Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Executed


__ADS_3

Kedua pasang mata yang saling mencinta itu bertatapan.


"Tuan, aku sadar siapa diriku di sini. Aku tidak pantas menerima permintaan maaf darimu. Lekaslah sarapan." Ara tersenyum palsu kepada Rain.


"Ara—"


"Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya ada di hatimu. Aku merasa nyawaku tidak berharga, apalagi hatiku. Aku merasa kau hanya bermain-main. Tuan, maafkan aku yang terlalu banyak berharap padamu." Ara mencoba jujur dengan dirinya sendiri.


"Ara, apa yang kau katakan? Aku juga..." Sejenak kata-kata Rain terhenti. "Aku juga..." Ia lagi-lagi seperti tidak mampu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Apa yang ingin kau katakan, Tuan? Apa kau ingin mengatakan jika menyayangiku? Sampai saat ini aku belum pernah mendengarnya langsung darimu. Siapa aku ini?"


Ara segera berlalu pergi, meninggalkan Rain yang terpaku di tempatnya. Ia tidak ingin lebih lama lagi berbicara dengan tuannya itu. Ia khawatir Rain akan memandangnya lebih murahan jika sampai mengetahui isi hatinya. Ara tidak ingin menambah luka di hati.


Sang penguasa, melihat kepergian Ara yang entah ke mana. Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan dirinya dan cucian yang mau dicuci.


Dia ... benar-benar marah padaku. Dia kini sudah berani meninggalkanku.


Kembali sang penguasa merasa galau sendiri. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sikap sang gadis yang selalu menjaga jarak darinya. Ia kemudian memutuskan untuk berangkat ke kantor, tidak peduli lagi dengan sarapan yang telah disajikan Ara untuknya.


Dubai, pukul sembilan pagi...


Cuaca cerah menghiasi langit Pantai Jumeirah. Deburan ombak terdengar lembut menyapa setiap pengunjung yang datang ke kawasan wisata ini. Gedung-gedung bertingkat tinggi pun menghiasi sekeliling pantai dengan mewahnya.


Hari ini adalah hari Jumat. Hari di mana orang-orang menyebutnya sebagai rajanya hari. Hari di mana keberkahan lebih banyak diturunkan Sang Pencipta kepada setiap makhluk-NYA di bumi.


Udara segar menyelimuti sekeliling pantai yang tampak ramai menyambut akhir pekan. Di sana terlihat sedang terjadi aktivitas syuting yang melibatkan banyak orang. Mereka sibuk membuat video klip singkat tentang pemilihan Ratu Dubai tahun ini. Tapi, di tengah-tengah kesibukan itu ada saja yang sedang berleha-leha, menjemur diri dengan pakaian pantainya.


Ialah Owdie yang sedang menikmati segelas jus jeruk di pagi yang cerah ini. Ia menyandarkan diri di kursi pantai dengan santai. Ia kenakan kaca mata hitam agar terlindungi dari sinar matahari. Tak lama seorang kru pun datang menghampirinya.


"Tuan Owdie, apakah semua finalis harus mengenakan bikini?" Seorang kru datang menanyakan padanya.


Owdie yang sedang asik berjemur itu segera beranjak bangun. "Eh? Memangnya tak apa mereka mengenakan bikini?" Owdie terlihat kaget.


"Em, jika Tuan Owdie menginginkannya, kami bisa meminta mereka untuk melakukannya." Kru itu tampak sopan kepada Owdie.

__ADS_1


Heh? Pemandangan indah gratis? Ia tersenyum-senyum sendiri.


"Bagaimana Tuan?" tanya kru itu lagi.


Owdie pun ingin menjawabnya. Tapi, tiba-tiba saja dering telepon mengagetkannya sebelum jawaban itu keluar dari mulutnya.


"Sebentar." Ia menahan si kru agar tidak bicara.


"Halo?" Ia segera mengangkat teleponnya.


Terdengar suara dari seberang yang melaju dengan kecepatan tinggi. Ia pun menyadari suara siapa yang meneleponnya. Sesekali ia mengorek kupingnya sendiri karena tak betah dengan ucapan dari seberang. Ia pun meminta kru itu agar segera pergi dari hadapannya dengan mengibas-ngibaskan tangannya. Sang kru pun mengerti akan maksud Owdie.


"Kakek, semakin cepat Kakek bicara, semakin tidak terdengar olehku." Owdie mengeluhkan.


