Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Don't Worry, Honey


__ADS_3

Perasaan wanita amatlah peka. Begitu juga dengan Ara yang merasakan jika akan terjadi sesuatu kepada suaminya. Rain mengaku mempunyai rencana untuk menemui kakeknya. Yang mana berarti keberadaannya akan segera diketahui oleh pihak organisasi.


"Sayang, kau harus pikirkan baik-baik sebelum bertindak." Ara meminta. Ia merasa khawatir.


Rain mengangguk. Ia mengerti kekhawatiran istrinya. Namun, untuk saat ini hal itu hanya sebatas rencana. Belum ia pikirkan lebih lanjut.


"Jangan khawatir, Sayang. Aku belum memikirkannya kembali. Aku masih ingin menemanimu." Rain merebahkan kepalanya di pangkuan Ara. Saat itu juga ia mencium perut istrinya.


Istriku, aku tahu seharusnya tidak mengatakan hal ini kepadamu. Aku hanya tidak ingin membuatmu terkejut bila suatu hari nanti tiba-tiba pergi ke USA. Jika sekarang mengatakannya, pastinya kau akan mempunyai persiapan yang lebih. Lagipula aku ingin segera mengundurkan diri dari organisasi. Bukankah itu lebih cepat lebih baik?


Aku tidak ingin dianggap sebagai penghalang oleh saudaraku sendiri. Walaupun dia amat membenciku, tapi ketahuilah jika aku tidak pernah membencinya. Kami dibesarkan bersama sehingga aku tidak ingin terjadi pertikaian karena tahta. Maafkan aku ya.


Rain mengatakannya di awal agar Ara bersiap-siap dari sekarang jika suatu hari nanti ia pergi menemui kakeknya. Rain mempunyai urusan yang harus segera diselesaikan. Yang mana setelah urusan itu selesai, ia berniat mengundurkan diri dari organisasi. Seperti rencananya waktu itu. Karena Rain tahu jika Nick menginginkan tahta organisasi.


"Sayang, jangan nakal di dalam sana ya. Jika ingin tumbuh besar, maka cepatlah lahir ke dunia. Ayah dan ibu akan dengan senang hati menyambut kelahiran kalian." Rain berkata seraya mengusap-usap perut istrinya.


Saat itu juga, tiba-tiba Ara seperti mendengar suara denyit gelangnya. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasa ucapan Rain menandakan sesuatu akan terjadi untuknya. Pikiran buruk pun mulai menyelimuti. Ia khawatir terhadap keadaan suaminya bila akan benar-benar pergi ke USA. Hal itu seperti menjadi sebuah firasat buruk baginya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Rain mendongakkan kepala, melihat istrinya yang diam saja.

__ADS_1


Ara tersadar dari lamunannya. "Em, Sayang. Tadi kau bilang telah meminjam uang kepada Owdie. Apa itu berarti dia sudah mengetahui keberadaan kita?" tanya Ara. Ia tampak cemas sehingga langsung menanyakannya.


Rain tersenyum. "Tidak, Sayang. Aku tidak memberi tahu di mana kita sekarang. Kau tenang saja. Selepas ibu pulang nanti kita ke akan bank untuk mengambil uangnya. Kita berikan kejutan untuk ibu." Rain mencium perut istrinya lagi.


Ara mengangguk pelan, mencoba tenang di tengah firasat buruk yang ia rasakan. Entah apa yang akan terjadi, ia mencoba mengikuti alam yang menuntunnya. Baik-buruknya pasti sudah menjadi konsekuensi yang harus ia jalani. Suka atau tidak.


Turki, pukul dua siang...


Cuaca cerah mengantarkan Ara dan Rain menuju ke sebuah kawasan apartemen yang ada di Kota Turki. Apartemen ini merupakan apartemen kelas atas yang Rain beli dari uang hasil pinjamannya kepada Owdie. Rain membelikan apartemen ini untuk ibunya. Ia berniat membagi uang hasil pinjamannya kepada ibu dan juga istrinya.


