
Kembali ke apartemen Rain...
Aku mulai berendam di air hangat. Sedang tuanku berdiri di samping memperhatikanku. Entah kenapa aku seberani ini padanya. Seperti ada yang menggerakkan tubuhku. Dia pun mulai menghidupkan shower airnya.
"Ara, kau tidak memintaku untuk berendam juga?" tanyanya yang membiarkan shower air menyala.
"Kamu mau di sini?" tanyaku biasa saja.
Dia mengangguk pelan. Aku pun maju sedikit agar dia bisa duduk di belakangku. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Aku juga heran sendiri.
Dia masuk ke dalam bathtub lalu duduk di belakangku. Kedua kakinya dilebarkan sehingga aku duduk di antara kedua pahanya. Aku sih biasa saja, menganggap hal ini terasa wajar. Aku jadi heran, tapi seperti tidak dapat melawan.
Ini aneh ....
Aku mulai menuangkan sabun cair ke dalam bathtub lalu membuat banyak busa dengannya. Entah apa yang terjadi pada tuanku, dia tiba-tiba menarikku mendekat ke tubuhnya.
"Ara." Dia menyandarkanku ke tubuhnya.
"Sayang?" Aku menoleh, melihat wajahnya.
"Ara, apa kau sengaja memancingku?" tanyanya sambil memperhatikan wajah ini.
"Tidak. Apa ini aneh?" Aku malah balik bertanya kepadanya.
Dia menelan ludah dan diam selama beberapa detik, lalu memelukku. "Aku ingin, Ara. Aku ingin," katanya sambil menghirup aroma tubuhku. Dia menciumi pundakku.
Seketika aku merasa geli saat rambut-rambut halus di wajahnya mengenai permukaan kulitku. Tapi anehnya, aku biasa-biasa saja.
Aku kenapa, ya?
Aku tidak tahu mengapa seperti ini. Seakan lupa jika kami belum memiliki ikatan resmi. Semakin aku bertanya, kepalaku semakin sakit, entah kenapa. Dan akhirnya tubuhku seperti tergerak sendiri. Aku menggigit lehernya.
"Aw!"
Dia pun segera mengangkat wajahnya dari pundakku, melihatku dengan tatapan heran. Sedang aku, aku malah tersenyum menyeringai padanya.
"Ara, kau kenapa?" Dia bertanya seolah-olah ini bukan aku.
"Sayang, katanya ingin?" Aku balik bertanya padanya.
__ADS_1
Dia diam, tapi tetap memperhatikanku. Dan tak lama dia memutuskan untuk menyudahi mandinya. Dia mengambil handuk lalu pergi dari kamar mandi. Entah ke mana.
Ara merasa bingung dengan dirinya sendiri, kenapa bisa seberani ini kepada Rain. Rain pun menyadari sikap Ara tidak seperti biasanya. Ia segera keluar dari kamar mandi lalu mengambil ponselnya, berniat menelepon seseorang untuk membicarakan hal ini.
"Baik. Aku tunggu kedatangannya."
Tak lama, Rain pun memutuskan panggilan teleponnya. Ia terlihat sangat khawatir. Ia bergegas mengenakan seragam formalnya untuk menyambut kedatangan seseorang.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa perasaanku tidak enak?"
Setelah mengenakan kemeja dan celana dasar, Rain kembali ke kamar mandi. Ia pun melihat Ara sedang bermain busa di dalam bathtub.
"Ara, cepatlah bergegas. Akan ada yang datang." Rain meminta Ara menyudahi mandinya.
"Sekarang?" tanya Ara dengan ekspresi datar.
"He-em." Rain pun mengangguk.
"Baiklah."
Ara pun menurut pada Rain. Ia lekas-lekas membilas dirinya dari busa sabun yang menempel pada tubuhnya.
Satu jam kemudian...
Rain ternyata meminta bantuan Jack untuk mencarikan seseorang yang bisa mengerti apa yang sedang terjadi pada Ara. Dan akhirnya Jack membawa pria tersebut menghadapnya. Pria tua itu lalu meminta Ara agar segera meminum air darinya. Ara pun menurut. Tak lama kemudian ia jatuh pingsan. Sontak Rain dan Jack kaget melihat apa yang terjadi.
Mereka duduk berseberangan di sofa tamu. Rain dengan Ara, sedang Jack dengan pria tua tersebut. Untungnya Rain dengan cepat menahan tubuh Ara agar tidak jatuh ke lantai. Dan kini sang gadis berada di pelukannya.
