Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Romantic Night


__ADS_3

Dubai, pukul satu siang waktu sekitarnya…


Hari ini aku dan priaku mengunjungi Kakek Ali. Dan kini kami baru saja sampai di depan sebuah rumah bercat putih. Jack turut mengantarkan kami ke sini karena hanya dialah yang tahu di mana rumah Kakek Ali berada. Sedang priaku hanya mengikut saja.


Pertemuanku dengan Kakek Ali bisa dikatakan sebagai takdir dari Yang Maha Kuasa. Gangguan yang kualami menjelang hari pernikahan memang sungguh luar biasa. Namun, ada hikmah yang bisa kupetik dari hal itu semua. Aku dan calon suamiku jadi semakin menyayangi dan mengasihi. Dari kejadian itu juga dapat menjadi bukti bahwa Rain memang benar-benar mencintaiku. Terbukti dengan dirinya yang begitu setia mendampingiku selama proses kemarin.


“Ini rumah kakek Ali, Tuan.” Jack membukakan pintu untuk Rain.


Priaku mengangguk. Dia lalu membantuku turun dari mobil. “Apakah Kakek Ali ada di rumah?” tanyanya kepada Jack.


Aku berdiri di sisi kiri Rain. Mengenakan pakaian yang serba panjang hari ini. Namun, rambut kubiarkan tergerai begitu saja. Mungkin penampilanku hari ini lebih mirip seperti seorang putri.


“Ada, Tuan. Mari.” Jack mempersilakan kami mengikutinya.


Lantas kami berjalan bersama menuju rumah bercat putih tersebut. Sesampainya di depan pintu, Jack segera mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Dan tak lama Kakek Ali pun membukakan pintu untuk kami.


“Salam, kek.” Aku mengajaknya bersalaman.


Kakek Ali menolak, dia hanya menempelkan kedua telapak tangan seraya tersenyum padaku. Sedang Jack dan priaku dibiarkan mencium tangannya. Mungkin Kakek Ali sedang menjaga wudhunya.


“Silakan masuk, Cucuku.” Kami pun dipersilakan masuk ke dalam rumahnya.


Kukira di dalam rumahnya begitu mewah karena Dubai terkenal dengan kekayaannya. Tetapi ternyata, prasangkaku salah. Rumah Kakek Ali amat sederhana dengan perabotan seadanya. Kakek Ali pun kemudian mempersilakan kami duduk di kursi yang tidak ada kakinya, kursi lantai. Benar-benar Timur Tengah sekali.


Jack akhirnya membuka percakapan hari ini. Dia berbasa-basi sebentar lalu menuturkan tujuannya datang kemari. Sedang aku dan Rain hanya mendengarkannya saja sampai waktu yang tepat datang untuk bicara.


Beberapa saat kemudian…


Entah sudah berapa lama kami bertamu, akhirnya kami menceritakan hal yang terlewati beberapa hari terakhir, termasuk ancaman yang datang padaku. Kulihat Kakek Ali begitu antusias dalam menanggapi setiap cerita dari kami. Dia seperti kakek sendiri.


“Jujur saja, Kek. Aku merasa sangat kesal jika Ara berbicara dengan pria itu, apapun alasannya. Aku merasa dia ingin merebut Ara dariku.” Calon suamiku ini menceritakan tentang Lee.

__ADS_1


Kulihat Kakek Ali mengangguk. “Cemburu boleh, Cucuku. Tapi kau harus ingat jika ada batasannya. Jangan sampai niat baik kita malah jadi rusak karena rasa cemburu tersebut.” Kakek Ali menasihati Rain. “Ara juga harus membiasakan diri untuk mengerti bagaimana sikap Rain. Lusa kalian akan menikah, bukan? Apakah ingin ditunda lagi?” tanya Kakek Ali padaku.


“Tidak, Kek.” Aku menggelengkan kepala.


“Kalian saling mencintai. Cukup sudah kebersamaan tanpa ikatan resmi selama ini. Godaan akan semakin besar jika belum ada ikatan. Jadi, cobalah untuk terbuka satu sama lain, apapun bentuknya. Bicarakan baik-baik ya, Cucuku?” Kakek Ali meminta.


“Baik, Kek.” Aku dan Rain mengangguk.


Kami duduk bersama di kursi lantai dengan ditemani beberapa hidangan teh dan buah kurma. Beberapa kue bolu rasa kurma juga disediakan oleh Kakek Ali untuk kami. Jadi aku bisa mendengarkan Kakek Ali bicara sambil mencicipi hidangan yang disediakan.


Kakek Ali tersenyum. “Semua sudah diurus?” Kakek Ali beralih ke Jack.


“Sudah, Kek. Besok sudah bisa diadakan doa bersama. Semua administrasi pernikahan juga sudah siap. Tinggal pelaksanaan resepsi pernikahannya saja.” Jack menjelaskan.


