Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Way


__ADS_3

Esok harinya...


Sinar matahari begitu menyorot sang penguasa yang masih tertidur di sofa tamu. Dering ponsel pun berbunyi berulang kali, mencoba menyadarkannya dari alam mimpi. Namun, ia sepertinya masih ingin tertidur di pagi ini.


Ketukan pintu yang berulang akhirnya dapat menyadarkannya jika sudah tidur melewati waktu. Perlahan ia membuka mata dan melihat jam di dinding ruangan. Dan betapa terkejutnya ia saat menyadari jam berapa sekarang.


"Astaga!"


Rain segera mengecek ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia pun melihat banyaknya panggilan tak terjawab untuknya. Tak lama panggilan masuk pun datang. Dan ternyata Jack lah yang meneleponnya.


"Halo?" Rain segera mengangkat teleponnya walaupun dengan suara yang serak.


"Tuan, saya sudah di depan sejak dua jam yang lalu." Jack berkata dari seberang.


"Astaga ... maaf. Tunggu di sana." Rain beranjak bangun.


Rain tanpa sadar telah bangun kesiangan. Wajahnya terlihat kusut dan tak bergairah. Ia pun bergegas mencari gadisnya, berniat memarahi karena tidak membangunkannya. Namun ternyata, sang gadis tidak kunjung ditemukannya.


Rain mencari Ara ke dapur, ke kamar mandi, ke lorong mesin cuci, ke kamarnya bahkan ke teras luar. Namun, lagi-lagi sang gadis tidak ada. Sesaat ia menyadari jika Ara sudah pergi tanpa meninggalkan pesan untuknya.


Lekas-lekas ia membasuh wajah agar tidak terlalu kusut. Ia kemudian melangkahkan kaki menuju pintu apartemen untuk menemui Jack yang menunggu di luar. Dan ternyata saat membuka pintu, ia melihat kaki Jack yang kram karena telah lama menunggu.


"Tuan."


"Masuklah Jack." Rain memintanya.


Jack kemudian masuk ke dalam, ia duduk di sofa tamu. Sedang Rain menuju meja makan untuk mengambil air minum. Dan ternyata Ara sudah menyiapkan sarapan pagi untuknya di atas meja makan. Segala pemberian darinya pun masih tergeletak, tidak dibawa oleh sang gadis. Ara pergi begitu saja tanpa bisa dihubungi olehnya.


Dia meletakkan semua pemberianku di atas meja laptop. Apa dia benar-benar ingin menjauh dariku?


Rain merasa tak bergairah saat melihat semua pemberiannya dikembalikan dan tidak diambil lagi. Ia merasa gagal menjadi seorang pria karena tidak bisa menyenangkan hati wanitanya.


"Tuan?" Jack pun menegur.

__ADS_1


Teguran Jack menyadarkan Rain dari lamunannya sendiri. Ia lekas-lekas meminum air agar pikirannya kembali stabil. Ia juga mengambilkan air minum untuk Jack. Rain lalu duduk di sofa yang berdekatan dengan Jack duduk.


"Tuan, apakah ada masalah?" tanya Jack yang khawatir.


"Hm ... ya, sepertinya." Rain termenung, tak bergairah.


Jack segera menyadari penyebab kegelisahan tuannya. Tak lain dan tak bukan adalah karena Ara seorang. Siapa lagi kalau bukan Ara, karena hanya Ara lah yang disebut-sebut oleh Rain waktu itu.


"Tuan, tadi saya melihat nona pergi sendiri ke kampus. Dia tidak ingin diantarkan oleh saya." Jack bercerita.


"Dia ke kampus?" Rain heran.


"Ya. Dia pergi pagi-pagi tadi. Kami bertemu di pintu lift saat dia turun dari lantai atas." Jack menceritakan.


"Jadi itu sebabnya kau menunggu di luar?" Rain menoleh ke arah Jack.


"Benar, Tuan." Jack mengiyakan.


"Kemarin kami bertengkar." Rain mulai bercerita.


"Bertengkar?" Jack antusias.


"Ya. Aku mendapat kiriman foto-fotonya bersama pria lain."


"Apa?!" Jack tak percaya.


