
Beberapa jam kemudian...
Langit perlahan-lahan mulai terang. Sang mentari pun ternyata sudah menuju ke puncak singgasananya. Saat ini kulihat jam di dinding sudah hampir pukul sebelas siang. Tapi, suamiku belum juga kembali dari apartemen saudaranya. Entah mengapa.
Ada apa ya? Apa aku harus menjemputnya ke sana sekarang?
Selepas sarapan, suamiku segera berpamitan untuk menemui Owdie yang ada di lantai satu gedung apartemen ini. Tapi, sampai sekarang dia belum juga kembali. Apakah urusan pria sebegitu tertutup sehingga tidak boleh diketahui oleh wanita? Kuakui terkadang suamiku diam-diam merencanakan sesuatu tanpa kusadari. Rasanya ingin sekali bisa membaca pikirannya sehingga tidak perlu bertanya lagi.
Aku pun berdiri di teras apartemen sambil melihat jalan raya yang ada di depan gedung ini. Kutatap perkotaan yang masih sepi karena akhir pekan. Orang-orang biasanya lebih ingin menghabiskan waktu bersantai di rumah bersama anak dan istrinya. Begitu juga dengan handai taulan yang lebih suka berkumpul di rumah bersama keluarga.
Sayang, kok belum kembali sih?
Aku khawatir. Jelas saja khawatir karena suamiku belum juga kembali. Pikiran buruk ikut muncul karena belum ada kabar yang pasti. Kupegang erat-erat ponsel di tanganku lalu ingin meneleponnya. Tapi, rasa itu kutepiskan karena kusadar jika hanya akan mengganggunya. Mungkin dia memang sedang sibuk sekarang.
Sabar Ara. Suamimu nanti juga akan kembali.
Aku mencoba berbesar hati. Sadar diri jika suamiku tidak hanya mengurus diriku dan janin ini. Dia juga mempunyai keluarga dan saudara yang harus ikut diurusi. Sehingga egois rasanya jika selalu meminta waktunya untuk terus bersamaku. Sedangkan dia masih mempunyai keluarga dan saudara. Jadi aku harus lebih belajar lagi untuk merelakan sebagian waktunya.
"Eh, itu?!"
Kutatap jalan raya yang ada di depan gedung apartemen ini. Saat itu juga kulihat seseorang berkemeja hitam keluar dari mobilnya. Rasa-rasanya aku kenal siapa dirinya.
"I-itu ... itu bukannya dosen Lee?!"
__ADS_1
Perawakannya seperti kukenal. Gestur tubuhnya dan cara berjalannya juga mirip dengan seorang pria yang sempat mendekatiku waktu di kampus dulu. Perlahan-lahan aku bisa melihatnya lebih jelas. Dia ternyata berjalan menuju ke apartemen ini. Aku pun menelan ludah melihatnya. Tak percaya jika akan melihatnya di Turki.
Apa yang sedang dia lakukan? Mengapa dia bisa berada di Turki?
Aku penasaran dan juga heran. Tapi sepertinya rasa penasaranku harus ditepiskan saat bunyi bel apartemen terdengar. Sepertinya suamiku sudah pulang dan meminta untuk dibukakan pintu. Aku pun bergegas menuju pintu untuk membukakannya.
Sepuluh menit kemudian...
Rain mengajak ku untuk ikut ke istana kepresidenan. Katanya sih pihak Kedubes USA ingin membicarakan hal yang berkaitan dengan saudaranya, Byrne. Entah bagaimana ceritanya, aku menurut saja.
Kini aku sedang bersiap-siap untuk pergi. Aku mengenakan gaun terusan yang longgar dengan hiasan pernak-pernik di sepanjang bagian depannya. Maklum akan bertemu orang penting, jadinya dandanan juga harus tampil elegan. Suamiku sampai meminta pihak salon untuk datang dan mendandaniku. Alhasil aku bertambah cantik dengan rambut yang dikeriting gantung layaknya putri kerajaan. Sedangkan dirinya mengenakan setelan jas hitam lengkap.
