
"Bagaimana bisa? Dia masih sehat-sehat saja kemarin." Rain tak percaya.
Owdie tertegun. "Entahlah. Aku ingin menduganya tapi khawatir malah akan menjadi fitnah. Di antara ketiga belas cucunya hanya Nick saja yang berjaga di rumah. Aku ingin mengatakan ada hubungannya dengan Nick, tapi aku juga khawatir perkataanku ini malah akan menjadi boomerang untukku." Owdie berhati-hati dalam bicara.
Rain menghela napasnya. "Apakah kakek terkena serangan jantung?" Rain mencoba menduga.
Owdie menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Selama ini dia sangat rajin check up kesehatan sampai membeli obat yang termahal di dunia untuk memperpanjang umurnya. Tapi mungkin Tuhan berkehendak lain padanya." Owdie berusaha bijak menanggapi kabar kematian kakeknya.
"Sepertinya kita harus segera menggerakkan anggota sayap kanan untuk mencari tahu apa yang terjadi di sana. Kita tidak bisa tinggal diam saja." Rain menyarankan.
Owdie mengangguk. "Aku secara diam-diam sudah memerintahkan beberapa orang untuk menyelidiki Nick. Semoga saja bisa ditemukan jawabannya. Tapi, jika memang Nick terbukti menjadi penyebab kematian kakek, apa yang akan kau lakukan?" tanya Owdie kepada Rain.
Rain terdiam sejenak. Ia tampak berpikir. "Aku sudah keluar dari organisasi. Dan hal itu telah kuutarakan secara langsung kepada kakek. Kakek menahanku tapi aku mengajukan syarat yang tidak bisa dipenuhi olehnya. Secara keanggotaan aku tidak ada sangkut pautnya lagi dengan organisasi. Tapi secara kemanusiaan aku harus mencari tahu penyebab kematian kakek. Hanya untuk memperjelas status kematiannya bukan karena dibunuh." Rain menerangkan.
"Itu berarti kau akan bertambah lama di sini. Bagaimana dengan Ara?" Owdie mengajak Rain menimbang ulang.
Rain merenungi hal ini. "Aku sudah bilang padanya tidak sampai satu minggu di sini. Mungkin beberapa hari ini aku masih bisa berada di USA dan membantu pemakaman kakek." Rain menjawabnya dengan ragu.
Owdie menghela napas panjang. "Sudahlah. Walaupun aku belum menikah, aku cukup tahu bagaimana perasaan seorang ibu hamil yang ingin selalu ditemani suaminya. Sebagai seorang saudara yang dibesarkan bersama, aku menyarankan agar kau tetap berada di sini untuk sementara waktu. Biar aku saja yang mengurus pemakaman kakek. Pistolku akan kuserahkan padamu. Sehingga kau mempunyai dua belas peluru untuk berjaga-jaga," papar Owdie kepada Rain.
"Bagaimana denganmu?" tanya Rain kemudian.
__ADS_1
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Tapi setelah ini aku meminta bantuanmu untuk menyelamatkan Bryne. Kudengar Turki dan Rusia menjalin hubungan yang baik. Kau bisa masuk ke pemerintahan Turki lalu meminta bantuan kepada mereka untuk melepaskan Byrne dari tawanan Rusia. Itu saja pintaku." Owdie mengajak Rain bekerja sama.
Rain mengangguk. "Baiklah. Aku setuju. Aku juga mempunyai banyak kenalan di pemerintahan Turki terutama di departemen pertambangannya. Kalau begitu aku tunggu kau di sini." Rain menepuk bahu Owdie dengan tangan kirinya.
Entah sadar atau tidak, Rain seperti tidak mengalami luka tembak di lengan kirinya. Ia menepuk Owdie tanpa merasa kesakitan sama sekali. Owdie pun terkejut. Ia segera melihat lengan kiri Rain dan ternyata bekas lukanya sudah tertutup.
"Rain, lenganmu?!" Owdie tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Saat itu juga Rain menyadari lengan kirinya. "Ya Tuhan?!" Ia pun tak menyangka jika lengan kirinya sudah sembuh. "Bagaimana mungkin?" Rain merasa heran sendiri.
"Itu karena efek obat-obatan herbal yang ditempelkan di bekas lukanya." Tiba-tiba Tabib Hu datang bersama sang istri.
"Tabib?" Rain dan Owdie pun tersadar jika mereka sedang berada di rumah Tabib Hu.
