
"Maaf untuk yang tadi." Pangeran membuka percakapannya malam ini. Ia tertunduk malu di hadapan Lily.
"Untuk apa?" tanya Lily dengan lembutnya.
Pangeran mengangkat kepalanya. "Aku tanpa sadar telah memelukmu tadi." Ia mengakui hal yang terjadi di kamar. Pangeran pun segera mengalihkan pandangannya dari Lily.
Lily tertawa. Namun, kali ini tawanya ia tutupi lengan gaunnya. Ia tersenyum lalu ikut mengalihkan pandangan dari pangeran. Pangeran pun tampak terkejut dengan sikap Lily. Ia jadi menduga-duga mengapa Lily seperti ini.
Sikapnya kini berubah anggun sekali. Apakah penata rias yang telah memintanya?
Pangeran tampak segan untuk memandang Lily berlama-lama. Ia masih malu untuk menampakkan apa yang ada di dalam hatinya. Keduanya pun duduk berhadapan hingga membuat pangeran seperti kesulitan untuk mengalihkan pandangan. Namun, ia menyadari sayang jika melewatkan sedetik saja dalam memandang Lily. Apalagi kini Lily sudah amat cantik jelita bak putri kerajaan yang sempurna.
Pangeran Agartha telah lama memendam kerinduannya kepada Lily. Ingin rasanya ia segera melampiaskan rasa rindunya. Namun, ia juga menyadari jika waktunya belum tiba. Sedang Lily seperti belum tersadar dari perasaan pangeran.
"Aku mempunyai dua pertanyaan untukmu, Agartha." Lily tiba-tiba berbicara seperti itu.
"Pertanyaan?" Pangeran Agartha harap-harap cemas menantikannya.
Lily mengangguk. "Benar. Pertanyaan pertama adalah mengapa suami dari nona itu memanggilmu dengan sebutan pangeran? Apakah nama aslimu Pangeran Agartha?" tanya Lily mengawali.
Seketika degup jantung pangeran berdetak kencang. Apakah aku harus mengatakannya sekarang? Ia merasa bingung jika harus berterus terang. Ia khawatir Lily akan menyukainya bukan seperti Agartha yang dulu ia kenal.
"Agartha?" Sementara itu Lily masih menunggu jawabannya.
"Em, bisakah pertanyaannya diganti?" tanya pangeran ragu-ragu.
Lily pun terbelalak. "Ha? Apa? Hahahaha." Ia tertawa renyah di hadapan pangeran. "Dasar pria aneh. Baru satu pertanyaan diajukan sudah minta ganti." Lily beranjak bangun. Ia kemudian duduk lebih mendekat ke pangeran.
Pangeran merasa kikuk. Entah mengapa saat Lily duduk di dekatnya, ia merasa tubuhnya seperti terkena aliran listrik. Lily menatap pangeran dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu. Pikiran pangeran pun jadi tidak fokus karenanya. Lambat laun sekujur tubuh pangeran terasa merinding saat Lily duduk di dekatnya.
"Kau kenapa?" Lily bertanya. Ia belum juga menyadari apa yang terjadi pada pangeran.
__ADS_1
Perlahan-lahan wajah pangeran memerah di hadapannya.
"Hah, Agartha ...." Ia tak habis pikir dengan pria di sampingnya. "Kau ini lucu. Tidak ingatkah saat dirimu menarik pedang di hadapanku? Kenapa sekarang jadi malu-malu?" Lily akhirnya menyadari sikap pangeran padanya.
Pangeran memutar badannya. Tidak ingin melihat Lily dari jarak yang dekat. Saat itu juga Lily memegang kedua lengan pangeran lalu memutarnya, agar pangeran tetap menghadap ke arahnya.
"Pangeran ...."
Ia kemudian memberanikan diri mengucapkan kata yang sama seperti Rain. Saat itu juga laju jantung pangeran tidak beraturan. Ia takut ketahuan.
"Sebenarnya kita berada di mana? Kenapa rumah pengobatan ini besar sekali?" tanya Lily lagi.
Pangeran merasa kikuk seketika.
"Hei! Aku bertanya! Sampai kapan kau akan diam?!" tanya Lily lagi yang merasa pertanyaannya tak dianggap.
Pangeran menelan ludahnya. Ia merasa harus mengatakan sejujurnya kepada Lily. Namun, rasa khawatir itu masih saja melanda hatinya.
