Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Surprise


__ADS_3

Aduh, ini gawat. Kalau dia mengetahui keberadaanku di sini, bisa-bisa aku disekap lagi di dalam kamarnya. Aku kan sudah bersuami. Rainku di sana pasti amat mengkhawatirkanku jika lama tak kembali.


Aku berpikir keras bagaimana cara agar bisa kembali. Aku juga tidak tahu mengapa bisa berpindah secepat ini. Apakah ragaku masih di sana sedang jiwaku di sini? Sungguh aku tak mengerti. Yang kutahu aku sedang melatih alam bawah sadarku dengan bermeditasi. Tapi entah mengapa malah nyasar ke sini.


Aku harus cepat pergi. Tapi, pergi ke mana? Aku tidak tahu jalan pulang. Jika tertangkap lagi, habislah aku. Kemarin saja dia sudah menunjukkan sisi mesumnya. Bisa-bisa nanti malah...


Arrrghh. Pikiranku tiba-tiba panik. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku ingin lari tapi tidak tahu harus lari ke mana. Dan di saat kepanikanku, terdengar langkah kakinya yang kian mendekati pohon tempat ku bersembunyi. Perlahan tapi pasti jaraknya semakin dekat saja. Jantungku pun berdetak tak karuan karena harap-harap cemas bilamana dia mengetahui keberadaanku. Namun, tak lama kemudian langkah kakinya terhenti. Kuintip dirinya dan ternyata dia merebahkan diri di atas rerumputan bukit.


Ini aneh sekali.


Lantas aku mencoba mengintipnya lebih jelas dari balik dedauan pohon tin ini. Kulihat dia menatap langit sambil merebahkan diri dengan santainya. Sekilas semburat senyum pun tersirat dari wajahnya. Samar-samar tapi aku bisa melihatnya.


"Baru saja bertemu sudah pergi." Dia kemudian berbicara seperti itu.


Eh? Dia membicarakan siapa?


Entah siapa yang dimaksud, aku juga tidak mau tahu. Yang kuinginkan saat ini adalah kembali ke ragaku, jika benar jiwaku telah terpisah lagi dengan tubuhku.


"Dia manis dan juga ... membuat orang penasaran," katanya lagi.


Seketika aku bertanya-tanya tentang siapa yang dimaksud olehnya. Apakah yang dia maksud itu adalah aku?


"Hah ... wanita memang susah dimengerti. Datang dan pergi sesuka hati. Padahal baru saja bertemu. Baru kali ini aku bertemu dengan wanita asing. Tapi kenapa dia pergi secepat ini? Apakah dia tidak memikirkan bagaimana perasaan yang ditinggali." Dia berkata lagi.


Wanita? Aku?!


"Sudahlah. Jika jodoh tidak ke mana. Beristirahatlah Rain." Dia berkata kepada dirinya sendiri.


Aku merasa heran dengan hal yang diucapkannya. Aku juga tidak tahu perbedaan waktu antara Agartha dan tempat ini. Tapi mungkin saja tusuk konde yang nenek pemberi gelang berikan padaku bisa mengantarkanku ke suatu tempat yang pernah kudatangi. Mungkin hal ini sejenis Hiraishin jika di anime Naruto. Yang mana Hokage ke tiga dapat menggunakannya sebagai alat teleportasi. Tapi jika di diriku harus tetap melalui meditasi atau pelatihan alam bawah sadar terlebih dahulu. Tidak bisa melalui jalan lain.


Bagaimana cara agar dapat kembali?

__ADS_1


Lantas aku mengingat-ingat, cara apa yang bisa kulakukan agar bisa kembali ke Agartha. Tak lama berselang terbesit untuk mengelilingi pohon tin ini sebanyak tujuh kali. Karena kemarin saat tersesat, setelah tujuh kali putaran, aku bisa berpindah tempat. Kali-kali saja dengan ini aku bisa kembali.


Baiklah.


Aku memberanikan diri keluar dari dalam rerimbunan pohon tin. Aku menggerakkan kakiku pelan-pelan agar tidak kedengaran olehnya. Posisi pria itu tidak terlalu jauh dariku, sehingga sebisa mungkin kuredam suara langkah kaki ini. Aku pun mulai mengitari pohonnya.


Beberapa saat kemudian...


