Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Quit Playing Games With My Heart


__ADS_3

Menjelang malam...


Aku pulang diantar oleh Taka dengan menggunakan skuter matiknya. Ternyata Taka pergi ke kampus dengan mengendarai skuter matik. Pemuda asal Jepang ini mengingatkanku saat melamar kerja, menaiki ojek saudaraku sendiri.


Dari kampus ke apartemen ternyata lebih cepat jika melewati jalan-jalan kecil. Tak lama kami kemudian tiba di parkiran apartemen tuanku. Taka pun terkejut saat mengetahui di mana tempatku tinggal.


"Wow! Kau tinggal di sini?" tanyanya seraya melihat tingginya gedung apartemen.


"Em, tidak. Aku bekerja di sini," jawabku lalu turun dari skuternya.


"Kau bekerja sambil kuliah, Ara?" Dia bertanya lagi.


"He-em." Aku mengangguk. Kulihat dia tersenyum memandangiku. "Taka, terima kasih. Aku langsung masuk, ya?" Aku berpamitan sambil menyerahkan helmnya.


"Eh, tunggu!" Dia menahan kepergianku.


"Ada apa, Taka?" tanyaku.


"Em, boleh aku meminta nomor ponselmu, Ara?" Dia tiba-tiba menanyakan nomor ponselku.


"Eh, untuk apa?" tanyaku karena sungkan untuk memberi tahunya.


"Kita kan satu kampus, dan kau masih anak baru di sana. Kita bisa berbagi informasi lewat ponsel." Dia menuturkan.


Aku berpikir sejenak, menimbang ucapannya. Memang tidak ada salahnya jika aku memberikannya nomor ponselku. Jika dia macam-macam, tinggal memblokirnya saja.


"Baiklah." Aku mulai menyebutkan nomor ponselku.


Taka dengan cepat mengambil ponsel dari sakunya lalu mengetik nomor yang kudiktekan. Dan akhirnya dia menyimpan nomorku.


"Nomormu cantik sekali. Lima angka kembar. Pastinya nomor ini sangat mahal," katanya lagi.


"Kau bisa saja. Sudah sana pulang! Aku akan bekerja lagi." Aku mengusirnya.


"Em, baiklah. Aku permisi, Ara. Sampai bertemu senin," katanya.


Aku mengangguk.


Kulihat Taka segera menghidupkan skuternya. Dia lalu melaju dari parkiran apartemen ini. Kulihat jam di ponsel juga sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Saat di gedung teater aku sampai lupa waktu. Ya sudah. Aku segera kembali ke apartemen tuanku.


Rasanya tenggorokanku kering.


Karena tak mampu menahan haus, kubeli es krim dulu di toko terdekat. Setelah mendapatkannya, barulah kembali ke apartemen. Menaiki lift sambil menikmati es krim rasa cokelat ini. Dan akhirnya aku bisa melupakan rasa sakit yang terjadi waktu itu. Aku kembali menikmati hidupku.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian...


Aku keluar dari lift lalu berjalan menuju pintu apartemen tuanku. Tak terasa es krim yang kumakan juga sudah habis. Kubuang bungkusnya di tempat sampah lalu meneruskan langkah kaki ini. Sesampainya di depan pintu aku menscan jariku agar pintunya terbuka.


Pintu pun terbuka. Keadaan apartemen masih tampak gelap, sama seperti saat pertama kalinya datang ke sini. Kulihat lampu teras juga belum dihidupkan. Lekas-lekas kulepas sepatu lalu meletakkan di raknya yang ada di dekat pintu. Setelahnya barulah berjalan masuk ke dalam.


Aku mandi saja.


Karena merasa lelah, kulangkahkan kaki menuju lorong mesin cuci. Berniat untuk melepas pakaian sebelum mandi. Namun...


"Sudah berani pulang malam sekarang?"


Tiba-tiba kudengar suara dari arah belakang. Suara yang kukenal dua minggu terakhir ini. Aku pun segera berbalik, melihat ke asal suara.


"Tu-tuan?!"


Kulihat tuanku berdiri di depan pintu teras sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya. Dia mengenakan kemeja putih panjang yang digulung sampai ke siku dan celana jeans hitam. Dia berjalan mendekatiku sambil menghidupkan saklar lampu yang ada di samping cermin.


"Apa yang kau lakukan di luar sana, Ara? Kenapa malam baru kembali?" tanyanya sambil berjalan mendekatiku.


"Tu-tuan, a-aku habis dari kampus," jawabku terbata.


Dia mendorongku ke dinding. Kedua tangannya berada di samping kanan dan kiriku seperti mengunci. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan, aku hanya bisa pasrah saja.


