
Beberapa menit kemudian...
"Tuan, Anda tidak beristirahat?" Seorang operator kapal lewat ruangan Rain yang dibiarkan terbuka.
Rain menoleh. "Aku masih ada urusan. Pergilah beristirahat," jawab Rain lalu kembali mengerjakan tugasnya.
Operator kapal itu tampak enggan beranjak pergi. "Tapi, Tuan. Kapal cepat hanya tinggal satu. Jika aku meninggalkan Anda di sini, itu berarti Anda akan sendirian." Operator kapal tidak enak jika kembali ke daratan sendiri.
"Tak apa. Pergilah." Rain tetap meneruskan pekerjaannya.
Operator itu menimbang ulang kembali. Jika ia pergi sendiri lalu terjadi apa-apa pada Rain, pastinya ia akan disalahkan. Tetapi ia juga tidak bisa tetap di sini selama jam istirahat. Ia ingin beristirahat sejenak di daratan sebelum lembur kerja nanti malam.
Bagaimana ini? Bisa-bisa nanti aku malah disalahkan jika terjadi apa-apa pada Tuan Rain karena meninggalkannya sendirian di kapal. Tapi jika tetap berada di sini, aku sangat lapar. Aku ingin sekali menyantap hidangan yang ada di daratan.
Operator kapal itu tampak bingung. Ia terus menimbang ulang jika pergi sendirian menggunakan kapal cepat. Rain kemudian menoleh ke arahnya.
"Belum pergi?" Rain menoleh sesaat ke arah operator kapal yang masih berdiri di depan pintu.
Operator itupun menyadari maksud Rain. " Em, Tuan. Aku khawatir jika meninggalkan Anda sendirian di sini," kata operator itu.
Rain tertawa pelan. "Sudah pergilah, aku masih sibuk. Pakai saja kapalnya," kata Rain lagi.
Operator itu masih terlihat khawatir. Ia amat cemas jika meninggalkan Rain sendirian di kapal pengeboran. Sedang Rain masih ingin tetap berada di sini.
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya permisi untuk beristirahat." Operator itu akhirnya berpamitan kepada Rain. Ia mencoba menuruti kehendak sang bos walau hatinya diliputi kecemasan.
"Ya, baiklah." Rain mengiyakan, membiarkan pekerjanya pergi tanpanya.
Rain masih serius melakukan perhitungan di dalam ruangan. Ia tidak sempat melihat jam dan merasakan keadaan sekitar yang sudah mulai berubah. Semua pekerjanya pun kini telah meninggalkan kapal pengeboran. Sehingga hanya tersisa Rain seorang diri di sana.
Pukul empat kurang sepuluh menit, waktu Dubai dan sekitarnya...
Waktu yang terus berjalan membuat apa yang dilihat Ara menjadi kenyataan. Selepas operator kapal meninggalkan Rain, mulailah terjadi kebocoran di pipa pengeboran. Kebocoran yang amat kecil sehingga tidak bisa terasa dan dilihat dengan mata telanjang. Namun, kebocoran itu mengakibatkan air laut masuk ke dalamnya. Sehingga membuat keadaan kapal mulai tidak stabil.
Pengeboran dihentikan saat jam istirahat. Tapi ternyata, tekanan air laut begitu besar saat ada bagian pipa yang bocor. Sehingga pipa bisa menyedot minyak sendiri tanpa bantuan alat pengebor. Dan akhirnya, sedikit demi sedikit tekanan air laut merusak pipa pengeboran. Sedang Rain masih berada di ruangannya. Ia tetap fokus bekerja.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara langkah kaki yang melangkah cepat ke arahnya. Seorang wanita yang tengah mengandung anaknya sendiri, Aradita.
Ara?!
Rain pun melihat istrinya yang datang. Ara akhirnya bisa menemukan di mana gerangan dirinya berada. Sang istri terlihat terengah-engah sambil mencoba mengatur ulang napasnya.
"Sayang!" Ara memegang kedua lututnya saat baru sampai di depan pintu ruangan Rain. "Sayang, cepat pergi dari sini!" pinta Ara kepada Rain segera.
Rain terkejut melihat kedatangan istrinya. Ia beranjak mendekati sang istri. "Sayang, kenapa bisa ke sini?" Rain memegang wajah Ara dengan kedua tangannya.
"Sayang, cepat pergi! Kapal ini akan meledak. Waktu kita tidak banyak." Ara menuturkan lagi.
"Meledak?" Rain pun tersentak kaget.
"Cepat! Jack menunggu kita di luar!" Ara terlihat semakin panik saat melihat waktu sudah hampir menunjukkan pukul empat sore.
Tiba-tiba saja kapal mulai terasa bergemuruh. Di saat itu juga baik Rain maupun Ara menyadari sesuatu.
"Tetap di sini, aku akan memeriksa bagian monitor keamanan." Rain berpesan kepada istrinya.
