
Udara pagi terasa sejuk sekali. Pemandangan kota yang kurindukan telah di depan mata. Dengan berhati-hati aku menuruni anak tangga. Dan kulihat beberapa petugas bandara telah menunggu di sana.
Beberapa jam kemudian, kami tiba di bandara kotaku. Rasanya rindu sekali, seperti sudah lama tidak menginjakkan kaki ke kota ini. Padahal nyatanya baru sebulan saja. Para petugas bandara pun segera mendekati kami, mereka mengajak tuanku bersalaman. Sedang aku hanya sebatas tersenyum. Aku milik tuanku, jadi hanya dia saja yang boleh menyentuhku.
Ibu, Ara pulang...
Aku bagai crazy rich yang begitu dihormati. Koper-koper kami dibawakan oleh petugas bandara. Sehingga aku bersama tuanku dapat berpegangan tangan dengan mesra. Turun dari pesawat lalu berjalan bersama sampai masuk ke dalam bandara. Sepertinya dia memang sudah mempersiapkan semuanya.
Aku melihatnya, memperhatikan dirinya yang sedang menelepon seseorang. Dia mengabarkan kepada seseorang di telepon itu jika baru saja sampai di kotaku. Sepertinya SIM Card miliknya bebas roaming. Jadi bisa menelepon di negara mana saja.
"Baiklah. Terima kasih," katanya pada seseorang di telepon.
Kami berjalan bersama, begitu juga dengan Jack, istri dan kedua putranya. Tapi ada sesuatu hal yang membuat hatiku tersentuh. Kulihat Jack menggendong putra bungsunya sedang sang istri menuntun putra pertamanya. Rumah tangga mereka sepertinya harmonis sekali. Aku jadi ingin seperti itu.
Tuan, berapa anak yang kau inginkan dariku?
Rasanya sungguh tak percaya hubungan kami bisa sampai sejauh ini. Tentunya jika tanpa campur tangan Tuhan, hal ini amat mustahil terjadi. Siapa yang akan percaya dengan kisahku, menemukan pria tampan lagi berkuasa hanya dengan melewati pintu jatuhan air. Tentunya mereka akan menganggapku gila jika mengetahui hal yang terjadi.
"Sayang, aku lapar," kataku manja, seraya berjalan bersamanya.
Kulihat dia baru saja selesai mengobrol dengan kedua pilot jet pribadi ini. Kedua pilot yang disewa olehnya juga ikut turun dari pesawat dan berjalan di belakang kami.
"Nanti kita sarapan di hotel, ya."
__ADS_1
Dia mengusap kepalaku, usapan yang begitu lembut hingga membuat hatiku terasa syahdu sekali. Aku pun merebahkan kepala ini di lengan kekarnya seraya menggandeng mesra. Aku tidak akan melepaskannya, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang amat jarang terjadi. Dimana bisa menemukan pria yang mendekati sempurna sepertinya.
Setelah kami masuk ke bandara untuk melakukan pengecekan barang, aku baru mengetahui jika hotel tempat kami menginap tidaklah jauh dari sini. Petugas bandara telah membantu mempersiapkan semuanya. Semua akomodasi telah dipersiapkan dengan matang.
"Tuan, mobil sudah menunggu."
Kulihat Jack pergi sebentar lalu kembali lagi. Dia memberitahu kami jika mobil sudah datang. Aku dan tuanku pun mengiyakan. Kami menunggu pengecekan barang selesai. Setelahnya barulah melangkahkan kaki menuju parkiran bandara. Di mana mobil kami sudah menunggu dengan setia. Dan seperti biasa, koper-koper kami sudah ada yang membawakannya.
Tuan, jangan pernah tinggalkan aku.
Aku berpegangan tangan dengannya, tanpa perlu membawa ini dan itu. Dia benar-benar memanjakanku. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk pergi darinya. Dia sudah menunjukkan rasa di hatinya padaku. Tapi, entah kenapa dia belum juga menyatakan cinta. Rasanya sebal tapi ya mau bagaimana.
Tak tahu kenapa aku sudah berani menunjukkan jika dia milikku. Aku tidak ingin kehilangannya yang begitu sempurna di mataku. Kalau bisa aku ingin ikut ke mana saja dia pergi. Aku ingin selalu bersamanya yang sebentar lagi akan menjadi pakaianku.
