
*) Sudut Pandang Pertama
.........
Saat ini pukul sepuluh pagi waktu Istanbul dan sekitarnya. Langit cerah dengan awan putih berarak menghiasi angkasa. Semilir angin pun terasa mulai jarang berembus. Mungkin karena hari sudah menjelang siang jadinya cuaca terasa sedikit panas.
Kini aku sedang duduk sambil membaca beberapa buku di teras apartemen. Seorang diri sambil membaca buku tentang sejarah kota ini. Entah mengapa aku merasa sangat tertarik untuk mempelajarinya. Ternyata Turki memiliki panglima perang yang aku kagumi. Bahkan ada yang mampu melayarkan kapal besar di atas daratan. Beliau adalah Sultan Muhammad Al Fatih yang membebaskan Konstantinopel beberapa ratus tahun silam.
Sebenarnya aku sangat tertarik dengan sejarah yang ada di dunia. Tapi terkadang aku menemukan sejarah yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Contohnya saja seperti sejarah tentang Kemal Ataturk di Turki. Sejarah mengatakan, beliau adalah pahlawan bagi bangsa Turki. Tapi saat dicari tahu kebenarannya malah berbanding terbalik dengan kenyataan. Beliau adalah pengkhianat bangsa Turki yang membuat kesultanan Utsmani runtuh. Bukankah itu sangat berbeda jauh?
Tidak perlu mengulas tentang Turki yang lebih spesifik. Contoh globalnya saja seperti Charles Darwin yang mengusung teori manusia berasal dari kera. Itu sungguh tidak masuk akal lagi. Bagaimana bisa kera berevolusi menjadi manusia? Bagaimana buntutnya bisa hilang? Dan bagaimana rambut halus di seluruh tubuhnya bisa menjadi indah seperti manusia sekarang?
Bodohnya aku memercayainya begitu saja. Ya maklum, sejak SMP sudah didoktrin buku sejarah seperti itu. Jadinya hanya bisa manggut-manggut saja. Padahal hati sangat menolak tentangnya. Karena ada hal yang lebih masuk akal dari itu semua. Yaitu semua manusia di muka bumi ini diciptakan dari Adam dan Hawa. Sedang kera adalah manusia yang dilaknat Tuhan karena ingkar kepada-NYA. Itu lebih masuk akal bagiku. Memangnya ada manusia yang mau dikatakan sebagai keturunan kera?
"Ara, ibu mau pergi ke pasar sebentar. Ara mau ikut?" Tiba-tiba ibu mertuaku datang. Sepertinya dia habis melaksanakan salat.
"Em, Ara di rumah saja, Bu. Ara kan tidak boleh keluar." Aku mengingatkan ibu tentang pesan putranya.
"Boleh kok, Nak. Asal mengenakan pakaian yang serba tertutup dan juga memakai niqab. Ara mau berjalan-jalan bersama ibu?" tanya ibu mertuaku lagi.
"Em ...," Aku berpikir. Sebenarnya masih ingin membaca buku sejarah tentang kota ini. Tapi ibu mertuaku mengajak keluar. Sedang jika di dalam apartemen sendiri aku juga khawatir.
Bagaimana ya? Terima atau tidak? Aku jadi bingung sendiri. "Em, Ara tidak punya pakaian yang menutup seluruh badan, Bu. Ibu punya?" tanyaku padanya.
Ibu mertuaku tersenyum. "Sebentar. Ibu carikan ya." Ibu mertuaku pun pergi mencari pakaian yang dimaksud.
__ADS_1
Sejujurnya aku berharap tidak jadi ikut. Tapi apalah daya, aku juga tidak bisa di rumah sendirian. Apalagi perutku sudah semakin membesar seperti berusia satu bulan. Rasa begah, mual dan pusing terkadang menjadi satu. Tak tahu mengapa bisa seperti ini. Padahal saat membuatnya tidak sampai membayangkan akan seperti ini. Jadi beruntung lah bagi seorang pria karena tidak ikut merasakan sakitnya.
Sayang, aku rindu sekali. Apa kau tidak rindu padaku? Kenapa belum pulang juga? Sudah hampir seminggu.