"Jadwal kuliahmu tidak ada yang sampai malam. Apa kau mencoba berbohong padaku?" Dia bertanya sambil mendekatkan wajahnya.


Kuingat benar apa kata Jack yang seperti memberi peringatan agar tidak berkhianat kepadanya. Mungkin Jack tahu sisi amarah dari tuanku sehingga dia memintaku berhati-hati.


"Ara ... kau menyebalkan!" Dia menempelkan dahinya di dahiku.


"Tu-tuan ...."


"Kau tidak menghubungiku sama sekali beberapa hari ini. Kau membiarkanku tidur di luar. Apa kau merasa senang melakukannya?" Dia menatapku dekat sekali.


"Tuan, aku ... aku tidak tahu harus bagaimana," jawabku seadanya.


Dia bergerak cepat ke leherku. "Ah!"


Dia mengecup leherku dengan satu kecupan yang membuat sekujur tubuhku bereaksi. Dia juga memeriksa leherku, seperti sedang mengecek sesuatu.


"Hah ...." Dia kemudian menjauhkan dirinya. "Buatkan aku kopi, Ara," pintanya kemudian.


"Ba-baik, Tuan."

__ADS_1


Segera aku bergegas ke dapur setelah dia melepaskanku. Tas kugantung terlebih dahulu di belakang pintu agar bisa membuatkan kopi untuknya. Aku sungguh takut jika dia berbuat macam-macam padaku. Tapi ternyata, dia hanya mengecup leherku sekali lalu melihatnya.


Apa dia mengecek ada atau tidaknya bekas tanda di leherku?


Sungguh terkadang aku bingung menghadapinya. Aku tidak tahu bagaimana isi hatinya yang sebenarnya padaku. Dia bersikap seperti acuh tak acuh. Tapi, malam ini dia berani mencium leherku. Tanpa kata pamit terlebih dahulu.


Kutuangkan air panas ke dalam cangkir lalu kuaduk kopi dan gula yang sudah bercampur. Setelahnya kubawa segera kopi buatanku ini ke meja makan.


"Silakan Tuan." Aku menyediakan secangkir kopi untuknya.


Kulihat dia sedang mengotak-atik ponsel sambil memasang wajah jutek. Dia melihat ke arahku lalu memberi tanda agar aku duduk di kursi. Aku pun menurut, duduk di sampingnya.


"Apa yang kau lakukan selama aku tidak ada?" tanyanya tanpa menoleh ke arahku.


"Aku mengerjakan tugas harian dan tugas kampus, Tuan." Aku menjawab jujur.


"Kenapa tidak membalas pesanku?" tanyanya lagi.


"Em, itu ... aku bingung harus menjawab apa, Tuan." Aku tertunduk, merasa bersalah.


"Jika aku tidak pulang, apa kau masih tidak menghubungiku?" tanyanya lagi lalu menyeruput kopi yang kubuatkan.


"Em, aku ... sepertinya aku tidak berhak menanyakan keberadaan Anda, Tuan. Aku hanya pembantu di sini." Aku mengatakannya dengan pelan.


Dia segera meletakkan cangkir kopinya. "Apa selama ini aku pernah bilang jika kau pembantuku?" Dia menoleh ke arahku.


Aku menggelengkan kepala.


"Ya Tuhan." Dia mengusap wajahnya, seperti lelah sekali. "Selama ini aku tidak pernah menganggapmu pembantuku, Ara. Aku hanya bilang asisten pribadi. Dan kau tahu arti dari asisten pribadi itu?" tanyanya seperti menahan kesal.


"Ak-aku ... aku hanya berusaha sadar diri, Tuan." Aku tidak berani menatap ke arahnya.


"Hah ...." Dia mengembuskan napasnya.


"Maaf, aku yang salah." Aku mengakui.


Dia tertunduk seperti sedang berpikir. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi seperti menahan ucapannya sendiri. Namun, akhirnya...


"Istirahatlah. Aku juga ingin beristirahat. Sepertinya kita sama-sama lelah." Dia beranjak dari duduknya.


Tuan ....


Ingin sekali aku menahan kepergiannya dari sisiku. Ingin rasanya aku menghambur ke pelukannya untuk melepaskan rindu. Tapi, aku ini perempuan. Tidak baik jika memulai duluan. Jadi kubiarkan saja dia pergi, masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Tuan ... sebenarnya bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya?


Aku beranjak berdiri lalu melangkahkan kaki menuju lorong mesin cuci, berniat mandi. Kucoba melupakan sejuta tanda tanya di dalam hati tentangnya. Berharap suatu hari nanti bisa mengetahui isi hatinya yang sebenarnya padaku.


__ADS_2