
Rain mengucek matanya untuk memastikan apa yang ia lihat ini adalah benar. Seorang tabib yang pernah ditemuinya di Agartha. Sedang pria tua yang mirip dengan Tabib Hu itu tampak terheran dengan sikap Rain. Ia merasa salah kedatangan tamu malam ini.
"Anak Muda, apa yang terjadi padamu?" tanya pria tua itu dengan raut wajah terheran.
Rain menelan ludahnya. Seketika ia sedang merasa seperti berada di dunia pararel saat ini. Ia melihat kembaran Tabib Hu di dunia sebenarnya. Seperti dalam mimpi saja.
"Em, maaf. Temanku ini baru saja mengalami luka tembak di bagian lengannya, Tabib. Mungkin karena hal itu dia merasa seperti dejavu. Apakah kami boleh masuk?" Owdie menengahi kecanggungan yang terjadi.
Tabib itu seperti menimbang ulang permintaan Owdie. Ia seakan enggan untuk mengiyakan. Tapi karena melihat raut wajah Owdie yang begitu menginginkan pertolongan darinya, mau tak mau membuat dirinya mengiyakan. Sebagai seorang manusia tentunya naluri menolong sangat kuat. Dan pada akhirnya ia menerima kedatangan kedua tamunya.
"Baiklah. Silakan masuk." Tabib itu mempersilakan keduanya masuk.
Rain akan menjalani pengobatan alternatif malam ini agar bekas luka tembaknya bisa segera tertutup. Owdie pun dengan setia menemani Rain hingga pulih ke sediakala. Ia berharap saudara seperasuhannya itu bisa segera lekas sembuh dan beraktivitas kembali. Karena Owdie mempunyai sebuah harapan kepada Rain. Yang mana harapannya itu berkaitan dengan Byrne, saudara seperasuhan Owdie yang lain.
Belasan menit kemudian...
Rumah tabib yang ada di perbatasan Kota Kansas ini bukanlah rumah besar yang terbuat dari bata, melainkan hanya geribik biasa dengan atap tembikar. Terletak di pintu masuk hutan yang ada di sana dengan jarak belasan kilometer dari jalan raya. Tak ayal rumah tabib ini tidak mempunyai penerangan yang cukup. Hanya lampu minyak yang dapat menerangi saat malam.
Kini Rain sedang diobati oleh tabib dengan menggunakan pengobatan alternatif. Tampak dirinya yang kesakitan dan menjerit untuk melampiaskan rasa sakitnya. Namun, beberapa menit kemudian hal unik terjadi padanya saat ditangani oleh tabib tersebut. Luka akibat tembakan perlahan-lahan tertutup dengan sendirinya. Owdie dan Rain pun melihat dengan mata kepala sendiri jika teknik pengobatan seperti itu memang ada.
"Esok pagi diperkirakan sudah menutup lukanya. Malam ini untuk sementara menginaplah di sini terlebih dahulu untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan." Sang tabib memberikan saran.
"Apakah akan berbahaya jika berangkat ke bandara malam ini juga, Tabib?" tanya Owdie, seolah mewakili Rain.
Sang tabib tampak berpikir. "Saya rasa jika situasinya seperti yang diceritakan tadi, kemungkinan besar akan terjadi penyerangan jika nekat pulang malam ini. Bisa saja sebagian dari mereka ada yang berjaga di bandara dan ikut masuk ke pesawat untuk melakukan hal-hal tak terduga di dalam sana. Jadi lebih baik menginaplah untuk malam ini." Sang tabib menuturkan.
Ketiganya duduk melingkari lampu minyak yang menyala sehabis melakukan pengobatan alternatif kepada Rain. Rain pun tampak lebih bisa menggerakkan lengan kirinya sehabis diobati. Ia kemudian ikut bertanya kepada tabib tersebut.
"Em, maaf. Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada Tabib?" tanya Rain sedikit ragu.
Tabib menoleh ke arah Rain. "Tanyakan saja Anak Muda." Tabib itu sepertinya sudah bisa menerima sikap Rain yang terheran-heran saat melihatnya.
__ADS_1
"Em, begini." Rain tampak ragu. "Siapakah nama asli Anda, Tabib? Apakah Anda mempunyai kembaran selain di sini?" Rain penasaran, ia mencoba menyelidiki.
Sontak Tabib itu terheran dengan pertanyaan Rain. Namun, ia mencoba untuk menjawabnya. "Namaku Hu. Orang-orang memanggilku dengan sebutan Tabib Hu. Apakah sebelumnya kau pernah melihatku?" Tabib itu balik bertanya.
Tabib Hu?!!
Saat itu juga Rain terkejut dengan jawaban tabib tersebut. Ternyata namanya juga sama dengan Tabib Hu yang ada di Agartha. Rain jadi lebih meyakini jika dunia paralel itu memang ada. Walaupun tak percaya, tapi semesta membuktikannya.
