
Beberapa saat kemudian...
Ara dan Rain tiba di depan sebuah istana yang entah apa namanya. Terdapat tulisan kuno di atas pintu gerbang istana itu. Rain pun melihat sekelilingnya, tapi ternyata tidak ada satu pun prajurit yang berjaga. Ia jadi bingung di mana gerangan dirinya dan sang istri berada.
"Sayang."
"Hm?"
"Kau bisa membaca huruf itu?" Ara juga bingung melihat huruf asing yang tertulis di atas gerbang.
Rain berpikir. Ia mencoba mengingat kembali pelajaran huruf kuno yang pernah dipelajarinya. Namun, entah mengapa ia tidak bisa memastikan huruf apa yang tertera di sana.
"Sepertinya bahasa Ibrani, tapi aku belum bisa memastikannya." Rain menoleh ke sang istri.
Keduanya masih berpegangan tangan saat tiba di depan istana. Rain masih mengenakan kemeja putihnya yang digulung sampai ke siku, sedang Ara masih mengenakan daster hitam yang terbalut kardigan biru. Mereka terheran-heran dengan apa yang dilihatnya.
Apakah kami terlempar ke bumi lain?
Rain berpikir keras. Ia tidak berani mengajak Ara untuk masuk ke dalam istana itu. Ia khawatir jika sudah masuk tidak akan bisa keluar lagi. Apalagi tempat yang ditemuinya ini sama sekali belum pernah dilihatnya. Ia hanya bisa menduga-duga di mana gerangan dirinya berada.
Sepertinya kami masih hidup.
Ara sendiri tampak menepuk pipinya untuk memastikan jika ia masih hidup. Dan ternyata, ia merasakan sakit pada pipinya. Itu berarti Ara masih hidup. Hanya saja ia tidak tahu di mana gerangan dirinya berada.
Tiba-tiba saja di tengah lamunan mereka, pintu gerbang istana itu terbuka sendiri. Pemandangan halaman depan istana pun terlihat jelas di depan kedua mata. Baik Rain maupun Ara melihat betapa mewahnya desain taman depan istana itu. Kolam-kolamnya semua terbuat dari kaca.
"Sayang." Ara pun segera berlindung di belakang suaminya. Ia takut terjadi apa-apa saat pintu terbuka.
__ADS_1
"Tenang, Sayang. Ada aku." Rain melindungi istrinya. Ia tersenyum agar Ara tenang dan tidak takut.
Lambat laun datanglah seorang wanita berparas cantik ke hadapan mereka. Wanita itu bergaun putih dengan rambut yang dibiarkan tergerai panjang. Namun, entah mengapa raut wajah Ara berubah seketika saat melihat kedatangan wanita tersebut. Ia bergantian maju ke depan untuk melindungi Rain.
"Siapa kau?!" Keberanian Ara pun muncul saat seorang wanita berjalan mendekati suaminya.
"Siapa aku?" Wanita bergaun putih itu menunjuk dirinya sendiri. Ia seperti kurang menyukai Ara.
Ara juga terlihat kurang menyukai wanita tersebut. Entah mengapa Ara merasa risih dengan kedatangan wanita itu. Wanita itu juga seperti tidak memedulikan Ara. Ia terus saja melihat ke arah Rain. Sontak jiwa-jiwa cemburu Ara muncul dan mulai memenuhi pikirannya. Ia tidak rela jika ada yang mendekati suaminya.
Siapa wanita ini?
Ara kesal. Ia pun berjaga-jaga jika wanita itu mulai bersikap tidak sopan kepada suaminya. Pastinya Ara tidak akan diam begitu saja.
Rain sendiri tampak bingung dengan wanita tersebut. Ia lantas berpikir untuk mencari solusi dari keterjebakannya di tempat ini. Rain berkata, "Maaf, Nona. Siapakah Anda? Bisakah tunjukkan kepada kami di mana jalan pulang? Kami tersesat." Rain mengajak wanita itu berbicara.