“Syukurlah.” Kakek Ali terlihat ikut senang. “Kalian tunggu sebentar, ya. Kakek buatkan air dulu.” Kakek Ali beranjak bangun.


Baik aku maupun Rain mengangguk.


Kakek Ali lalu masuk ke dalam kamarnya, sedang kami bertiga berada di ruang tamu. Kulihat Rain mengajak Jack berbicara. Hari ini priaku tampak tampan sekali. Dia mengenakan kemeja putih yang digulung sampai ke siku. Dan juga jeans hitamnya. Ditambah aroma parfumnya yang memabukkan. Lengkap sudah. Aku tidak ingin jauh-jauh darinya.


Rasanya ingin cepat-cepat menikah saja. Memadu kasih tanpa rasa was-was menyertai. Jika sudah menikah tentunya bisa bebas melakukan apapun tanpa rasa khawatir. Aku bisa terus bersamanya tanpa harus risih dengan omongan tetangga nanti. Ya, walaupun sampai sekarang belum pernah bertemu langsung dengan tetangga kanan dan kiri. Setidaknya aku tidak merasa takut jika ada yang sedang berpatroli keliling komplek. Semoga saja pernikahan kami kali ini tidak ditunda lagi.


Malam harinya…


Rain mengajak ku berjalan-jalan di sekitaran komplek dengan berjalan kaki. Entah mau diajak ke mana, aku ikut saja. Hingga akhirnya kami sampai di sebuah kedai yang ada di dekat pantai. Tak lama Ro pun datang membawakan sebuah map untuknya. Aku tidak tahu apa isinya, tapi sepertinya amat penting.


Pria berjas hitam itu sedang mengobrol dengan priaku di dekat parkiran, sedang aku sudah masuk duluan ke dalam kedai. Aku pun memesan hidangan untuk kami santap malam ini. Kuambil ponsel sambil menunggu, kulihat banyak sekali pesan di grup kampus yang belum kubaca.


“Ibu sedang apa, ya?”


Baru saja ingin menelepon ibu, priaku menyudahi obrolannya dengan Ro. Kulihat dari balik kaca jendela kedai Ro berpamitan kepada priaku. Priaku pun melihat kepergian asisten pribadinya sampai Ro benar-benar pergi dari halaman kedai. Barulah kemudian dia masuk untuk menemuiku sambil membawa mapnya.

__ADS_1


“Ro pulang kerja?” tanyaku pada Rain yang baru saja duduk di depanku.


“Ya, dia baru pulang. Untuk sementara tugas dan tanggung jawab diserahkan padanya.” Rain menceritakan seraya melihatku.


“Lalu itu apa?” Aku menunjuk map yang dipegang olehnya.


“Ini untukmu. Kau sudah memesan makanan, Sayang?” Dia kembali romantis padaku.


“Sudah. Aku pesan banyak tadi. Tak apa, ya? Sepulang dari rumah kakek Ali, aku merasa lapar sekali.” Aku mencandainya.


“Dasar.” Dia pun mengusap-usap kepalaku.


Aku tersenyum. Kupegang tangannya yang mengusap kepalaku lalu kucium. Ini adalah tangan yang akan bertanggung jawab atas segala kebutuhanku di masa mendatang. Dan pastinya aku akan amat menghormatinya.


Kulihat Rain pun tersenyum yang membuatku ingin menciumnya. Bibir tipisnya itu begitu menggoda dan mengacaukan pikiran. Aku tidak sanggup jika tidak melihatnya.


“Permisi.” Tak lama pelayan pun datang mengantarkan pesanan kami. “Silakan Tuan, Nona. Yang lain sedang dipersiapkan. Mohon ditunggu.” Pelayan kedai menyajikan minuman untuk kami.


“Terima kasih.” Aku pun mengiyakan seraya tersenyum.


“Terima kasih.” Priaku juga ikut tersenyum.


Pelayan itu berpamitan lalu bergegas pergi dari hadapan kami, sehingga tinggallah hanya kami di sini. Aku jadi penasaran dengan isi map yang dibawa Ro tadi.


“Sayang, boleh aku melihat mapnya?” tanyaku penasaran.


Dia tersenyum. “Kita makan dulu, ya,” pintanya.


“Tapi Sayang—"


“Ssst. Mau kucium di sini?” Dia seperti mengancamku.

__ADS_1


Hah … baiklah. Aku menyerah.


Karena Rain sudah menunjukkan tanda-tanda kenakalannya, jadinya aku harus segera mengendalikan diri agar tidak terpancing. Kutahan rasa penasaranku sambil menunggu dia memberitahukannya sendiri. Mau tak mau aku harus menurutinya. Karena jika tidak, dia bisa nakal lagi di sini.


__ADS_2