Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I See


__ADS_3

Pukul tiga sore waktu Dubai dan sekitarnya...


Siang ini angin berembus amat kencang dari arah barat. Terlihat ombak di pantai pun berkejaran dengan cepatnya. Seperti ingin memberi tahu sesuatu kepada Ara yang tengah bermeditasi di sana, di teras lantai dua rumahnya.


Ara penasaran. Selepas berteleponan dengan Rain, pikirannya semakin tidak tenang. Ia lantas mencari cara agar bisa terus berpikiran positif. Alhasil ia teringat kembali dengan hal yang telah dipelajarinya. Belum terlalu mahir tapi ia sudah berlatih sebelumnya. Sehingga ia memiliki keyakinan jika bisa mengetahui sesuatu dari alam bawah sadarnya.


Tuhan, izinkan aku melihat waktu ke depan.


Ara terlihat duduk tenang di teras sana. Ia rasakan setiap semilir angin yang menerpa tubuhnya. Bermodalkan daster hitam, ia terus saja mencoba menyatu dengan alam. Berharap sesuatu dapat dilihatnya.


Kedua kakinya bersila dengan telapak tangan di atas lututnya. Ara tampak konsentrasi penuh dalam meditasinya. Ia ingin mengetahui sebenarnya apa yang akan terjadi. Tak lama, sesuatu pun terlihat di pandangan mata batinnya. Ia seperti tersedot ke alam bawah sadarnya sendiri.


Penglihatan Ara kembali melihat sinar biru kehitaman yang bergerak sangat cepat. Sinar itu seperti menuju ke suatu tempat di ujung sana. Semesta pun seolah ikut mengarahkannya untuk melihat sesuatu. Hingga akhirnya ia melihat lautan lepas di arah barat Dubai. Semakin lama penglihatannya semakin mengerucut. Ia pun bisa melihat kapal pengeboran minyak yang ada di tengah-tengah laut sana.


Itukah tempat suamiku bekerja?


Ara semakin memfokuskan pandangannya, ia berkonsentrasi tinggi. Ara ingin melihat apa yang ada di sana. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam agar bisa menembusnya. Dan akhirnya pandangan matanya bisa menembus sampai masuk ke dalam kapal pengeboran itu.


Sayang?!


Ia melihat suaminya seorang diri di dalam kapal. Rain sedang melakukan perhitungan manual atas tingkat kedalaman pengeboran. Rain tampak amat serius. Ara pun mencari jam untuk melihat pukul berapa saat ini. Hingga akhirnya ia menemukan jam di dinding kapal. Dan Ara melihat jika waktu saat ini sudah pukul empat sore kurang sepuluh menit. Ara pun melihat ke sekeliling ruangan kapal yang tampak sepi.


Ini aneh.


Tiba-tiba ia merasakan getaran hebat. Kapal itu bergoyang entah mengapa. Terdengar suara gelembung yang semakin lama semakin banyak. Tak lama kemudian pun alarm tanda bahaya berbunyi.


Astaga?!


Ia kembali melihat suaminya. Rain tampak mencari asal bahaya tersebut. Rain pergi menuju ruang monitor keamanan kapal. Ara pun mengikutinya. Ia melihat di dalam ruangan itu seperti tidak ada siapa-siapa selain suaminya seorang.


Ini seperti direncanakan.

__ADS_1


Ara melihat Rain mengambil ponselnya. Ia melihat jam di ponsel Rain telah menunjukkan pukul empat sore. Dan ternyata Rain menghubungi pihak kapal yang jaraknya sekitar setengah jam perjalanan dari tempat pengeboran minyak. Tak lama kemudian api pun menyambar keluar lautan.


Sayang!!!


Ara panik. Melihat pemandangan itu Ara amat panik. Ia mencoba untuk menolong Rain tapi tidak bisa. Ini bukanlah dunia nyata, melainkan alam bawah sadarnya. Ia melihat sang suami meminta bantuan agar segera datang. Keadaan kapal ternyata sudah dalam bahaya besar. Dan akhirnya...


"Tidaaaakkk!!"


Ara segera tersadar dari alam bawah sadarnya. Napasnya terengah-engah kala melihat api melalap suaminya. Ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh menit. Itu berarti waktunya tidak akan lama lagi.


"Astaga. Aku harus segera menelepon Jack."


Jika hal itu benar, maka Ara tidak mempunyai banyak waktu lagi. Ia lantas memikirkan cara agar bisa cepat sampai ke kapal pengeboran minyak sebelum jam empat sore. Ia menelepon Jack.


"Nona?" Jack pun segera mengangkat telepon istri bosnya.


