Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Headache


__ADS_3

Sementara di kantor Rain…


Di waktu bersamaan Rain sedang berbincang bersama Owdie. Keduanya duduk di sofa tamu ruangan dengan ditemani beberapa minuman kaleng dan makanan ringan. Wajah Owdie pun tampak berbeda kali ini. Ia serius mendengarkan setiap cerita yang disampaikan oleh Rain.


"Jadi Ro mengambil kesimpulan jika ada yang berniat jahat pada Ara?" Owdie amat antusias menanggapi cerita Rain.


"Ya. Aku rasa begitu. Aku juga sependapat dengannya." Rain mengangguk sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.


"Hei, Rain. Kau terbawa cemburu. Harusnya saat melihat Ara bersama pria itu, kau jangan pergi. Tanyakan langsung bagaimana kejadian yang sebenarnya kepada pria itu agar semua jelas. Satu-satunya saksi mata atas kejadian itu adalah pria tersebut." Owdie menyesali sekap Rain.


"Hah, aku pusing sekali waktu itu. Baru kali ini merasa hatiku seperti terbakar." Rain mengusap kepalanya sendiri.


"Ya, ya, aku mengerti. Lain kali janganlah terbawa emosi. Akhirnya apa yang kau dapat? Ara menghindar darimu, bukan?" Owdie menyilangkan kedua tangannya.


"Lalu aku harus bagaimana?" Rain menoleh, meminta saran kepada Owdie.


"Em ...." Owdie pun berpikir.


"Aku tidak tahan lama-lama didiamkan olehnya. Rasanya ingin kuseret saja dia ke pelaminan." Rain menuturkan.


"Haaa?!!" Seketika Owdie terkejut.


"Aku serius dengannya, Owdie," kata Rain lagi.


"Tunggu-tunggu. Ara yang kau maksud ini gadis yang aku temui waktu itu?" Owdie belum menyadari Ara yang mana.


"He-em." Rain pun mengangguk.


"Astaga, Rain ...." Owdie menepuk jidatnya sendiri.


"Hei, kenapa?" Rain bingung melihat saudaranya.


"Kau benar-benar serius dengannya?!" tanya Owdie tak percaya.


"Iya. Memang salah?" Rain bingung sendiri.

__ADS_1


"Rain, dia masih kecil. Seleramu suka yang polos-polos apa?" Owdie meneguk kaleng sodanya.


"Em, entahlah." Rain juga tak mengerti.


"Dia itu masih terlalu dini untuk kau jadikan istri. Dia belum berpengalaman. Kau harus banyak mengajarinya nanti." Owdie terkekeh sendiri.


"Aku tidak merasa keberatan." Rain menaikan kedua bahunya.


"Hahahaha." Owdie pun tertawa lepas di hadapan Rain. "Kau terlalu serius dengan pekerjaan sampai tidak ada waktu untuk mencari pasangan. Maka sampai dicap gay oleh banyak orang. Santailah sedikit." Owdie menyarankan.


"Hah ...." Rain mengembuskan napasnya dengan berat.


"Ya, sudah. Begini saja. Nanti jika ada waktu luang, aku akan membantumu untuk mencairkan suasana di antara kalian. Masalahnya aku amat sibuk, jadwalku padat." Owdie membuka ponsel lalu menunjukkan jadwal kegiatannya kepada Rain.


"Tapi aku tidak bisa berlama-lama seperti ini. Berikan saran agar hatinya bisa cepat melunak." Rain bak anak SD yang sedang memelas kepada kakaknya.


"Aish, kau ini. Ya sudah. Jika kau kuat, diamkan saja sampai dia capek sendiri. Jika tidak kuat, ajak dia bicara baik-baik. Ucapkan permohonan maaf dengan tulus kepadanya. Kau bisa, bukan?" Owdie menyarankan.


"Aku sudah mencoba, tapi dia malah pergi." Rain pundung sendiri.


"Kau sudah menyatakan rasa cintamu padanya?" Owdie ingin tahu.


"Rain oh Rain!" Owdie lagi-lagi menepuk jidatnya.


"Aku tidak bisa mengucapkan kata itu." Rain tertunduk.


"Kenapa? Katakan saja, maafkan aku, aku mencintaimu. Beres, kan?!" Owdie terlihat kesal.


