
"Nona, jika tidak selesai hari ini, bisakah kita berkemah di seputaran telaga?" Pangeran meminta. Raut wajahnya terlihat amat cemas.
Seketika itu Ara mengerti apa yang dimaksudkan pangeran. Namun, ia merasa keberatan untuk memenuhi permintaannya. "Semoga tidak sampai petang prosesi pemandiannya, Pangeran. Aku sedang mengandung, tidak baik jika di luar malam-malam." Ara memberi pengertian kepada pangeran.
Pangeran pun mengangguk pelan. Ia tersadar jika terlalu memaksakan kehendaknya kepada Ara. Rain juga segera tersadar jika percakapan kali ini terasa canggung karena istrinya menolak halus permintaan pangeran.
"Pangeran, Tabib Hu mengatakan jika proses penyembuhannya hanya dengan memandikan nona di sekitar telaga. Itu berarti kita tidak perlu sampai bermalam di sini. Istriku juga dibantu banyak pelayan perempuan untuk memandikannya. Jadi aku rasa Pangeran tidak perlu terlalu khawatir. Tiga puluh pelayan wanita yang dibawa, aku rasa sudah cukup untuk membantu proses pemandiannya." Rain menenangkan pangeran.
Ternyata Pangeran Agartha tidak tanggung-tanggung membawa pelayan perempuan untuk membantu prosesi pemandian Lily. Ia memerintahkan tiga puluh pelayan untuk membantu Ara memandikan gadisnya. Sesuai dengan instruksi yang diberikan Tabib Hu. Namun, nyatanya ia masih saja khawatir jika prosesi akan berjalan lambat. Padahal belum sama sekali dilakukan. Mereka juga masih berada di perjalanan.
Pangeran, aku mengerti perasaanmu. Tapi aku sedang mengandung. Kulakukan saja semampuku ya. Jadi tolong jangan memberatkanku. Aku bisa kepikiran.
Ara yang sedang hamil merasakan apa yang pangeran rasakan. Tapi, tentunya ia lebih mementingkan janin yang ada di dalam kandungannya. Menolong itu harus, tapi sebagai seorang ibu lebih harus mementingkan keselamatan bayinya. Karena malam-malam di luar memang tidak baik bagi seorang ibu hamil. Baik secara kesehatan maupun spiritual.
"Maafkan aku, Nona, Tuan Rain. Aku terlalu mencemaskan keadaan Lily." Pangeran tampak tidak enak hati.
Ara dan Rain pun mengangguk. Mereka mengerti perasaan pangeran saat ini.
Tidak seharusnya aku begini terhadap tamuku. Aku sudah memaksakan kehendak kepada mereka. Oh, Lily. Lekaslah tersadar. Aku menunggumu di sini.
__ADS_1
Pangeran Agartha menyadari jika ketenangannya mulai terganggu setelah tabib memvonis kondisi Lily saat ini. Yang mana keterangan dari Tabib Hu amat mengejutkannya waktu itu. Pangeran pun berharap Lily bisa segera disembuhkan sebelum terjadi sesuatu yang lebih parah lagi.
"Keadaannya amat buruk, Pangeran. Diduga nona dipaksa meneguk racun secara berkelanjutan. Kondisinya amat lemah saat ini. Dia hanya mampu bertahan beberapa hari saja. Jika tidak lekas melakukan tindakan, nyawanya bisa melayang karena racun itu terus menggerogoti tubuhnya."
Pangeran Agartha teringat dengan perkataan Tabib Hu tentang Lily. Sehingga hal itulah yang membuat dirinya amat cemas. Tabib Hu menduga jika Lily dipaksa meneguk racun secara berkelanjutan. Pangeran pun tidak habis pikir jika hal itu sampai benar terjadi. Tentunya ia tidak akan tinggal diam terhadap seseorang yang berani menyakiti gadisnya. Pangeran Agartha akan menindak tegas orang yang melakukannya.
Beberapa saat kemudian...
Rombongan istana akhirnya sampai di tepi danau, tempat pertama kali Ara dan Rain datang ke Agartha. Para pelayan perempuan pun segera turun dari kereta kudanya untuk menuju telaga seribu warna. Mereka harus melewati beberapa ratus meter untuk sampai ke sana. Sedang Lily digendong langsung oleh pangeran sendiri. Pria berjubah hitam itu tampak amat bersungguh-sungguh untuk membantu menyembuhkan Lily. Hal itu tentu saja membuat hati Ara berempati atas ketulusannya terhadap gadis itu.
