketika dia terkejut dengan permintaanku.
__ADS_1
"Ara ... kau ingin apa?" tanyanya seperti tak percaya.
"Aku akan mengerok punggungmu dengan minyak dan sendok logam ini," jawabku.
"Tu-tunggu. Aku punya logam dinar." Dia segera ke kamar lalu kembali dengan membawa satu logam dinar untukku.
Dasar memang anak sultan, kerokan saja pakai emas.
Aku mengambil uang logam darinya, dia pun melepas bajunya di depanku. Kulihat dadanya amat bidang dan perutnya seperti roti sobek. Rasanya aku tidak kuat jika lama-lama melihatnya seperti ini.
"Berbalik ya," pintaku.
Dia menurut, berbalik lalu duduk di depanku. Aku kemudian mengoleskan minyak aroma terapi ini ke lehernya lalu turun ke bawah. Seketika itu juga kudengar dia seperti mengerang, namun tertahan.
"Sayang, tak apa?" tanyaku padanya.
"Tak apa, Ara. Teruskan saja," jawabnya seraya menoleh ke belakang.
"Baiklah. Kumulai, ya?"
Segera kulakukan teknik tradisional asal negeriku untuk mengeluarkan angin dari tubuh. Benar atau tidaknya tentang mitos kerokan ini aku bawa santai saja. Asal ada khasiat, kenapa tidak dicoba. Lagipula bertujuan untuk menolong, jadi tidak ada salahnya.
"Sakit, tidak?" tanyaku sambil mengerok punggungnya dengan minyak dan logam emas ini.
"Lumayan, Ara. Terus saja," jawabnya.
Kulihat punggungnya memang merah kehitam-hitaman. Sepertinya angin di dalam tubuhnya sudah lama. Hanya saja dia tidak terlalu merasakannya.
Pergi jauh angin! Jangan ganggu tuanku!
Menit demi menit pun berlalu menemani malam yang indah ini. Setelah mengeroknya, aku memijat punggungnya. Namun ternyata, tuanku ini tidak hanya punggungnya saja yang ingin dipijat, tetapi yang lainnya juga.
Dia ini ternyata manja.
Kini aku memijat kepalanya dengan minyak aroma terapi. Dan tanpa kusadari dia sudah tertidur di atas pangkuanku. Kupanggil dirinya dengan sebutan sayang yang berulang, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
Sepertinya dia sudah terlelap dalam mimpi.
Aku pelan-pelan beranjak bangun lalu mengambilkan selimut untuknya. Kuselimuti dirinya dengan kasih sayangku. Seketika itu juga aku ingin sekali mengecup keningnya.
Tuan, Anda imut sekali.
__ADS_1
Karena sofa panjang di ruang tamu ada tiga, aku tidur di sofa lainnya. Tak lupa kumatikan TV terlebih dahulu. Dan akhirnya, kami tertidur bersama di malam ini. Di sofa yang berbeda namun dirasa yang sama. Tidak tahu mengapa aku merasa yakin jika kami memiliki rasa yang sama.