
Palm Jumeirah, pukul sepuluh malam…
Acara akhirnya berjalan dengan lancar. Lantunan doa sudah dipanjatkan, bingkisan juga sudah dibagikan. Kini tinggal rasa lelahnya yang tersisa. Aku pun duduk di kamar untuk beristirahat sejenak sambil meneguk air pemberian dari Kakek Ali.
Doa tadi dimulai pada pukul delapan dan berakhir pada pukul setengah sepuluh malam. Sesudahnya satu per satu tamu undangan mulai berpamitan. Dan sekarang tanganku terasa pegal karena habis bersalaman dengan seluruh ibu–ibu yang hadir.
“Ibu sedang apa, ya?”
Priaku masih di luar bersama para tamu pria lainnya. Kuintip dia masih mengobrol di luar sana. Dia tampak ramah dan juga bersahabat. Ditambah pakaian yang dikenakannya malam ini membuat dirinya amat tampan. Lengkap sudah.
“Telepon ibu saja.”
Karena rindu, aku berniat menelepon ibu. Tapi setelah dipikir-pikir, perbedaan waktu yang cukup jauh membuatku ragu untuk meneleponnya. Jadi kutunda saja niatanku. Namun, kukirimkan pesan berisi foto dan video acara malam ini kepadanya. Semoga saja saat pagi di sana ibu melihatnya dengan gembira. Aku berharap kebahagiaanku ini bisa sampai ke ibu.
Ibu … sebentar lagi Ara akan menjadi seorang istri. Doakan ya Bu, semoga acara esok berjalan dengan lancar. Ara sayang ibu.
Begitu bunyi pesanku pada ibu. Aku berdoa agar ibu selalu sehat dan baik-baik saja di sana. Walaupun nanti sudah menjadi hak suami, tetapi aku tetaplah anaknya. Karena ibu yang melahirkan dan juga membesarkanku. Ibu tidak akan terganti sekalipun aku sudah mempunyai seorang suami.
“Dek, Kakek Ali memanggil.” Kak Jamilah tiba-tiba datang dan memberi tahuku.
“Baik, Kak.” Aku pun segera bangkit lalu keluar dari kamar.
Aku segera melangkahkan kaki menuju ruang tamu untuk memenuhi panggilan Kakek Ali. Dan kulihat Kakek Ali sedang duduk bersama pria tampanku di atas karpet merah. Mereka terlihat begitu dekat sekali.
“Kemari, Cucuku.” Kakek Ali memintaku mendekat, aku pun segera duduk di sampingnya. “Malam ini kalian harus banyak berdoa. Esok bangunlah pagi-pagi dan berdoa kembali. Kakek dengar resepsinya akan diadakan di Burj Khalifa.” Kakek berbicara kepada kami.
“Benar, Kek. Jam sembilan ikrarnya.” Priaku menerangkan.
“Ya, ya. Kakek tidak bisa memberi apa-apa selain doa dan ucapan selamat. Semoga rumah tangga kalian direstui dan diberkahi dunia-akhirat.” Kakek Ali mendoakan kami.
“Aamiin.” Aku dan priaku mengaminkan serempak.
“Ara.”
__ADS_1
“Ya, Kek?” Tiba-tiba pandangan Kakek Ali tertuju pada pergelangan tangan kananku.
“Ara memakai gelang?” Kakek Ali menanyakan gelang yang kupakai.
“Em, ini ….” Entah mengapa suasana tiba-tiba berubah.
Pandangan Kakek Ali terfokus melihat ke arah gelang yang kupakai. “Bisa dilepas?” tanyanya yang membuatku bingung harus menjawab apa.
“Em, ini … ini tidak bisa dilepas, Kek.” Mau tak mau aku jujur padanya.
“Kenapa?” Dia begitu antusias menanyakan gelang ini.
“Gelang ini pemberian dari seorang nenek, Kek.” Rain membantuku menjawabnya.
“Seorang nenek? “ Kakek Ali tampak berpikir.
Entah mengapa jantungku dag-dig-dug tak karuan. Aku khawatir Kakek Ali tahu tentang gelang ini. Padahal hanya aku dan priaku saja yang mengetahuinya. Tapi sepertinya, Kakek Ali akan mengetahuinya sebentar lagi.
“Kemarikan tangan kananmu,” pintanya.
“Tidak apa-apa, Sayang. Siapa tahu kakek bisa membantu untuk melepaskannya.” Priaku menenangkan.
Akhirnya hatiku ini sedikit tenang. Di ruang tamu kebetulan hanya kami saja yang mengobrol. Aku harap orang-orang yang lalu-lalang tidak mendengar pembicaraan kami.
“Ini, Kek.” Kuperlihatkan gelang yang ada di pergelangan tanganku kepada Kakek Ali.
