
Lee tersenyum menunduk. Akhirnya sesuatu yang ia sembunyikan terbaca oleh Johnson. "Em, sebenarnya saya ingin mengajukan pertukaran pengajar, Tuan Johnson." Lee akhirnya berterus terang.
Sontak semua yang hadir terkejut. "Dosen Lee?!" Jasmine tak percaya dengan apa yang Lee ucapkan.
"Aku ingin mencari suasana baru di kampus lain. Aku harap Tuan-tuan bisa membantunya," tutur Lee lagi.
Ibu Jasmine terlihat sedih. Begitu juga dengan putrinya, Jasmine. Namun, Rose tampak lebih dewasa kali ini. Ia seperti mengerti keinginan Lee untuk mengajar di kampus lain. Sedang kedua ayah mereka tampak saling melirik satu sama lain.
"Dosen Lee mau mengajar di mana?" tanya ibu Jasmine kepada Lee.
Lee menyeka mulutnya dengan tisu. "Em, aku dengar Turki sedang membuka pengajar baru di sana. Mungkin aku akan pergi ke sana, Nyonya." Lee mengungkapkan.
"Turki?!" Johnson dan ayah Jasmine terkejut.
"Ya, Tuan. Aku tertarik untuk ke sana. Lagipula banyak teman-temanku yang bekerja di sana. Mungkin Tuan-tuan bisa mengizinkannya."
Akhirnya Lee mengajukan mutasi pengajar kepada kedua pemilik saham terbesar di kampusnya. Ia berharap kedua orang penting di kampusnya itu dapat memberikan izin.
"Apakah keinginanmu karena ingin menjauhi putri-putri kami?" Ayah Jasmine ikut bertanya.
Lee tersenyum kembali. "Tidak, Tuan. Tolong jangan salah prasangka. Aku senang bisa menjadi dosen di kampus kedua putri Anda. Namun, aku ingin merasakan suasana yang baru di kampus lain. Hanya itu." Lee memberi pengertian.
Baik Johnson maupun ayah Jasmine merenungi hal ini. "Anda sudah memikirkannya baik-baik?" tanya Johnson kepada Lee.
Lee mengangguk. "Sudah, Tuan." Saat itu juga Johnson mengerti keinginan Lee yang sebenarnya.
Lee akhirnya mengajukan mutasi pengajar kepada pemilik saham terbesar di kampusnya. Baik Johnson maupun ayah Jasmine tampak mempertimbangkan hal ini. Bagaimanapun Lee sudah membantu mereka untuk mengembalikan keharmonisan persahabatan putrinya. Tentu saja akan merasa segan jika menolak pengajuan Lee. Lee pun berharap pengajuannya dapat diterima dan segera terlaksana dengan baik.
__ADS_1
Lee ingin pindah mengajar ke Kota Turki. Di sana ia mempunyai lebih banyak teman yang bekerja di berbagai bidang. Lee pun tertarik untuk menjadi warga negara sementara di sana. Ia ingin mencari pengalaman yang berbeda dari Dubai. Ia juga ingin mengetahui budaya yang berkembang di sana. Namun, apakah keputusan Lee ini ada sangkut pautnya dengan Ara?
Di Agartha...
Sosok wanita yang sedang mengandung anak dari sang penguasa itu tampak kelelahan sehabis membantu melakukan pengobatan pada Lily. Keringat deras bercucuran dari keningnya sebagai respon alami tubuh saat kelelahan. Ia pun segera diberi minum oleh pelayan yang ada di sana.
"Sayang!"
Sementara itu sang suami berlari cepat ke arahnya yang sedang duduk meluruskan kedua kaki. Sedang pangeran dan Tabib Hu segera melihat kondisi Lily pasca menjalani prosesi pengobatan. Gadis bergaun putih itu terlihat terbaring lemah tak berdaya di atas karpet yang dihamparkan. Namun, ia sudah siuman.
"Lily." Pangeran pun segera merebahkan Lily ke pangkuannya.
"Agartha ... kau kah itu?" Lily samar-samar melihat sosok pria yang selama ini hampir setiap hari selalu menemaninya di telaga.
"Lily ...."
"Pangeran, biarkan saya memeriksa denyut nadi nona." Tabib Hu meminta izin.
Pangeran mengangguk. Tangan Lily pun segera diperiksa. Tabib Hu memeriksa denyut nadi Lily dan merasakan denyut nadi itu mulai stabil. Ia pun tersenyum karena merasa usahanya membuahkan hasil, sesuai dengan apa yang diharapkan. Lily akhirnya bisa tersadarkan.