Satu, dua, tiga putaran berhasil kulakukan tanpa ketahuan. Dan kini adalah putaran ke empat menuju putaran ke tujuh. Kulihat pria yang mengaku sebagai pangeran itu masih tertidur di atas rerumputan. Aku pun dengan pelan-pelan kembali melangkahkan kaki memutari pohon tin ini. Aku harus cepat kembali ke ragaku.


Aduh, ternyata lelah juga.


Aku sedang mengandung. Walaupun hanya sebatas memutari pohon, tetap saja rasanya lelah sekali. Sehingga aku memutuskan untuk beristirahat sejenak, menghirup udara segar agar bisa kembali mengitarinya. Namun, tiba-tiba saja...


"Rupanya kau bersembunyi di sini." Suara itu terdengar dari arah belakangku.


Gawat!


Apakah aku ketahuan?


Lantas pelan-pelan aku menoleh, melihat siapa gerangan yang berbicara. Rasa-rasanya pria yang sedang tiduran di atas rerumputan itulah yang bicara. Dan ternyata, benar saja. Memang dialah yang bicara.


Astaga! Aku ketahuan ....


Lekas-lekas aku beranjak bangun lalu memundurkan langkah kakiku. Aku tidak ingin disekap lagi di dalam kamarnya. Aku sudah bersuami. Walaupun rupa dan namanya sama, tetap saja tidak boleh dekat-dekat dengannya. Karena aku sudah menjadi milik Rainku yang ada di sana. Sedang pria ini entah Rain dari mana.


"Aku mencarimu. Mengapa kabur dari rumahku?" tanyanya seraya berjalan santai ke arahku.


"Berhenti! Berhenti! Jangan dekati aku!" seruku padanya.


"Kenapa?" Dia bertanya sambil memperhatikanku. Sepertinya dia memperhatikan penampilanku kali ini.

__ADS_1


Dasar genit!


"Ternyata kau seorang putri. Apakah kau berasal dari Asia?" tanyanya lagi sambil terus berjalan mendekatiku.


Tatapan matanya menyiratkan hal lain tentang diriku. Dia berulang kali memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku pun jadi risih sendiri padanya.


"Nona." Dia semakin mendekatiku.


Seketika aku semakin takut. "Berhenti! Jangan melangkah lagi!" Aku memperingatkannya.


"Eh? Kau ini kenapa?" Dia membelalakkan matanya, mungkin merasa heran karena aku memintanya untuk berhenti melangkahkan kaki.


"Kau di situ saja! Jangan dekati aku! Aku sedang hamil!" seruku dengan jarak pandang sekitar tiga meter darinya.


"Hamil?!" Dia terbelalak kaget. "Kita belum melakukan apapun, kau sudah hamil?!" Dia memasang raut wajah amat terkejut.


Astaga ....


Saat itu juga aku menyadari jika pria ini bodoh sekali. Aku tidak tahu harus bagaimana. Dia ternyata menelan mentah-mentah perkataanku.


Aku tidak punya pilihan lain. Aku lari saja.


"Hei, tunggu!"


Aku segera berlari dan dia memanggilku. Namun, aku tidak peduli. Aku lari saja menuruni bukit ini. Kulepas sepatuku lalu menjinjingnya sambil berlari. Tak lama kemudian dia pun bersiul yang entah apa maksudnya. Sedang aku terus saja berlari untuk pergi darinya. Aku tidak mau tertangkap lagi. Apalagi sampai disekap di dalam kamarnya.


Dasar orang gila!


Sambil mengumpat aku terus menuruni bukit ini. Aku tidak ingat lagi jika sedang mengandung anakku. Aku terus saja berlari sejauh mungkin. Namun, tak lama kemudian kudengar laju kuda menuju ke arahku. Kulihat sejenak, dan ternyata dia mengejarku bersama kuda hitamnya. Jantungku pun semakin berdetak tak karuan. Aku takut tertangkap lagi.


Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Aku sudah bahagia bersama Rainku di sana. Kenapa harus bertemu dengan Rain yang ini?

__ADS_1


Tak habis pikir tapi inilah yang terjadi. Aku tak tahu harus apa dan bagaimana. Aku lari saja. Terus lari menuruni bukit ini sambil menjinjing sepatu dengan kedua tanganku.


__ADS_2