Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Broken Heart


__ADS_3

Beberapa menit kemudian...


Mobil hitam milik Rain tiba di depan gerbang kampus Ara. Sebuah gedung perguruan tinggi terlihat jelas di kedua mata sang penguasa. Ara pun lekas-lekas turun dari mobil. Tapi...


"Tunggu!" Rain menahannya.


"Sayang?" Ara tampak bingung.


"Kau tidak ingin menciumku sebelum masuk ke kampus?" tanya Rain yang sontak membuat Jack hampir tertawa.


"Err..." Ara menoleh ke arah Jack yang ada di depan.


"Jack." Rain memberi isyarat kepada Jack.


"Baik, Tuan." Tak lama sekat pun muncul dari tengah mobil.


"Sekarang," kata Rain pada Ara.


"Hah?!" Ara masih belum fokus.


"Ara ...!" Rain pun tampak kesal.


"Em, baiklah." Ara memegang tangan kanan Rain lalu... "Muach." Menciumnya. " Sudah, ya. Aku masuk dulu." Ara segera keluar dari mobil. "Sampai nanti!"


Ia melambaikan tangannya ke arah Rain seraya tersenyum ceria. Sang gadis lalu berbalik, berjalan menuju gedung kampusnya.


"Ara ...." Seketika itu Rain terdiam.


Rain terpaku saat Ara mencium tangannya lagi. Ia merasa menjadi pria yang dihormati gadisnya. Sang gadis mampu membuat hatinya terenyuh untuk kesekian kali. Rain semakin ingin mempercepat waktu pernikahannya dengan Ara.


Dia bisa membuatku sampai seperti ini. Siapa dia sebenarnya? Apakah dia memang jodohku? Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya kenapa dia datang lewat jalan yang tak biasa. Ara ... cepat beri keputusan sebelum aku berubah pikiran.


Rain termenung dalam tanda tanya. Ia masih tidak habis pikir kenapa bisa dipertemukan lewat jalan seperti ini. Ia lalu menelepon Jack.


"Sudah, Jack."


Tak lama sekat di tengah mobil diturunkan.

__ADS_1


"Kita bisa berangkat sekarang, Tuan?" tanya Jack dari depan.


"Ya, kita berangkat." Rain mengiyakan.


Jack pun segera melajukan mobilnya menuju tempat Rain bekerja. Tanpa keduanya sadari ada satu mobil yang membuntuti mereka dari parkiran apartemen hingga ke kampus Ara. Di dalam mobil itu ada seorang wanita berambut hitam panjang yang sedang mengarahkan kamera ponselnya ke Ara.


"Jadi gadis itu kuliah di sini?"


Ialah Jane yang baru saja memotret Ara dari ponselnya. Ia memotret dengan jelas saat Ara keluar dari mobil Rain. Senyuman tipis pun terlihat dari wajahnya. Ia seperti menahan kesal.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil Rain. Akan kupastikan jika Rain tidak akan lagi menyukainya." Tak lama ia pun menelepon seseorang.


"Halo, Nail!" Ia menelepon seseorang bernama Nail.


"Bisakah kita bertemu nanti malam di klub biasa?" tanyanya kepada seseorang di seberang.


"Hm, ya. Aku punya pekerjaan untukmu. Sampai nanti," katanya, lalu tak lama menutup telepon.


Jane menepuk-nepuk stir mobilnya sambil memasang wajah kesal. Ia ingin melakukan sesuatu atas apa yang terjadi padanya waktu itu.


"Rain, karena gadis itu kau sampai berani mengusirku. Aku tidak akan main-main kali ini. Aku akan membuatmu membencinya sebagai balas dendam dari rasa sakit hatiku." Jane memasukkan gigi mobil, ia melaju menuju suatu tempat.


Ara pergi berlalu meninggalkan Rain bersama Jane dan Rain pun ingin mengejarnya. Tetapi Jane dengan cepat menahan tangan Rain.


"Rain, dia siapa?" tanya Jane untuk kesekian kali.


"Jane, pulanglah. Tidak baik kau berada di sini." Rain meminta Jane pulang.


"Rain, aku baru saja tiba di Dubai. Tapi kenapa kau malah menyuruhku pulang?" Jane tak percaya jika Rain akan mengusirnya.


