Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Look at Me!


__ADS_3

Angin menjelang siang menemaniku mengetik naskah di laptop. Kuteguk kopi latte sebagai penyemangat ceritaku. Kutuangkan apa yang ada di kepala ke dalam untaian kata indah. Rasa-rasanya jika keberuntungan berpihak padaku naskah ini bisa diadaptasi menjadi film. Entahlah, untuk sekarang aku belum berharap banyak. Kumulai saja perlahan sambil membiasakan diri menjadi penulis. Siapa tahu di kemudian hari aku bisa memetik hasilnya.


Tadi pagi selepas mengantar tuanku bekerja, aku segera membersihkan kamarnya. Dan ternyata ada hal aneh di sprei kasurnya. Ada bercak yang sudah mengering, entah apa. Tapi kuabaikan saja dan langsung mencucinya.


Sampai detik ini jujur saja aku tidak percaya dengan ajakannya untuk menikah. Terlebih kami baru saja dua minggu bersama. Entah apa yang membuatnya sampai berani mengambil keputusan ini. Semoga saja benar-benar dari dalam hatinya.


Aku mempunyai waktu satu bulan ke depan untuk memikirkan masak-masak tawarannya. Tapi kalau dipikir-pikir, ucapannya tadi begitu memaksa. Mau tidak mau aku seperti harus menikah dengannya. Hal ini terasa aneh sekali. Bisa-bisanya dia dengan cepat mengambil keputusan untuk menikah, sedang dia tidak tahu bagaimana aku yang sesungguhnya.


Semoga dia membaca ceritaku nanti. Dan semoga dia menyadari bagaimana perasaanku padanya.


Tak terasa karena keasikan mengetik, hingga tak sadar waktu jika sudah pukul setengah sebelas siang. Kurehatkan sejenak tubuh ini sambil meregangkan kedua tangan ke atas. Tak lama bel apartemen pun berbunyi, entah siapa yang datang.


"Apakah itu tuan?"


Lekas-lekas aku beranjak menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata, seorang pria tampan yang tingginya tak jauh berbeda dari tuanku. Dia mengenakan baju rajutan berwarna biru dengan kalung bersimbol lingkaran yang entah bergambar apa.


"Si-siapa ya?" tanyaku kepada pria di depanku ini.


"Apakah Rain ada?" tanyanya padaku.


Dia menanyakan tuan? "Em, tuan sedang ada pertemuan di kantornya. Apakah ada pesan?" tanyaku lagi.


"Apakah aku boleh masuk?" Dia malah balik bertanya.


Kuperhatikan pria di hadapanku ini, sepertinya dia tidak ada niatan jahat padaku. Tapi, tetap saja aku harus waspada menerima siapapun yang datang. Apalagi jika tidak ada tuanku.


"Em, maaf. Tuan sedang tidak ada. Aku tidak berani menerima siapapun masuk. Apakah ada pesan?" tanyaku lagi.


Kulihat dia terdiam seperti berpikir. "Baiklah. Tolong sampaikan padanya jangan ganggu malamku." Dia berpesan yang membuatku bertanya-tanya.


"Em, maksud Tuan?" tanyaku lagi.


Dia menghela napas sambil menyilangkan kedua tangan di dada. "Beberapa hari ini dia selalu meminta untuk ditemani tidur. Dan aku ingin meminta pertanggungjawaban darinya," katanya lagi.


Hah?! Apa?!!


Sontak aku terkejut mendengar penuturan pria ini. Dia mengatakan ingin meminta pertanggungjawaban dari tuanku. Seketika aku berpikir yang macam-macam tentangnya.


Ja-jangan-jangan ...?


Segera kutepiskan pikiran negatif lalu bersikap biasa saja, tidak menunjukkan rasa keterkejutan yang melanda.


"Em, Tuan. Nanti akan aku sampaikan. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan ?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Aku Owdie. Sampaikan saja jika aku kemari. Permisi." Dia segera beranjak pergi.


Tak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Tapi sepertinya rahasia tentang dirinya mulai terkuak di depanku. Aku jadi menarik kesimpulan tentang ajakannya menikah.


Jangan-jangan dia mengajak ku menikah untuk menutupi hal ini? Tapi, apa benar jika dia penyuka sesama?


Tak lain dan tak bukan pastinya pikiranku langsung tertuju ke arah sana. Pria tadi bilang ingin meminta pertanggungjawaban dari tuanku. Pastinya mereka telah melakukan sesuatu hingga harus dipertanggungjawabkan.


Sungguh aku syok bukan main mendengarnya. Kututup pintu apartemen lalu segera menguncinya dari dalam. Kutenangkan diri sambil duduk di sofa ruang tamu. Kuusap wajah ini sambil memikirkan kejadian tadi. Sejuta tanya tentangnya mencuat di pikiranku dalam sekejap.


