
“Aku tidak punya alasan untuk tetap di sini. Ini bukan rumahku.” Ara melangkahkan kakinya menuju pintu.
“Sekali lagi kau melangkah, aku tidak akan segan untuk menembakmu dari sini!” Rain benar-benar kesal karena Ara berniat meninggalkannya.
Bukan kata itu yang ingin Ara dengar dari Rain. Bukan ancaman yang ingin ia rasakan saat ini. Hatinya terluka tapi Rain tidak kunjung menyadarinya, sehingga bertambah deraslah air mata yang jatuh membasahi pipinya. Ia terisak dalam kesedihannya sendiri.
“Sedari awal kau memang ingin menembakku, bukan? Nyawaku pun tidak ada harganya di matamu, apalagi hatiku. Lalu buat apa kau menahan kepergianku?” Ara masih membelakangi Rain.
Rain terdiam, ia mencoba mengatur ulang napasnya. Emosinya tidak stabil saat ini.
“Jika memang kontrak kita belum berakhir, aku akan menyelesaikannya segera. Tapi, izinkan aku untuk menenangkan hati ini terlebih dahulu. Jika kau masih juga keberatan, maka tembaklah aku sekarang.” Ara pasrah, benar-benar pasrah dengan keadaan.
Sang gadis tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi prianya yang kini diselimuti amarah. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju pintu, pasrah jika Rain benar-benar akan menembaknya. Ia pun bergegas keluar dari apartemen dengan beruraian air mata. Namun, ternyata ucapan rain hanya sebatas gertakan saja. Ia tidak benar-benar menembak Ara.
Aku murahan? Sebegitu rendahkah kau menilaiku, tuan?
Sang gadis berlari menuju lift gedung ini. Ia mengusap air mata dengan lengan bajunya sendiri. Ia lewati detik demi detik di dalam lift seorang diri.
Harusnya aku tidak mau diciummu, tidak mau disentuh olehmu. Sekalipun aku murahan, aku masih mempunyai harga diri.
Sesampainya di lantai dasar, ia segera keluar dari lift, berlari entah mau ke mana. Ia hanya mengikuti langkah kakinya saja. Sedangkan Rain...
Sang penguasa terlihat kesal. Apa yang ada di hadapannya ia tendang begitu saja. Dan kini ia menopang tubuh dengan satu tangannya ke dinding ruangan. Ia mencoba mengatur ulang napasnya yang memburu.
Dia memang sengaja melakukan hal ini untuk menghindariku? Apa dia tidak peduli dengan perasaanku? Semua yang telah kulakukan untuknya? Dia meninggalkanku begitu saja. Dia…
Rain kemudian duduk di sofa. Ia mengusap kepalanya sendiri. Hatinya teramat kesal saat ini. Ara seakan tidak memedulikannya dengan pergi begitu saja, meninggalkan dirinya sendirian di apartemen.
Kepalaku sakit sekali. Argghhh!
Rain menyandarkan punggungnya di sofa. Ia pun tersadar jika Ara pergi tidak membawa apa-apa. Ponsel pemberian darinya, kartu kreditnya, bahkan tas kuliah juga ditinggalkan begitu saja di atas meja.
“Kenapa kau menyebalkan sekali, Ara?! Kenapa?!” Rain marah sendiri.
__ADS_1
Kini sang penguasa terdiam dalam sepi. Ia tidak tahu di mana gerangan Ara berada. Laju napasnya masih tidak beraturan karena rasa cemburu yang membakarnya. Ya, Rain cemburu melihat Ara dipeluk pria lain. Walau Ara sudah menjelaskan kronologi yang sebenarnya, tapi tetap saja Rain berpikir jika Ara mengkhianatinya. Hingga tanpa sadar ia mengucapkan sebuah kata yang membuat hati Ara amat terluka.
Rain menerima lembaran foto saat Ara didekap oleh pria yang menolongnya dari pengendara motor yang melaju kencang waktu itu. Namun, yang Rain lihat Ara berpelukan mesra dengan pria itu. Ia tidak dapat berpikir jernih sehingga rasa cemburu membuat amarahnya tak terkendali.
Di lain tempat…
Ara berjalan jauh menuju air mancur Kota Dubai. Sesampainya di sana ia segera mencari kursi untuk duduk. Rasa lelah sehabis berlari membuatnya hampir kehilangan udara.
Kini sang gadis duduk di kursi taman yang menghadap ke air mancur Kota Dubai. Kursi panjang bercat putih itupun dapat membantunya mengambil udara dengan benar. Perlahan laju jantungnya berangsur-angsur kembali normal.
Dilihatnya pemandangan air mancur di sore hari. Para pejalan kaki pun satu per satu terlihat mulai mendatangi taman. Kini Ara tidak perlu merasa sendiri karena dapat melihat orang yang lalu-lalang. Ia pun menggulung rambutnya lalu mencoba melihat ke sekeliling taman. Rasa haus mengusik tenggorokannya dan memaksa untuk segera meminum air. Tapi, ia tidak membawa apapun ke sini. Ia tidak mempunyai uang untuk membeli minuman.
