
Esok harinya...
Pagi ini suasana jalan raya masih sepi. Mungkin sesepi hatiku karena harus berpisah dengan ibu. Saat fajar datang kami sudah siap-siap tuk berangkat, yang mana sebelumnya mengantarkan ibu terlebih dahulu pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku, calon suamiku dan Jack, tidak bisa berlama-lama berbincang karena harus mengejar waktu. Perjalanan kami kembali ke Dubai tidaklah memakan waktu yang sebentar. Jika keadaan cuaca baik, mungkin bisa enam sampai tujuh jam perjalanan. Jika tidak, kami harus transit di bandara terdekat untuk menghindari cuaca buruk. Tentunya akan menunggu lama dan bisa sampai seharian, sedangkan calon suamiku ini harus segera kembali bekerja.
Sedih rasanya, sesak memenuhi dada saat harus berpisah dengan ibu. Aku pun berlutut di depannya, memeluk ibu yang duduk di hadapanku. Sungkem sebagai tanda baktiku kepada orang tua. Karena tidak mungkin bisa aku membalas jasanya sekalipun dengan harta yang kupunya. Ibuku adalah pahlawanku.
"Selamat menempuh hidup baru, Anakku."
Kata-kata itu masih terngiang di kalbuku. Ibu mengecup kepalaku. Aku pun segera bersimpuh, sujud di kaki ibu memohon restu. Tanpa peduli jika ada Jack dan calon suamiku yang melihatnya. Aku benar-benar menyayangi ibuku.
"Ara, sudah jangan menangis lagi."
Kini aku berada di dalam mobil, menuju bandara kota untuk segera kembali ke Dubai. Calon suamiku memeluk sambil mengusap-usap rambutku agar tidak menangis lagi. Tetapi tetap saja air mataku tidak mampu terbendung. Biarlah dikata anak kecil, aku tidak peduli. Aku hanya mengungkapkan rasa sedihku melalui tetesan air mata ini.
"Sudah ya, jangan menangis."
Dia seperti tahu benar kesedihanku saat ini. Dia mengusap-usap lenganku lalu mencium keningku. Mencoba menenangkan hatiku dari rasa pilu.
Ini adalah pertama kalinya bagiku menangis tanpa ragu dan malu di hadapannya. Aku juga tidak peduli jika ada Jack yang sedang menyetir mobil di depan. Aku terus saja menangis dan menangis. Melampiaskan rasa sesak yang memenuhi dada. Dan tak lama kemudian kami memasuki halaman parkir bandara. Jack kemudian turun terlebih dulu dan membiarkan kami berbicara di dalam.
"Ara ...."
Pria bersweter putih ini menatap wajahku. Bola mata birunya seolah menenangkan hati yang pilu.
"Aku sudah berjanji pada ibu untuk membahagiakanmu. Kita bisa kembali lagi ke sini. Aku akan meluangkan waktu di setiap bulannya untuk menemui ibu. Ibumu ibuku juga, Ara." Dia memegang kedua lenganku.
Kuusap air mataku. "Maaf, aku hanya melampiaskan rasa sedihku," kataku padanya.
"Iya, tidak apa-apa. Tapi jika kau ingin ibu bahagia, maka bahagiakan aku yang sebentar lagi menjadi suamimu," katanya seraya merapikan poniku.
Aku mengangguk, mengerti akan maksud perkataannya.
"Aku serius padamu, Ara. Sudah kubuktikan keseriusanku padamu. Walaupun bukan tipe pria yang romantis, aku yakin mampu membahagiakanmu."
__ADS_1
Dia memegang kedua tanganku. Kami saling bertatapan dekat sekali. Bahkan dahi kami hampir bersentuhan.
"Sekarang berjanjilah untuk setia padaku, apapun yang terjadi nanti. Jadilah ibu dari anak-anakku kelak." Dia meminta dengan sungguh-sungguh.
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. Tapi kali ini aku segera memeluknya. Kupeluk tubuhnya sambil meredakan kesedihanku. Kusadari jika tidak ada lagi yang perlu kutakuti selama kami bersama. Dia memang sudah membuktikan keseriusannya padaku.
Rain menenangkan calon istrinya yang sedang menangis tersedu-sedu. Ia melihat sendiri bagaimana Ara amat menyayangi ibunya. Ia merasa terharu akan sikap bakti sang gadis kepada orang tua.
Ia mengusap kembali lengan gadisnya. Ia biarkan Ara tenang sebelum turun dari mobil. Beberapa saat kemudian napas Ara mulai teratur, Rain pun segera memberikan sebotol air mineral kepada gadisnya. Ia biarkan sang gadis mendapatkan kelegaan sebelum berangkat, kembali ke Dubai.