Seketika Ara pun kesal melihat suaminya mengajak bicara wanita itu. Ia cemberut kepada Rain. Rain pun seperti menyadarinya. Namun, di dalam pikiran Rain hanya ingin menemukan jalan pulang ke buminya. Sehingga ia menepiskan sejenak perubahan roman pada wajah istrinya, agar mereka bisa kembali ke bumi secepatnya.
Percuma pakai selendang. Bahunya masih kelihatan.
Ara menggerutu sendiri. Ia tidak rela jika Rain melihat bahu wanita lain. Apalagi di hadapannya kini sedang ada wanita yang memandang Rain dengan tatapan berbeda. Entah siapa, Ara pun tak tahu. Tapi satu hal yang pasti, ia terbakar cemburu. Sehingga ia terus saja memasang wajah cemberut di depan suaminya.
Wanita bergaun putih itu tersenyum kepada Rain. "Kau terburu-buru. Mengapa tidak masuk sebentar ke istana?" rayu wanita itu.
Apa?!!
Ara pun semakin geram mendengar kata-kata wanita tersebut. Ia mengepalkan kedua tangannya, seperti sudah siap untuk meninju. Rain pun menyadari perubahan sikap istrinya. Ia lantas berbicara lagi kepada wanita tersebut agar Ara tidak berpikiran macam-macam.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Kami tidak sengaja kesasar. Bisakah tunjukkan di mana jalan pulang untuk kami? Kami ingin segera kembali." Rain berkata lagi.
Di sela-sela perbincangan mereka, tiba-tiba datang beberapa prajurit bertombak besi. Prajurit itu kemudian bergerak cepat mengelilingi Rain. Sontak Rain pun melindungi Ara. Tatapannya matanya berubah tajam dalam sekejap. Bola mata birunya melihat ke segala arah.
"Hentikan! Dia tamuku!" Wanita itu cepat-cepat memberi tahu prajurit yang datang.
"Putri, mereka bukan penduduk sini. Lihat! Pakaiannya begitu aneh!" seru salah satu prajurit.
Prajurit itu menyebut wanita tersebut dengan sebutan putri. Saat itu juga Ara dan Rain menyadari sesuatu jika wanita di hadapan mereka bukanlah wanita sembarangan. Lantas Rain pun berkata kepada prajurit yang mengelilinginya.
"Kedatangan kami ke sini hanya ingin meminta petunjuk agar bisa pulang. Itu saja." Rain menuturkan tujuannya datang ke istana.
Mendengar perkataan Rain, prajurit-prajurit itu memasang wajah tak percaya. Sehingga tak ayal keributan pun terjadi di depan pintu gerbang istana. Para prajurit tampak tidak mengindahkan perkataan wanita tersebut. Mereka ingin menangkap Ara dan Rain sekarang juga.
"Hentikan!"
Tiba-tiba seorang pria bermahkota emas datang dan berseru. Ia berjalan cepat ke depan gerbang istana untuk melihat apa yang terjadi. Dalam sekejap para prajurit pun menundukkan kepalanya. Mereka terlihat takut saat kedatangan pria itu.
"Ada apa ini?" Pria itu bertanya kepada wanita bergaun putih di sampingnya.
Wanita itupun menunduk. "Maaf, Pangeran. Mereka kesasar dan prajurit ingin menghakiminya." Wanita itu menuturkan.
"Kembali ke istana!" Pria berjubah hitam itu meminta kepada para prajuritnya.
"Baik, Pangeran." Semua prajurit pun menuruti perintah pria tersebut.
Ara dan Rain jadi semakin bingung. Mengapa mereka bisa berada di tempat ini? Terlebih melihat wanita dan pria itu mengenakan pakaian yang tidak biasa. Mereka pun heran sejadi-jadinya.
__ADS_1
Sebenarnya di mana ini?
Ara bertanya dalam hati. Tapi ia juga bingung untuk memastikannya sendiri. Apalagi di sini ada seorang wanita yang selalu saja menujukan pandangan ke suaminya. Ara kesal sekali.