Jujur aku sangat merindukan suamiku. Beberapa hari tanpa dirinya di sisi membuatku menahan rindu yang menggebu. Tak habis pikir dengan para ibu yang ditinggal kerja jauh oleh suaminya. Tak bisa kubayangkan betapa kerinduan itu menggerogoti hatinya. Aku saja yang baru beberapa hari sudah hampir frustrasi. Apalagi mereka. Sungguh wanita diciptakan begitu tangguh untuk menghadapi permasalahan yang ada. Terbukti banyak wanita yang berdikari sambil tetap mengurus anaknya.
"Ara, kalau yang ini mau?" tanya ibu mertuaku sambil membawakan satu setel baju panjang berwarna hitam.
"Em ...," Aku melihat baju itu bukan seperti gamis terusan karena ada celana panjangnya.
"Ara pakai saja dulu, Bu." Aku pun beranjak bangun untuk mencoba memakainya.
Karena tak enak hati, kuturuti saja keinginan ibu mertuaku ini. Aku masuk ke kamar sambil membawa pakaian yang dia berikan padaku, lalu mencobanya. Alhasil ternyata pakaiannya kebesaran.
Ibu ada-ada saja. Ini terlalu besar.
Ibu mertuaku tertawa. "Hahaha ... ya sudah. Kalau begitu ibu saja yang keluar. Ara di sini ya. Kalau ada apa-apa segera tekan alarm daruratnya agar pihak keamanan segera ke sini," pesan ibu mertuaku.
"Baik, Bu."
Aku pun mengangguk seraya tersenyum. Kubiarkan dia pergi dan meninggalkanku di sini. Aku ingin melanjutkan aktivitas membacaku lagi.
Satu jam kemudian...
Aku merasa lapar dan pergi ke dapur untuk mencari makanan. Tapi saat sudah sampai di dapur, kulihat tidak ada lagi cemilan yang biasa kusantap. Entah ke mana mereka, sepertinya semuanya sudah masuk ke dalam perutku. Maklum ibu hamil, inginnya banyak ngemil dan minum minuman yang segar. Tapi sayang, saat kubuka kulkas ternyata hanya tersisa buah-buahan khas Timur Tengah.
__ADS_1
"Kurma lagi, kurma lagi."
Akhirnya kuambil saja yang ada. Kucicipi satu-satu sambil mengusap perutku. Tak lupa juga memakannya dengan jumlah ganjil. Dan saat sudah sampai di butir kurma yang ke tujuh, kudengar suara bel apartemen berbunyi. Entah siapa gerangan yang datang.
"Siapa ya?"
Lekas saja aku beranjak menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Sesampainya aku pun mengintipnya terlebih dahulu dari kaca pembesar yang ada di pintu. Kusiapkan tongkat baseball jikalau yang datang adalah tamu tak diundang. Tapi, saat mengintip melalui kaca pembesar, saat itu juga jantungku berdegup kencang. Ternyata yang datang adalah...
"Sayang?!!"
Segera kubuka pintu lalu menemui siapa yang datang. Ternyata pangeranku lah yang membalaskan rindu. Aku pun tersenyum semringah kepadanya tanpa peduli terhadap keadaan sekitar. Saat itu juga aku menghambur ke pelukannya.
"Sayangku!"
Aku begitu bahagia melihat pria bertubuh maskulin nan tinggi itu sudah berada di hadapanku. Rasanya girang sekali. Ingin aku berteriak untuk mengungkapkan kebahagiaan ini. Namun, saat aku mencoba memeluknya lebih erat, aku merasa kesulitan. Ternyata ada yang mengganjal di antara kami. Dan itu perutku.
"Sudah tidak bisa ya?" Dia malah meledekku.
"Sayang, aku rindu," kataku sambil bergelayut manja padanya.
"Iya-iya. Aku juga rindu." Dia mengusap-usap kepalaku.
"Peluk aku." Aku pun bermanja padanya.
"Uhuk! Uhuk!" Saat itu juga kudengar suara orang yang batuk.
__ADS_1
"Eh, siapa?" Aku pun tersadar jika masih ada orang yang datang. Lantas aku melihat ke sekeliling untuk memastikannya. Dan ternyata...
"Kak Owdie?!" Saat itu juga kusadari jika suamiku pulang bersama saudaranya.