Ara sendiri tampak tidak keberatan dengan pembagian yang Rain berikan. Ia mendapat $250.000, sama seperti yang didapatkan oleh ibu Rain. Sedang Rain sendiri memegang $500.000 sebagai pegangan ke depannya. Karena ia tidak tahu sampai kapan asetnya akan dibekukan oleh sang kakek. Ia juga mempunyai niatan untuk menemui kakeknya segera. Namun, hal itu belum terpikirkan lebih lanjut. Rain masih ingin bersama ibu dan istrinya. Apalagi saat ini Ara tengah mengalami ngidam.


"Kurasa ibu akan menyukai apartemen ini."


"Tidak jauh berbeda dari yang di Dubai, ya? Luas dan juga semua perabotan rumah tangga sudah disediakan." Ara melihat ke sekelilingnya.


"Ya. Mungkin bedanya hanya di jumlah kamarnya saja. Aku sengaja meminta tiga kamar untuk apartemen ini. Siapa tahu kita bertengkar dan aku diusir keluar." Rain meledek istrinya.


"Ih!" Ara pun mencubit pinggang suaminya.

__ADS_1


Perjalanan waktu yang dilalui bersama membuat keduanya menepiskan segala jarak yang ada. Sebuah keberuntungan bagi Ara karena dapat bertemu dengan Rain. Walaupun ia harus menanggung risiko besar di balik itu. Namun, Ara menerima segala konsekuensi dari pertemuannya. Sampai akhirnya ia memiliki kemampuan yang tak terduga.


Gerbang jiwa Ara telah terbuka dan dapat berpindah tempat dengan cepat. Hanya saja Ara belum mampu mengendalikan saat memulai penjelajahan dimensinya. Sehingga seringkali ia mengalami kelelahan yang berat. Namun, lambat laun Ara pasti bisa mengendalikannya seiring waktu berjalan. Pepatah mengatakan bisa karena biasa itu memang benar adanya.


Kini keduanya telah memegang kunci apartemen setelah melakukan pelunasan tunai. Apartemen juga sudah diisi dengan berbagai macam perabotan yang tidak jauh berbeda dari yang di Dubai. Hanya saja lantai apartemennya kali ini tidak terlalu tinggi. Rain membeli apartemen yang berada di lantai lima gedung. Tidak seperti di Dubai yang mengambil lantai paling atas, lantai lima puluh.


"Sayang, habis ini kita ke rumah sakit ya. Periksakan kandunganmu." Rain mengajak istrinya untuk memeriksakan kandungan.


Ara tertegun sejenak. "Aku takut," katanya yang membuat Rain lebih mendekat.


"Takut kenapa, Sayang?" Rain membelai pipi istrinya.


Ara menunduk. Ia merasa khawatir jika akan memeriksakan kandungannya. "Aku takut mendengar hal yang aneh-aneh. Perutku makin lama makin membesar." Ara tampak cemas.


Rain memeluk istrinya. Mengusap rambut sang istri dengan lembut dan sepenuh hati. "Ada aku. Kita hadapi bersama apapun hasilnya. Jangan takut, Sayang." Rain mengecup kepala Ara.


Ara menarik napas lega. Ia merasa tenang. "Terima kasih, Suamiku. Kau selalu bisa menenangkan hati ini." Ara melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rain.


Rain pun mengangguk. Ia tersenyum sambil memberatkan kepalanya di kepala Ara. Ia tahu jika istrinya membutuhkan dukungan yang lebih darinya. Maka dari itu sementara waktu ia tidak akan memikirkan rencananya untuk menemui sang kakek. Rain lebih mementingkan istrinya dan janin yang ada di dalam kandungan sang istri.

__ADS_1


Siang ini sang penguasa kembali menunjukkan bagaimana sikap seharusnya seorang suami kepada istri yang sedang mengandung. Ara pun merasa tenang setelah berkali-kali diyakinkan oleh Rain. Bagi Ara, Rain adalah hujan yang menyuburkan. Hatinya juga seolah mendapat ketenangan saat bersama Rain.


Semenjak pertengkaran yang menyakitkan hatinya waktu itu, Rain tidak pernah lagi berkata sembarangan. Ia jadi lebih menjaga sikap dan ucapan. Mereka saling membutuhkan dan juga mencintai. Berharap semesta merestui cinta mereka yang abadi.


__ADS_2