Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Rival


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Tepat pukul dua belas siang, Rain mendapat kabar kurang baik hari ini. Media kota ternyata sedang menyorot asal muasal kabar runtuhnya Motel Red Chile fajar tadi. Ia pun mendapat telepon dari banyak pejabat di kota. Sampai-sampai Rain harus mengalihkan panggilan masuknya agar tidak terganggu dengan bisingnya suara telepon.


"Apa sebenarnya yang terjadi?"


Saat ini Rain sedang menemani Ara berbelanja di salah satu kawasan butik yang ada di Kota New York. Sesuai janjinya, setelah memadu kasih ia akan menemani sang istri berjalan-jalan sebelum jam pertemuan tiba. Tapi kini Rain harus disibukkan dengan berbagai macam berita tentang pemberi kabar runtuhnya motel di selatan Kota New York. Dan Rain amat tidak menyukainya.


Rain lantas menelepon seseorang untuk mengendalikan semua ini. Ia menjauhkan diri dari keberadaan Ara yang sedang memilih-milih gaun di butik. Tak lama suara dari seberang pun menjawab teleponnya.


"Tuan?" Suara dari seberang dengan cepat menjawab.


"Clark, cepat kendalikan laju media yang ingin mengetahui identitas istriku. Aku tidak suka ada yang mengekspos tentangnya. Beri mereka peringatan sebelum kesabaranku habis." Rain tampak amat kesal.


"Baik, Tuan. Segera saya kerjakan." Seseorang bernama Clark itu pun mengiyakan permintaan Rain.


"Kutunggu kabar darimu. Secepatnya." Rain menutup teleponnya.


Rain tidak ingin ada yang sampai tahu identitas asli istrinya. Ia dengan kekuasaannya segera menutup laju media yang ingin mengetahui siapa orang dibalik kabar runtuhnya Motel Red Chile. Pergerakan media sangat tidak disukai oleh Rain karena ia merasa urusan pribadinya telah diganggu pihak luar.


Siapa di balik semua ini? Mengapa sangat ingin tahu tentang istriku?


Nama Ara disebut-sebut dalam headline news yang ia lihat pagi ini di layar ponselnya. Ia pun berpikir mengenai siapa orang di balik berita ini. Pastinya tidak banyak yang tahu tentang pernikahannya, selain kedua belas saudaranya sendiri. Rain tidak mengekspos pernikahannya sama sekali.

__ADS_1


"Sayang, ini bagus nggak?"


Tiba-tiba Ara datang memperlihatkan gaun yang dipilihnya. Rain pun segera menyembunyikan ponselnya, ia kembali fokus ke sang istri. Sebisa mungkin ia menutupi apa yang sedang terjadi. Ia tidak ingin Ara tertekan apalagi sampai depresi karena media yang sedang mengincarnya. Rain ingin hidup tenang bersama Ara tanpa ada pengganggu atau pengusik kehidupannya. Dan sebisa mungkin Rain memenuhinya.


Washington DC, pukul tiga sore waktu sekitarnya...


Ara datang bersama Rain ke kediaman Kakek Sam, tempat di mana Rain bersama kedua belas saudaranya dibesarkan. Dan kini mereka baru saja sampai di halaman parkir rumah yang super luas. Rumah bercat putih itu tampak seperti istana yang megah. Beberapa mobil keluaran terbaru pun berbaris rapi di halaman depannya. Menandakan jika saudara seperasuhan Rain sudah tiba di dalam sana.


Ara datang dengan mengenakan gaun putih berlengan panjang. Pernak pernik menyerupai permata pun menghiasi bagian atas gaunnya. Ia tampak anggun dengan setelan sepatu perak setinggi lima senti. Ia juga terlihat begitu elegan dan mewah. Tentunya hal ini tidak terlepas dari bantuan sang suami yang setia menemaninya, berkeliling mencari busana untuk datang ke pertemuan. Siapa lagi kalau bukan Rain Sky. Pejabat pertambangan Amerika yang diutus untuk bekerja sama dengan negara-negara di Timur Tengah.


Rain sendiri mengenakan setelan jas biru dengan kaca mata hitam sebagai aksesorisnya. Ia tampak elegan dan mewah dalam balutan jam tangan yang hanya dimiliki oleh beberapa orang di dunia. Ditambah sepatu hitam yang mengkilat, keluaran terbaru dari pabrik sepatu nomor satu di dunia. Rain seperti tidak bisa terkalahkan lewat penampilannya. Sang istri pun dengan mesra menggandeng tangan Rain masuk ke dalam manshion tersebut.