Entah apa yang dia baca, kulihat Kakek Ali mengambil napas panjang dan dalam lalu terpejam. Dia juga memegang gelang yang ada di pergelangan tanganku. Mungkin priaku sudah menceriakan perihal gelang ini kepadanya dan meminta tolong agar bisa dilepaskan. Entahlah, aku belum tahu pasti kebenarannya karena belum menanyakan langsung.
Semoga saja gelang ini bisa dilepas.
Tak lama, Kakek Ali membuka kedua matanya. Dan kulihat dia mengembuskan napas panjang perlahan, seperti menyayangkan hal yang telah terjadi. Raut wajahnya terlihat memprihatinkan keadaanku.
“Bagaimana kau bisa menerima semua ini, Cucuku?” Kakek Ali bertanya serius padaku.
__ADS_1
“Kakek, Ara ….” Aku seperti tidak bisa berkata apa-apa.
“Kau terikat perjanjian dengan gelang ini. Apakah kau berniat menduakan Tuhanmu?” tanyanya yang membuatku tersentak hebat.
“Astaga! Tidak, Kek." Bukan main remuk jantungku ditanyakan seperti itu. "Sungguh Ara tidak tahu jika harus terikat perjanjian dengan gelang ini. Ara hanya bersedekah seadanya lalu diberi hadiah. Sudah itu saja," kataku menjelaskan.
"Lalu?" tanyanya lagi.
"Ara mencoba memakainya, lalu tiba-tiba sebuah pintu terbuka kemudian mengantarkan Ara ke sini. Sudah itu saja. Ara tidak ada niat sedikitpun untuk menduakan Tuhan. Sungguh, Kek.”
Rasanya ingin sekali menangis. Aku tidak tahu kenapa Kakek Ali bisa berbicara seperti itu padaku. Entah apa yang dilihat oleh mata batinnya. Aku pikir pertemuanku dengan Rain akan berjalan lancar-lancar saja. Tapi tidak tahu mengapa jadinya malah seperti ini. Tanpa terasa butiran air mata itu mulai jatuh membasahi pipi.
“Sayang, kau tak apa? Kakek Ali hanya ingin memastikan.” Rain memelukku, menenangkan hati ini.
Aku terdiam sambil mengusap air mataku. Rasanya pedih sekali dikatakan seperti itu. Entah apa yang dibicarakan sebelumnya oleh priaku kepadanya, aku juga tidak tahu.
“Tenanglah, Ara. Benar apa kata Rain, kakek hanya memastikan. Maafkan jika ucapan kakek menyakiti hatimu. Kakek tidak ingin kau lebih memercayai kekuatan gelang ini daripada Tuhanmu sendiri. Maafkan kakek, ya?” Kakek Ali meminta maaf padaku.
Kakek Ali tersenyum. Aku pun mengangguk, memaafkannya.
“Jadi bagaimana dengan gelang ini, Kek?” Priaku bertanya seraya menoleh ke Kakek Ali.
Kakek Ali mengembuskan napasnya. “Sudah terjadi, Cucuku. Yang kita bisa hanya berdoa agar Ara kuat menghadapi hal-hal yang akan terjadi ke depannya. Penglihatan kakek ada beberapa kejadian besar yang akan segera Ara alami. Tapi semoga saja Ara sanggup melewatinya.” Kakek Ali berharap.
“Apa itu berbahaya, Kek?” tanya priaku lagi.
“Berbahaya atau tidak tergantung bagaimana Ara menyikapinya. Tapi semoga saja saat gantungan bulan sudah terlepas, tidak ada lagi kejadian besar yang harus Ara alami. Kakek melihat dua bintang tidak terlalu berat. Namun, yang bulan ini masih mengkhawatirkan.” Kakek Ali terlihat prihatin.
Aku melepaskan pelukan priaku. “Ara juga mendapatkan tiga kali kesempatan untuk membuka portal, Kek. Dan sekarang tinggal dua,” kataku, menceritakan.
Kakek Ali mengangguk. “Ya, itu hadiah. Yang kakek sayangkan karena ada bulan dan bintangnya. Kakek juga belum tahu apa maksudnya. Tapi semoga saja Ara adalah gadis yang terpilih dari sekian juta manusia di bumi. Banyak-banyaklah berdoa,” pesan Kakek Ali padaku.
“Baik, Kek.”
__ADS_1
Lantas aku mengangguk, mengiyakan. Walaupun sejujurnya ada rasa khawatir di hati ini. Tapi, semua sudah terjadi dan aku pun tidak tahu jika akan sampai seperti ini. Semoga saja Tuhan mengampuni kesalahanku karena telah mencoba memakai gelang ini. Dan sebagai penebus rasa bersalahku kepada diri sendiri, malam ini akan kuisi waktu dengan memperbanyak doa agar semuanya tetap terjaga. Aku hanya berharap kepada-NYA.