
Angin siang menyambut kepulanganku ke Dubai. Karena perbedaan waktu sekitar tiga jam, aku tiba di Bandara Internasional Dubai pada pukul sebelas siang. Puji syukur perjalanan kami tidak ada kendala. Jadi bisa segera sampai tanpa harus mampir ke bandara lain terlebih dulu. Dan kini aku sudah masuk ke dalam mobil priaku.
"Iya. Satu perumahan ukuran sedang saja."
Dia masuk ke dalam mobil lalu duduk di sisi kananku. Dia membawakan minuman ringan untukku. Segera saja aku menyambutnya dan mendengarkan apa yang dia bicarakan di telepon.
"Kami segera ke sana untuk melihat rumahnya," katanya lagi.
Kuteguk softdrink yang dia berikan sambil membuka ponselku. Semalam aku telah mengajari ibu bagaimana cara bermain ponsel pintar ini. Dan sepertinya ibu bisa dengan cepat mengerti. Tapi karena masih baru, mungkin belum paham benar bagaimana cara mengirim pesan. Jadi kalau rindu, tinggal telepon saja.
"Baik. Terima kasih," katanya lalu menutup telepon. "Jack, kita ke komplek Palm Jumeirah." Dia berkata kepada Jack yang duduk menyupir.
"Baik, Tuan." Jack pun mengiyakan.
Istri Jack bersama kedua putranya pulang menaiki taksi karena Jack akan mengantarkan kami. Aku sudah sempat bilang jika belakangan saja agar Jack bisa mengantarkan keluarganya terlebih dahulu. Tapi, mereka sendiri yang ingin naik taksi. Jadi ya sudah, aku juga tidak dapat memaksanya. Dan sekarang Jack akan mengantarkan kami menuju komplek perumahan Palm Jumeirah.
"Aku pesan rumah ukuran sedang dengan dua kamar. Apakah terlalu kecil?" tanyanya, sambil memperlihatkan gambar rumah dari ponsel pintarnya.
"Aku rasa tidak mengapa. Kau menyukainya?" tanyaku balik.
"Ya, aku pikir jika sedang bertengkar tidak perlu tidur di sofa lagi." Dia seperti menyindirku.
"Ih, dasar!" Kucubit saja lengannya sambil menahan tawa.
Kulihat raut wajah tampannya yang begitu menggoda pandangan. Sungguh aku tidak ingin kehilangannya. Hubungan kami sudah jauh jika harus berpisah. Jadi sebisa mungkin meminimalisir pertengkaran agar selalu damai dan tentram. Karena pernikahan bukanlah ajang untuk bermain-main atau hanya sekedar menyalurkan kepuasan. Ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi bersama.
"Ara."
"Hm?"
"Kau tidak ingin membukakan minuman untukku?" tanyanya yang sontak membuatku tersadar.
"Astaga, iya!"
__ADS_1
Segera kutaruh softdrink yang kupegang lalu mengambil yang lain. Kubukakan untuknya agar dia juga ikut minum. Kulihat sepintas Jack seperti tersenyum melihat kami. Sepertinya aku memang harus banyak belajar lagi agar lebih peka tanpa harus diminta olehnya.
"Ini, Sayang." Aku menyerahkan sekaleng softdrink untuknya.
"Calon istri yang baik." Dia lantas mengusap kepalaku.
Rasanya senang sekali. Rasa sedih kini telah hilang karena dia begitu lembut memperlakukanku. Dan aku berharap selamanya akan terus seperti ini. Ya, semoga saja dengan usaha dan doa yang beriringan, rumah tangga kami nantinya berjalan dengan lancar.
Empat puluh menit kemudian...
Kami tiba di sebuah komplek perumahan yang menakjubkan. Di mana bisa melihat pemandangan lepas pantai tanpa penghalang. Perumahan yang kami datangi ini begitu memanjakan mata. Kami bisa langsung bermain di tepi pantai hanya dengan melangkahkan kaki dari pintu rumah. Priaku memang tahu benar bagaimana seleraku.
"Ini kuncinya, Tuan. Silakan dilihat terlebih dulu. Saya permisi."