Sang istri tabib menyusul membawakan makanan. Baik Rain maupun Owdie segera memberi tempat untuk keduanya duduk.
"Ini luar biasa, Tabib Hu. Mengapa hanya dalam semalam bekas luka tembaknya sudah tertutup?" Owdie tak percaya.
"Benar. Apakah menggunakan magic?" Rain ikut bertanya.
Tabib Hu dan sang istri tertawa. "Tidak Anak Muda. Memang ada metode pengobatan cepat yang tidak diketahui banyak orang. Sekarang mari kita makan bersama." Tabib Hu meminta.
__ADS_1
Baik Rain maupun Owdie mengangguk. Pagi ini mereka akan sarapan pagi bersama. Ternyata Tabib Hu dan sang istri begitu loyal kepada mereka.
Siang harinya, pemakaman Sam...
Para pelayat berdatangan dan ikut berbela sungkawa atas kematian sang penguasa perekonomian dunia. Mereka berpakaian serba hitam dan juga mengenakan kaca mata hitam. Panas terik siang hari ikut menyertai peti mati Sam diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir. Puluhan orang menghadiri pemakaman tersebut. Beberapa di antaranya adalah pejabat tinggi USA dan para tentara yang memberi penghormatan terakhir kepada Sam. Mereka melakukan upacara senjata. Bendera setengah tiang milik USA pun dikibarkan.
Hari ini USA kehilangan sesosok pemikir negerinya. Di mana kematian Sam tanpa diduga-duga sebelumnya. Seluruh cucu-cucunya pun berangkat menggunakan jet pribadi agar sampai tepat waktu di negara adidaya. Tak lain dan tak bukan untuk menghadiri upacara pemakaman kakeknya.
Sam meninggal tadi malam. Namun, kematiannya masih menjadi teka-teki bagi banyak orang. Sore kemarin ia masih sehat dan hanya merasa sesak sebentar saat adu bicara dengan salah satu cucunya. Tapi siang ini ia sudah mau dimakamkan. Tak ayal desas-desus kematiannya pun menjadi topik hangat para pelayat yang datang.
Nick sendiri tampak mengantarkan sang kakek ke tempat peristirahatan terakhirnya. Owdie juga datang dan membantu meletakkan peti mati Sam ke liang lahat. Hanya ada dua cucu Sam yang tidak hadir di pemakamannya. Yaitu Rain dan Byrne. Para pelayat pun bertanya-tanya ke mana gerangan mereka berada.
Peti diletakkan. Tanah mulai memenuhi liang lahat milik Sam. Beberapa penggali kubur dengan cepat menguburkan Sam. Hingga akhirnya gundukan tanah mulai dipasangi batu nisan. Sam telah beristirahat selama-lamanya. Ia tidak akan pernah lagi kembali ke dunia.
Kakek, maafkan kami. Semoga kau tenang di alam sana.
Tanpa sadar Owdie meneteskan air matanya saat melihat batu nisan itu dipasang. Bagaimanapun ia telah dibesarkan oleh sang kakek. Seburuk-buruk apapun Sam tetaplah kakeknya. Walaupun nyatanya hanya sebatas kakek angkat. Tapi setidaknya jerih payah Sam telah mendarah daging di tubuhnya. Karena Sam lah yang telah membesarkan raganya.
Kini Owdie berdiri sendiri di timnya tanpa kedua saudara seperasuhannya. Baik Rain maupun Byrne tidak dapat menghadiri upacara pemakaman kakeknya. Owdie pun merasa sedih dengan kematian Sam. Ia telah kehilangan kakek angkatnya untuk selama-lamanya.
Cucu-cucu Sam dibagi menjadi empat tim yang mana masing-masing tim terdiri dari tiga orang. Namun, mereka terdiri dari sayap kanan dan kiri yang masing-masing sayap mempunyai pemimpin. Rain di sayap kanan, dan Nick di sayap kiri. Sehingga sayap kiri berjumlah tujuh orang. Namun sekarang sayap kanan mengalami kekurangan anggota yang drastis. Rain dan Byrne tak ada di sana. Sayap kanan hanya terdiri dari empat orang.
__ADS_1
Entah bagaimana nantinya, mereka berharap kekosongan organisasi bisa cepat terisi sehingga kestabilan kinerja tim bisa kembali. Begitu juga dengan Owdie yang berharap Byrne dan Rain kembali ke organisasi.