Lily akhirnya ngambek. Ia beranjak pergi. Saat itu juga pangeran menarik tangan Lily agar tidak pergi. Namun, ternyata tarikan tangan pangeran begitu kuat. Membuat wajah Lily hampir menyentuh wajahnya. Tak ayal suasana romantis pun tercipta di tengah degup jantung yang kian berpacu cepat.
Lily ... hanya kaulah yang kubutuhkan ....
Kini kedua wajah itu saling berdekatan. Kedua mata mereka juga saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Hangat napas masing-masing bisa sampai mereka rasakan. Mata Lily pun berkelap-kelip saat melihat wajah pangeran dari jarak yang amat dekat. Hal itu tentu saja membangkitkan naluri yang ada pada tubuh mereka. Hormon secara alami berfungsi meminta agar mereka lebih dekat lagi.
Lily ....
Pangeran pun menarik pinggang Lily tanpa ia sadari. Lily kemudian duduk di atas pangkuannya. Lily terkejut, namun ia seperti tidak dapat menolak. Pemandangan itu tentu saja membuat para pelayan yang lewat menghentikan langkah kakinya sejenak. Mereka segera bersembunyi agar tidak ketahuan jika sedang mengintip.
"Hei, lihat! Baru kali ini aku melihat Pangeran Agartha memangku seorang wanita," cetus salah satu pelayan yang lewat.
"Iya, benar. Tapi bukankah gadis itu yang dibantu oleh nona Ara kemarin?" Pelayan yang lain ikut berceloteh.
__ADS_1
"Eh, iya! Jangan-jangan gadis itu memang kekasih pangeran yang sesungguhnya. Bukankah putri Mile sekarang berada di sel penjara?" Pelayan yang lain ikut memberikan komentar.
"Ya. Benar. Tapi itu juga karena ulahnya sendiri. Berani-beraninya dia mengotori nama baik kerajaan." Pelayan lain tak mau kalah.
"Ssst! Sudah, diam! Lebih baik kita segera pergi dari sini sekarang. Biarkan saja mereka. Jika ketahuan pejabat Han, tamatlah riwayat kita!" Pelayan yang lain memperingatkan.
"Hah, ya. Ayo-ayo!" Mereka pun akhirnya segera pergi dari tempat persembunyian sebelum ketahuan.
Tidak ada yang berani kepo dengan urusan calon rajanya. Mereka amat tahu hukuman apa yang akan diterima jika berjalan tidak sesuai kaidah. Maka dari itu mereka segera pergi dan melupakan apa yang tengah terjadi di gazebo depan istana. Namun, sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Lily dan Pangeran Agartha. Mereka tampak saling memandangi indah paras masing-masing.
"Ini bukan rumah pengobatan, Lily." Pangeran berkata sambil memperhatikan kedua bola mata Lily yang bulat sempurna.
Bola mata Lily itu bergerak, memperhatikan wajah pangeran. "Lalu?" Ia bertanya lagi.
"Ini istana kita," jawab pangeran seadanya.
Sontak Lily terkejut. "Istana?! Berarti ...?!" Lily menduga-duga.
Pangeran Agartha mengangguk pelan di hadapan Lily. "Aku adalah putra mahkota negeri ini." Pangeran akhirnya jujur tentang siapa dirinya.
Seketika itu juga Lily ingin bangun dari pangkuan pangeran. Namun, pangeran segera menahannya.
"Agartha, lepaskan!" Lily tidak ingin dipangku lagi.
"Jangan. Jangan pergi." Pangeran meminta.
Lily masih berontak. "Agartha, aku tidak ingin seperti ini!" Lily ingin menyudahi suasana romantis yang baru saja tercipta.
Semakin Lily bergerak di atas pangkuan pangeran, semakin ada sesuatu dari dalam tubuhnya yang meminta lebih. Namun, ia sekuat tenaga menahannya. Ia sadar jika belum saatnya.
"Berarti selama ini kau telah membohongiku!" Lily merasa kesal.
__ADS_1
Saat itu juga Pangeran Agartha tersadarkan dari angan yang baru saja ia bangun. Ia segera melepaskan Lily yang terus berontak untuk melepaskan diri. Lily pun segera bangun lalu berdiri di hadapan pangeran. Raut wajahnya menyiratkan kekesalan. Sedang pangeran masih terpaku sambil terus menatap Lily yang kini telah menjauh darinya. Ia tidak menginginkan hal ini terjadi. Di tengah kerinduan yang belum sempat terbalaskan.