Rain menelan ludah. Ia tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan kapal. Masih ada tugas dan tanggung jawabnya di sini. Ia kemudian mencoba menenangkan istrinya.
"Sayang, ini sudah menjadi tugasku. Aku harus mengeceknya dulu." Rain meminta Ara bersabar.
Ara menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa Rain tidak mendengarkannya.
Sayang, apa kau tidak percaya lagi dengan perkataanku?
Saat itu juga Ara merasa sedih sekali. Ia panik, tetapi tidak bisa mencegah kehendak suaminya. Ia lantas mengikuti Rain menuju ruang monitor keamanan kapal. Ia pasrah jika hal itu sampai terjadi sebelum menyelamatkan diri.
Aku tidak bisa menghubungi Jack saat ini. Radiasi sangat besar. Semoga Jack paham dengan pesanku sebelum masuk ke sini.
Ara ternyata berpesan sesuatu kepada Jack sebelum nekat masuk ke dalam kapal pengeboran. Saat ini terlihat di luar kapal Jack sedang menunggu Ara bersama Rain datang. Tapi rupanya sang bos dan istrinya belum juga keluar.
Jack lantas menelepon pihak keamanan setempat untuk meminta bantuan. Terlepas dari benar atau tidaknya kejadian ini. Sejak tadi ia hanya fokus mengendarai mobil dan speadboat agar Ara cepat sampai ke kapal. Tidak ada waktu baginya untuk menghubungi pihak keamanan.
__ADS_1
Tak lama berselang, alarm tanda bahaya pun berbunyi. Hal itu membuat Rain menyadari sesuatu.
"Astaga?!" Rain terkejut saat mengetahui jika pipa pengeboran mengalami kebocoran. Layar monitor itu secara otomatis mencari penyebab alarm berbunyi. "Mengapa ini bisa terjadi?" Ia pun mencoba mengatasinya sendiri, menutup sambungan pipa pengeboran lewat monitor kendali.
"Sayang, cepat keluar dari sini. Waktu kita tidak banyak." Ara terus memohon kepada suaminya.
Rain menoleh ke Ara. "Baik." Ia pun akhirnya menuruti keinginan sang istri. Rain segera berjalan cepat, keluar dari ruangan monitor. Namun...
"Aaaaaa!!!"
Tiba-tiba saja kapal bergoyang hingga membuat keduanya hampir jatuh.
"Astaga!" Rain merasa apa yang Ara katakan memang benar terjadi.
"Sayang!" Ara terlihat takut sekali.
Ara memeluk tubuh Rain saat kapal tidak stabil. Percikan api dari pipa pengeboran minyak itu mulai muncul ke permukaan. Tekanan air laut semakin besar sehingga membuat kapal kehilangan keseimbangan. Hingga akhirnya terdengar ledakan dari sisi kapal, tempat di mana dilakukan pengeboran minyak. Keduanya pun terhuyung di dalam kapal. Mereka hampir jatuh saat kapal kehilangan keseimbangan.
"Sayang, kau bisa berenang?" tanya Rain ke Ara. Ia berusaha tenang sambil memeluk istrinya.
Rain tahu jarak dari dirinya berada menuju ke pintu keluar tidaklah dekat. Kapal pengeboran ini begitu besar dan juga luas. Tidak mudah baginya keluar begitu saja sebelum melalui koridor-koridor kapal yang sempit.
"Aku tidak bisa berenang di laut." Ara menggelengkan kepalanya.
"Ya Tuhan ...." Saat itu juga Rain memutar otaknya dengan cepat agar bisa selamat.
Keadaan kapal sudah semakin memperihatinkan. Tidak stabil dan mulai terjadi ledakan-ledakan. Keduanya pun terjebak di dalam kapal. Sementara Ara amat ketakutan saat setiap langkah kakinya harus terhenti karena ledakan-ledakan itu.
"Kita tidak mempunyai jalan lain selain melompat ke lautan." Rain berkata kepada istrinya.
Ara menelan ludahnya. "Sayang, aku ...." Ia pun seperti tidak mempunyai pilihan lain.
Ara pasrah. Bersamaan dengan itu ia melihat kobaran api yang menjalar keluar dari laut. Rain pun segera menarik tangan istrinya agar mengikuti langkah kakinya pergi. Mereka kemudian berlari untuk menghindari api yang mulai merambat.
Ya Tuhan, saat ini tidak ada lagi yang bisa kami mintai bantuan selain Engkau. Engkau lebih dekat kepada kami dibanding urat leher kami sendiri. Maka izinkan kami untuk melihat anak ini lahir ke bumi. Tolong kami, selamatkan kami. Hanya kepada-Mu lah kami berserah diri.
__ADS_1
Ara terus berlari bersama Rain sambil berdoa di dalam hati. Ia memejamkan mata, mencoba fokus di tengah-tengah rasa takutnya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi selain terus berlari menuju pintu keluar kapal. Namun, api itu dengan cepat menyebar.