Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Can't Stop It


__ADS_3

Dubai pukul 6.15 pagi...


Aku mandi dengan mengenakan kain yang menutupi dari bagian dada sampai paha. Kuhidupkan shower air sambil menikmati aroma shampo yang menyegarkan. Pagi ini aku sudah riang seperti biasa. Toh, buat apa juga muram. Memang ada untungnya?


Aku menyabuni seluruh tubuhku dengan sabun cair beraroma terapi. Pagi ini air terasa hangat, tidak seperti biasanya yang membuatku kedinginan. Aku jadi menikmati waktu mandi pagiku. Mungkin suhu di kota sedang baik jadi air yang dihasilkan tidak terlalu dingin atau panas. Melainkan menyegarkan.


Ah ... segarnya.


Aku lantas keluar dari kamar mandi sambil menghanduki kepalaku, berniat untuk segera mengenakan pakaian. Seperti biasa aku menarik tirai penutup yang ada di lorong mesin cuci ini. Aku lalu mengambil pakaian yang ingin kukenakan. Tapi bersamaan dengan itu, tiraiku tiba-tiba dibuka dari luar. Dan kulihat pakaian dilemparkan.


Astaga! Dia sudah bangun?!


Kusadari jika priaku lah yang melemparkan pakaian. Aku tak menyangka jika dia akan bangun secepat ini.


"Ara?"


"Sayang?"


Dia akhirnya menyadari jika aku ada di sini. Dengan masih mengenakan handuk karena sehabis mandi. Kami pun saling bertatapan dengan wajah canggung bercampur terkejut. Tak menyangka akan bertemu dengan posisi seperti ini.


"Ara, kau ...."


Kulihat dia berdiri di depanku hanya dengan mengenakan handuk putihnya saja. Dia lalu memperhatikanku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Lantas aku tersadar jika kami tidak boleh lama-lama seperti ini.


"Apa yang kau lakukan?!"


Aku berteriak lalu segera menutup tirainya. Aku membalikkan badan untuk mengenakan pakaian secepatnya. Tapi, sesuatu kemudian terjadi.


"Ara ...." Priaku membuka tirainya lagi.


Aduh, gawat!


Lorong mesin cuci ini begitu sempit. Jika aku berbalik menghadapnya, sama saja menyerahkan diri. Tapi jika membelakanginya, dia bisa berbuat semaunya. Sedangkan jika berlari, dia akan menahannya. Aku tahu benar bagaimana priaku. Jadi apa yang harus aku lakukan agar tidak terjadi apapun? Karena kami hanyalah anak manusia yang menyadari sepenuhnya jika hasrat itu memang benar adanya.

__ADS_1


"Ara, kau habis mandi?" tanyanya.


Jelas saja aku habis mandi. Pertanyaan seperti itu seharusnya tidak perlu diajukan padaku. Tapi dia malah menanyakannya, sontak hal itu semakin membuatku kesal.


"Pergi sana! Aku mau mengenakan pakaian!" seruku.


Aku memegangi handuk agar tidak terjatuh. Namun, dia malah membalikkan badanku. "Kau sudah berani memerintahku sekarang?" tanyanya dengan tatapan tajam sambil memegangi tanganku ini.


Aku menelan ludah. Sepertinya telah salah bicara padanya. "Err, Sayang. Ak-aku ... aku mau mengenakan pakaian. Bisakah keluar sebentar?" tanyaku lembut.


Dia terdiam dengan raut wajah serius menatapku. Entah apa yang ada di pikirannya, aku tidak tahu. Tapi sepertinya, dia menginginkan sesuatu.


"Ah!"


Tubuhku lalu didorong olehnya hingga menempel ke dinding ruangan. Kedua tanganku juga dipegangi oleh satu tangannya. Dia menatap kedua mataku dengan tatapan yang tak mampu untuk kubalas. Aku memalingkan pandangan karena tidak berani menatapnya. Namun, dia malah mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Sayang, aku mengenakan pakaian dulu, ya," kataku dengan kedua mata yang terpejam.


Dia tidak menjawab, diam saja yang malah membuatku semakin khawatir. Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan. Tapi setelah kedua pahanya mengunci tubuhku, barulah kusadari apa yang diinginkan olehnya.


"Ara ...."


Dia hanya menyebut namaku, lalu sesaat kemudian kurasakan jika bibirnya menyentuh lenganku ini. Sontak tubuhku merinding, seolah semua aliran listrik di tubuhku tersambung dalam sekejap.


"Sayang, sudah!" Aku berseru padanya karena merasa geli saat rambut halusnya itu menyentuh lenganku ini.