Pepatah mengatakan, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, sepertinya belum bisa kuaplikasikan ke semua segi kehidupanku. Aku tahu ini di Timur Tengah, tapi belum mampu untuk menggunakan hijab sebagai penutup kepala. Seperti kebanyakan wanita di Turki umumnya. Aku masih ingin berhias dengan memperlihatkan rambutku. Mungkin masih banyak ketakutan yang melanda jika mencobanya. Tapi semoga saja hal ini tidak berlangsung lama.
"Selesai, Nona." Dua orang penata rias akhirnya selesai mendandaniku.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Aku pun akhirnya selesai berdandan cepat hari ini. Aku rasa perutku yang sudah mulai membesar tidak terlalu kelihatan saat mengenakan gaun yang longgar. Gaun berwarna cokelat muda yang tampak sangat cocok denganku. Entah mengapa aku lebih memilih warna ini dari pada warna lainnya. Padahal tadi dibawakan pihak salon ada warna merah mudanya. Tapi siang ini aku malah memilih cokelat muda. Apakah mood ibu hamil memang cepat berubah?
"Terima kasih. Sepertinya sepatunya juga pas." Aku segera mengenakan sepatu yang diberikan pihak salon.
Lengkap sudah persiapan untuk bertemu dengan pihak Kedubes USA dan juga pemerintah Turki. Aku tidak tahu bagaimana bentuk istana kepresidenannya, tapi semoga saja bisa membawa diri saat berada di sana. Suamiku ternyata tidak keberatan membawa serta diriku untuk menemui pejabat Turki hari ini. Mungkin dia juga ingin memperkenalkanku sebagai istrinya.
Maklum kami menikah di Dubai dan hanya pihak terdekat saja yang mengetahuinya. Dan sekarang suamiku berencana untuk menetap di sini. Jadinya lebih banyak orang Turki yang tahu kami sudah menikah, itu lebih baik. Sehingga orang tidak salah prasangka. Tahu sendiri mulut orang bagaimana pedasnya.
__ADS_1
Di perjalanan menuju istana kepresidenan...
Kami masih di perjalanan menuju istana Kepresidenan Turki. Aku dan suamiku duduk di belakang mobil, sedang Owdie yang menyetir mobilnya. Tampak saudara suamiku yang mengenakan setelan jas hitam formal. Kami seperti ingin menghadiri pesta pernikahan yang besar. Berdandan rapi dan wangi sekali. Aku sendiri bak putri kerajaan yang terjaga kemurniannya. Cantik dan anggun sekali.
Aku menarik napas dalam-dalam agar tidak grogi sambil memperhatikan suamiku yang sedang menerima telepon.
"Ya, ya. Baiklah. Hati-hati di perjalanan, Jack."
Suamiku sedang menerima telepon dari Jack. Sepertinya Jack mengabarkan jika baru saja akan berangkat ke Turki.
"Aku mendapat pesan dari Kevin, pihak sayap kiri. Katanya Nick membatasi pengeluaran organisasi kepada mereka." Owdie mengatakan sambil menyetir mobilnya.
Suamiku mengakhiri panggilan teleponnya lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. "Benar, kah? Sepertinya dia sudah tidak tahu lagi batasan dalam kepemimpinan." Raut wajah suamiku tiba-tiba terlihat kesal.
"Pantas saja Byrne dibiarkan olehnya. Dia merasa Byrne tidak ada jasanya kepada organisasi. Padahal dia pasti ikut menerima keuntungan dari kerja keras Byrne selama berada di laboratorium." Owdie seperti jijik mengingat ulah saudaranya yang bernama Nick.
Keuntungan dari kerja keras Byrne? Apakah yang dimaksud keuntungan dari senjata biologis?
"Suatu saat dia akan menuai semua keserakahannya, Owdie. Aku yakin itu. Sekarang kita fokus saja untuk menyelamatkan Byrne. Kita masih mampu melanjutkan hidup tanpa kemewahan yang diberikan organisasi." Suamiku tampak menyemangati.
"Kau benar, Rain. Aku mencoba bersyukur dengan apa yang kumiliki saat ini. Tak akan habis sehari juga. Hahahaha." Owdie tertawa sambil terus mengendarai mobilnya.
Aku masih bingung dengan apa yang mereka bicarakan. Sungguh aku penasaran. Tapi aku hanya bisa diam. Aku tidak berani ikut-ikutan karena memang tidak tahu urusan. Jadinya hanya bisa mendengarkan.
__ADS_1