Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Permission


__ADS_3

Esok harinya di Agartha...


Pagi hari Ara sudah bersiap-siap untuk pergi ke bukit peternakan. Dan kini ia sedang menunggu suaminya selesai mandi. Ara ingin pergi bersama Rain ke sana. Terlihat dirinya yang cantik jelita bak putri kerajaan Cina. Rambutnya disimpul tengah sedang sisanya dibiarkan tergerai panjang.


Ara mengenakan pernak-pernik di rambutnya seperti hiasan bulu merak yang indah. Gaun sutra berwarna putih ikut membalut tubuhnya yang ramping. Ia sama sekali belum terlihat jika sedang mengandung. Masih saja tampak seperti anak remaja yang sedang beranjak dewasa. Langsing dan juga merekah indah.


Rain sendiri amat dewasa kala memposisikan dirinya sebagai kepala rumah tangga. Tapi di depan Ara, ia seolah-olah tak berdaya. Hatinya luluh, pikirannya pun ikut melembut. Ternyata pengaruh Ara begitu besar hingga sampai merubah hidupnya.


Kini sang penguasa pertambangan minyak di Timur Tengah itu baru saja selesai mandi. Rumah kayu ini menjadi saksi keberadaanya bersama sang istri. Rain cukup mensyukuri keadaan dirinya sekarang. Walau tidak punya uang, tetapi ia tetap berkecukupan.


Di Agartha sama sekali tidak menggunakan uang sebagai alat pembayaran. Rain pun belum mengerti lebih jauh tentang negeri ini. Ia sengaja menunggu Pangeran Agartha yang menceritakannya sendiri, karena khawatir akan salah bicara jika memulainya.


"Sayang, ternyata kau membawa dompet?!" Ara menunjukkan dompet dari celana hitam yang Rain kenakan kemarin.


Seketika Rain pun teringat. "Astaga, iya. Aku sampai lupa." Rain segera mendekati istrinya.


Setelah menikah, Ara menjadi terbiasa saat melihat Rain bertelanjang dada. Ia juga tidak risih jika Rain bertelanjang di depannya. Entah mengapa perbedaan sebelum dan sesudah menikah amat mencolok pada keduanya. Namun, satu hal yang akan selalu sama sama, mereka tetap mesra dan saling setia kepada pasangannya.


"Ini jubah yang diberikan pelayan untukmu. Ada warna hitam dan putih. Pilih yang mana, Sayang?" tanya Ara sambil menunjukkan jubah itu kepada Rain.


Rain tersenyum. Ia melihat Ara begitu melayaninya dengan sepenuh hati. Lantas Rain pun menarik dagu istrinya. "Sayang." Ia berkata lembut kepada Ara.


Ara mendongakkan kepala. Ia melihat wajah suaminya. "Kenapa?" tanya Ara yang bingung.


Rain pun segera mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Ia lalu mengecup bibir ranum yang terpoles lipstik merah muda. Sayang? Seketika itu juga Ara menyadari maksud tatapan suaminya.

__ADS_1


Ara membiarkan Rain menciumnya. Kedua bibir mereka bertemu lalu saling menyapu. Rain pun menarik pinggul Ara agar lebih dekat dengannya. Ara pun membiarkannya. Ia membebaskan Rain melakukan apa saja.


Detik demi detik pun mereka lalui. Saling menyapu dan memberi penekanan sambil sesekali meraba pasangannya. Hingga akhirnya handuk Rain jatuh sendiri tanpa disadari. Saat itu juga Ara menyadari sesuatu yang tengah terjadi pada suaminya.


Kok ada yang keras, ya?


Ia kemudian menyudahi ciumannya lalu menatap lembut wajah sang suami. Ara pun melihat ke bawah. Saat itu juga ia melihat sesuatu sudah mengeras di bawah sana.


"Dasar mesum!" Ara segera menjauhkan diri dari Rain.


"Sayang, tanggung." Rain seperti tidak ingin mengakhiri ciumannya.


"Sudah, cepat! Kita harus menemui pangeran untuk meminta izin ke bukit peternakan. Lalu setelah itu temani aku di sana." Ara menyiapkan keperluan sebelum berangkat ke bukit.


"Lalu bagaimana dengan aku?" tanya Rain yang masih membiarkan handuknya jatuh.