Angin sore semakin membuatnya dingin. Ia lantas mengusap-ngusap kedua tangannya agar merasa lebih hangat. Ia tatap langit yang terang sambil membayangkan wajah pria yang dicintainya. Saat itu juga air mata jatuh membasahi pipinya. Ara menangisi Rain.
Tuan, aku memang gadis miskin. Tapi aku mempunyai cinta untukmu. Jikalau ini pun tidak berharga, mungkin lebih baik aku kembali saja. Aku tidak punya alasan lagi untuk bertahan di sini. Aku seorang diri di negeri mewah ini.
Ara terisak. Dadanya kembali sesak. Ia pun mengusap air matanya yang jatuh sambil tertunduk. Tak menyangka jika Rain akan menyakiti hati dan perasaannya. Padahal ia sudah amat jujur dengan apa yang terjadi.
Semilir angin sore membuat Ara mengantuk di kursi taman seorang diri. Ia pun merebahkan punggungnya sambil memejamkan kedua mata. Tak lama seseorang datang menghampirinya. Seorang pria berkemeja biru metalik. Pria itu duduk di kursi yang sama dengan Ara, tetapi berjauhan dari sang gadis.
“Ada seorang gadis duduk sendiri di taman yang mulai ramai.” Pria itu mencoba bicara.
Sontak Ara tersadar jika ada pria di dekatnya. Ia lantas menoleh ke sebelah kiri di mana pria itu berada. Dan ternyata, ia menemukan seseorang pria yang pernah dijumpainya.
“Kau?” Ara tak percaya jika akan bertemu lagi dengan pria itu.
“Bukan suatu kebetulan jika kita kembali dipertemukan,” kata pria itu seraya menoleh ke Ara.
“Em…” Ara menegakkan duduknya.
“Kau sendirian?” tanya pria itu lagi.
“He-em.” Ara mengangguk pelan.
__ADS_1
“Kau terlihat lelah sekali, Nona. Mungkin ada yang bisa kubantu?” Pria itu menawarkan.
Ara menoleh, memperhatikan pria yang duduk di ujung kursinya. Pria yang bersikap biasa, namun sesekali tersenyum kepadanya. Ara pun seperti mendapat hiburan di kala kesedihan yang melanda. Ada seseorang yang datang dan mengajaknya bicara.
“Em, aku ….” Ara ingin mengungkapkan jika ia kehausan.
Pria itu melihat Ara dengan saksama. Namun, Ara terdiam, tidak jadi melanjutkan ucapannya. Ia merasa segan jika harus bilang membutuhkan air minum.
“Nona?” Pria itu masih menunggu Ara bicara.
“Em, aku … aku haus, Tuan.” Ara malu-malu mengatakannya.
Sontak pria itu terkejut. Astaga, ternyata dia haus?!
Pria itu segera berdiri dari duduknya. “Tunggu sebentar. Aku mempunyai air minum untukmu.”
Pria itu beranjak pergi, menuju mobilnya yang di parkirkan di tepi jalan taman kota. Ara tertegun melihat pria berkemeja biru yang bertemu kembali dengannya. Perkataan pria itu pun kembali teringat di pikirannya, jika tidak ada yang namanya kebetulan. Dan Ara pun memercayainya.
…
Di lain tempat sang penguasa tampak gelisah karena Ara tidak kunjung ditemukan. Ia mencari di mana keberadaan gadisnya dengan mengendarai mobilnya sendiri, sambil melihat ke arah kanan dan kiri. Menurut perhitungannya, Ara tidak akan jauh-jauh dari kawasan apartemen sehingga ia mengendarai mobilnya dengan pelan.
Dia ke mana? Kenapa tega sekali membuatku khawatir?!
Amarahnya kini sudah mereda. Namun, rasa khawatir serta rindu itu mulai menjadi satu di hatinya. Kini ia kalang-kabut sendiri mencari keberadaan gadisnya. Rain tidak ingin kehilangan Ara.
Dia tidak membawa ponsel. Hukuman apa yang harus kuberikan padanya?
Rain berpikir sambil terus mengendarai mobilnya dengan pelan. Tiba-tiba terlintas di pikirannya yang ingin ke taman kota. Ia lantas berbelok arah, melajukan mobilnya menuju taman yang ada di dekat air mancur Kota Dubai.
Biasanya wanita suka menyendiri di tempat-tempat yang asri. Mungkin dia berada di sana sekarang.
Rain melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia berharap dapat menemukan Ara sebelum sampai ke taman kota. Rain merindukan gadisnya. Tapi sayang, ia tidak mau mengakui hal itu. Sampai saat ini pun ia belum menyadari apa kesalahannya, mengapa Ara sampai pergi meninggalkannya.
__ADS_1