
Satu jam kemudian...
Semilir angin siang menemani langkah kakiku memasuki halaman rumah. Aku menggandeng ibu hingga sampai ke depan pintu. Sedang tuanku bersama supir membawakan barang belanjaan kami. Aku seperti diistimewakan hari ini. Padahal dulu hanya sebagai pembantu.
Ibu ternyata tidak banyak bertanya kepada tuanku. Saat di salon tadi kami berbincang mengenai perkenalan mereka. Tuanku pun menceritakan apa saja yang dibicarakan bersama ibu. Dan ternyata ibu tidak terlalu banyak bertanya kepadanya. Mungkin karena keburu aku datang membawakan teh untuk mereka. Tapi apapun itu, kini aku merasa sangat bahagia. Karena akhirnya anganku menjadi nyata.
"Ibu, nanti malam Rain akan ke sini bersama perwakilan keluarga. Kalau tidak ada hambatan di jalan, sekitar jam delapan akan sampai." Dia memberi tahu ibuku.
"Ya sudah. Yang penting Nak Rain bersama keluarga hati-hati di jalan. Nanti ibu segera memberi tahu sanak-saudara agar bisa hadir di acara nanti malam." Ibuku menanggapinya segera.
"Baik, Bu. Kalau begitu Rain permisi." Tuanku mencium tangan ibu.
Nyes.
Satu kata mengungkapkan isi hatiku saat melihatnya tanpa ragu mencium tangan ibu. Aku jadi terharu dengan kesungguhan pria bermata biru di depanku ini. Rasanya ingin memeluknya saja. Tapi, sepertinya tidak akan dibolehkan sama ibu.
"Hati-hati, Nak Rain." Ibuku berpesan padanya.
"Iya, Bu."
Tuanku tersenyum lalu menoleh ke arahku. Seketika aku jadi canggung melihatnya. Tak lama kulihat senyuman manis itu merekah di wajahnya.
"Sampai nanti, ya." Tuanku mengusap kepalaku.
Aku tersipu dengan tindakannya. Kulihat ibu juga tersenyum saat melihat sikap tuanku ini. Pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk seraya menunggu kedatangannya nanti malam. Acara lamaran itu akan segera dilaksanakan.
__ADS_1
Tuan, hati-hati di jalan.
Supir tuanku juga ikut berpamitan. Mereka kemudian pergi meninggalkan halaman rumah kami. Kulihat tuanku menoleh ke arahku kembali. Sepertinya dia menahan hasratnya untuk menciumku karena menghargai ibu. Ya, kutahu kebiasaannya yang selalu mencium keningku sebelum pergi. Tapi kali ini tidak dilakukannya. Dan aku memaklumi apa alasannya.
Acara lamaran akan segera dilaksanakan. Membuat sang ibu dan Ara harus segera melakukan persiapan penyambutan. Keduanya lalu segera masuk ke dalam rumah setelah Rain bersama supirnya jauh melangkah. Sang pria bermata biru itupun tidak lagi terlihat di pandangan matanya, tapi hatinya masih tertinggal di sini.
Hitungan jam prosesi lamaran akan dilaksanakan. Tidak ada yang menyangka jika semuanya akan berjalan begitu cepat, tidak seperti pasangan pada umumnya. Hanya satu bulan kebersamaan, lamaran itu segera diajukan. Ibu Ara pun menanggapinya dengan gembira.
Sampai detik ini ibu Ara hanya sebatas mengetahui jika anaknya dengan Rain bertemu di tempat kerja. Ibu Ara belum tahu jika Rain adalah seorang penguasa pertambangan minyak bumi di Timur Tengah. Baginya kebahagiaan Ara lah yang terpenting. Jika Ara sudah bahagia, ia juga akan ikut bahagia. Walaupun ada harapan kecil di hatinya dibalik kebahagiaan yang sedang dirasakan.
Yang namanya orang tua sudah pasti menginginkan yang terbaik untuk putra-putrinya. Begitupun dengan ibu Ara kepada anak gadisnya. Tapi ia juga percaya jika Ara bukanlah tipikal perempuan yang mudah percaya, sehingga sang ibu yakin akan pilihan anaknya. Seiring berjalannya waktu, dunia akan membuktikan siapa Rain yang sebenarnya.