Aku tidak boleh gugup. Hari ini suamiku akan mengenalkan aku dengan keluarganya. Aku harus bisa mengambil hati sang kakek agar kesan pertama bisa diterima dengan baik. Karena sekarang aku juga sudah menjadi cucunya.


Ara melangkahkan kaki masuk ke dalam manshion. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat banyaknya pelayan yang berbaris rapi untuk menyambut kedatangan mereka. Ara pun menghitung jumlah pelayan tersebut. Dan ternyata...


Tidak tanggung-tanggung. Lima puluh orang pelayan wanita menyambut kedatangan dirinya dan Rain saat tiba di manshion ini. Seketika Ara pun menyadari betapa kaya kakek suaminya, sampai-sampai mempunyai lima puluh orang pelayan.


Mungkin inilah yang dinamakan kerajaan sesungguhnya.


Tak lama ia pun tiba di sebuah ruangan besar yang terdapat hamparan karpet merah, mengarah ke tangga lantai dua manshion ini. Lampu kristal cantik pun menggantung di atap plafonnya. Tidak hanya satu, melainkan tujuh lampu kristal yang letaknya menyerupai bentuk bintang, dengan satu lampu hias terbesar di tengahnya. Ara pun seperti mengingat sesuatu.


Logo ini? Seperti bintang dari dua segitiga yang digabungkan?

__ADS_1


Ara menelan ludahnya. Namun, sebisa mungkin ia bersikap biasa-biasa saja. Sampai akhirnya langkah kakinya terhenti di saat melihat pria tua berusia sekitar delapan puluh tahun turun dari tangga bersama empat wanita. Pria itu menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.


Apa itu kakek Rain?


Saat pria itu turun, para pelayan menghamparkan karpet merah untuknya. Kelima puluh pelayan pun membungkukkan badannya saat pria tua itu berjalan melewati mereka. Dan para pelayan tidak akan menegakkan badan sampai si pria tua itu melewati karpet merah tersebut. Hingga akhirnya, sang pria tua itu berjalan mendekati Rain. Sontak jantung Ara berdebar bukan main.


"Rain?" Pria tua itu menoleh ke Ara, seperti ingin diberi tahu siapa wanita yang bersama Rain.


"Dia istriku, Kek." Rain menjawabnya dengan lugas.


Seketika raut wajah pria tua yang disebut kakek oleh Rain itu mengerutkan dahinya. Ia memandangi Ara dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Ara, ini kakek. Ucapkan salam padanya." Rain meminta.


Rain tahu jika Ara tegang berada di situasi ini. Namun, sebisa mungkin ia mengondisikan keadaan agar istrinya dapat bersikap santai. Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Ara selama bersamanya.


"Salam, Kek. Namaku Ara." Ara tersenyum kepada pria tua itu.


Pria tua yang disebut kakek oleh Rain itu diam saja, tidak menjawab apa-apa. Dia kemudian berbalik lalu berkata, "Semua sudah berkumpul di halaman belakang," katanya lalu berjalan menuju sebuah pintu besar yang ada di ujung sana.


Rain mengangguk pelan. Ia kemudian mengajak Ara agar ikut ke belakang. "Jangan cemas, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja." Rain mengusap lengan istrinya agar tenang.


Ara pun mengangguk. Ia kemudian mengikuti suaminya menuju halaman belakang rumah besar ini. Tanpa menyadari jika ada seorang pria berambut pirang yang sedang melihat mereka dari lantai tiga rumah. Ialah Nick, saudara seperasuhan Rain. Ia melihat dengan jelas bagaimana rupa istri saudaranya yang dikabarkan bisa melihat kejadian di masa depan.

__ADS_1


Dia lumayan juga ternyata. Darimana Rain bisa mendapatkan wanita berwajah indo itu?


Nick penasaran dengan Ara. Ia kemudian turun dari lantai tiga rumah, berjalan melewati anak tangga. Rupa-rupanya ia baru saja selesai bercakap-cakap dengan sang kakek sebelum Rain datang. Dan akhirnya, pertemuan tahunan inipun dimulai di halaman belakang rumah keluarga besar. Ara juga dikenalkan oleh Rain kepada saudara-saudaranya.


__ADS_2