Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Take Off


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Selepas pemakaman Sam, kesebelas saudara seperasuhan berkumpul di ruang tengah manshion Sam. Mereka duduk melingkari meja kecil yang ada di sana. Tampak Nick yang menatap Owdie dengan tajam. Tapi Owdie biasa-biasa saja melihat ke arah Nick. Ia sudah mempunyai persiapan sebelum datang kembali ke manshion.


Owdie meminta bantuan beberapa tim yang dibawahinya untuk melindunginya dari orang-orang Nick. Ia juga telah membawa dua pistol di belakang pinggangnya untuk berjaga-jaga. Karena sesuatu hal bisa saja terjadi dan tak terkendali. Sehingga ia mempersiapkan sebelumnya.


Nick sendiri mulai membuka pertemuan dengan saudara-saudaranya selepas pemakaman sang kakek. Ia menyatakan akan mengambil alih tahta organisasi. Tentunya hal itu amat mengejutkan bagi saudara-saudara yang lainnya. Nick main hakim sendiri.


"Kau tidak bisa memutuskan hal itu Nick. Rain dan Byrne tidak ada." Salah satu saudaranya keberatan.


"Benar. Pemegang organisasi selanjutnya harus dipilih oleh ketiga belas cucu kakek. Kita tidak bisa mengambil keputusan sendiri." Salah satu pihak sayap kiri juga keberatan.


Nick menoleh ke anggota sayap kirinya. "Jika keberatan, kau bisa dengan segera melepas semua fasilitas organisasi." Nick malah mengancam.


"Nick, kau keterlaluan!" seru saudara yang lain.


Nick acuh tak acuh. "Aku tidak peduli kalian setuju atau tidak. Tapi yang jelas kalian harus sadar diri. Aku adalah cucu kandung kakek. Sedang kalian hanya sebatas cucu angkat yang tidak jelas asalnya dari mana."


"Nick!" Owdie pun berdiri di tengah-tengah pertemuan. "Perkataanmu sangat tak layak saat suasana sedang berduka seperti ini. Jika kau menginginkan tahta organisasi, harusnya kau melakukan voting terhadap semua cucu kakek. Tapi kau harus tahu, seharusnya Rain lah yang memegang tahta itu." Owdie menegaskan.


"Ya. Itu benar. Sesuai perjanjian yang telah disepakati." Saudara Owdie di sayap kanan menyetujui.


"Cih!" Nick berdecih jijik. Ia membenarkan jas hitamnya. "Kau terlalu banyak ikut campur, Owdie. Tidakkah kau menyadari siapa dirimu itu?" Silakan keluar dari organisasi menyusul saudaramu. Aku tidak membutuhkanmu lagi." Nick beranjak pergi. Ia benar-benar tidak peduli dengan pendapat saudaranya.

__ADS_1


"Kau!!" Owdie pun geram. Ia ingin mengejar Nick, tapi ditahan oleh saudara-saudaranya.


Nick mengambil keputusan sepihak. Ia seperti kesetanan sehingga tidak dapat lagi menerima pendapat dari saudara-saudaranya. Dan kini ia diikuti oleh kedua saudara Owdie lainnya, yang dibawahi Nick secara langsung di sayap kiri. Mereka terlihat meremehkan Owdie setelah berani melawan pemimpinnya. Alhasil organisasi kini dipegang oleh seseorang yang tidak peduli lagi terhadap sesama.


Sepertinya kehancuran dunia akan segera dimulai di tangannya.


Owdie pun berusaha meredakan emosinya karena ucapan Nick. Ia merasa Nick sudah melampaui batas sebagai seorang cucu kakeknya. Ia mencoba berlapang dada dengan segala ucapan saudaranya itu. Walau nyatanya hal itu amat menyakitkan dirinya.


Siapa yang tidak sakit hati jika diminta untuk tahu diri? Tanpa diingatkan oleh Nick pun Owdie juga sudah tahu siapa dirinya. Tapi, ucapan Nick itu amat menyakiti hatinya. Dan sebagai seorang manusia biasa, Owdie ingin membalasnya.