"Sayang, nanti lagi. Kita harus cepat sebelum lebih lama tinggal di sini. Kita tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi jika berlama-lama di sini. Nanti sesampainya di bumi, aku akan memberikan pelayanan spesial untukmu." Ara berjanji. Ia membawa buntalan barang bawaannya.


"Benar, ya?" Rain pun merekam janji Ara di otaknya.


"Iya. Sudah pakai celana! Malu tahu! Suruh tidur lagi," kata Ara sambil menahan tawanya.


Rain pun akhirnya menurut kepada sang istri. Ia mengambil handuk yang jatuh lalu memakainya kembali. Ia kemudian mengenakan pakaian yang Ara berikan padanya. Rain akan menemani Ara ke bukit peternakan untuk mencari tahu bagaimana cara membuka portal. Ia ingin segera kembali ke bumi tercintanya.


Beberapa saat kemudian, di istana...

__ADS_1


Rain bersama Ara mendatangi Pangeran Agartha untuk meminta izin ke bukit peternakan. Saat itu juga ia melihat pangeran sedang bersantap pagi bersama Mile. Mile pun menundukkan pandangannya dari Rain, seolah menjaga pandangan. Sedang Ara yang ikut meminta izin, melihat Mile dengan wajah tak suka. Ia merasa Mile pintar bersandiwara.


Tidak mudah bagi Ara untuk melupakan apa yang terjadi kemarin. Di mana Mile dengan beraninya memegang tangan Rain tanpa izin darinya. Ara merasa Mile begitu agresif dan harus diwaspadai. Apalagi ia tahu benar bagaimana sifat sang suami. Ara pun ingin lekas-lekas kembali ke buminya.


"Selamat pagi, Pangeran. Mohon maaf mengganggu." Rain bertutur sopan kepada Pangeran Agartha.


"Ada apa?" tanya pangeran datar.


Rain menoleh ke Ara sejenak. "Kami ingin meminta izin untuk pergi ke bukit peternakan sekarang. Kami ingin berjalan-jalan di sana," tutur Rain lagi.


Pangeran Agartha berhenti menyuap sarapan paginya. "Jaraknya lumayan jauh. Aku khawatir kalian akan kelelahan jika ke sana." Pangeran Agartha tampak keberatan memberikan izin.


Rain mengambil napas dalam. "Tidak, Pangeran. Istriku sangat ingin sekali ke sana. Tentunya jika tanpa izin dari Pangeran, kami tidak akan bisa pergi. Maka dari itu kami meminta izin dan siap menanggung risiko atas perjalanan ini." Rain menerangkan dengan hormat.


Pangeran Agartha pun mengangguk, seperti mengerti ucapan Rain. "Baiklah. Kalian bisa menggunakan kereta kuda milik istana. Tapi, kembalilah sebelum sore tiba. Perjalanan memakan waktu tidak sebentar. Aku khawatir jika kembali sore akan sampai malam di sini." Pangeran Agartha akhirnya mengizinkan.


"Terima kasih, Pangeran. Kami akan kembali sebelum sore hari tiba. Kalau begitu permisi." Rain berpamitan.


Ara membungkukkan badannya ke arah pangeran sebagai rasa hormat. Ia kemudian berjalan bersama Rain menuju pintu keluar istana. Sedang Mile diam-diam memerhatikan keduanya. Pangeran Agartha pun menyadarinya.


"Mereka suami istri." Pangeran Agartha berbicara kepada Mile.


Mile diam. Ia kembali menunduk lalu melanjutkan sarapan paginya. Pangeran Agartha pun seperti menyadari tentang perasaan calon istrinya. Ia merasa jika Mile tertarik kepada Rain. Dan ia tidak menyukainya.


"Lekaslah selesaikan sarapan sebelum aku meminta putri lain untuk menyelesaikannya." Pangeran Agartha beranjak pergi dari hadapan Mile.

__ADS_1


Mile mengangguk. Ia tidak berani menatap pangeran secara langsung. Ia menyadari jika pangeran tidak menyukai sikapnya kepada Rain. Tapi, ia juga tidak bisa berbohong jika tertarik kepada suami dari Ara itu. Dan Mile ingin tahu lebih jauh tentang Rain. Entah bagaimana caranya, sepertinya ia akan berusaha. Dengan atau tanpa sepengetahuan Pangeran Agartha.


__ADS_2