Apa benar dia seorang gay?


Pukul satu siang waktu Dubai dan sekitarnya...


Aku sedang tiduran di kursi panjang yang ada di teras luar apartemen. Hari ini tidak ada kerjaan karena semuanya sudah selesai. Sedang tugas kuliah semalam sudah kubereskan. Jadi aku bisa bersantai.


Di tengah-tengah menikmati angin siang, ponselku berdering menandakan ada panggilan masuk. Kupikir tuanku yang menelepon. Tapi ternyata malah Taka, teman baruku. Segera saja kuangkat telepon darinya.


"Halo Taka," kataku.


"Hai, Ara. Apa kau sedang sibuk?" tanyanya dari seberang telepon.


"Aku sedang bersantai. Kau sendiri?"


"Aku lagi latihan karate di kampus. Kau mau ke sini?" tanyanya langsung.


"Hei, apartemen itu tidak akan hilang, Ara. Apa yang kau tunggu?" tanyanya lagi.


Aku hanya diam.


"Ke sini saja. Siapa tahu kau tertarik ikut latihan karate. Baik untuk perlindungan dirimu." Dia membujukku.


"Em, maaf. Aku tidak bisa. Lain kali saja, ya. Tugas kampus juga belum selesai semua." Aku beralasan.


"Em, baiklah. Aku tidak akan memaksa. Kalau begitu sampai nanti, Ara," katanya seperti menahan kecewa.


"Sampai nanti," sahutku segera.


Kututup telepon darinya yang menganggu waktu santaiku. Tanpa kusadari jika tuanku sudah pulang dan berada di belakang.


"Siapa yang menelepon?" tanyanya yang membuatku kaget.


"Tu-tuan?!" Aku terkejut melihat dia sudah datang.

__ADS_1


"Kemarikan ponselnya!" Dia meminta ponselku.


Aduh, gawat!


Seketika aku merasa takut melihatnya. Aku takut dia salah paham padaku. Aku pun hanya bisa menyerahkan ponsel ini kepadanya.


"Siapa Taka?" tanyanya yang membuatku bangkit dari kursi.


"Dia teman kampusku, Tuan," jawabku jujur.


"Teman? Apa sudah sangat akrab, ya?" Dia memancingku.


"Tuan, sungguh. Taka itu temanku. Aku baru dapat satu teman di kampus." Aku mencoba menjelaskan.


"Oh, begitu." Dia duduk di kursi.


"Tuan ...." Aku jadi merasa bersalah karena telah memberikan nomor ponsel ke Taka.


"Aku akan mengajakmu ke pantai Jumeirah. Lekaslah bergegas dan jangan lupa bawa pakaian ganti. Kita akan berenang di sana." Dia menjelaskan.


"Siang-siang gini?" tanyaku tak percaya.


"Kenapa? Takut hitam?" tanyanya jutek.


"Ti-tidak, Tuan. Aku bergegas sekarang." Aku segera pergi dari hadapannya.


Semakin lama aku merasa tuanku ini semakin membatasi ruang gerakku. Sedang aku tidak dapat melakukan hal yang sama padanya. Aku hanya dapat menurut dan menurut.


Sebenarnya aku ini siapanya, ya?


Kadang aku berpikir bagaimana harus menempatkan diri di hadapannya. Kadang juga timbul perasaan ingin bermanja. Tapi, setelah kedatangan pria bernama Owdie itu aku jadi ragu-ragu untuk mendekat. Aku masih tak habis pikir dengan pernyataannya tentang tuanku.


Sudahlah, lebih baik berkemas.


Kusiapkan pakaian ganti untuk berenang di pantai. Aku pun berganti pakaian, mengenakan blus putih lengan panjang dengan celana pensil hitam semata kaki. Tak lupa membawa sunblock agar tidak terlalu gosong. Ya sudah. Hari ini aku akan pergi ke pantai bersamanya. Bersama tuanku yang tampan rupawan.


"Tuan, aku sudah siap." Kulihat dia sedang mengotak-atik ponselku.


"Ini ponselmu. Kita berangkat sekarang." Dia melewatiku sambil mengembalikan ponsel ini. Dan ternyata...


Astaga!


Dia memasang foto kami di beranda depan. Entah apa maksudnya, mungkin dia tidak ingin ada yang mendekatiku atau mengajak ku jalan selain dirinya.

__ADS_1


Hah, ada-ada saja.


Aku pun segera menutup pintu teras lalu mengekor padanya menuju pintu depan. Kami pun berjalan bersama hingga ke parkiran apartemen. Ternyata hari ini dia menyetir mobilnya sendiri. Dan bisa dikatakan jika ini adalah ngedate ke-dua kami. Entahlah, jalani saja yang ada.


__ADS_2