"Hatiku amat kesal padanya. Dan akhirnya kami bertengkar. Kemarin dia pergi untuk menenangkan diri. Tapi saat aku menemuinya, dia sedang bersama pria itu lagi. Dia seperti sengaja melakukan hal ini padaku." Rain menghela napasnya.


"Jadi maksud Tuan, nona Ara berkhianat?" tanya Jack berhati-hati.


"Entahlah. Dia menjelaskan padaku jika pria itu menolongnya dari pengendara motor yang mengebut di jalan. Aku sendiri tidak tahu kebenarannya. Yang kutahu, aku melihat foto-fotonya bersama pria itu." Rain menjelaskan.


Sejenak Jack terdiam. Ia berpikir cepat mengenai masalah ini.

__ADS_1


"Tuan, saya rasa nona Ara tidaklah mungkin berbohong. Dia memang mengatakan hal yang sebenarnya." Jack mengungkapkan pendapatnya.


"Lalu bagaimana dengan foto-foto itu?" tanya Rain seraya menoleh ke arah Jack.


"Saya rasa ... memang ada yang sengaja memfotonya. Seseorang yang memang berniat untuk merusak hubungan Tuan dan nona." Jack menarik kesimpulan.


"Astaga ...." Rain menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Tuan seharusnya membuktikan hal ini terlebih dahulu. Rasanya aneh jika percaya begitu saja. Terlebih nona Ara menjadi korban. Dia seperti dijebak seseorang." Jack mengungkapkan pendapatnya.


"Astaga." Rain seperti menyesal. "Aku tidak sampai berpikiran ke arah sana, Jack. Kemarin benar-benar tidak dapat mengendalikan emosiku lagi." Rain mengembuskan napasnya dengan kuat.


"Tuan, biasanya menjelang hari pernikahan akan ada saja hal-hal yang membuat calon pengantin bertengkar sampai akhirnya berseteru hebat. Semua itu memang ujian pernikahan. Beberapa di antaranya juga ada yang kembali diganggu masa lalunya. Karena niat baik pasti setan tidak akan menyukainya." Jack berusaha memberi pencerahan kepada tuannya.


"Kau benar, Jack. Aku memang sudah berniat untuk menikahinya. Tapi aku terlalu terburu-buru menarik kesimpulan lalu marah padanya. Seharusnya kuselidiki dulu siapa orang yang mengirim foto-foto itu dan apa tujuannya. Tapi ternyata, aku..."


"Tuan, sebaiknya Anda segera pergi ke kantor untuk mencari tahu siapa orang yang mengantarkan foto-foto tersebut. Mungkin saya bisa ikut mencari keberadaan orang itu jika rekaman CCTV dapat menangkap wajahnya." Jack menyarankan.


Rain mengangguk. "Baik. Tunggu sebentar. Aku siap-siap dulu." Rain segera bersiap-siap berangkat ke kantor.


Hari ini sang penguasa harus kesiangan datang. Namun, hatinya dapat sedikit lega setelah bertukar pikiran dengan Jack. Ia lalu segera berkemas sebelum berangkat ke kantornya. Ia akan mencari tahu penyebab pertengkarannya dengan Ara.


Sementara itu di kampus...


Sang gadis terpaksa harus menunggu di perpustakaan sampai jam kuliahnya tiba. Dan kini ia berjalan ke kelas untuk mendapatkan jam kuliah pertama. Ia masih berusaha menetralkan diri dari perasaan yang bercampur aduk di hatinya.


Pria itu memang benar, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Jika aku tidak bertengkar, mungkin tidak dapat membaca buku-buku tentang hukum tarik-menarik di perpustakaan. Mungkin aku memang diarahkan ke sini dengan jalan yang menyakitkan.


Ara bergumam dalam hati.


Hah ... ya sudahlah. Mungkin sehabis ini aku harus mencari guru untuk belajar bagaimana menerapkan hukum tarik-menarik itu. Sepertinya aku tertarik dengan cara kerja hukum ini. Mungkin Taka bisa membantuku menemukan guru.


Tanpa terasa Ara sudah tiba di depan kelasnya. Ia lalu segera masuk dan mengambil kursi di depan agar bisa fokus menerima pelajaran. Dan akhirnya, sang gadis dapat kembali ceria. Ia berusaha melupakan apa yang telah terjadi kemarin sore.

__ADS_1


__ADS_2