
Sesampainya di USA...
Cuaca dingin menyambut kedatangan wanita cantik asal Indonesia. Ia terlihat kedinginan saat baru sampai karena ternyata di USA sedang turun salju. Butiran kristal berwarna putih susu itu menghiasi seluruh sudut perkotaan. Bagaimana tidak, ini adalah akhir tahun pada awal bulan Desember.
Sang suami, Rain memakaikan mantel tebal kepada sang istri saat turun dari jet pribadi milik organisasi ternama. Ia terlihat begitu sayang sampai-sampai membantu menghangatkan tubuh istrinya dengan pelukan hangat sepanjang perjalanan. Tak ayal kemesraan mereka membuat Owdie iri di belakang sana. Baik Owdie maupun Byrne, mereka berjalan di belakang Rain dan Ara.
"Hei, mereka itu membuat iri, Byrne. Bagaimana ini?" Owdie tampak pusing sendiri.
"Sudah cepat cari pasangan. Dunia hiburan kan banyak wanita cantik." Byrne menyarankan.
Owdie menepuk jidatnya. "Aku ingin gadis yang biasa-biasa saja dan juga penurut. Tahu sendiri bagaimana dunia hiburan, Byrne. Menakutkan!" Owdie tanpa sadar mengatakannya.
"Memangnya kau pikir dirimu itu baik-baik amat sehingga ingin mendapatkan yang baik juga? Kalau Rain aku masih bisa percaya, dia tidak pernah pacaran sekalipun. Lah dirimu..." Byrne merendahkan.
"Sialan kau! Gini-gini juga aku masih perjaka!" Owdie tak mau kalah, ia membela dirinya.
"Ya, ya. Baiklah. Aku pura-pura percaya saja," sindir Byrne sambil memalingkan muka.
"Arrrghh!!!"
Perempatan urat seketika muncul di dahi Owdie saat tidak mendapatkan pembelaan sedikitpun dari Byrne. Niat hati agar ditenangkan, tapi ternyata Byrne malah menyindirnya. Owdie pun kesal bukan kepalang.
Kalau bukan saudara, sudah kujadikan patung selamat datang dia!
Owdie menggerutu dalam hati. Ia memasang wajah kesalnya kepada Byrne. Di belakang Rain dan Ara, mereka berdiaman sambil memalingkan muka. Tapi, sesuatu kemudian terjadi. Byrne memegang tangan Owdie. Seketika Owdie pun terkejut dengan ulah Byrne. Ia kemudian melihat ke arah saudaranya. Saat itu juga rasa geli tak bisa lagi tertahankan keduanya.
"Hahahaha..." Mereka akhirnya tertawa renyah tanpa memedulikan butiran salju yang masuk ke dalam mulut. Ara dan Rain pun menoleh ke belakang saat mendengar tawa keduanya.
"Hei, sedang membicarakanku?" tanya Rain seraya bergandengan mesra dengan Ara.
"Hih! GR sekali." Owdie mendecih, mengejek Rain.
__ADS_1
"Kau!"
"Hei, sudah-sudah." Ara pun segera menenangkan suaminya karena terlihat ingin marah.
Bandara USA ini menjadi saksi atas kedatangan mereka sekaligus menjadi saksi pertengkaran saudara seperasuhan. Namun, sebesar apapun amarah, kasih sayang yang mereka miliki lebih besar dari itu semua. Mereka seperti saudara kandung sendiri, memiliki ikatan batin yang begitu kuat. Ara pun percaya jika ketiganya akan baik-baik saja walau terlihatnya bertengkar. Dan begitulah bagaimana kekuatan hati menyatukan mereka.
Hotel bintang lima, Kota New York...
Penerbangan jauh sudah dilalui oleh sepasang suami istri yang baru saja menikah. Keduanya kini tengah beristirahat di salah satu hotel bintang lima yang ada di Kota New York. Pemandangan lautan di saat malam begitu terlihat indah dari balik kaca jendela kamar hotel. Ara pun begitu menikmatinya.
"Sayang."
Pria yang bernama Rain itu memeluk Ara dari belakang. Mengecup pipi sang istri lalu bahunya. Sang istri pun mengusap pelan wajah pria yang sudah menjadi suaminya. Mereka menikmati pemandangan laut dari balik kaca jendela kamar hotel. Dan ya, akhirnya Rain mengajak Ara berciuman. Ciuman singkat namun terasa sampai ke hati.
"Ingin?" tanya Ara, sesaat setelah bibir mereka berjauhan.
"He-em." Rain mengangguk malu-malu.
Rain tertawa. "Perkataanmu seolah-olah mengisyaratkan penolakan, Sayang." Rain terlihat malu sendiri.