"Calon istri Anda terkena sedikit sihir, Tuan." Pria tua berjubah putih itu menuturkan.
"Astaga." Rain tak percaya.
"Sepertinya ada yang sengaja menaburkan sihir dalam bentuk pasir ke apartemen ini. Dan calon istri Anda memegangnya." Pria itu menjelaskan.
"Apakah ini berbahaya?" tanya Jack kepada pria tua yang duduk bersamanya.
"Ini sejenis sihir pemikat. Mungkin tujuan utamanya bukanlah nona," kata pria itu lagi.
"Maksud Anda sihir ini ditujukan padaku?" Rain penasaran.
__ADS_1
"Bisa jadi seperti itu. Saya sarankan untuk berhati-hati dan tidak memamerkan foto selfie di media sosial. Karena sihir bisa melalui perantara foto sekalipun tidak kenal siapa orangnya." Pria itu menuturkan.
"Em, baik." Rain pun mengangguk.
"Nona Ara akan segera tersadar. Jika dia sadar, tolong mintakan kepadanya agar segera menghabiskan botol air mineral ini. Jangan lupa berdoa terlebih dahulu, minta keselamatan kepada Tuhan. Semoga bias sihirnya segera lenyap tak bersisa." Pria tua itu menuturkan.
"Baik." Rain pun mengiyakan.
Rain menuruti semua saran dari pria tua tersebut. Dan tak lama pria tua itu pun berpamitan kepada Rain. Jack kemudian mengantarkannya dari apartemen. Sementara Rain segera menggendong gadisnya ke dalam kamar.
Astaga, Ara. Kenapa bisa begini?
Direbahkannya sang gadis lalu diselimutinya. Rain pun menemani Ara sampai tersadar dari pingsannya. Dilihatnya jam di tangan ternyata sudah menunjukkan pukul lima sore. Rain pun mengusap kepala Ara seraya berdoa untuk keselamatannya.
Beberapa menit kemudian...
Ara tersadar dari pingsannya dan melihat Rain sedang menemaninya di sisi. Ia pun lekas-lekas beranjak bangun lalu memeluk Rain.
"Ara?"
"Sayang." Ara seperti amat merindukan Rain.
"Hei, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Rain sambil mengusap-usap lengan Ara yang melingkar di lehernya.
Ara menjauhkan wajahnya. "Tadi aku bermimpi kehilanganmu. Aku takut sekali." Ara mengungkapkan rasa takut di hatinya.
"Ha?" Rain terkejut. "Aku tidak akan seperti itu, Ara." Rain mencolek ujung hidung Ara.
"Tapi..." Ara melepaskan pelukannya, ia tertunduk di hadapan Rain.
"Ara ... sebentar lagi kita akan menikah. Malam ini juga akan berangkat ke Indonesia. Aku sudah minta kepada Jack untuk menjadi perwakilan keluargaku melamarmu. Apa lagi yang kau khawatirkan?" Rain berbicara amat lembut kepada gadisnya.
Ara menoleh, melihat Rain lebih jelas. Ia lalu merebahkan kepalanya di dada Rain. "Aku hanya takut saja," kata Ara lagi.
"Sudah, jangan takut." Rain memeluk Ara, mengusap-usap lengan gadisnya. "Hari pernikahan itu akan segera tiba. Aku akan menjagamu." Rain mengecup kepala Ara.
"He-em." Ara pun mengangguk, merasa lebih tenang.
Sang penguasa menunjukkan sikapnya jika sudah siap menjadi seorang suami. Hasratnya padam seketika saat merasa ada hal aneh sedang terjadi pada gadisnya. Ia lebih memilih untuk mengobati Ara terlebih dahulu dibandingkan melampiaskan hasratnya.
__ADS_1
Ara pun mulai terbuka kepada Rain, ia tanpa malu mengungkapkan isi hatinya. Ia berani mengungkapkan perasaannya jika amat takut kehilangan Rain. Yang mana hal itu membuat Rain semakin menyayanginya. Tapi sayang, kata cinta itu belum juga terucap dari bibir Rain. Seolah masih tertahan, tak bisa diucapkan.
Terlepas dari itu, penantian panjang keduanya membuahkan hasil yang manis. Malam ini juga Rain akan menunjukkan keseriusannya kepada Ara dengan meminta langsung kepada ibunya di Indonesia. Tentunya hal ini merupakan kabar gembira bagi semesta, karena sebentar lagi akan ada sepasang insan yang mengikat janji sucinya. Melabuhkan bahtera bersama dan melahirkan anak-anak yang berbakti kepada mereka.