Perbedaan kasta ternyata tidak menyurutkan kedua insan untuk saling mencinta. Cinta yang belum sempat terucapkan memberi kekuatan agar bisa segera langsung diungkapkan. Dengan kedua tangannya sendiri pangeran menggendong Lily menuju telaga seribu warna. Sedang beberapa pasukan dan prajurit segera berjaga di sekitar. Para pelayan perempuan pun berbondong-bondong menuju tepi telaga bersama calon rajanya. Sedang Ara dan Rain tampak berada di rombongan paling belakang bersama Tabib Hu.
"Masih, Tabib Hu. Tapi aku sedikit ragu untuk melepas benda ini dari rambutku." Ara teringat dengan pesan nenek pemberi gelang agar tidak melepas tusuk konde emas pemberian darinya, apapun yang terjadi.
Tabib Hu seperti mengerti keraguan Ara. "Anda tenang saja, Nona. Benda itu masih berada di dalam genggamanmu. Aku hanya meminta untuk menekan beberapa titik di tubuh gadis itu. Karena setahuku, jika memang ada racun yang mengendap, maka racun itu akan keluar dengan sendirinya. Sayangnya aku tidak tahu pasti sampai berapa lama gadis itu mampu bertahan." Tabib Hu mengungkapkan.
Ara pun merasa miris mendengar keadaan Lily.
"Tabib Hu, setelah semua racun keluar dari tubuhnya, apakah dia bisa segera langsung dimandikan?" Rain bertanya. Ia juga ingin tahu.
__ADS_1
Tabib Hu mengangguk. "Ya, bisa. Tapi ada baiknya jika kita menunggunya beberapa saat. Biarkan tubuhnya bereaksi terhadap benda itu. Penglihatanku mengatakan benda itu bukanlah sembarang benda. Dia memiliki spektrum warna yang begitu indah jika dilihat dengan mata ke tiga. Tidak ada salahnya jika kita mencoba." Tabib Hu menuturkan.
Ara pun mengangguk mendengarnya.
Tabib Hu benar. Nenek bilang melawan kekuatan juga harus dengan kekuatan. Itu berarti benda ini memiliki fungsi lain yang tidak kuketahui. Dan sekarang aku akan membuktikannya sendiri.
Ara menyadari apa yang dikatakan oleh Tabib Hu adalah benar. Ia juga akan membantu sekuat tenaga apa saja yang bisa ia lakukan untuk kesembuhan Lily. Ara mengingat kembali titik-titik apa saja yang harus ia tekan agar racun di dalam tubuh Lily bisa dikeluarkan dengan cepat. Tabib Hu telah mempraktikkannya kepada Rain tadi.
Kini tubuh suaminya itu tampak lebih segar dan bertenaga setelah mendapatkan totok tubuh dari Tabib Hu. Rain juga sempat memuntahkan cairan bening dari dalam lambungnya yang diduga sisa-sisa dari sari teh penaik gelora. Dan kini suami dari Ara itu terlihat lebih sehat dan bugar. Tidak hanya itu, Rain juga lebih bergairah dan fokus terhadap keadaan sekitar.
Beberapa ratus langkah akhirnya dilewati oleh rombongan istana. Satu per satu dari mereka memasuki pintu yang lebih mirip seperti goa kecil. Pangeran kemudian merebahkan Lily di atas karpet yang telah disediakan pelayan istana. Namun, Lily direbahkan dengan berbaring ke kanan menghadap ke telaga, sesuai petunjuk yang diberikan Tabib Hu. Hingga akhirnya tepi telaga seribu warna itu dipadati oleh penghuni istana. Ara pun memulai proses pengobatannya.
"Semangat Sayang! Kau pasti bisa!" Rain memberi semangat kepada istrinya.
Sang istri pun mengangguk. Kain sutera putih lalu dihamparkan untuk menutupi proses pengobatan dari penglihatan kaum pria yang ada di sana. Ara pun dengan segera berlutut lalu melepas tusuk konde yang ada di rambutnya. Saat itu juga tusuk konde itu mengeluarkan sinarnya.
Ini?!
Ara terpana. Begitu juga dengan puluhan pelayan perempuan yang sudah siap membantu prosesi pengobatan selanjutnya. Ternyata tusuk konde yang diberikan nenek pemberi gelang itu benar-benar berfungsi nyata. Ara pun meminta bantuan kepada pelayan untuk melepas gaun yang Lily pakai. Sehingga kini Lily hanya mengenakan kemben di bagian atasnya.
__ADS_1