Menjelang petang...
Detik demi detik berlalu. Menit demi menit terlewati. Jam demi jam pun sudah berganti. Tak terasa waktu sudah hampir memasuki petang. Dimana harapan dan kebahagiaan bersatu padu mewarnai suasana malam.
"Ara, Bibi sudah datang!"
Ibu memanggilku dari ruang tamu. Aku pun segera bergegas mengenakan pakaianku. Rambutku yang masih basah kubiarkan tergerai begitu saja. Sedang tubuhku terbalut piyama tidur yang baru saja dibelikan ibu. Dan tanpa mengenakan make-up aku keluar dari kamar.
"Bibi?"
Kusambut seorang wanita berdres hitam yang datang lalu ikut membantu membawakan peralatan make up-nya. Kebetulan aku mempunyai bibi yang sering ikut merias pengantin. Jadi malam ini kami menggunakan jasanya untuk merias wajahku dan juga ibu. Kalau masalah harga sih katanya bisa dinego. Tapi malam ini aku ingin tampil secantik mungkin di hadapan calon suamiku. Jadi tidak perlu memperhitungkan lagi harganya. Toh, uang yang diberikan tuanku cukup banyak untuk acara malam ini saja. Sepuluh juta rupiah dibayar tunai.
"Ara, cantik sekali. Sekarang banyak berubah, ya." Dia memperhatikan penampilanku yang sekarang.
__ADS_1
"Ah, Bibi bisa saja." Aku jadi tak enak sendiri.
"Kebayanya sudah ada, Ara?" Bibi pun bertanya.
"Sudah, Bi. Aku sudah beli kebayanya. Ibu juga," jawabku.
"Kak Tia mu ke mana? Kok tidak kelihatan?" Tiba-tiba bibi menanyakan kakakku.
Aku jadi bingung harus menjawab apa. Aku juga belum tahu dia ada di mana. Tapi untungnya ibu segera datang lalu menjawabnya .
"Tia sedang keluar, katanya ada urusan." Ibu menjawab sambil berjalan bersama menuju kamar.
"Tia sering banget keluar ya, Kak?" Bibiku bertanya kepada ibu.
"Ya, dia memang sangat berbeda dengan Ara."
Ibuku terlihat mengembuskan napasnya dengan berat. Dari wajahnya pun tersirat kesedihan.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakak. Aku juga belum sempat menanyakannya kepada ibu. Tapi sepertinya aku akan bertanya setelah prosesi lamaran ini selesai. Aku akan bertanya langsung kepada ibu karena belum juga melihatnya sedari pagi.
Di tengah-tengah kebahagiaan yang sedang dirasakan, ada saja hal yang mengganggu. Kakak Ara sendiri, Tia tidak terlihat sedari pagi yang membuat orang lain bertanya di mana keberadaannya. Walaupun sang ibu sudah menjelaskan, tetapi tetap saja akan menjadi bahan omongan. Apalagi prosesi lamaran Ara akan segera dilakukan. Tentunya Tia akan menjadi sorotan.
Terlepas dari ketidakhadiran Tia dalam acara lamaran adiknya, sang ibu tetap merasa bahagia karena putri bungsunya sudah memiliki pilihan sendiri. Dan malam ini tidak akan ditunda lagi acara bahagia keduanya. Baik Ara maupun Rain sudah lama menantikannya. Keduanya saling mencinta dan siap melabuhkan bahtera bersama.
Tuan, sedang apa dirimu di sana? Kau jadi datang malam ini, bukan?
__ADS_1
Ara bertanya-tanya dalam hati saat sudah duduk di depan cermin kamarnya. Ia akan didandani secantik mungkin oleh sang bibi untuk menyambut kedatangan calon suaminya. Dan malam ini bintang-bintang akan menjadi saksi prosesi lamaran Rain kepadanya. Ara amat bahagia menantikannya.