Beberapa jam kemudian...
Aku tertidur di kasur yang ada di dalam jet pribadi ini. Entah sudah berapa lama, tapi sekarang aku merasa lebih lega jika dibandingkan saat lepas landas tadi. Dan kulihat sekeliling kamar hanya ada aku sendirian di sini.
Aku beranjak bangun, melangkahkan kaki menuju pintu untuk melihat keadaan di luar. Kubuka pintu dan kulihat kedua putra Jack sedang bermain bersama calon suamiku. Keduanya sedang beradu tos, sedang Jack dan istrinya duduk berseberangan dengan priaku.
"Tante!"
Kedua putra Jack menghambur ke arahku begitu melihatku berdiri di dekat pintu. Keduanya memelukku bak sudah kenal lama sekali. Aku pun jadi terharu dengan sikap mereka. Rasanya ingin cepat-cepat mempunyai putra juga.
"Tante, mari kita duduk." Kedua putra Jack menuntunku agar duduk di sofa.
Aku mengangguk seraya tersenyum. Aku pun diantarkan keduanya duduk di samping calon suamiku. Mereka lalu kembali ke sisi orang tuanya, Jack dan istri.
"Kau sudah merasa baikan?" Priaku mengusap wajahku.
Aku mengangguk.
"Sini rebahkan kepalamu." Priaku meminta aku menyandar di dadanya.
Rasanya syahdu sekali. Dia begitu menyayangiku tanpa malu dan ragu di hadapan Jack dan istrinya. Kedua putra Jack juga seperti sudah mengerti status kami. Mereka tidak banyak berkomentar tentang priaku yang begitu memanjakanku.
"Tuan, kami ke dalam dulu. Jika ada keperluan, bisa mengetuk pintu."
Jack pun seperti memahami apa yang priaku inginkan. Tanpa diminta dia segera berpamitan masuk ke dalam kamar bersama keluarganya, meninggalkan kami hanya berdua di sini. Dan setelah mereka masuk, priaku lantas mencium keningku.
__ADS_1
"Aku mendapat kabar tentang orang yang menabur pasir itu." Dia menceritakan seraya memelukku.
Aku mendongakkan kepala, melihat wajahnya. "Siapa?" tanyaku ingin tahu.
"Ini." Dia lalu memperlihatkan rekaman CCTV dari ponsel pintarnya kepadaku.
Kulihat segera siapa orang yang menabur pasir sihir itu. Aku pun terkejut saat melihat kapan waktunya dia beraksi.
"Pukul tiga pagi? Astaga! Bagaimana bisa?" Aku menoleh ke arah priaku, tak menyangka.
"Entahlah. Sepertinya memang sengaja dilakukan. Aku pikir lebih baik jika kita pindah tempat tinggal saja." Priaku terlihat cemas.
"Mau pindah ke mana?" tanyaku bingung.
"Mungkin ke perumahan Palm Jumeirah. Kita beli satu rumah di sana agar lebih aman dan nyaman." Priaku menawarkan.
Aku terdiam sejenak.
"Pria yang menaburkan pasir ini wajahnya tidak dapat terlihat CCTV. Sepertinya dia sudah tahu situasi apartemen sebelumnya. Aku khawatir dia akan membuat ulah di kemudian hari jika kita masih tetap tinggal di sana. Kita pindah saja ya, Ara?" tanyanya lagi.
"Kau yakin?" Aku memastikan.
Dia mengangguk. "Aku tidak ingin rumah tanggaku diganggu oleh siapapun, apalagi oleh sihir. Aku ingin bersamamu dengan tenang, Ara." Dia menggenggam erat tanganku.
Kulihat dia amat bersungguh-sungguh. Aku pun tidak bisa melawan kehendaknya. Kutahu jika dia berniat baik untuk rumah tangga kami.
"Baiklah. Aku ikut denganmu." Aku pun menurut.
Kulihat dia tersenyum lalu memelukku kembali. Sepertinya dia amat mengkhawatirkan keadaanku jika tetap tinggal di apartemen itu. Ya sudah, aku menurut saja. Toh, ini demi kebaikan kami juga.
Rain memutuskan untuk segera pindah dari apartemen dan mengambil perumahan yang ada di komplek Palm Jumeirah. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada gadisnya. Ia ingin melindungi Ara. Rain amat menyayangi calon istrinya, Ara.
...
Bagian Ke Tiga Tamat
__ADS_1