Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
See You Again


__ADS_3

"Maaf mengganggu." Pangeran tersenyum-senyum sendiri melihat keduanya.


"Em, tidak juga Pangeran. Kami sudah sedari tadi menunggu. Jadi kami bercanda dulu." Rain beralasan. Ia tampak kikuk saat kemesraannya diketahui pangeran.


Rain begitu menyayangi Ara. Begitu juga dengan Ara yang rela merenggang nyawa demi Rain. Cinta mereka terkadang tidak lagi bisa menunggu waktu untuk bermesraan. Di manapun berada, di situ selalu ada kesempatan. Tak ayal kemesraan itu membuat orang iri dan ingin melakukan hal yang sama terhadap pasangannya. Ara dan Rain bagai role model di dunia romansa.


Bukan hanya sekali keduanya kepergok bermesraan. Ara pun jadi malu walau sudah berstatus suami istri. Mereka selalu menunjukkan kisah kasihnya bak pengantin baru setiap hari. Tak ayal pangeran pun tersenyum-senyum sendiri melihat keduanya. Namun, ia mencoba untuk memakluminya.


Pangeran duduk di hadapan keduanya. "Sepertinya kalian sudah benar-benar ingin pergi dari istana ini." Pangeran memasang raut wajah sedihnya.


Rain tidak enak hati. "Maafkan kami, Pangeran. Semakin lama di sini semakin membuat kami betah. Maka dari itu kami ingin segera kembali ke dunia kami." Rain mengalihkan perhatian pangeran.


Pangeran mengangguk. Ia mengerti maksud Rain.


"Pangeran, di mana nona Lily?" Ara bertanya saat melihat pangeran hanya datang sendiri.


Pangeran menoleh sesaat ke belakang. "Em, dia masih tidur. Sepertinya kelelahan setelah kemarin. Jadi tidak bisa ikut mengantarkan." Pangeran menuturkan.


Keduanya pun bergantian senyum-senyum sendiri di hadapan pangeran, seperti mengerti kelelahan apa yang dimaksud oleh pengantin baru istana ini.


Rain kemudian mengutarakan tujuannya. "Maaf jika menganggu waktu istirahat Pangeran. Tapi, kami harus segera kembali ke bumi." Rain meminta izin.


Pangeran Agartha mengangguk. Ia juga tidak dapat menunda lagi kepergian tamunya. Ia lalu merogoh sesuatu dari saku jubahnya. Saat itu juga Ara menunggu hal apa yang akan pangeran berikan kepadanya.


"Aku tidak memiliki apa-apa untuk dibawa pulang. Tapi, aku punya ini." Pangeran memberi sepasang gelang bermata hijau dan biru.

__ADS_1


Itu kan?!


Sontak Ara menyadari apa yang sebentar lagi akan terjadi. Ia menelan ludahnya saat melihat dua gelang titanium memiliki warna batu seperti yang dikatakan oleh nenek pemberi gelang waktu itu.


"Pangeran, terima kasih." Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.


Rain menerima gelang itu. Ia kemudian memberikan gelang tersebut kepada istrinya. Ara pun melihat gelang itu dengan saksama. Yang mana jika kedua mata batunya disatukan membentuk satu bulan penuh. Saat itu juga entah mengapa angin tiba-tiba bertiup kencang, seolah menandakan jika portal akan segera terbuka. Pangeran pun menyadari jika ini adalah waktu perpisahannya dengan kedua tamu istimewa istana.


Ternyata gelang itu sudah menemui pemiliknya.


Gelang itu bukanlah sembarang gelang. Memiliki mata batu berwarna hijau zamrud dan blue sapphire yang menawan pandangan. Harganya jika dinominalkan amatlah mahal. Pangeran Agartha pun tidak bisa sembarang mendapatkannya. Ada sebuah kisah yang menyertai sepasang gelang tersebut.


"Gelang itu adalah pemberian dari kakek buyutku. Kata nenek, gelang itu memiliki kemampuan untuk terhubung dengan dunia luar. Aku belum tahu apa maksudnya sampai ibu mengatakannya padaku." Pangeran Agartha menceritakan sedikit hal yang berkaitan dengan gelang itu.


Pangeran Agartha tersenyum. "Em, tidak. Tidak ada. Nenek berpesan untuk memberikan gelang itu kepada tamu teristimewa istana. Yang mana tamu tersebut akan datang setelah kematiannya. Tamu itu juga yang akan membuat perubahan dalam negeri ini." Pangeran menuturkannya kembali.