"Jack, jemput aku sekarang. Keadaan amat genting." Ara berkata dengan amat panik.


Jack pun segera meluncur untuk menjemput Ara. Ia tahu jika istri bosnya sedang berada dalam ketakutan. Sebelumnya Rain pernah menceritakan perihal Ara kepada Jack.


Tetaplah standby di sekitaran Palm Jumeirah. Istriku terkadang mengalami sesuatu yang membutuhkan bantuan segera.


Jack ingat benar bagaimana pesan Rain kepadanya. Sehingga ia segera meluncur ke komplek perumahan Rain.


Ya Tuhan, jarak tercepat dari sini ke pelabuhan dua puluh menit. Dari pelabuhan ke kapal pengeboran juga dua puluh menit. Itu berarti tepat pukul empat aku baru bisa sampai di kapal. Belum lagi mencari keberadaannya. Bisakah waktu ditunda?


Ara sendiri tidak mempunyai banyak waku. Ia segera memakai rompi dan membawa ponselnya sebagai penunjuk waktu. Ia pun segera menutup pintu dan jendela rumahnya. Ia tidak ingat lagi harta benda selain baju yang dikenakan. Ia ingin mencegah kejadian itu secepatnya.


Aku harus segera datang ke sana.


Waktu tak banyak. Ara mencoba menelepon ponsel pintar Rain, tapi tidak aktif. Ia pun menelepon Rain lewat selular biasa sambil menunggu Jack datang. Namun, ternyata nomor Rain selalu sibuk. Ara merasa semua ini seperti sudah direkayasa. Sehingga ia harus cepat datang ke sana.

__ADS_1


Itu mobil Jack.


Tak lama Jack pun datang. Ara segera masuk ke dalam mobil lalu meminta Jack untuk melajukan mobil ke pelabuhan. Seketika itu juga Jack tersentak kaget.


"Nona, Anda yakin?" Jack terlihat ragu.


"Cepat, Jack! Waktu kita tidak banyak. Ambil jalur cepat. Kita hanya punya waktu setengah jam." Ara terlihat panik.


"Baik."


Jack pun melihat kepanikan di istri bosnya. Ia mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Jack kemudian segera melajukan mobilnya menuju pelabuhan di barat Dubai dengan kecepatan tinggi. Tidak ada waktu lagi untuk bercengkerama. Ia harus fokus melajukan mobilnya.


Mungkin hari ini aku akan melihatnya sendiri.


Jack berkata dalam hati. Ia merasa akan melihat sendiri kelebihan yang Ara punya sore ini. Entah benar atau tidak, Jack akan membuktikannya.


Sementara itu di kapal pengeboran...


"Ya. Akan diusahakan secepatnya. Aku juga berharap sebelum lusa bisa sudah selesai dilakukan pengecekan." Rain ternyata sedang menerima panggilan telepon, entah dari siapa.


Para pekerja Rain satu per satu mulai berpindah kapal. Sehingga hanya Rain dan operator kapal yang ada di sana. Karena saat ini waktu untuk beristirahat, sehingga para pekerja bisa beristirahat di mana saja. Mereka biasanya kembali ke daratan untuk menghirup udara segar.


Di pengeboran minyak, udara sangat terkontaminasi sehingga para pekerja tidak bisa menghirup udara segar. Sehingga biasanya mereka mampir sebentar ke daratan untuk berteduh dan meminum kopi. Yang mana jarak dari pantai ke kapal pengeboran minyak sekitar lima belas menit perjalanan dengan menggunakan kapal cepat. Kapal itu memang disediakan untuk mengangkut para pekerja dari ladang minyak ke daratan, begitu juga sebaliknya.


"Hm, baiklah. Aku akan segera mengerjakannya." Rain kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.


Dilihatnya jam ternyata sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Rain pun segera mengerjakan perhitungan kedalaman laut untuk pengeboran selanjutnya. Ruangan khusus miliknya itu berada di tengah-tengah kapal pengeboran yang besar. Namun, di sana hanya dipenuhi oleh empat kursi dan satu meja kayu. Sedang di salah satu sudutnya terdapat kasur lipat dan juga lemari kecil untuk menaruh pakaian.


"Hah ... ada-ada saja pekerjaan tambahan."


Rain mulai mengambil kertas dan penanya untuk melakukan perhitungan. Di meja kayu itu terdapat sebuah kalkulator yang membantunya melakukan perhitungan. Rain sendiri belum menyadari apa yang sebentar lagi akan terjadi. Ia masih fokus bekerja.

__ADS_1


__ADS_2