Di sisi lain para saudara-saudaranya tampak mendinginkan Owdie. Terutama saudara-saudaranya yang berada di sayap kanan. Mereka meminta Owdie untuk lebih menjaga emosi. Karena mereka tahu bagaimana cara bermain Nick. Dan sore ini menjadi saksi perseteruan antar saudara karena tahta jabatan. Ucapan yang menyakitkan pun ikut dilontarkan.


Malam harinya...


Owdie terlihat diam di kursi pesawat. Ia tampak merenung sehabis melakukan pertemuan dengan saudara-saudaranya. Rain pun berusaha menghiburnya. Ia seperti tahu persis apa yang terjadi di sana. Tak lama kemudian Owdie pun membuka pembicaraan. Ia duduk berhadapan dengan Rain di dalam pesawat.


"Nick mengambil alih tahta organisasi sekarang, Rain." Owdie akhirnya menceritakan. Ia membuka tutup botol anggurnya.


"Aku sudah menduganya." Rain ikut membuka kacang kulitnya di hadapan Owdie.


Owdie menuangkan anggurnya ke dalam gelas. "Dia gila. Bahkan lebih gila dari kakek. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila posisi kakek digantikan olehnya. Mungkin saja perang dunia ke tiga akan dimulai di tangannya." Owdie berpendapat.


"Hah ...," Rain menghela napasnya. "Dia itu selalu tidak ingin ada orang lain yang melampauinya. Dia tidak mau disaingi. Dia hanya ingin dirinya lah yang berada di atas segalanya. Termasuk juga di organisasi." Rain memaparkan pendapatnya.

__ADS_1


Owdie meneguk anggurnya. "Kau benar, Rain. Tapi aku tidak habis pikir dengan pola pikirnya. Padahal nenek sama rata menyayangi kita semua. Dia juga tidak kekurangan sesuatu apapun. Malahan kalau dipikir-pikir, dia memiliki sepertiga kekayaan dari kakek. Bukankah itu sangat besar?" Owdie mengajak Rain berbincang lebih dalam.


"Ya ... begitu." Rain pun mengangguk.


"Tuan, pesawat akan segera take off." Seseorang pilot datang mengabarkan.


"Ya, silakan." Owdie pun mempersilakannya.


Pilot tersebut mengangguk lalu kembali masuk ke dalam kabin. Pesawat jet pribadi milik organisasi pun akan segera lepas landas dari bandara USA. Rain dan Owdie memulai kembali perjalanannya ke Timur Tengah.


"Aku harap kita bisa bersama kembali di organisasi." Tiba-tiba Owdie berbicara seperti itu.


Rain tersenyum. "Kau mulai mabuk, Owdie. Beristirahatlah. Kau sudah terlalu lelah." Rain menepuk bahu saudaranya.


"Hah, ya. Kau benar. Mungkin ada baiknya jika aku tidur sekarang." Owdie pun mulai melemaskan tubuhnya.


Rain mengangguk. Ia tetap berjaga di samping Owdie dan melihat saudaranya itu tertidur di sofa pesawat. Rain tampak terharu dengan kerja keras saudaranya dalam menyelamatkan nyawanya.


Terima kasih, Owdie. Terima kasih telah memberi perhatian yang lebih padaku. Aku tak menyangka orang semengesalkan dirimu ternyata begitu bela kepada saudaranya. Semoga kau menemukan jalan hidup yang terbaik. Dan juga pasangan yang bisa mengerti keadaanmu.


Rain berdoa untuk Owdie.


Tak dapat Rain pungkiri jika Owdie telah banyak berkorban untuknya. Persaudaraan yang telah terjalin bak satu darah yang tak terpisahkan. Rain pun amat menghargai setiap hal yang dilakukan Owdie untuknya. Ia merasa berutang budi kepada saudara seperasuhannya. Dan Rain ingin sekali membalasnya suatu hari.

__ADS_1


Malam ini pesawat pribadi milik organisasi mulai terbang menuju kawasan Turki. Rain pun merebahkan punggungnya di sofa yang berada di samping Owdie. Ia tersenyum karena akan segera menemui istrinya. Ia juga bahagia karena sebentar lagi akan memiliki buah hati. Ia tepiskan sejenak permasalahan yang sedang melanda. Karena bagi Rain, keluarga adalah segalanya.


__ADS_2