Dia menghentikannya. "Berapa lama lagi aku harus menahannya?" tanyanya sambil menatapku.


"Tidak lama lagi," jawabku seraya membuka kedua mata, melihat wajahnya.


Dia menggelengkan kepala. "Aku ingin sekarang," katanya tegas.


Kurasakan jika hasratnya sudah mulai mendominasi pikirannya. Dia lalu menciumi lenganku, perlahan-lahan dari atas hingga ke bawah dengan bibir tipisnya itu. Menyusuri setiap inchi dari lenganku yang terangkat ke atas oleh tangannya. Dia menciumi lenganku yang sontak membuatku melenguh di hadapannya.

__ADS_1


"Sayang ... sudah ...."


Bukannya ku tak mau. Tapi aku masih berusaha menahannya. Namun, saat ini seperti tidak ada yang bisa kulakukan untuk melawan keinginannya. Tubuhku dikunci oleh kedua paha kekarnya. Sedang kedua tanganku dipegangi oleh tangannya. Aku jadi tidak bisa berkutik.


"Jangan! Jangan turun lagi!"


Aku khawatir kehilangan kendali saat bibirnya sudah sampai di ketiakku. Rasanya geli sekali. Bibirnya itu mengecup-ngecup dengan sesuka hati di permukaan ketiakku. Membuat cairan kimia di dalam tubuhku bereaksi. Aku tidak sanggup jika lama-lama begini.


Rain tiba-tiba saja sudah bangun dan beranjak mandi saat Ara baru selesai mandi. Keduanya lalu bertemu di lorong mesin cuci dengan sama-sama mengenakan handuk. Ara pun terkejut melihat kehadiran Rain.


Rain tidak mengetahui jika ada orang di balik tirai sehingga ia melemparkan pakaian semalam, ke keranjang cucian kotor yang ada di lorong mesin cuci. Yang mana ternyata Ara sedang ingin mengenakan pakaiannya di sana. Sehingga akhirnya sang penguasa melihat bagaimana tubuh indah gadisnya yang hanya terbalut handuk sebatas dada hingga paha. Sontak hal itu membuat sesuatu di dalam tubuhnya bereaksi.


"Sayang, geli ... ah!"


Kini sang penguasa sedang menikmati permainannya. Bibirnya menyusuri setiap inchi dari dada gadisnya dengan sesekali menciumnya. Seketika itu juga tubuh gadisnya menjadi lemas seperti tidak bertenaga. Seluruh kekuatan yang ia punya seakan terserap oleh prianya.


"Sayang ...."


Ara memejamkan kedua matanya. Tangannya lemas tak berdaya. Rain pun menyadarinya. Ia segera melingkarkan kedua tangan Ara ke lehernya. Ia lalu mengecup bibir ranum sang gadis dengan kecupan yang berulang kali, sehingga menimbulkan sensasi tersendiri.


"Ara, aku tidak dapat menahannya lagi."


Rain membisikkan kata-kata itu ke telinga gadisnya. Ara pun seperti pasrah, tidak dapat melawan kehendak sang penguasa. Ia lalu membiarkan lidah prianya bergerilya di sepanjang dadanya. Dan pagi ini menjadi saksi akan hasrat yang menggelora.


"Ara, aku turunkan, ya?"


Rain meminta izin untuk menurunkan handuk yang dipakai gadisnya. Ia lalu menggendong Ara. Dan kini kedua kaki sang gadis telah melingkar di pinggangnya.


"Aku takut," kata Ara dengan suara yang pelan.


"Kita pemanasan dulu, Sayang." Rain lalu mengecup bibir gadisnya dengan perlahan.


Sontak Ara menelan ludahnya. Ia berharap hal ini tidak sampai keterusan. Tapi, Rain seperti tidak dapat mengendalikan dirinya. Ia lantas membawa Ara ke dalam kamar.

__ADS_1


Sang penguasa menciumi bibir Ara seraya berjalan ke arah kamar. Sesampainya di kamar, ia kemudian lekas-lekas menutup pintu. Ia merebahkan Ara di atas kasurnya dengan perlahan. Terlihat keduanya saling bertatapan dengan tatapan yang menginginkan.


Suara burung berterbangan di udara menemani suasana yang tercipta di antara keduanya. Udara pagi dibiarkan masuk melewati jendela. Menambah sensasi dingin yang terasa oleh keduanya. Tak berapa lama Rain pun melepas handuk yang dipakainya. Di hadapan Ara ia melupakan segalanya. Ia hanyalah Rain, pria biasa yang ingin dicinta. Dan hanya Ara lah yang mampu melakukannya.


__ADS_2