Seorang penjaga komplek memberikan kunci rumah ini kepada kami. Rumah berukuran sedang dengan dua lantai. Priaku pun segera membukakan pintu rumahnya. Sedang si penjaga komplek segera bertugas kembali ke posnya.
"Kita berada di komplek G Palm Jumeirah, Ara. Owdie juga menyewa rumah di sini, tapi dia di komplek C." Priaku menerangkan.
"Oh ...." Aku hanya bisa berkata oh.
"Kita naik ke lantai dua, ya."
Setelah melihat-lihat ruangan di lantai pertama, dia mengajak ku menaiki anak tangga berwarna hitam metalik. Tangga yang menempel pada tembok ini berdinding kaca. Terlihat mewah dan berkelas. Tapi karena ruangannya masih kosong, belum terlalu terlihat mewahnya.
Berapa harganya, ya?
Dia kemudian menuntunku menaiki anak tangga. "Nanti kalau sudah punya bayi, kita buat sekat di lantai dua agar dia tidak turun sendiri ke bawah," katanya yang membuatku tersenyum-senyum tak jelas.
"Memangnya mau langsung punya?" tanyaku spontan.
Dia menoleh ke arahku dengan tatapan kesal. "Tujuan pernikahan untuk mempunyai keturunan, Ara." Entah mengapa raut wajahnya lucu sekali jika sedang kesal.
Aku menahan tawa melihat dia seserius ini menanggapi ucapanku. Tanpa terasa kami akhirnya sampai di lantai dua rumah ini. Semua lantai berkeramik putih dengan dinding berstiker daun. Sejuk dipandang mata dan juga menenangkan.
__ADS_1
"Nanti kamar bayi kita di atas saja."
Kami masih berpegangan tangan saat masuk ke kamar yang ada di lantai dua. Kulihat luas ruangannya setengah dari kamar di lantai pertama. Kamar mandinya juga ada di luar, dekat dengan tempat menjemur pakaian.
"Kenapa tidak di lantai satu?" tanyaku saat melihat ukuran kamar di lantai dua tidak besar.
"Biar kerjaan malam kita tidak ada yang menganggu," katanya lagi.
"Ish! Kau ini." Aku jadi malu sendiri mendengarnya.
Akhirnya kami selesai juga melihat semua ruangan yang ada di rumah ini. Dan karena ingin melihat pemandangan lepas pantai, aku mengajaknya keluar teras lantai dua. Sesampainya di teras, kurentangkan kedua tanganku sambil menikmati angin pantai. Tapi, bersamaan dengan itu dia memelukku dari belakang.
"Sayang?" Aku menoleh ke arahnya.
"Aku harap setelah menikah kita bisa dengan cepat mempunyai anak."
"Eh?"
Dia membenamkan wajahnya di pundakku, sedang kedua tangannya melingkar di perutku. "Sehari tiga kali, bisa?" tanyanya yang sontak membuatku memutar badan menghadap ke arahnya.
"Hei, apa tidak kebanyakan?!" Aku kaget dengan permintaannya.
Dia menyampirkan rambutku yang tersapu angin pantai. "Aku malah ingin lima kali sehari, Ara," katanya setengah berbisik di telinga ini.
Entah serius atau tidak dia mengucapkannya, tapi dari nada ucapannya memang benar seperti yang dia inginkan. Dan entah mengapa aku jadi ingin menjahilinya sekarang.
"Sayang." Kulingkarkan kedua tanganku di lehernya, sedang kedua tangannya masih melingkar di pinggangku.
"Kenapa? Apa ada yang kau inginkan?" tanyanya seraya menatap wajahku ini.
Kubelai lehernya dengan jari-jemariku, seketika dia kegelian sendiri. Aku kemudian menyusuri dadanya dengan jariku ini. Dari leher hingga turun ke dada. Dan kulihat dia memejamkan kedua matanya seperti pasrah. Entah apa yang dia pikirkan, dia tampak menikmati belaian lembut dariku.
Aku menyayangimu, hujanku ....
__ADS_1
Kudekatkan tubuhku agar semakin menempel dengan tubuhnya. Lantas saja aku berjinjit untuk meraih bibir merah muda nan tipis itu. Kupejamkan kedua mataku lalu meraihnya perlahan. Dan akhirnya ... bibir kami bertemu.