Ya Tuhan, apa maksud dari semua ini? Semesta seolah mengantarkanku untuk bertemu dengannya. Apakah ada maksud lain dari hal ini?
Rain bertanya-tanya sendiri.
"Apakah kau pernah melihat tabib Hu sebelumnya, Rain?" Owdie bertanya kepada saudaranya.
Rain terasa ingin menceritakannya, tapi ia segera menahan mulutnya agar tidak bicara. Ia tidak mau petualangannya saat berada di Agartha diketahui oleh orang lain. Seperti yang pernah Ara pesankan untuk tidak menceritakan penjelajahan waktu yang mereka alami.
"Em ... tidak. Aku hanya merasa seperti teringat sesuatu." Rain beralibi.
Tampak keduanya saling melirik satu sama lain. Pada akhirnya baik Owdie maupun Tabib Hu mencoba mengerti apa yang Rain alami. Keduanya berspekulasi jika Rain mengalami dejavu seperti dalam mimpi.
"Baik, Tabib. Terima kasih."
Keduanya pun mengiyakan. Mereka melihat tabib itu mengunci pintu rumahnya lalu masuk ke dalam kamar. Sedang mereka mulai merebahkan diri di atas tikar yang telah disediakan.
Rain dan Owdie akan menginap malam ini di rumah Tabib Hu sebelum meneruskan perjalanan kembali ke Timur Tengah. Mereka pun diberi tikar yang cukup tebal sebagai alas tidur malam ini. Alhasil keduanya bermalam di rumah Tabib Hu sebelum meneruskan keberangkatannya menuju Turki.
Esok harinya...
Pagi hari telah datang. Terlihat sinar mentari menyorot dua pria yang sedang tidur menghampar di atas lantai dengan alas tikar. Sepanjang perjalanan hidup baru kali ini keduanya tidur bak pengemis jalanan. Sang pemilik rumah pun tampak sibuk menyiapkan sarapan. Tabib Hu bersama sang istri membuatkan keduanya sarapan.
Owdie masih tertidur lelap, sedang Rain beranjak bangun dari tidurnya. Ia duduk di atas tikar sambil melihat keadaan sekitar. Dan ternyata hari sudah pagi, tepatnya pukul enam waktu Kansas dan sekitarnya.
__ADS_1
Seperti ada suara telepon.
Rain mendengar jika ada suara ponsel yang berdering. Namun, dering ponsel itu seperti teredam sesuatu sehingga tidak dapat terdengar dengan jelas. Ia pun mencari ponsel tersebut untuk memastikan jika benar-benar ada yang menelepon.
Sepertinya tertindih oleh Owdie.
Rain merasa jika ponsel yang berdering itu tertindih oleh Owdie. Ia lantas membangunkan saudaranya. Bagi keluarga Empire Earth panggilan telepon harus diangkat sesegera mungkin. Sehingga jika ponsel berdering, harus segera mereka jawab.
"Owdie, bangun!" Rain menggerak-gerakkan lengan kanan Owdie dengan tangannya. "Owdie, ada telepon untukmu." Rain melakukannya lagi.
Owdie pun perlahan-lahan terbangun dari alam mimpinya. Namun, kedua matanya terasa berat untuk membuka. Hingga akhirnya Rain menyadarkannya.
"Ada telepon masuk. Cepat angkat!" seru Rain kembali.
Owdie pun meraba-raba tubuhnya sendiri. Ia mencari ponsel di saku celana yang dipakai. Namun, ia tidak menemukannya. Alhasil dengan malas ia memutar badan di atas tikar. Saat itu juga ponselnya ditemukan. Ternyata ponselnya tertindih badannya sendiri saat tidur.
"Astaga ...."
Rain pun mengusap kepalanya. Ia segera mengambil ponsel itu lalu mengangkat teleponnya. Setelah itu ia tempelkan ke telinga Owdie.
"Halo?" Owdie pun menjawab telepon dari seberang dengan malas.
Entah apa yang dikatakan di dalam telepon, tiba-tiba saja mata Owdie terbelalak kaget. Ia segera bangun dari tidurnya lalu duduk di samping Rain. Ia menatap Rain dengan wajah tak percaya.
"Baik. Aku akan segera ke sana," kata Owdie lalu tak lama telepon pun terputus.
Rain tidak tahu percakapan apa yang terjadi. "Ada apa Owdie?" Ia menanyakannya.
Owdie menelan ludahnya. Ia seperti berat untuk mengatakan. "Kakek ...,"
"Kakek?" Rain masih menunggu.
__ADS_1
"Kakek meninggal tadi malam." Owdie mengabarkan.
"Ap-apa?!!" Saat itu juga Rain terkejut bukan kepalang.