"Jane, aku tidak memintamu untuk datang kemari. Aku punya urusan yang lebih penting. Jadi, tolong jangan ganggu aku." Rain meminta.


"Tap-tapi—" Jane menolak.


"Tolong, jangan membuatku mengulangi perkataan." Rain berkata tegas.


"Rain, kau tega padaku. Apa gadis itu yang telah membuatmu melupakanku?" Jane hampir terisak.

__ADS_1


"Jane, kita tidak tidak mempunyai hubungan apapun selain teman. Jadi tolong hargai itu." Rain berusaha menjelaskan.


"Baik. Jika kau memang menganggapku teman. Aku akan pergi." Jane lalu pergi dari apartemen Rain sambil membawa kopernya.


Jane keluar dari apartemen Rain dalam keadaan terluka karena Rain mengusirnya. Ia lekas-lekas pergi dari apartemen Rain lalu mencari apartemen lain. Namun, di dalam hatinya ia tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Rain. Gadis asal USA itupun berlalu dengan hati yang terluka karena sikap Rain padanya.


...


"Aku tidak akan melupakan hari itu. Aku tidak akan membiarkan gadis itu merebutmu dariku." Jane bertekad untuk menyingkirkan Ara dari kehidupan Rain.


Jane adalah dara asal USA yang berdarah Korea. Ia adik tingkat Rain di salah satu universitas yang ada di sana. Kedekatannya dengan Rain membuat Jane berpikir jika Rain menyukainya. Ditambah saat kuliah dulu Rain amat ramah. Dan karena keramahan Rain itulah membuat hati Jane semakin berharap. Namun, setelah bertahun-tahun harapannya harus kandas begitu saja setelah kedatangan Ara. Jane merasa amat terpukul.


Setelah kejadian di apartemen itu Jane tidak langsung kembali ke USA. Ia mencari apartemen dekat pantai untuk menenangkan pikirannya. Alih-alih berharap Rain akan meminta maaf, Rain malah sama sekali tidak menghubunginya. Dan akhirnya Jane kembali menemui Rain di malam itu. Namun nyatanya...


Di belokan koridor apartemen, malam itu...


Jane tidak terima dengan perlakuan Rain yang berani mengusirnya, ia sakit hati.


"Apakah karena gadis itu kau seperti ini, Rain?!" tanyanya yang hampir menangis karena Rain mengabaikannya.


"Jane, perkataanmu ini seperti kita mempunyai hubungan lebih. Aku sudah bilang jika kita ini hanya teman. Maaf jika telah membuatmu berharap." Rain meminta maaf.


"Dengan mudahnya kau mengatakan hal itu padaku! Jadi kedekatan kita selama ini kau anggap apa?!" Jane berlinangan air mata.


"Aku hanya menganggapmu sebagai adik. Tidak lebih dari itu. Lagipula ayahmu bekerja sama dengan kakekku. Sudah selayaknya aku bersikap baik padamu. Jadi tolong jangan salah paham," pinta Rain kembali.


"Kau jahat, Rain! Aku pikir selama ini ... kau mempunyai perasaan lebih padaku." Jane tak percaya. "Tapi nyatanya, semua berubah semenjak gadis itu datang." Sebisa mungkin Jane menahan jatuhan air matanya.


"Maafkan aku. Aku memang menyukainya dan berniat menikahinya." Rain berterus terang.


"Apa?!!"


Seketika hati Jane terasa tercabik-cabik. Butiran air mata pun tidak sanggup lagi untuk ditahannya. Jane benar-benar sakit hati.


Kejadian itu tanpa disadari terlihat oleh Ara. Namun, Ara memilih diam dan kembali masuk ke dalam apartemen. Ia biarkan Rain berbicara terlebih dulu kepada Jane. Ia mencoba lebih memercayai ucapan Rain daripada apa yang ia lihat di belokan apartemen. Di mana ia melihat Rain sedang beradu bicara dengan Jane.


...

__ADS_1


Tunggu saja tanggal mainnya, nona!


Jane berbicara dalam hati lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jane depresi. Ia merasa terhina dengan perlakuan Rain kepadanya. Dan ia menganggap Ara sebagai penyebab dari semua dukanya ini.


__ADS_2