Sontak Ara dan Rain saling berpandangan. Kebingungan karena merasa tidak melakukan apa-apa untuk istana. "Pangeran, sepertinya kami tidak pernah melakukan apapun untuk negeri ini. Kami hanya sebatas kesasar ke sini," tutur Ara yang bingung.


Pangeran Agartha tersenyum. "Sulit untuk menjelaskan panjang lebar jika waktunya sudah mendesak seperti ini, Nona. Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi. Aku berharap Tuan Rain tidak keberatan jika diberi kesempatan untuk kembali lagi ke sini." Pangeran berharap.


Rain tersenyum, namun ia tidak menjawab apapun. Ia merasa belum siap menanggapi harapan pangeran.


"Baiklah. Jika kalian ingin segera kembali, aku rela melepaskannya. Aku atas nama negeri ini mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan selama ini." Pangeran Agartha terasa berat untuk mengatakannya.


Baik Rain maupun Ara mengangguk. "Tolong sampaikan rasa terima kasih kami juga kepada penghuni istana yang lainnya, Pangeran. Kami meminta maaf apabila selama ini ada kata-kata maupun tindakan yang tanpa sengaja telah melukai perasaan mereka." Rain meminta.

__ADS_1


Pangeran mengangguk. Tersirat keengganan untuk melepas Rain dan Ara kembali ke dunianya. Namun, hal itu mau tak mau harus ia lakukan.


"Sampai jumpa di lain kesempatan Pangeran." Ara mengucapkan salam perpisahan.


Rain dan Ara beranjak meninggalkan ruang tunggu istana. Mereka kemudian melangkahkan kaki menuju halaman depan seraya berpegangan tangan. Pangeran Agartha pun mengantarkan kepergian keduanya dari istana. Ia merasa sedih karena pertemuan ini harus cepat berakhir. Namun, mau tidak mau ia harus merelakannya.


Baru saja aku merasa mempunyai seorang saudara, tapi kini harus kehilangannya.


Tak dapat pangeran pungkiri, hidup tanpa saudara memiliki risiko beban yang lebih tinggi. Tidak ada yang bisa diajak bertukar pendapat ataupun dimintai saran. Baru dengan Rain kali inilah pangeran merasakan memiliki saudara, walau nyatanya dunia dan kehidupan mereka berbeda.


"Sampai jumpa, Pangeran." Keduanya berpamitan dari jarak yang cukup jauh.


Ara kemudian menggabungkan sepasang gelang berbatu hijau dan biru. Saat itu juga angin kencang menyambut keduanya. Tak lama pusaran angin membentuk sebuah pintu hitam kebiru-biruan. Saat itu juga mereka menyadari jika portal telah kembali terbuka.


Ternyata benar...


Keduanya pun melangkahkan kaki menuju portal yang sudah terbuka. Namun sebelum masuk, mereka meletakkan tangan kanan di dada sebagai salam penghormatan untuk pangeran. Pangeran pun mengantarkan kepergian keduanya. Saat itu juga rasa sedih melanda hatinya.


Terima kasih, Nona, Tuan. Semoga kita bisa bertemu lagi.


Rain dan Ara berpegangan tangan. Mereka melangkahkan kaki, masuk ke dalam portal ruang dimensi. Saat itu juga air mata pangeran menetes menyertai kepergian mereka. Portal itu pun perlahan-lahan tertutup lalu hilang dalam sekejap mata. Ara dan Rain telah kembali ke dunianya.


Kepulangan Ara dan Rain tentu saja membuat hati pangeran bersedih. Namun, ia tidak bisa menahan keduanya lebih lama lagi di istana. Karena pangeran tahu jika keduanya juga memiliki urusan yang masih harus diselesaikan. Sehingga mau tak mau ia harus merelakannya.


Menjelang siang ini istana Agartha harus kehilangan sosok teristimewa dalam sejarah. Yang mana telah merubah kisah percintaan putra mahkotanya. Pangeran pun membalikkan badan, masuk kembali ke dalam istana untuk segera memulai hari bersama sang istri tercinta. Namun, kenangan itu akan tetap abadi sepanjang masa. Dimana ia menerima tamu teristimewa dalam sejarah Agartha. Rain dan Ara.

__ADS_1


__ADS_2