Sementara itu Rain terlihat mengipasi istrinya yang kelelahan. Ia duduk berlutut di samping sang istri sambil memijat dengan lembut lengan istrinya. Keringat yang bercucuran dari kening istrinya pun ia usap dengan jubahnya sendiri. Rain melepas jubahnya hanya untuk mengelap keringat Ara. Ara pun menoleh ke sang suami yang begitu cekatan dalam menjaganya. Namun, ia malah menyeletuk tak karuan kepada Rain.
"Lama sekali datangnya. Pelayan kan sudah memanggil sedari tadi." Ara mendengus kesal karena kelelahan.
Rain terbelalak. "Sayang, jarak kita cukup jauh tadi. Andai bisa melompat, aku akan melompat untuk sampai ke bidadariku dengan cepat." Rain tahu jika Ara kelelahan. Ia segera merayu sang istri agar rasa lelahnya bisa terobati.
"Pengobatan telah selesai. Sekarang gendong aku. Aku tidak kuat berdiri." Ara menjulurkan kedua tangannya kepada Rain.
__ADS_1
Saat itu juga sang penguasa tampak tersenyum kala mendengar permintaan istrinya. Ia tak menyangka jika akhir dari kekesalan Ara adalah bermanja padanya. "Baiklah. Mau gendong belakang atau depan?" Ia bertanya kepada sosok wanita yang sedang mengandung anaknya.
"Gendong depan. Perlakuan aku seperti ratu!" Ara bertambah manja saja.
Seketika Rain berdiri di hadapan Ara. "Baik, Yang Mulia. Hamba laksanakan." Rain pun membungkuk lalu segera menggendong Ara ala pengantin.
"Hati-hati." Ara mengingatkan suaminya.
"Mmuach!" Rain tiba-tiba saja mencium pipi istrinya. Seketika Ara merona malu dibuatnya.
Sepasang suami istri itu seperti tak lagi memedulikan puluhan orang yang hadir di tepi telaga. Keduanya tak peduli jika ada yang melihat atau tidak. Rain juga seperti terkena hipnotis oleh istrinya. Ia menurut dan melewati pangeran dan Tabib yang ada di sana. Ia tatap penuh cinta wajah istrinya.
Ara pun merebahkan kepalanya di dada Rain. Ia tersenyum bahagia karena memiliki seorang suami bak hujan yang menyuburkan tanah gersang. Rain selalu mengerti apa yang diinginkan Ara tanpa perlu dikatakan. Ara pun amat bahagia.
Rain sendiri tidak habis pikir jika istrinya bisa semanja ini padanya. Namun, Rain tidak merasa keberatan. Ia malah senang dengan sikap manja Ara. Itu menandakan jika perannya sebagai seorang suami telah berhasil. Dan Rain ingin Ara selalu seperti ini. Bergelayut manja padanya tanpa merasa sungkan.
Istriku, kau semakin manja saat sedang mengandung anakku. Baiklah, setelah ini aku akan memberikan pelayan ekstra kepadamu. Jangan lari, ya.
Rain terus menggendong Ara menuju kereta kuda yang ada di tepi danau. Melewati jalan setapak sambil mendengarkan celotehan istrinya yang manja. Rain pun tertawa dalam rasa bahagianya.
Pangeran Agartha dan Tabib Hu sendiri baru saja selesai mengecek kondisi kesehatan Lily pasca pengobatan. Mereka akhirnya bisa bernapas lega setelah denyut jantung Lily berdetak normal kembali.
"Kondisinya sudah membaik, Pangeran. Kita bisa pulang sekarang sebelum petang tiba." Tabib Hu menuturkan.
Pangeran Agartha mengangguk. "Baik." Ia lalu menggendong Lily sama seperti Rain menggendong Ara. Sedang para pelayan segera berkemas sebelum kembali ke istana.
Pengobatan akan segera dilanjutkan sesampainya di istana. Pangeran Agartha pun kini bisa tersenyum lega setelah rasa cemas melandanya. Akhirnya perjuangannya selama ini tidaklah sia-sia. Tentunya tidak terlepas dari bantuan Ara dan yang lainnya. Gadis asal Indonesia itu kini telah berhasil membantu kesembuhan Lily dengan totok tubuh yang dilakukannya. Ia juga telah membantu prosesi pemandian Lily dengan air telaga. Tampak Lily yang kini mulai bertenaga.
__ADS_1