Ara membalikkan tubuhnya. "Mau mandi dulu?" Ara mulai menanggapi keinginan Rain.
"Mandi bersama?" tanya Rain balik.
"Hm, ya. Ada air hangat, kan? Bagaimana jika di kamar mandi saja. Kulihat tadi kamar mandinya luas dan juga bersih. Aku tidak keberatan." Ara mulai menelusuri dada Rain dengan jari telunjuknya.
"Sayang." Rain menahan tangan Ara. "Kau ternyata pintar menggoda. Malam ini aku akan mendominasi." Rain mencium tangan istrinya.
"Tidak. Aku tidak suka didominasi. Biarkan aku saja yang mendominasi." Ara tak mau kalah.
Rain terdiam sejenak. Ia tatap istrinya dalam-dalam. Perasaan sayang yang ada di hatinya semakin hari semakin bertambah besar. Rain menyadari jika hanya Ara lah yang ia butuhkan.
__ADS_1
"Baiklah. Aku pasrah." Rain akhirnya menyerah.
Ara tersenyum. Ia tersipu malu, pipinya merona. "Aku hanya bercanda. Silakan mendominasi, Suamiku. Tapi ... jangan cepat-cepat, ya?" Ara berbisik di telinga suaminya.
Seketika sekujur tubuh Rain merinding karena bisikan lembut istrinya. Ia kemudian menggendong Ara ke dalam kamar mandi. Tanpa kata, tanpa suara. Pintu kamar mandi itu kemudian ditutup dari dalam. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara ******* yang tertahan. Namun, semakin lama suara itu semakin terdengar jelas.
"Ara ... aaaghhh!!" Rain terdengar mengerang di dalam sana. "Terus, Sayang. Terus ... aaaghhh!"
Suara Rain terdengar mendominasi dari dalam sana. Apa yang mereka lakukan tentunya tidak ada yang bisa menghalangi. Karena sekarang Ara dan Rain sudah resmi menjadi suami-istri. Mereka bisa bebas melakukan apa saja dan kapan saja.
"Sayang, jangan digigit. Uuhh ...." Rain meracau tak karuan.
Ibarat hujan membasahi bumi tanpa memandang teriknya matahari yang sedang menyinari. Begitu juga hal yang terjadi pada Ara dan Rain. Mereka memadu kasih tanpa peduli sudah seberapa larut malam ini. Sensasi yang ditimbulkan membuat imajinasi terpuaskan. Dan akhirnya erangan hebat terdengar dari pria berkebangsaan USA itu. Ara berhasil mengalahkan suaminya malam ini.
Pukul tiga dini hari, waktu New York dan sekitarnya...
Tirai jendela kamar hotel melayang-layang terkena angin kencang. Di atas kasur yang ada di kamar itu terlihat seorang wanita tengah gusar dan gelisah. Ia mengenakan daster hitam selutut yang terbalut selimut tebal berwarna putih. Sedang di sampingnya tengah tertidur suami tercinta yang mengenakan sweter lengan panjang berwarna krim. Keduanya tampak beristirahat setelah melakukan permainan yang memacu dopamin.
Wanita itu terlihat berkeringat dingin, napasnya pun terdengar berat. Ia seperti sedang mengalami mimpi buruk di alam bawah sadarnya. Lambat laun tubuhnya mengenai pria yang tidur di sampingnya. Tak lama kemudian sebuah jeritan pun menyadarkannya.
"Tidak. Tidak. Tidaaaaakkk!!!" Ia terjaga dari mimpi yang membuat tubuhnya gemetaran.
"Ara? Ada apa, Sayang?" Sang suami, Rain terjaga dari tidurnya begitu mendengar teriakan sang istri.
Wanita bernama Ara itupun menoleh ke suaminya. "Sayang, ak-aku ...." Namun, suaranya seperti tertahan di tenggorokan.
"Ada apa?" Rain tampak cemas melihat wajah Ara seperti ketakutan.
Ara melihat jam di dinding kamar. Dan ternyata waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi. Wanita bernama asli Aradita itupun terkejut saat melihat waktu. Napasnya kembali terengah-engah, keringat dingin mulai bermunculan semakin banyak dari dahinya.
"Sayang, ada apa?" Rain dengan sigap mengambilkan segelas air untuk istrinya. "Ini, minumlah," pinta Rain kepada sang istri.
__ADS_1
Ara meneguk air itu. Ia mencoba mengambil napas dalam-dalam. Saat itu juga sesuatu terlihat di pandangan matanya. Semesta seolah bergerak cepat untuk memutar waktu. Sinar biru kehitaman menyeretnya memasuki alam bawah sadar kembali.