Terdengar teriakan dari seberang setelah Owdie membalas ucapan. Ia pun menjauhkan teleponnya dari telinga agar tidak terkena gagal pendengaran.


Hah, kakek ini.


Pria berwajah latin itu segera mengurut dadanya sendiri sambil mendengar ocehan dari sambungan teleponnya. Ia pun mengambil gelas jus yang dingin lalu didekatkan ke dada agar hatinya ikut dingin. Ia tidak ingin terpancing emosi karena ucapan dari seberang yang ternyata memang kakeknya.


Saudara dari Rain ini akhirnya bisa bernapas lega setelah sang kakek menutup teleponnya. Lekas-lekas ia teguk habis jus jeruknya agar tidak terbawa suasana suram karena ucapan sang kakek. Di tengah-tengah helaan napasnya, ponselnya kembali berdering. Owdie pun segera melihat siapa yang meneleponnya kembali.


"Rain? Eh, dia meneleponku?"


Ia melihat jika Rain lah yang meneleponnya. Sekilas semburat senyum itu keluar dari bibir seksinya. Ia pun lekas mengangkat telepon dari Rain tersebut.


"Halo, Sayang," jawabnya dengan mesra.


Seketika Rain ingin muntah saat mendapat jawaban dari orang yang diteleponnya. Ia yang sedang duduk di depan meja kerja pun hampir-hampir saja memuntahkan isi perutnya karena mendengar sapaan Owdie. Tapi sang penguasa segera menuturkan tujuannya mengapa menelepon saudaranya itu.


"Bisa kau kemari secepatnya?" tanya Rain sambil mengetik sesuatu di laptopnya.


"Eh, kau rindu padaku?" Owdie balik bertanya dengan mesra.


"Uwek!" Rain pun tidak dapat menahan mualnya lagi.

__ADS_1


"Kenapa Rain? Apa kau sedang mengandung?" goda Owdie.


"Kau ini! Lama-lama kupesankan satu peti granat untukmu!" ancam Rain yang jijik dengan sikap saudaranya.


"Huahahaha." Owdie tertawa terbahak-bahak.


"Kau ini serius sekali. Ada apa memangnya?" tanya Owdie yang meminum lagi gelas jusnya tapi ternyata sudah habis.


"Aku butuh bantuanmu," jawab Rain segera.


"Tumben." Owdie tersenyum menyeringai.


"Sudah cepat datang ke sini. Aku sibuk!" Rain kemudian mematikan teleponnya.


"Eh?!" Seketika Owdie bingung sendiri.


Dia ini aneh. Harusnya aku yang bilang sibuk. Tapi kenapa malah dia yang bilang sibuk?


Owdie bingung sendiri.


Owdie tidak habis pikir jika Rain akan meneleponnya pagi-pagi. Sepertinya sang penguasa benar-benar membutuhkan kehadirannya. Owdie pun segera menanggapi undangan itu. Ia beranjak bangun dan menunda waktu menjemur dirinya di pantai. Bergegas menuju mobil yang di parkiran lalu segera menuju di mana tempat Rain berada.


"Lihat! Tuan Owdie meninggalkan lokasi syuting?!"


Para kru yang melihatnya pergi begitu saja pun tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak ada yang berani untuk mencegah kepergian Owdie. Karena Owdie lah pengatur lalu lintas dunia hiburan di Timur Tengah ini.


Sementara itu di kantor Rain...


Rain masih termenung sambil memegang ponselnya. Ia masih memikirkan bagaimana cara untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Hatinya kini diliputi kebingungan karena sebuah kata yang telah terucap dari rasa cemburunya. Dan sekarang ia menunggu kedatangan seseorang untuk bertukar pikiran dengannya, Owdie.


Di sela-sela pikirannya yang tertuju kepada sang gadis, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dari luar. Rain pun segera mempersilakannya masuk. Tak lama dari balik pintu itu terlihat seorang berjas lengkap datang bersama seorang pria berseragam biru gelap. Pria berseragam itu dipaksa masuk untuk menghadapnya.


"Tuan Rain, ini office boy yang mengantarkan berkas kemarin." Pria berjas hitam lengkap itu menuturkan.


Tersirat ketakutan dari pria berseragam biru gelap tersebut saat berhadapan langsung dengan bos besar perkilangan minyak ini. Dengan gemetar ia melangkahkan kaki lebih dekat ke arah Rain. Tak tahu apa yang akan terjadi, pria itu terus menunduk karena tidak berani menatap langsung sang penguasa.

__ADS_1


__ADS_2