Tak beberapa lama, supir segera melajukan mobilnya menuju hotel yang jaraknya sekitar satu kilometer perjalanan. Sebuah hotel bintang tiga dengan fasilitas yang hampir menyaingi bintang lima. Aku pun merebahkan kepala di pundak calon suamiku sambil menunggu sampai ke sana. Tak lagi malu menampakkan kemesraan ini di hadapan Jack dan keluarganya.
Setengah jam kemudian...
Kami sarapan pagi bersama di restoran hotel. Tapi istri dan kedua anak Jack tidak ikut. Hanya ada aku, tuanku dan juga Jack di depan meja makan yang sudah tersedia makanan berkuah bumbu sedap. Sepertinya memang sengaja dibiarkan tidak ikut oleh Jack. Tuanku juga terlihat tidak keberatan.
"Nanti aku dulu yang datang ke rumah Ara. Kau tetap di sini bersama istrimu, Jack." Tuanku memberi tahu.
"Apakah Tuan yakin berpergian hanya berdua?" Jack seperti mengkhawatirkan kami.
__ADS_1
"Tenang, Jack. Kita sudah punya pemandu wisatanya. Dia tidak akan mungkin menyasariku." Tuanku menoleh ke arahku.
Sontak aku tersenyum, tertunduk malu karenanya. Dia seperti memercayakan petunjuk arah kepadaku. Aku jadi tidak enak sendiri sampai lupa menagih gajiku padanya. Ya, sampai sekarang aku belum mendapatkan gajiku. Mungkin dia lupa atau ingin dipinta.
"Nanti kita rental mobil saja, Tuan. Mau?" tawarku.
"Iya. Terserah Nyonya mau apa, aku mengikut saja," jawabnya yang seketika membuatku tersipu malu, merona sendiri.
Dia tersenyum sampai memperlihatkan gigi-gigi putihnya. Jack pun terlihat tertunduk menahan tawa karena perkataan tuanku. Baru kali ini aku bisa melihat Jack sebahagia ini. Biasanya dia terlihat kejam dan sadis sekali. Mungkin memang bawaan pekerjaannya.
Benarkah sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya?
Rasanya masih sulit dipercaya jika aku akan menjadi istrinya. Aku ini hanya gadis miskin yang berjuang melawan takdir dengan usaha tidak seberapa. Tapi mungkin Tuhan amat menyayangiku sehingga DIA memberikan jalan kehidupan yang berbeda dari manusia lainnya. Dan aku amat mensyukurinya.
Kupegang gelang pemberian dari nenek itu sambil menikmati santap pagi bersama tuanku dan juga supir pribadinya. Seketika aku ingin bertemu kembali dengannya. Ingin menanyakan fungsi lain dari gelang yang ada di pergelangan tanganku ini.
Nenek, terima kasih. Kalau bertemu, aku akan menyerahkan setengah gajiku padamu. Terima kasih atas bantuanmu sehingga aku bisa bertemu dengan pangeran yang dermawan ini.
Mentari terbit begitu indah, seolah ikut merestui perjalananku pulang ke rumah. Tak tahu apa yang akan terjadi nantinya, aku sudah rindu ibuku. Aku ingin memperkenalkan calon suamiku padanya. Dan aku ingin melihat air mata kebahagiaan dari wajahnya. Aku ingin menikah segera.
Ara amat bahagia setelah rasa sesak melanda dada. Pertengkaran yang terjadi dan tak kunjung jumpa membuat Ara menyadari jika perasaannya amat besar kepada Rain. Begitu juga dengan Rain yang menginginkan hari pernikahan itu segera tiba dan prosesnya berjalan lancar tanpa kendala. Hanya tinggal menunggu dua minggu lagi saja altar pernikahan itu akan segera dihamparkan.
Mereka lekas-lekas menyelesaikan sarapannya lalu bersiap menuju ke sebuah gubuk yang ada di pinggiran kota. Rain akan menyewa mobil beserta supirnya untuk mengantarkan Ara pulang ke rumah. Entah bagaimana jadinya saat sang ibu melihat calon menantunya yang amat rupawan. Semoga saja semuanya berjalan lancar dan tanpa penghalang.
__ADS_1