"Aku sudah berusaha mengatakan hal itu, tapi tetap saja seperti tertahan di tenggorokan." Rain curhat.


"Haduh!" Owdie menepuk jidatnya lagi. "Kau ini bagaimana, sih?! Lama-lama aku yang kesal." Owdie meneguk kaleng sodanya sampai habis.


"Aku ... masih butuh waktu." Rain mengungkapkan.


"Butuh waktu sampai dia diambil orang?" Owdie asal bicara.

__ADS_1


"Hei, jangan macam-macam! Aku tidak akan segan menghabisi orang yang mengambilnya!" Sang singa pun terbangun.


"Hah, kau ini. Maunya Ara bersamamu, tapi kata cinta belum juga diucapkan. Nanti kalau dia sudah diambil orang, baru tahu rasa!" Owdie menakuti.


"Sial! Bukannya menenangkanku malah membuatku semakin resah." Rain meneguk minumannya.


"Ya, semua kembali kepadamu. Saranku cuma satu, katakan cinta padanya dengan tulus. Aku yakin hatinya pasti luluh. Bagaimanapun perempuan membutuhkan pernyataan resmi dari prianya bukan hanya sekedar ajakan menikah. Mereka itu ingin dimanja, Rain." Owdie menerangkan.


"Dimanja?"


"Ya, dimanja. Saat kau memberikan kasih sayangmu, mereka akan memberikan hatinya. Tapi, saat kau menyakiti hatinya, seribu tahun mereka akan mengingatnya. Jadi berhati-hatilah dengan hati wanita, Saudaraku." Owdie menepuk pundak Rain.


Rain tertegun dengan semua perkataan Owdie. Hati kecilnya pun membenarkan apa yang Owdie katakan. Seketika rasa sesak karena ucapannya waktu itu menyelimuti dadanya. Ia menyayangkan sikapnya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan Ara ke depannya.


Ara, tolong maafkan aku. Aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Maafkan aku.


Sang penguasa akhirnya mendapatkan dukungan untuk menyatakan rasa cintanya kepada Ara.


Malam harinya...


Suasana malam menyambut akhir pekan tampak ramai. Tidak di jalan, tidak di apartemen, tidak di mana-mana. Semua tempat mulai dipadati para penduduk yang ingin mengisi waktu dengan bersantai bersama teman dan keluarga. Tapi nyatanya hal itu tidak terjadi pada Rain. Ia kini duduk seorang diri di teras luar apartemennya, menunggu Ara pulang dari kampus.


Sang gadis harus menunda waktu kepulangannya karena harus mengikuti seleksi pertama peran Cinderella di kampus. Sedang ia tidak membawa ponsel maupun kartu kredit milik Rain. Sehingga ia menggunakan uang upahan dari kerokan waktu itu untuk naik taksi online. Rain memang sengaja memberikannya kepada Ara sebagai tanda terima kasihnya kepada sang gadis.


"Ara?!"


Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Rain pun segera berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata memang benar Ara lah yang datang dengan wajah capeknya. Ara sendiri berpikir akan kena marah karena pulang malam, sehingga ia lekas-lekas meminta maaf kepada tuannya.


"Maaf, Tuan. Ada kegiatan mendadak di kampus. Maka itu aku baru pulang sekarang." Ara menuturkan, ia bergegas masuk.


Rain terdiam. Ia tidak lagi marah kepada Ara walau sang gadis pulang hampir jam tujuh malam. Ia biarkan gadisnya membersihkan diri terlebih dahulu. Ia sabar menunggu waktu yang tepat untuk berbicara empat mata.


...


Detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewati. Akhirnya sang gadis keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Rain pun melihat bagaimana Ara yang hanya mengenakan handuk kimononya saja. Namun sayang, ia tidak dapat melihat isinya. Tirai penutup lorong mesin cuci itu segera ditarik oleh Ara sehingga Rain tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


Apa aku masuk saja, ya? Biar dia terikat denganku?


Terbesit ide buruk di pikirannya yang ingin mengikat Ara dengan cara kurang baik. Tubuhnya pun seolah-olah bergerak sendiri, melangkahkan kaki mendekati sang gadis yang sedang mengenakan pakaiannya. Dengan jantung berdebar kencang, Rain memberanikan diri membuka tirai itu. Ia bergerak cepat untuk melihat apa yang sedang Ara lakukan.


__ADS_2